CHAPTER 15

3281 Kata
Bian Tengah Berada Di Balkon Rumahnya, Memandangi Langit Malam Yang Kosong Melompong Tanpa Ada Bintang. Mata Bian Menatap Layar Ponselnya Yang Kini Terlihat Kontak Atas Nama 'CASILDA', Namun Bian Melum Melakukan Panggilan.         Terlihat Keraguan Di Wajah Bian Untuk Segera Menekan Tombol Hijau Atau Lebih Tepatnya Menelfon Gadis Itu Hanya Untuk Sekedar Menanyakan Bagaimana Kabarnya, Tapi Hal Itu Terasa Begitu Berat Bagi Bian. Otak Bian Tak Bisa Berhenti Berfikir Tentang Casilda. Bian Mencoba Meyakinkan Dirinya Apakah Kedepannya Nanti Ia Ingin Melanjutkan Hubungannya Dengan Casilda Hanya Sebatas Teman Atau Lebih. Perasaannya Tidak Bisa Di Pastikan Membuat Bian Gelisah Sendiri. Dinginnya Angin Malam Hingga Menusuk Kulit Membuat Bian Beralih Masuk Ke Dalam Kamarnya Kembali. Sejak Tadi Ponselnya Tetap Berada Di Tangannya Tidak Beralih, Ia Merasa Bingung. Biasanya Casilda Selalu Saja Mengirim Pesan Kepadanya Meskipun Hanya Sekedar Menyapa, Tapi Pasti Gadis Itu Lakukan.   Hilangnya Casilda Dalam Sekejap Membuat Bian Terus Saja Mengoreksi Dirinya Apakah Yang Telah Ia Lakukan Hingga Casilda Mendadak Hening.   " Gue Yakin Kok Gak Buat Kesalahan. Kemarin Pagi Dan Pas Jam Istirahat Hubungan Gue Berdua Baik – Baik Aja. " Setelah Berfikir Keras, Bian Yakin Betul Tidak Ada Kesalahan Yang Ia Buat Terakhir Kali Bertemu Casilda.   " ARGGH! " Merasa Sedikit Frustasi Memikirkan Hal Itu, Bian Melemparkan Ponselnya Asal Ke Atas Kasur.   " Lagian Kenapa Gue Harus Pusing – Pusing Mikirin Itu, Sih! " Seru Bian Seraya Keluar Kamarnya Menuju Lantai Bawah Untuk Mengambil Sesuatu Yang Dapat Ia Makan, Karena Sejak Tadi Ia Belum Sempat Makan Akibat Memikirkan Casilda.   Saat Bian Sampai Di Ruang Makan, Terlihat Kedua Orang Tuanya Tengah Makan Malam Bersama, Sedangkan Adiknya Yang Seumuran Dengannya Sedang Sibuk Mencari – Cari Sesuatu Di Lemari Es.   " Bian, Makan Dulu Sini. " Panggil Ibunya Saat Bian Berjalan Mendekat Ke Arah Mereka.   " Iya, Mah. " Bian Menoreh Ke Arah Adiknya, Faelyn. Bian Beralih Berjalan Mendekat Ke Arahnya.   " ADUH KEMANA, SIH! KOK BISA HILANG? " Gerutu Faelyn Dengan Kesal Sambil Terus Saja Mengacak – Acak Lemari Es.   Bian Mengacak Rambut Faelyn. " Nyari Apaan Lo? " Tanya Nya, Setelah Itu Ia Mengambil Minuman Kaleng Dari Lemari Es.   " Cemilan Gue Ilang! Padahal, Gue Taro Di Kulkas Kak. " Jawab Faelyn, Wajahnya Terlihat Kesal Bercampur Bingung.   " Mamah Sama Papah Gak Makanan Cemilan Aku Kan, Di Kulkas? " Tanya Faelyn Menoreh Ke Arah Kedua Orang Tuanya Yang Sedang Menikmati Makan Malam.   " Enggak. " Jawab Kedua Orang Tuanya Bersamaan.   " Huftt! " Faelyn Menghela Nafas Kasar, Kecewa Makanannya Hilang Begitu Saja.   " Emangnya Apa, Sih? " Tanya Bian Yang Kini Bersandar Di Lemari Es Yang Sudah Di Tutup Oleh Faelyn.   " Cokelat Dari Pacar Gue Kak. Ada Empat Cokelat Gue Simpan, Masa Hilang Di Dalam Kulkas! Bayangin Aja, Kak? Hilang Semuanya Dalam Sekejap! " Terang Faelyn Membuat Bian Mendadak Diam Dalam Terkejut. Bian Mengusap Lehernya Yang Tak Gatal, Ia Sedikit Gugup. " Co... Coba Lo Cari Yang Bener. Kali Aja Nyempil Atau Ketiban Makanan Lain. " Bian Merasa Sedikit Tegang. Jika Saja Adiknya Tahu Kalau Bian Sendiri Yang Telah Mengambil Cokelat Itu, Maka Akan Terjadi Perang Dunia Ketiga Karena Adiknya Yang Sedikit Cerewet Apalagi Cokelat Itu Pemberian Dari Pacarnya.   " Udah Kak Bian, Tapi Gak Ada! " Faelyn Melipatkan Kedua Tangannya Di Atas d**a. " Apa Mungkin Di Rumah Ini Ada Tuyul? Ah Masa Iya Tuyul Ngambil Cokelat? Tuyul Pasti Ambilnya Uang, Kan? " Ucap Faelyn Menduga – Duga.   " Udah Lupain Aja. Besok Gue Beliin Cokelat Yang Banyak. Begitu Aja Kok Di Pusingin. " Jawab Bian Berusaha Terlihat Santai.   " Biarin Aja, Faelyn Doain Yang Ambil Cokelat Faelyn Sakit Perut! Gak Ikhlas Faelyn! Itu Kan, Cokelat Dari Pacar Faelyn! " Gerutu Faelyn Masih Merasa Tak Terima.   " Lo Nuduh Gue? " Sahut Bian Merasa Sindiran Itu Tertuju Kepadanya.   " Siapa Yang Nuduh Lo Sih, Kak? Kan, Gue Lagi Berdoa! Emang Gue Sebut Nama Lo? " Faelyn Jadi Menatap Bian Curiga Karena Bian Mendadak Merasa Di Salahkan.   " Enggak, Sih. HE HE. " Bian Menarik Nafasnya. " Yaudah, Ayo Makan. " Bian Merangkul Adiknya Itu Seraya Berjalan Ke Arah Meja Makan Untuk Makan Malam Bersama.   ' Semoga Doa Faelyn Gak Di Kabulin! Amin! ' Pinta Bian Dari Lubuk Hatinya Yang Paling Dalam.   **   Alisa Dan Mira Saat Ini Sedang Berada Di Toilet Pada Jam Istirahat. Mereka Hanya Berdua Saja Karena Casilda Saat Ini Memilih Tidak Ikut Berkaitan Dengan Kondisi Wajahnya Saat Ini Yang Masih Terlihat Sedikit Lebam.  Bahkan Gadis Itu Kini Ke Sekolah Menggunakan Masker Agar Menutupi Lebam Di Wajahnya. Untuk Hari Ini Pun, Casilda Tidak Membuatkan Bian Puding. Dia Tidak Ingin Bertemu Dengan Bian Untuk Saat Ini Dalam Keadaan Seperti Itu. " Gue Gak Tega Denger Cerita Casilda. Kasihan Dia Dipukulin Kayak Gitu! Kenapa Kita Gak Ada Disaat Dia Kayak Gitu! " Alisa Berbicara Dengan Nada Mengeluh, Ia Turut Sedih Melihat Sahabatnya Di Perlakukan Seperti Itu. " Lagian Sih, Harusnya Casilda Berhenti Aja Kejar Bian! Daripada Harus Tersakiti Seperti Itu. " Jawab Mira Sambil Mencuci Tangannya. " Mira! Lo Gimana Sih, Harusnya Dukung Casilda Dong! " Seru Alisa Kaget Mendengar Mira Bicara Seperti Itu. Setelah Selesai Cuci Tangan, Mira Membalikan Badannya Berhadapan Dengan Alisa Yang Kini Berada Di Belakangnya. " Gue Dukung Dia, Alisa. Tapi Lo Liat Sendiri Kan, Udah Berapa Kali Casilda Di Perlakukan Buruk Kayak Gitu! Apalagi, Sampai Sekarang Juga Hubungan Bian Sama Casilda Gak Ada Perubahan! " Tegas Mira. " Iya, Sih. " Alisa Menggaruk Kepalanya Yang Tak Gatal " Tapi –" " Udah Kita Doain Aja Biar Casilda Cepat Sadar Dan Mau Ngelepas Bian! Gue Gak Mau Casilda Terus – Terusan Di Sakitin Kayak Gitu! " Tambah Mira, Alisa Hanya Diam Saja Karena Bingung Harus Menjawab Apa. " Oh, Iya. " Ucap Mira Lagi. " Lo Tau Gak, Sih? Waktu Kita Main Ke Rumah Casilda Dan Teman – Temannya Bian Juga Ikut? "   "  Iya Kenapa Emang? " Tanya Alisa.   " Gue Kan, Coba Deketin Adrian, Tapi Dia Cuek Banget! " Terlukis Kekecewaan Di Wajah Mira Ketika Mengatakan Itu. " Tapi Gak Apa – Apa, Masih Ada Waktu Buat Deketin Adrian! " Lanjutnya. " Hmm… Dasar, Ya. Lo Berdua Tuh Sama Aja! Menyukai Pria Cuek! " Jawab Alisa Menarik Pelan Rambut Mira. " Nyuruh Casilda Berhenti Kejar Bian, Tapi Lo Sendiri Pengen Kejar Adrian Yang Sikap Nya Gak Jauh Beda Sama Bian. " Lanjut Alisa Membuat Mira Terkekeh. " Yaudah, Ayo Ke Kelas. Kasihan Casilda Sendirian. " Ucap Mira Berjalan Keluar Toilet. Setelah Mereka Berdua Keluar Toilet, Dari Dalam Bilik Kamar Mandi Keluar Seseorang Yang Sejak Tadi Berada Di Dalam Toilet. Seseorang Yang Baru Saja Keluar Dari Bilik, Kini Menampilkan Sebuah Senyuman Penuh Seringaian Dan Sorot Matanya Terlihat Tajam Melihat Kepergian Mira Dan Alisa. Dia Pun Segera Pergi Keluar Toilet Juga Setelah Buang Air Kecil Dan Menguping Pembicaraan Alisa Dan Mira.   **   Bian Memperhatikan Sekelilingnya, Ia Berharap Melihat Kedatangan Seseorang Yang Sejak Kemarin Di Tunggunya, Tapi Tak Kunjung Datang. Bian Bingung Kenapa Casilda Tidak Menemuinya Di Jam Istirahat Seperti Biasa. Bian Merasakan Sesuatu Yang Aneh. " Bian? Lo Kenapa, Sih? Diem Aja Kayak Nahan b***k? " Celetuk Boma Asal. " Apaan, Sih! " Jawab Bian Sewot. " Udah Jelas Dia Lagi Mikirin Casilda, Kenapa Dia Gak Dateng Kesini. " Sahut Delon Langsung Menebak. Merasa Ucapan Delon Benar, Bian Hanya Diam Saja Tidak Merespon. Adrian Melirik Bian Yang Terlihat Sedikit Gelisah. Adrian Yakin Casilda Tidak Mendatangi Bian Saat Ini Karena Luka Di Wajahnya Itu. Dia Faham, Pasti Gadis Itu Tidak Ingin Menunjukkan Wajahnya Yang Saat Ini Terlihat Luka – Luka.   Adrian Menyenggol Lengan Bian Yang Duduk Di Sampingnya. " Kenapa? " Tanya Bian Menoleh Ke Arah Adrian. " Coba Lo Ke Kelas Nya Sana. Lihat Dia, Sekali – Sekali Lo Yang Samperin Dia. " Saran Adrian, Ia Sengaja Melakukan Hal Itu Agar Bian Dapat Melihat Keadaan Casilda Saat Ini. " Iya, Bian. Sekali – Sekali Gitu Lo Yang Ke Kelas Casilda, Biar Dia Seneng Dikit. " Tambah Nugi. " Oh, Iya. Gue Udah Minta Izin Sama Orang Tua Nya Casilda. " Ucap Adrian Mengejutkan Bian. " Kapan Lo Izin? " Bian Menoleh Menatap Adrian Heran. " Lo Udah Ke Rumah Casilda? " " Kemarin. " Singkat Adrian. " Hebat Bener Memang Temen Gue Yang Satu Ini! " Delon Bertepuk Tangan Mengapresiasi Keberanian Adrian. " Asik! Jadi Liburan Dong Kita. " " MELUNCUR! " Teriak Boma Semangat. " Casilda Nya Udah Tau? " Tanya Bian Lagi Kepada Adrian, Lelaki Itu Menjawab Dengan Anggukan. " Jadi, Kemarin Lo Ketemuan Sama Casilda? Terus Lo Langsung Pulang Atau Berduaan Dulu Sama Casilda? " Pertanyaan Bian Kali Ini Sedikit Bernada Tinggi Membuat Adrian Tersenyum Kecil Ke Arahnya. Adrian Menggeleng Dengan Tawanya. " Tenang Aja, Bian. Gue Cuma Izin Sebentar, Kok. Terus Langsung Pulang. " Adrian Menepuk Kembali Punggung Bian. " Lo Gak Usah Takut Gue Deketin Casilda. " Lanjut Adrian Memperjelas Agar Bian Tidak Salah Faham. " Bukan Gitu Maksud Gue… " Bian Jadi Merasa Tidak Enak Karena Telah Mengatakan Hal Itu Kepada Adrian, Seolah – Olah Ia Merasa Ketakutan Jika Adrian Akan Mendekati Casilda. Bian Juga Tidak Mengerti, Perasaan Aneh Itu Tiba – Tiba Saja Muncul Membuatnya Gelisah. " Santai Aja, Bian. " Adrian Tersenyum Ke Arahnya Pertanda Dirinya Tidak Marah Sama Sekali Dengan Bian. " Mulut Gue Pait Banget, Nih. Gue Pengen Ngerokok. " Celetuk Delon Di Jawab Anggukan Setuju Oleh Boma. " Iya Sama.  Ayo Ke Ruang Serba Guna. " Ajak Delon. " Ayo, Deh. Sekalian Gue Mau Tidur Sebentar. Lumayan Masih 30 Menit Lagi. " Nugi Juga Ikut Setuju. Ruang Serba Guna Adalah Tempat Favorite Bian Dan Teman – Temannya Selain Kantin. Ruangan Itu Sering Kali Sepi Dan Tidak Terpakai Karena Hanya Digunakan Jika Ada Acara Penting Saja. Hal Itu Membuat Mereka Menjadikan Tempat Itu Sebagai Ruangan Alternatif Untuk Merokok Dan Tidur Di Sana Karena Terlihat Sepi Dan Aman Bagi Mereka Tanpa Ketahuan Siapapun.  Akhirnya Mereka Memutuskan Untuk Pergi Ke Sana Bersama – Sama. Lagi Pula Mereka Juga Jarang Merokok, Hanya Sesekali Saja. Meskipun Hanya Boma Dan Delon Saja Yang Merokok, Tetapi Bian, Nugi Dan Adrian Dapat Bersitirahat Di Sana Atau Sekedar Tiduran Sambil Menunggu Temannya Itu Menghabiskan Sepuntung Rokok.     *** Sejak Tadi, Casilda Duduk Di Dalam Kelasnya Yang Saat Ini Terlihat Sedikit Sepi Karena Kebanyakan Teman – Teman Di Kelasnya Makan Di Kantin.  Casilda Duduk Sendiri Sambil Menatapi Pantulan Wajahnya Di Cermin Kecil Miliknya Yang Sejak Tadi Ia Pegang. Dia Merasa Malas Menatap Wajahnya Sendiri, Meskipun Lebamnya Sudah Mulai Sedikit Memudar, Lebih Baik Dibanding Kemarin. " Casilda, Lo Dipanggil! " Ucap Seseorang Yang Baru Saja Masuk Ke Dalam Kelasnya, Dengan Cepat Casilda Memakai Kembali Masker Yang Sejak Tadi Ia Singkirkan Karena Ingin Berkaca. " Di Panggil Siapa? " Tanya Nya Dengan Sedikit Rasa Curiga. Casilda Takut Jika Kejadian Kemarin Terulang Lagi Ketika Dirinya Dipanggil Seseorang Dan Ternyata Itu 3m Yang Menyuruh. " Lo Di Suruh Ke Halaman Sebentar. Di Sana Juga Ada Alisa Dan Mira. " Ucap Seseorang Itu Membuat Casilda Lega Karena Ada Kedua Temannya Disana. " Oke. " Casilda Segera Bangun Dari Duduknya, Ia Berjalan Ke Arah Halaman Menemui Kedua Sahabatnya Itu. Sampainya Di Halaman Sekolah, Disana Terlihat Sedikit Ramai Membuat Casilda Semakin Tenang Karena Ia Yakin Tak Mungkin Jika 3m Memukulinya Lagi Di Tengah Keramaian. Casilda Mendekat Ke Arah Kerumunan Itu Mencari Keberadaan Kedua Sahabatnya. " Alisa Sama Mira Dimana, Sih? " Mata Casilda Memperhatikan Sekeliling Halaman, Tapi Tidak Menemukan Kedua Sahabatnya. Justru, Kini Ia Malah Bertemu Kembali Dengan 3m Yang Berjalan Mendekat Ke Arahnya.  Perasaannya Mula Tak Enak, Casilda Yakin Jika Yang Menyuruh Dia Kemari Adalah 3m Lagi, Bukan Kedua Temannya.   Sial! Casilda Terjebak Lagi. Casilda Menghela Nafas Kasar " Mimpi Buruk Apa Lagi Ini! " Gumam Nya. " Hai Casilda? " Sapa Mery Memperhatikan Wajah Casilda. " Kenapa Pakai Masker? Malu Ya Sama Muka Lo Sendiri? " Casilda Diam Tak Menjawab, Ia Memilih Untuk Pergi Karena Tidak Menemukan Kedua Sahabatnya Itu, Tapi Nyatanya Tidak Semudah Itu Untuk Casilda Bisa Pergi Jika Sudah Berhadapan Dengan Mery. " Tunggu Dulu. " Mery Menarik Tangan Casilda Dan Mencengkramnya Cukup Kencang Membuat Casilda Meringis. " Mery, Lepasin! " Casilda Meringis. " Gimana? Lo Udah Berubah Fikiran Belum Untuk Berhenti Kejar Bian? " Mery Selalu Saja Mengulang – Ulang Pertanyaan Itu, Padahal Sudah Jelas Jawaban Casilda Selalu Sama. " Gue Sayang Sama Bian! Gak Ada Yang Bisa Nyuruh Gue Berhenti Buat Kejar Dia! " Teriak Casilda Penuh Emosi Dihadapan Mery. Dia Sudah Tidak Tahan Dengan Setiap Perlakuan Mery. Bian Menghentikan Langkahnya Di Tengah Lorong Tepat Di Dekat Halaman Ketika Mendengar Suara Perempuan Yang Sangat Ia Hafal Itu. Bian Diam Tak Melanjutkan Langkahnya.  Teman – Temannya Bian Juga Ikut Berhenti Dan Kini Pandangan Mereka Beralih Ke Arah Halaman Sekolah Yang Kini Terlihat Para Murid Bergerumun Sehingga Sulit Melihat Keberadaan Casilda Saat Ini. " Dasar Cewe Gak Tau Malu! " Gertak Mela Dan Meicha Bersamaan Yang Berada Di Belakang Mery. " Mana, Mel? " Tangan Mery Menadah Ke Arah Belakang Tepatnya Kepada Mela Meminta Sesuatu. Mela Pun Segera Memberikan Sebuah Plastik Berisi Terigu Yang Sengaja Mereka Bawa. " b***h! " Mery Langsung Menumpahkan Tepung Terigu Itu Asal Ke Arah Casilda Hingga Mengenai Wajah Dan Tubuh Casilda. Sedangkan Teman – Temannya Membagikan Plastik Terigu Itu Ke Beberapa Murid Yang Ada Di Halaman Yang Kini Membentuk Lingkaran Mengelilingi Casilda. " Kalian Tumpahin Terigu Ke Cewek Gatel Itu! " Ucap Mery Menunjuk Ke Arah Casilda, Beberapa Dari Mereka Yang Di Beri Terigu Langsung Melemparkan Asal Terigu Itu Ke Arah Casilda. Setelah Bicara Seperti Itu Mery Dan Kedua Temannya Segera Pergi Meninggalkan Halaman, Membiarkan Casilda Di Bully Oleh Beberapa Orang Suruhannya. Casilda Hanya Diam Mematung, Membiarkan Mereka Sepuasnya Membully Dirinya Saat Ini. Air Mata Mulai Tergenang, Namun Ia Tahan Agar Tidak Menetes. Bibirnya Bergetar Menahan Tangisnya. Rasanya, Penderitaan Ini Tidak Akan Berakhir Sampai Dia Berkata ‘Menyerah’ Kepada Mery. " Minggir! Minggir! " Ucap Boma Mendekati Gerumunan Itu Agar Memberi Celah Bian Untuk Berjalan Mendekat Ke Arah Casilda. " Casilda? " Bian Segera Mendekat Ke Arah Casilda, Gadis Itu Kini Tengah Menunduk Malu. " Casilda? Lo Gak Apa – Apa? " Tanya Bian Melihat Casilda Hanya Menunduk. Tentu Saja Casilda Sedang Tidak Baik – Baik Saja, Kini Wajahnya Terlihat Memutih Karena Terigu Yang Menempel Di Wajahnya Dan Mengenai Seragamnya. " Bubar! Lo Semua Pergi Dari Sini! " Bentak Bian Kepada Semua Orang Yang Berada Disekelilingnya, Terutama Yang Membuat Casilda Seperti Itu. Seketika Mereka Semua Langsung Pergi Ketika Melihat Kedatangan Bian Dengan Amarahnya. " Bian Kamu Ngapain Disini? Aku Malu. " Ucap Casilda Pelan, Ia Masih Menundukkan Kepalanya Sambil Mengusap Terigu Yang Sedikit Mengenai Matanya.   Bian Tidak Dapat Melihat Jelas Wajah Casilda Karena Ditutupi Masker. " Ayo Ikut Gue, Casie. " Bian Merangkul Bahu Casilda, Membawanya Ke Ruang Serba Guna Yang Saat Ini Terlihat Kosong Ditemani Oleh Teman – Temannya.   **   Bian Berjalan Memasuki Ruang Serba Guna Bersama Casilda Dan Adrian, Sedangkan Ketiga Temannya Sedang Membeli Sesuatu Yang Dapat Di Gunakan Untuk Membersihkan Casilda. Adrian Menarik Salah Satu Bangku Untuk Casilda Duduk, Bian Pun Segera Menggiring Casilda Agar Duduk Dibangku Itu. Bian Berlutut Dihadapan Casilda, Ia Mencoba Melihat Wajah Gadis Itu Yang Terus Saja Menunduk. Casilda Seperti Itu Karena Tidak Ingin Bian Tahu Wajahnya Dalam Keadaan Seperti Sekarang Ini. " Casie, Lo Kenapa Diam Aja Diperlakukan Seperti Itu? " Tanya Bian Yang Tak Mengerti Kenapa Gadis Itu Membiarkan Dirinya Menjadi Bahan Bully-An. Casilda Hanya Diam, Tidak Menjawab. Bian Memicingkan Matanya Memperhatikan Wajah Casilda Terlihat Ada Sedikit Memar Di Pipinya Yang Masih Dapat Terlihat Meskipun Tertutupi Masker. " Lo Kenapa Pakai Masker? Lagi Sakit? " Tanya Bian Serius. " Cuma Flu Biasa Aja, Kok. " Jawabnya Cepat Tak Berniat Memandang Bian, Tak Seperti Biasanya Yang Selalu Saja Mencuri – Curi Pandangan Menatap Wajah Bian. Bian Menatap Adrian Yang Berdiri Disamping Casilda, Adrian Mengelengkan Kepalanya Mengisyaratkan Bahwa Ia Tidak Percaya Atas Apa Yang Casilda Ucapkan.  Tentu Saja Adrian Seperti Itu Agar Bian Segera Mengetahui Keadaan Gadis Itu Saat Ini. Adrian Sudah Berjanji Kepada Casilda Untuk Tidak Memberitahu Keadaanya Saat Ini, Jadi Ia Mencoba Memberitahu Bian Lewat Isyarat Saja Agar Lelaki Itu Mengetahui Sendiri Bagaimana Keadaan Casilda. Bian Mengangguk Faham, Matanya Kembali Menatap Casilda. " Yakin? " Tanya Bian Yang Ragu Akan Pernyataan Casilda Tadi. " Iya, Bian. Aku Lagi Flu, Makannya Kamu Jangan Deket – Deket Aku Nanti Nular. " Ujar Casilda Memperingati. " Coba Buka? " Ucap Bian Langsung, Tak Ingin Bertele – Tele. " Bian… " Belum Selesai Casilda Bicara, Bian Langsung Membuka Masker Yang Casilda Kenakan Secara Paksa Hingga Casilda Terkejut. Mata Bian Terbuka Lebar, Dahinya Berkerut Dan Alisnya Saling Bertautan Menatap Casilda Dengan Raut Wajah Khawatir. " Casie, Muka Lo Kenapa? " " Gak Apa – Apa Cuma Jatuh. " Jawab Casilda Gugup. " Jangan Bohong! " Nada Bicara Bian Sedikit Meninggi Hingga Membuat Casilda Tersontak Kaget. Namun, Sedetik Kemudian Bian Menyesal Telah Berbicara Keras Seperti Itu.  Bian Sendiri Tidak Mengerti Kenapa Tiba – Tiba Emosinya Tidak Tertahankan Seperti Itu. Bukan! Bian Bukan Kesal Dengan Casilda, Melainkan Ia Kesal Melihat Keadaan Casilda Seperti Itu. Dia Ingin Segera Tahu Siapa Yang Telah Membuatnya Terluka Seperti Itu. Adrian Mendekat Ke Arah Bian, Menepuk Pelan Bahu Temannya Itu Agar Santai. " Tenang. " Ucap Adrian Mengingatkan Temannya Itu Agar Mengontrol Emosi Nya. " Maaf. " Ungkap Bian Dengan Lembut Menatap Casilda Dalam – Dalam. " Siapa Yang Udah Buat Lo Kayak Gini? " Tanya Bian, Tapi Kini Casilda Malah Menangis. Casilda Sudah Tidak Bisa Menahan Air Matanya Lagi, Ia Biarkan Jatuh Begitu Saja. " 3 M! " Sahut Adrian Yang Sudah Tak Sabar Menunggu Casilda Memberitahu Siapa Pelaku Dibalik Semua Ini.   Bian Segera Berdiri Dan Membalikan Badannya Menghadap Adrian Yang Kini Berada Di Belakangnya. " Maksud Lo? " Tanya Bian Meminta Penjelasan Lebih Rinci Dari Adrian. " 3 M Yang Pukulin Casilda! " Jelas Adrian, Bukan Hanya Bian Saja Yang Terkejut, Casilda Pun Juga Ikut Terkejut Karena Adrian Mengetahui Semua Nya. Casilda Bingung Kenapa Adrian Bisa Tahu, Seingatnya Ia Tidak Memberitahu Siapapun Selain Ibunya.   Padahal, Tanpa Sepengetahuan Casilda. Kemarin Saat Dirumahnya Adrian Telah Menguping Pembicaraannya. " Gue Yakin Yang Nyuruh Mereka Mengotori Casilda Dengan Tepung Seperti Ini Si Mery! Siapa Lagi Yang Berani Kayak Gitu Disekolah Ini! " Tambah Adrian. Bian Membalikan Badannya Menghadapa Casilda. " Bener Yang Adrian Bilang? " Tanya Nya Memastikan. " I…Iya. " Casilda Pun Membenarkan Apa Yang Adrian Katakan, Dirinya Sudah Tidak Bisa Mengelak Lagi. " Dia Harus Dikasih Pelajaran! " Bian Terlihat Kesal, Ia Tak Mengerti Dengan Jalan Fikiran 3m. Ternyata Bukan Hanya Membuat Casilda Kotor Dengan Terigu, Tetapi Mereka Juga Telah Memukuli Casilda Hingga Seperti Saat Ini.   " Jangan Bian! " Teriak Casilda Namun Bian Tidak Perduli.   Bian Ingin Segera Pergi Mencari Mereka, Namun Dengan Cepat Adrian Menghadang Jalan Bian Agar Tidak Pergi. " Tenang, Jangan Sekarang. " Ucap Adrian Santai, Berbeda Dengan Bian Yang Emosinya Sudah Menggebu – Gebu. " Gak Bisa, Adrian! Mereka Udah Keterlaluan! " Ucapnya Emosi Dengan Nafas Tersenggal, Tangannya Terkepal Sangat Kuat Seperti Sudah Siap Menghajar Gadis – Gadis Tak Berperasan Itu. " Iya Gue Faham, Tapi Mereka Itu Perempuan. Kita Gak Bisa Lawan Mereka Dengan Main Tangan. “ Terang Adrian. “ Nanti Kita Fikirin Lagi Apa Yang Harus Kita Lakukan. " Lanjut Adrian, Ia Selalu Saja Berfikir Panjang Dan Dewasa.   Menurutnya, Tidak Semua Hal Bisa Diselesaikan Dengan k*******n Dan Kekuatan. Tidak Seperti Bian Yang Selalu Saja Menggunakan Kekuatannya Setiap Kali Ada Yang Membuatnya Kesal. Perlahan Amarah Bian Mereda, Ia Merenggangkan Tangannya Yang Tadi Terkepal Kuat. Bin Mengangguk Pelan Pertanda Setuju Dengan Apa Yang Adrian Katakan. Bian Tidak Bisa Mungkin Menghajar Mery Dan Teman – Temannya Seperti Sebelumnya Ketika Bian Memberi Pelajaran Kepada Lelaki Yang Telah Memaki Casilda Pagi Itu Dengan Cara Menyuruh Membenturkan Kepalanya.  " Sekarang, Casilda Lagi Butuh Lo. " Ujar Adrian. " Oke. " Bian Kembali Mendekati Kearah Casilda. " Jangan Nangis Lagi, Ya. " Bian Kembali Berlutut. " Gue Gak Suka Liat Lo Nangis. " Ucapnya. " Emang Kenapa? " Tanya Casilda Tersedu – Sedu. " Jadi Jelek! " Balas Bian Membuat Casilda Mengusap Air Matanya, Bibirnya Mengerucut Menampilkan Wajah Setengah Merengut Karena Dibilang ' Jelek ' Oleh Lelaki Dihadapannyas Saat Ini. " Emang Udah Jelek Mau Diapain! " Ucap Casilda Merendahkan Diri. Bian Tersenyum Kecil. " Lo Cantik, Kok. " Ucap Bian Menciptakan Senyuman Lebar Diwajah Casilda Dengan Pipinya Yang Sedikit Merona. " Bian, Aku Malu. " Seru Casilda Yang Sudah Tidak Menangis, Kini Ia Berusaha Menahan Senyumnya Agar Tidak Terus Mengembang.   Adrian Ikut Tersenyum Melihat Kedua Insan Yang Kini Terlihat Malu – Malu, Tapi Mau.   “ Dasar Pasangan Labil. “ Ucap Adrian Pelan. ** TUNGGU PART BERIKUTNYA YA AKAN SEMAKIN SERU :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN