Bom , Nugi Dan Delon Baru Saja Datang Memasuki Ruang Serbaguna Berjalan Mendekati Bian. Melihat Kedatangan Mereka, Dengan Cepat Casilda Kembali Memasang Maskernya. Mereka Membawa Kantung Plastik Berisi Tissue Dan Juga Botol Mineral. Mereka Sengaja Membeli Itu Atas Inisiatif Sendiri Ketika Melihat Perempuan Yang Dekat Dengan Sahabatnya Sedang Kesusahan.
" Nih, Bian. " Nugi Menyodorkan Plastik Itu Kepada Bian.
" Casilda Kok Mukanya Banyak Terigu? Lo Lagi Ulang Tahun Ya? “ Tanya Boma Tanpa Merasa Bersalah. “ Harusnya Tadi Kita Sekalian Beli Telur Buat Ceplokin Casilda! " Boma Terus Saja Mengoceh Tidak Jelas.
" Jangan b**o Deh Lu! " Delon Memukul Pelan Kepala Belakang Boma.
" Bercanda, He He. " Jawab Boma Dengan Santainya Di Saat Keadaan Lagi Seperti Ini.
" Lo Kenapa Pake Masker Casilda? " Tanya Nugi Penasaran, Tapi Casilda Diam Tak Menjawab.
" Ayo Kita Tunggu Depan, Tinggalin Mereka Berdua. " Ucap Adrian Yang Mengerti Keadaan Saat Ini, Ia Membiarkan Casilda Dan Bian Memiliki Waktu Berdua Agar Tidak Merasa Canggung Jika Dikelilingi Temannya Terutama, BOMA!
Bian Menarik Salah Satu Kursi Ke Hadapan Casilda Untuk Ia Duduk, Karena Terlalu Lama Berlutut Membuat Nya Terasa Pegal. Setelah Duduk Saling Berhadapan Dengan Casilda, Bian Membuka Tissue Yang Baru Saja Dibeli Temannya Itu.
Mata Casilda Terus Saja Memperhatikan Bian Hingga Tak Berkedip, Memandang Wajah Lelaki Dihadapannya Saat Ini Adalah Sebuah Kedamaian Yang Jarang Ia Dapatkan. Rasanya, Jika Harus Dibully Terlebih Dahulu Agar Dapat Sedekat Bian Seperti Ini, Casilda Rela.
" Udah Belum Liatin Nya? " Tanya Bian Mengejutkan Casilda. Gadis Itu Jadi Merasa Malu Ketahuan Sedang Memperhatikan Bian Sejak Tadi.
" Eh… " Casilda Terkekeh. " Maaf . " Ucapnya Malu – Malu.
" Nih, Bersihin Noda Terigunya. " Bian Menyodorkan Tissue Yang Sudah Ia Buka Tadi Kearah Casilda.
" Makasih. " Casilda Mengambil Tissue Itu Dan Mulai Membersihkan Serbuk Terigu Yang Menempel Ditubuhnya. Tidak Terlalu Sulit Untuk Membersihkan Itu.
Kini Giliran Bian Yang Menatap Wajah Casilda, Ada Rasa Tak Tega Melihat Wajah Cantik Casilda Ternodai Dan Lebam Seperti Itu. Bian Kembali Membuka Masker Yang Casilda Pakai Agar Bian Dapat Melihat Lebih Jelas Wajah Casilda.
" Bian? " Casilda Terkejut Ketika Tangan Bian Membuka Paksa Masker Diwajah Casilda.
Kini Wajah Casilda Terlihat Jelas Tak Tertutupi Sama Sekali.
" Buka Aja Gak Apa – Apa. Gak Usah Malu! " Ujar Bian Mencoba Membuat Casilda Terlihat Santai Tak Perlu Malu Dengan Keadaan Wajahnya Seperti Itu Karena Tidak Mengurangi Kecantikannya. Hanya Saja Bian Malu Untuk Mengatakan Itu.
" Casie, Malu. " Jawab Casilda Sedikit Pelan, Tangannnya Masih Sibuk Membersihkan Tepung Dengan Tissue.
" Pakai Baju, Kan? Ngapain Malu! " Tegas Bian, Casilda Menyerah Tak Ingin Menjawab Lagi.
Bian Menarik Sehelai Tissue, Ia Menggerakan Tangannnya Ke Arah Wajah Casilda Untuk Membersihkan Pipi Casilda Yang Sedikit Terkena Tepung. Lagi – Lagi, Hal Yang Bian Lakukan Itu Membuat Casilda Selalu Saja Terkejut Dengan Sikapnya, Tapi Kali Ini Perlakuan Bian Menyebabkan Darah Ditubuh Casilda Berdesir Deras.
" Tutup Matanya! " Perintah Bian Membuyarkan Lamunan Casilda. " Casie, Tutup Matanya. " Ulang Bian Ketika Melihat Casilda Masih Tetap Membuka Matanya.
Dengan Segera Casilda Menuruti Perintah Bian Untuk Menutup Matanya.
Fikiran Casilda Mulai Berkeliaran Kemana – Mana. Dengan Kepedean Tingkat Tinggi, Casilda Berkhayal Jika Bian Menyuruhnya Memejamkan Mata Karena Ingin Menciumnya, Tapi Sayangnya Hal Itu Tidak Terjadi. Ternyata Bian Menyuruh Casilda Menutup Mata Untuk Membersihkan Tepung Yang Berada Di Kelopak Mata Gadis Itu.
" Udah. " Ucap Bian Setelah Selesai Membersihkan Wajah Casilda Yang Kini Sudah Tidak Ada Tepung Terigu Lagi.
' Kirain Mau Di Cium Kayak Di Film – Film! ' Batin Casilda. Bibirnya Maju Lima Senti, Ia Kecewa Khayalannya Tidak Terwujud.
Casilda Menghentikan Aktivitasnya Setelah Merasa Ditubuhnya Kini Sudah Tidak Ada Terigu Lagi Hanya Sisa – Sisa Bekas Berwarna Putih Saja Yang Tidak Terlalu Terlihat. Casilda Sangat Merasa Bersyukur Karena Bian Dan Teman – Temannya Telah Membantunya.
" Sekali Lagi, Makasih Ya Bian. " Ucap Casilda, Bian Hanya Mengangguk Saja.
" Lo Kenapa Diem Aja Diperlakukan Kayak Gini? " Pertanyaan Bian Kali Ini Membingungkan Casilda Harus Menjawab Apa.
" Kenapa Lo Gak Bales? " Tambah Bian.
" Bian… " Casilda Ingin Bicara, Namun Ia Mengurungkan Niatnya.
" Kenapa Mery Bersikap Kayak Gini Sama Lo? " Tanya Bian Lagi. Sepertinya Dia Sangat Penasaran.
" Gak Kenapa – Kenapa, Kok! " Bohong Casilda Menutupi Segala Hal.
Bian Memutar Kedua Bola Matanya, Menghela Nafas Pelan Melihat Casilda Terus Saja Menyembunyikan Sesuatu Dan Berusaha Untuk Terlihat Baik – Baik Saja. Bian Jadi Teringat Kejadian Tadi Saat Casilda Berteriak Di Halaman Pada Saat Di Bully Mery. Apa Yang Casilda Ucapkan Masih Terngiang Di Fikirannya.
" GUE SAYANG SAMA BIAN! GAK ADA YANG BISA NYURUH GUE BERHENTI BUAT KEJAR DIA! "
" Lo Kayak Gini Karena Ngejar Gue Kan, Casie? " Tebak Bian Langsung Pada Intinya.
Dahi Casilda Berkerut, Gadis Itu Mengigit Bibirnya Pelan Karena Merasa Gugup Dan Bingung Kenapa Bian Bisa Tahu Soal Itu.
" Gak Bian Bukan Gitu…" Casilda Sampai Bingung Harus Mengatakan Apalagi Karena Bian Kini Menatapnya Tajam.
" Kenapa Lo Nyakitin Diri Sendiri Dengan Cara Kayak Gini? “ Tanya Bian Dengan Tatapan Tak Mengerti. “ Lo Harus Menyudahi Semua Ini, Casilda! " Tegas Bian Membuat Casilda Diam Membeku Ketika Bian Mengatakan Itu.
Entah Maksud Lelaki Itu Apa Berkata Casilda Harus ' Menyudahi ' .
Casilda Mengerjapkan Matanya Berkali – Kali, Ia Mencoba Menenangkan Dirinya. Dia Takut Jika Bian Menyuruhnya Menjauh, Ia Tidak Bisa Melakukan Itu.
Sungguh Tidak Bisa!
" Jadi, Maksud Kamu… " Casilda Menundukan Kepalanya. " Aku Harus Berhenti Kejar Kamu? " Dengan Cepat Casilda Mendongakan Kembali Kepalanya. " Aku Gak Bisa, Bian! " Ucapnya Serius, Tak Main – Main.
" Kenapa Gak Bisa? " Tanya Bian Santai.
" Aku…" Mata Casilda Mulai Digenangi Air. " Aku Gak Bisa Ngelakuin Itu, Bian! Aku Gak Bisa Kalau Harus Menjauh Dari Kamu! " Jawabnya Dengan Polos.
" Aku Rela Kok Mereka Mau Berbuat Apa Aja Sama Aku! “ Ucapnya Berusaha Tersenyum. “ Serius Aku Gak Apa – Apa! " Meskipun Tersenyum, Tapi Nada Bicara Casilda Terdengar Panik Karena Dia Benar - Benar Tidak Siap Jika Bian Menyuruh Berhenti Mengejarnya.
Jika Benar Begitu Yang Bian Inginkan, Itu Artinya Mulai Besok Casilda Tidak Akan Bisa Menemuinya Lagi Dari Dekat Seperti Saat Ini.
" MULAI SEKARANG, LO HARUS BERHENTI KEJAR GUE! " Tegas Bian Menggetarkan Tubuh Casilda .
Casilda Mendongakan Kepalanya Agar Menahan Air Matanya Turun, Bibirnya Bergetar Dan Dadanya Terasa Sesak . Casilda Terlihat Putus Asa, Tangannya Meremas Rok Nya Kuat – Kuat Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri.
" Bian… Aku… Gak Bisa! " Ucap Casilda Dengan Cara Bicara Yang Cukup Lamban.
Bian Tersenyum Tipis, Ia Memajukan Badannya Dan Memeluk Casilda Untuk Menenangkan Gadis Itu. Entah Mendapat Keberanian Dari Mana Bian Bisa Melakukan Itu.
Di Dalam Pelukan Bian, Casilda Mulai Menitikan Air Matanya Yang Sudah Tidak Dapat Ditahan. Mungkin Ini Adalah Pelukan Pertama Dan Terakhir Casilda Karena Mulai Besok Dirinya Harus Segera Menjauh Dari Bian.
Tangan Bian Mengelus Pelan Punggung Casilda. " Maaf Ya, Casilda. Gara – Gara Gue Lo Jadi Kayak Gini. " Ucap Bian Lembut.
" Bian, Jangan Kayak Gini, Please! “ Casilda Terdengar Memohon. “ Apa Aku Harus Berlutut Sama Kamu? " Ucapan Bodoh Itu Keluar Begitu Saja Dari Mulut Casilda.
Sepertinya Rasa Cinta Yang Tumbuh Didalam Diri Casilda Membuatnya Sedikit Kehilangan Akal.
" Gue Perduli Sama Lo! Makanya Gue Suruh Lo Berhenti Kejar Gue Biar Mereka Gak Sakitin Lo Lagi, Casie! " Jawaban Bian Santai, Tapi Tidak Dengan Casilda Yang Kini Merasa Geram.
Casilda Melepaskan Pelukan Bian.
" Kenapa Kamu Lakuin Ini, Bian? Apa Kamu Gak Ada Sedikit Perasaan Suka Sama Aku? Apa Aku Segitu Gak Menariknya Di Mata Kamu? " Tanya Nya Menatap Bian Dengan Tatapan Sendu.
" Bukan Gitu Maksud Gue Casilda, Tapi… " Ucapan Bian Terpotong.
" Tapi Apa? " Casilda Mendongakan Dagunya. " Apa Yang Harus Aku Lakukan Biar Kamu Suka Dan Terima Kehadiran Aku? "
Bian Malah Tersenyum, Disaat Keadaan Menegangkan Seperti Ini Lelaki Itu Masih Bisa Terlihat Tenang Membuat Casilda Bingung Tak Mengerti.
" Kan, Tadi Gue Udah Kasih Tahu Apa Yang Harus Lo Lakukan. Yaitu…" Bian Memperlambat Ucapannya Membuat Casilda Tak Mengerti. Mata Casilda Melebar Menunggu Kelanjutan Ucapan Bian. " BERHENTI KEJAR GUE! " Ulang Bian. Jawaban Lelaki Itu Masih Sama.
Mendengar Bian Berkata Seperti Itu, Dengan Kasar Casilda Menyandarkan Tubuhnya Dipenyangga Kursi. Casilda Sudah Benar – Benar Putus Asa.
" Apa Udah Gak Ada Harapan Lagi Buat Aku? " Tanya Casilda Pelan Bagai Tak Bertenaga, Ia Mencoba Menatap Bian Dalam – Dalam. Ternyata Bian Juga Ikut Menatapnya.
Bian Meraih Tangan Casilda Yang Terasa Dingin, Sebenarnya Bian Merasa Sedikit Grogi Dan Casilda Pun Juga Merasa Gugup, Apalagi Saat Ini Mereka Hanya Berduaan Diruangan Ini.
Meskipun Casilda Merasa Amat Sedih, Tapi Nasib Berkata Lain. Mungkin Perjuangannya Sudah Cukup Sampai Disini.
Casilda Kembali Duduk Tegak Saat Kedua Tangannya Diraih Oleh Bian Untuk Yang Permata Kalinya. Kini, Mereka Saling Bertatapan Selama Beberapa Detik Sampai Akhirnya Senyum Bian Terlukis, Tapi Tidak Dengan Casilda. Gadis Itu Malah Merasa Miris.
" Casie, Lo Harus Berhenti Kejar Gue Karena Mulai Hari Ini Lo Sudah Mendapatkan Gue! " Ucap Bian Serius Menatap Casilda Secara Mendalam. Jantung Casilda Hampir Saja Berhenti Berfungsi Saat Bian Mengatakan Itu. Dia Merasa Seperti Sedang Bermimpi.
" Bian, Maksud Kamu? " Mata Casilda Melebar Sempurna, Ia Hampir Tak Bisa Berkata–Kata.
Casilda Sendiri Sampai Bingung Apa Yang Tadi Bian Ucapkan Adalah Sebuah Perintah Atau Pernyataan. Jika Memang Lelaki Itu Menyatakan Perasaan Kepadanya Seperti Itu, Ah Rasanya Benar – Benar Tidak Ada Manis – Manisnya Apalagi Romantis.
" MULAI SEKARANG KITA PACARAN! " Tambah Bian Mencoba Memperjelas Ucapannya Tadi.
Bian Sudah Memikirkan Hal Itu Sejak Tadi Malam. Dia Sudah Memikirkan Matang – Matang Untuk Menjadikan Casilda Pacarnya. Setelah Sekian Lama Dirinya Menyendiri Kini Ia Membiarkan Gadis Yang Penuh Perjuangan Ini Masuk Kedalam Kehidupannya.
Casilda Diam Tak Terlihat Langsung Senang, Ia Menatap Bian Curiga. Bian Yang Ditatap Seperti Itu Merasa Heran Kenapa Casilda Kini Tidak Terlihat Senang.
" Kok Diem? Di Terima Atau Di Tolak, Nih? " Bian Bertanya Dengan Sedikit Rasa Panik, Ia Takut Jika Gadis Itu Tiba – Tiba Berubah Fikiran Dan Menolaknya.
Casilda Menarik Tangannya Dari Genggaman Bian, Ia Memicingkan Matanya Menatap Bian. " KAMU PASTI LAGI NGE-PRANK, KAN? " Casilda Bicara Sambil Menunjuk Bian Dengan Jari Telunjuknya.
" Hayo… Ngaku Kalo Kamu Lagi Bikin Konten Youtube Ya? Suruh Keluar Tuh Temen – Temen Kamu Pasti Diem – Diem Lagi Rekam, Kan? " Ucap Casilda Ngelantur, Bian Menggeleng Tak Mengerti Maksud Dan Jalan Fikiran Casilda Bisa Mengarah Jauh Kesana.
Bian Diam Tanpa Suara, Menarik Nafasnya Dalam – Dalam Lalu Menghelanya Pelan, Ia Mencoba Menghirup Udara Dengan Tenang Untuk Menghadapi Gadis Dihadapannya Ini.
Casilda Jadi Ikut Terdiam Melihat Bian Kini Hanya Bungkam.
" Bian, Kok Diem? " Casilda Menepuk Paha Bian. " Ngaku Kamu Lagi Ngeprank, Kan? Kamu Lagi Bercanda, Kan? " Casilda Terus Saja Bertanya – Tanya.
" Sekarang, Lo Tatap Mata Gue! " Bian Bicara Dengan Wajahnya Yang Terlihat Sangat Serius, Casilda Pun Segera Menatap Kedua Bola Mata Bian.
" Lo Lihat Wajah Gue, Casie! Apa Gue Kelihatan Bercanda? " Tambah Bian. Casilda Pun Mengamati Wajah Bian Dengan Senang Hati.
" Enggak, Kok. “ Casilda Menggeleng. “ Wajah Kamu Gak Keliahatan Bercanda! " Jawab Casilda, Ia Mulai Tersenyum. Wajah Nya Yang Tadi Muram Kini Terlihat Ceria.
" Terus Apa? " Tanya Bian Berharap Sekarang Gadis Itu Telah Mengerti Kalau Dirinya Memang Sedang Serius.
" Wajah Kamu Kelihatan Tampan! HE HE. " Jawaban Ngelantur Dari Casilda Membuat Bian Geleng – Geleng Saja.
" Gak Waras! " Ucap Bian Pelan Agar Tidak Terdengar Casilda.
" Emang! " Sahut Casilda Yang Ternyata Mendengar Ucapan Bian Tadi. Casilda Sama Sekali Tidak Terlihat Marah, Justru Ia Terlihat Senang. " Aku Emang Udah Gak Waras Kalo Deket Kamu! " Celetuknya.
Bian Hanya Berdehem Saja, Tak Berniat Menyahut Casilda Yang Terus Saja Bicara Di Saat Sedih Mau Pun Senang, Gadis Itu Tidak Bisa Berhenti Bicara.
" Jadi, Ini Beneran Dong? Berarti Sekarang Aku Jadi Pacar Kamu? " Tanya Casilda Penuh Semangat.
" Hmm. " Bian Hanya Berdehem.
" AAAA…. BIAN! " Teriak Casilda Seraya Memeluk Bian Sebentar. " Aku Seneng Banget! " Serunya Heboh Sendiri.
" Bian, Aku Lagi Gak Mimpi, Kan? " Tanya Nya. Bian Hanya Menggeleng. " Coba Kamu Tampar Aku Cepet! Aku Mau Pastikan Kalau Aku Lagi Gak Mimpi! " Casilda Memiringkan Wajahnya Memberi Kesempatan Untuk Bian Menampar Wajahnya Secara Cuma – Cuma.
" Gak Mimpi, Casie. " Jawab Bian.
" Yaudah, Coba Kamu Tampar Aku! " Casilda Bersikeras Memaksa Lelaki Itu Menamparnya.
" Gue Gak Bisa Ngelakuin Itu Ke Lo? " Tolak Bian.
" Ayo Bian! Tampar Aku Cepetan! Sekali Aja Gak Apa – Apa! " Dengan Polosnya Casilda Terus Saja Memaksa, Ia Sudah Menyodorkan Wajahnya Kearah Bian.
Bian Memutar Kedua Bola Matanya Malas. " Casie… Casie… " Akhirnya Bian Menyerah, Ia Sedikit Memajukan Tubuhnya. Bian Mulai Mengangkat Tangannya Ke Arah Pipi Casilda .
" CEPET TAMPAR YANG KENCENG! " Ujar Casilda Yang Tak Sabar Ingin Mengetahui Saat Ini Ia Bermimpi Atau Tidak.
Casilda Memejamkan Matanya Ketika Tangan Bian Sudah Hampir Mendarat Dipipinya Dan Kemudian Casilda Kembali Membuka Matanya Karena Saat Ini Bian Malah Melakukan Hal Lain.
Tentu Saja Bian Tidak Akan Mau Menampar Wanita Dihadapannya Itu, Ia Tidak Ingin Menyakiti Apalagi Bersikap Kasar Kepada Wanita Yang Baru Saja Menjadi Pacarnya.
" Lo Gak Mimpi, Kok. " Senyum Bian Mengembang Seraya Mengusap Lembut Pipi Casilda Hingga Membuat Bulu Kuduk Casilda Merinding Bukan Karena Melihat Hantu Melainkan Dielus Lembut Oleh Lelaki Yang Sejak Lama Ia Dambakan.
" Bian, Pokoknya Nanti Aku Akan Adain Sukuran Untuk Bagi – Bagi Makanan! Biar Tetangga – Tetangga Aku Pada Tau Kalo Aku Udah Jadian Sama Kamu! " Seru Casilda Menatap Wajah Bian Dari Dekat. " Boleh, Kan? "
" Terserah. " Singkat Bian Masih Dengan Senyumnya Yang Mengembang.
PLAKK . . .
Sebuah Tamparan Mendarat Dipipi Casilda. Bukan! Itu Bukan Dari Tangan Bian, Melainkan Dari Tangan Casilda Sendiri Yang Menampar Pipi Sebelahnya Dengan Kencang Hingga Ia Meringis Sendiri.
" Casilda! " Kaget Bian.
" Aduh Sakit! " Casilda Mengusap Pipinya Yang Memanas. " Ternyata Aku Gak Mimpi Ya? " Tanya Nya Dengan Polos.
Bian Memijit Pelipisnya, Belum Ada Satu Jam Ia Resmi Berpacaran Dengan Casilda, Tapi Pacar Barunya Itu Sudah Membuatnya Pusing Sendiri. " Hm… Perlu Ditampar Lagi Gak? " Tawar Bian Dengan Cepat Casilda Menggeleng.
" GAK TERIMA KASIH! " Dengan Cepat Casilda Menolak.
**
HAI AKU UP 2 PART SEKALIGUS :) NEXT YA ---->