Casilda Baru Saja Selesai Belajar, Sejak Tadi Ia Mengerjakan Segala Macam Tugas Dengan Terburu – Buru Agar Bisa Memiliki Waktu Untuk Menelfon Bian Karena Ia Sudah Berjanji.
Casilda Segera Mengambil Ponselnya Dan Duduk Diatas Kasurnya, Tangannya Mulai Mengetik Sebuah Nama Di Kontaknya Dan Menekan Tombol Hijau Atau Lebih Tepatnya Menelfon Seseorang Yang Tak Lain Adalah Bian.
Tuttt . . . . . . .
Tuttt . . . . . . .
Ponsel Casilda Sudah Menempel Ditelinganya, Suara Dering Telefon Berbunyi Beberapa Kali Namun Belum Ada Respon Atau Terdengar Suara Bian Menjawab Telefon Darinya Hingga Panggilan Berakhir.
Casilda Menatap Kecewa Layar Ponselnya. Sudah Beberapa Kali Ia Menelfon Bian, Tapi Tidak Ada Jawaban. Raut Wajah Casilda Berubah Sedikit Merengut, Fikirannya Mulai Kemana – Mana.
Casilda Terbangun Duduk. " Apa Bian Gak Mau Telfonan Sama Gue? " Gumamnya Sambil Meletakan Ponselnya Di Atas Meja Samping Kasurnya.
" Bian Kemana Ya? Apa Iya Dia Udah Tidur ? " Gumamnya Lagi, Ia Menjatuhkan Kembali Tubuhnya Kasar Dikasur. Matanya Menatap Lurus Ke Arah Langit – Langit Kamarnya.
" Yaudah, Lah! " Casilda Menghela Nafas Berat Bersamaan Dengan Rasa Kecewa Yang Menyelimuti Dirinya Saat Ini.
Drt . . . . Drt . . .
Drt . . . . Drt . . .
Ponsel Casilda Bergetar, Dengan Malas Dia Mengambil Ponselnya Yang Diletakan Dimeja. Matanya Menatap Layar Ponsel Untuk Melihat Apa Yang Menyebabkan Ponselnya Bergetar. Seketika Kedua Bola Mata Casilda Melebar Melihat Bahwa Saat Ini Ada Panggilan Masuk Dari Bian.
Secepat Kilat Casilda Langsung Mengangkat Telefon Dari Bian Hingga Terdengar Suara Laki – Laki Yang Sangat Ia Dambakan Itu Dari Sebrang Sana.
" Hallo? " Sapa Bian Dari Sebrang Sana. Casilda Diam Sebentar Tidak Langsung Menyahut, Ia Masih Terkejut Karena Lelaki Itu Tiba – Tiba Menelfonnya.
Bagi Casilda, Suara Bian Bagaikan Alunan Musik Yang Indah Membuat Telinganya Menyambut Hangat Suara Tersebut Meskipun Hanya Satu Kalimat Saja Yang Lelaki Itu Ucapkan, Tetapi Mampu Membuat Jantungnya Berdegup.
" Casie? " Panggil Bian Membuat Casilda Tersadar Dan Segera Bicara.
" Hai Bian? " Jawabnya Kaku.
" Maaf, Ya. Tadi Hp Gue Lagi Di Charger Dan Kebetulan Gue Lagi Diluar Kamar. Jadi, Gak Denger Kalo Ada Telfon Dari Lo. " Jelas Bian, Nada Bicaranya Datar Tak Ada Manis – Manisnya Seperti Orang Yang Berpacaran Pada Umumnya. Paling Tidak Harusnya Bian Berbicara Dengan Sebutan ‘Aku – Kamu’. Sayangnya, Hal Itu Tidak Berlaku Bagi Bian.
" Iya Gak Apa – Apa, Kok. Aku Seneng Yang Penting Kamu Udah Telfon Aku. " Jawab Casilda.
" Emang Tadi Kenapa Lo Telfon Gue? " Pertanyaan Bian Ini Membuat Casilda Kecewa, Padahal Itu Adalah Hal Biasa Ketika Seseorang Berpcaran Saling Telfonan.
" Ya Gak Ada Apa – Apa, Bian! Aku Cuma Mau Telfonan Aja Sama Kamu. Emang Gak Boleh, Ya? " Gerutu Casilda.
Terdengar Suara Tawa Bian. " Boleh Kok Boleh, Casie! "
" Nah, Gitu Dong. " Casilda Ikut Tertawa , Ia Menjatuhkan Kembali Tubuhnya Dikasur. " Kamu Lagi Apa? " Tanya Casilda.
" Lagi Telfonan, Kan? " Jawab Bian Santai.
" Bukan Itu Maksud Aku, Bian. Selain Telfonan Kamu Lagi Apa? "
" Lagi Gak Ngapa – Ngapain. Cuma Telfonan Aja. " Jawab Bian.
" Gak Mungkin, Bian! Masa Cuma Telfonan Aja? Pasti Ada Yang Lain. " Casilda Tetap Memaksa Bian Untuk Mencari Jawaban Lain.
" Umm… Lagi Nafas. " Jawaban Bian Selalu Saja Membuat Casilda Geregetan.
" Bukan Itu, Bian! Misalnya, Saat Ini Kamu Lagi Tiduran Atau Lagi Berdiri Atau Sambil Nonton? " Casilda Terus Saja Bicara Membuat Bian Disana Hanya Bisa Tersenyum.
" Ayo Di Jawab? Selain Telfonan Kamu Lagi Apa? " Casilda Terus Saja Mempertanyakan Hal Tidak Penting Itu.
" Lagi… Ngobrol. " Jawaban Bian Kali Ini Malah Membuat Casilda Berfikiran Negatif.
" Kamu Lagi Ngobrol Sama Siapa? " Tanya Nya Dengan Nada Khawatir.
" Sama Kamu. " Jawab Bian Dengan Suaranya Yang Terdengar Lembut Membuat Casilda Yang Mendengarnya Ingin Berteriak Sekencang Mungkin Karena Terlalu Merasa Bahagia.
Casilda Meletakan Ponselnya Sebentar Di Atas Kasur, Lalu Ia Turun Dari Ranjang Dan Melompat – Lompat Tidak Jelas Dengan Wajahnya Yang Terlihat Amat Sangat Bahagia. Padahal, Saat Ini Masih Berlangsung Telfonan Dengan Bian. Casilda Berusaha Tidak Berteriak Dan Menahan Suaranya Agar Tidak Terdengar Bian Yang Kini Terus Saja Memanggilnya.
" Casie? Kok Diem? "
" Hallo? Casie? "
Casilda Mengatur Dirinya Agar Kembali Bersikap Normal Dan Segera Mengambil Ponselnya. " Iya, Bian? Maaf Tadi Sinyalnya Jelek! " Bohongnya.
Mereka Berdua Pun Melanjutkan Obrolan Yang Tak Penting Melalui Telefon. Casilda Merasa Sangat Senang. Disisi Lain, Bian Pun Terkadang Tersenyum Jika Casilda Mulai Cerewet Dan Bicara Hal – Hal Tidak Jelas.
Bagi Casilda Hal Sederhana Seperti Itu Saja Jika Berkaitan Dengan Bian Itu Sangat Membuatnya Bahagia.
**
Casilda Sudah Rapih Dengan Seragam Dan Tas Yang Melekat Ditubuhnya. Hari Ini Casilda Terlihat Sangat Semangat. Mina Juga Sudah Siap Mengantar Anak Satu – Satunya Itu Ke Sekolah.
Terlihat Casilda Sudah Tidak Menggunakan Masker Untuk Menutupi Wajahnya Lagi Karena Luka Lebamnya Sudah Terlihat Sedikit Memudar Berkat Ibunya Yang Sigap Mengobatinya Ditambah Lagi Casilda Mengingat Ucapan Bian Bahwa Dirinya Tetap Cantik Meskipun Dalam Keadaan Seperti Itu.
Casilda Dan Mina Berjalan Menuju Mobil Yang Terparkir Didepan Rumah. Pagi Ini, Langit Terlihat Sedikit Gelap Atau Lebih Tepatnya Mendung.
" Wah, Pagi Yang Cerah!! " Seru Casilda Dengan Senyum Merekah Membuat Mina Yang Berjalan Disampingnya Menatap Anaknya Itu Heran.
" Mata Mu Cerah! Gelap Gitu, Mau Hujan! " Celetuk Mina, Casilda Hanya Tertawa Saja.
" Maksudnya, Hati Aku Yang Cerah, Mom! He He. " Jawabnya Cengengesan.
Mina Hanya Menggeleng Saja Melihat Tingkah Putrinya Itu. Dia Tahu, Pasti Penyebab Senyum Putrinya Terus Saja Mengembang Karena Baru Saja Jadian Dengan Lelaki Yang Sejak Lama Ia Taksir.
" Dasar Kamu! " Mina Masuk Kedalam Mobil, Di Ikuti Casilda Yang Duduk Di Samping Mina.
" Kalau Kata Anak Zaman Sekarang Itu Namanya, Mecin! " Celetuk Mina Seraya Menyalahkan Mobil.
" Bucin Momom! " Jelas Casilda Membenarkan Ucapan Ibunya Itu Yang Salah.
" Ya Apa Pun Itu, Lah! " Sahut Mina.
Disisi Lain Saat Ini Mira Sudah Sampai Disekolah, Ia Berjalan Santai Karena Waktu Jam Masuk Masih Cukup Lama. Di Perjalanan Menuju Lorong Sekolah, Ia Melihat Sosok Lelaki Yang Tentu Saja Dia Sukai. Dengan Semangat Mira Berlari Mengejar Lelaki Itu Yang Tak Lain Adalah Adrian.
" Casilda Aja Bisa! Masa Gue Gak Bisa, Sih! " Gumamnya Sendiri.
Mengingat Perjuangan Casilda Yang Berhasil Untuk Mendapatkan Bian, Mira Juga Tak Mau Menyerah Begitu Saja Dan Ingin Mengikuti Jejak Casilda. Apalagi, Bian Dan Adrian Memiliki Sikap Yang Hampir Sama Dinginnya, Jadi Hanya Diperlukan Kesabaran Dan Semangat Yang Lebih Agar Bisa Dekat Adrian.
“ Gue Akan Menaklukan Lo, Adrian. “ Batin Mira. Dia Terlihat Semangat.
Ketika Sudah Berada Di Dekat Adrian, Mira Sengaja Menyenggol Setengah Bahu Lelaki Itu Dan Berpura – Pura Jatuh Ke Lantai. Entah Mendapat Ide Darimana Mira Melakukan Trik Itu.
" Aduh!! " Mira Berpura – Pura Meringis Saat Terjatuh.
Merasa Jalannya Terhalang Oleh Mira Yang Tepat Jatuh Di Hadapannya, Adrian Pun Menghentikan Langkahnya.
" Kenapa? " Tanya Adrian Menatap Mira Datar, Ia Melepaskan Earphone Yang Melekat Di Telinganya Sejak Tadi.
" Jatuh. " Jawab Mira Mendongakan Kepalanya Menatap Adrian Dengan Penuh Harapan Agar Lelaki Itu Mengulurkan Tangannya Untuk Membantunya Bangun.
" Bisa Bangun Gak? " Tanya Adrian.
" Gak Bisa! " Mira Menggelengkan Kepalanya, Memasang Wajah Memelas Agar Adrian Kasihan Kepadanya.
Adrian Melihat Sekelilingnya, Sebelum Akhirnya Ada Tiga Orang Laki – Laki Yang Berjalan Melewatinya. " Tunggu Sebentar! " Adrian Menahan Salah Satu Dari Mereka Dan Yang Lainnya Juga Ikut Berhenti.
" Ada Yang Sakit. Tolong Bawa Dia Ke Uks Ya. " Pinta Adrian Dan Ketiga Lelaki Itu Mengangguk Mengerti, Sedangkan Mira Kini Terlihat Panik Karena Akan Di Gotong Oleh Tiga Lelaki Itu.
" Ad… Adrian? Kenapa Gak Kamu Aja Yang Tolong Aku? " Tanya Mira Terbata – Bata.
" Gue Lagi Sibuk Dengerin Lagu. " Jawabnya Santai Sambil Memasang Kembali Earphone Ke Telinganya Lagi Dan Melanjutkan Langkahnya Meninggalkan Mira Bersama Ketiga Lelaki Itu.
" Ayo Kak Kita Bantu? " Ucap Lelaki Yang Tadi Disuruh Adrian.
" Gak Usah! " Dengan Cepat Mira Berdiri Tegak. " Gue Gak Apa – Apa! " Omelnya, Setelah Itu Ia Berjalan Cepat Menuju Kelasnya.
" Adrian Nyebelin! " Gerutu Mira Kesal Sendiri Karena Lelaki Itu Benar – Benar Cuek Melebihi Bian. Kalau Bian Masih Ada Sedikit Memberikan Respon Kepada Orang Yang Mendekatinya, Sedangkan Adrian Sama Sekali Tidak! Dia Benar – Benar Tertutup.
**
Hari Ini Casilda Berniat Untuk Makan Di Kantin, Biasanya Ia Lebih Memilih Makan Dikelas Karena Tidak Terlalu Ramai. Namun, Saat Ini Ia Memilih Untuk Makan Dikantin Hanya Untuk Mengawasi Bian Agar Tidak Ada Perempuan Lain Yang Mencoba Mendekatinya Lagi, Karena Kini Hanya Dirinya Lah, Satu – Satu Nya Wanita Yang Telah Menjadi Pacarnya.
" Tumben Banget Pengen Makan Dikantin? " Tanya Alisa.
" Iya Dong! Gue Mau Mantau Bian! Takut Ada Yang Coba Deketin Dia! Kalau Sampai Ada Yang Berani Deketin, Bian! Awas Aja, Casie Omelin Itu Cewe! " Ucap Silda Disepanjang Perjalanan Menuju Kantin.
" Gak Akan Ada Yang Berani Deketin, Bian! “ Sahut Alisa. “ Kalau Pun Ada, Sebelum Lo Omelin Itu Cewe Pasti Udah 3m Duluan Yang Kasih Pelajaran Ke Itu Cewek! " Jelas Alisa Kemudian Disambut Tawa Casilda.
" Iya Bener Juga! " Jawab Casilda, Ia Melirik Mira Yang Sejak Tadi Hanya Diam Saja Dengan Wajah Merengut.
" Lo Kenapa? " Tanya Casilda.
" Gak Apa – Apa! " Jawab Mira Terdengar Lesuh.
" Yakin? " Tanya Casilda Lagi. " Kalo Ada Apa – Apa, Cerita Sama Kita! "
" Iya Mir, Lo Kenapa Sih? " Alisa Ikut Bertanya.
" Gak Apa – Apa! Gue Cuma… Laper Aja, Sih! " Jawab Mira Berusaha Tersenyum.
" Oh, Laper! Bilang Dong Daritadi! " Ucap Casilda Dan Alisa Bersamaan Lalu Dilanjuti Tawa.
" Ha Ha Ha Ada – Ada Aja, Mira! Kirain Kenapa! "
Sampainya Dikantin, Casilda Lebih Dulu Ingin Memberikan Puding Kepada Bian Sebelum Makan, Sedangkan Kedua Temannya Pergi Untuk Mencari Tempat Duduk. Casilda Berjalan Mendekat Ke Arah Bian Yang Kini Tengah Asik Ngobrol Bersama Teman – Temannya.
" Adrian, Lo Udah Dapat Ide Belom Buat Balas Perlakuan 3m Ke Casilda? " Tanya Bian Sambil Mengaduk Semangkuk Somay Agar Bumbu Kacang Nya Tercampur Rata.
" Udah. " Singkat Adrian.
" Mereka Harus Segera Di Kasih Pelajaran Karena Udah Bikin Muka Casilda Jadi Tatoan! " Celetuk Boma.
“ Muka Lo Tatoan! “ Nugi Menjitak Kepala Boma Karena Merasa Kesal Dia Selalu Saja Bicara Ngaco.
" Apa Rencana Lo? " Tanya Delon.
" Kita Ajak 3m Liburan Ke Villa! " Terang Adrian, Seketika Yang Lainnya Terdiam Melongo Mendengarnya.
" Udah Gila Lo Ya? Masa Ajak Mereka Ke Villa Gue, Sih? “ Boma Menggelengkan Kepalanya Dengan Cepat. “ Gak Boleh! Nanti, Villa Gue Ternodai Kesuciannya! " Tolak Boma Tak Terima Jika Ketiga Gadis Yang Tak Berperasaan Itu Ikut Ke Villa Milik Keluarganya.
" Bawa s**l Nanti! " Tambah Boma.
" Iya Adrian, Kenapa Harus Ajak Mereka? " Tanya Nugi Yang Juga Tak Mengerti.
" Emang Apa Rencana Lo? " Bian Yakin Jika Adrian Berkata Seperti Itu, Artinya Lelaki Itu Sudah Punya Rencana Matang Yang Akan Dilakukan Nanti.
Bian Merasa Percaya Penuh Kepada Adrian, Karena Menurutnya Dia Lah Satu – Satunya Teman Paling Bijaksana Diantara Teman Lainnya, Yang Hanya Bijaksana Musiman Saja Ketika Saat – Saat Tertentu. Seperti Boma Contohnya, Ia Bersikap Bijak Hanya Ketika Otaknya Dapat Berfikir Normal Saja, Selebihnya Tidak.
" Nanti Kita Akan… " Adrian Mulai Menjelaskan Rencananya Kepada Teman – Temannya, Mereka Mendengarkan Adrian Dengan Serius.
" Oke! Kalo Begini Gue Seneng, Nih! Seru Nih, Pasti! " Ujar Boma Setelah Selesai Mendengar Rencana Adrian, Kini Ia Terlihat Setuju Dan Semangat.
" Yaudah, Nanti Biar Gue Yang Ajak Mereka! " Ucap Delon Yang Akan Mengambil Alih Urusan Ini.
Bian Tersenyum Miring " Gue Setuju! "
" Tuh, Pacar Lo Dateng! " Delon Mendongakan Dagunya Menunjuk Ke Arah Casilda. Bian Yang Duduk Membelakangi Casilda Segera Menoreh.
" Hai? " Sapa Casilda Ketika Sudah Berada Didekat Bian.
" Nih, Kali Ini Aku Bawain Pudding Sama Kue. " Casilda Menyerahkan Dua Kotak Makan Ke Arah Bian, Dengan Segera Bian Mengambil Kotak Itu.
" Makasih. " Ucap Bian. Dia Melirik Kotak Makan Satu Lagi Yang Casilda Bawa. Bian Langsung Menebak Bahwa Gadis Itu Akan Makan Dikantin. Melihat Seperti Itu, Bian Menggeser Duduknya Agar Memberi Ruang Untuk Casilda Duduk.
" Mau Makan Disini? " Tanya Bian Lalu Ia Menepuk Ruang Kosong Di Bangku Panjang Itu. " Sinih Duduk. "
" Gak Usah, Bian. Aku Mau Makan Sama Temen Aku." Tolak Casilda Secara Halus.
" Oke. " Singkat Bian.
" Oh Iya, Bian. Hari Ini Aku Pulang Sekolak Gak Dijemput, Loh. " Ucap Casilda Memberi Kode Kepada Bian Agar Mengajak Nya Pulang Bareng . Dengan Kepolosannya Casilda Berkata Seperti Itu.
Bian Menatap Temannya Satu – Persatu, Kemudian Melirik Casilda. " Terus? " Bian Bertanya Dengan Santainyamembuat Teman - Temannya Menggeleng Kesal.
" Ya Terus, Lo Ajak Casilda Pulang Bareng, Lah! " Celetuk Boma Keras Membuat Bian Menatapnya Tajam. " He He He. Maaf Mengganggu Percakapan Rumah Tangga Kalian! " Ucap Boma Terkekeh.
" Boma Aja, Ngerti Masa Kamu Enggak. " Ujar Casilda.
" Gak Bisa! Hari Ini, Pulang Sekolah Gue Mau Main Basket Dulu Sama Temen – Temen. " Bian Menjelaskan Alasannya Tidak Bisa Pulang Bareng Dengannya.
" Oh, Gitu. " Casilda Mengangguk Faham. " Aku Tungguin Ya? Boleh Gak? "
" Jangan! Nanti Lo Bosen. " Jawab Bian Tanpa Menatap Casilda.
" Gak, Kok. Tenang Aja! Nunggu Kamu Bertahun – Tahun Aja Aku Kuat, Apa Lagi Cuma Nungguin Main Basket, Gak Terlalu Lama! " Mendengar Jawaban Casilda Seperti Itu Bian Pun Menyerah Tak Berniat Menolak Lagi.
" Oke. " Akhirnya Bian Mengangguk Setuju.
" Bagus Casilda! " Delon, Nugi Dan Boma Mengacungkan Jempol Ke Arah Casilda.
Mira Masih Saja Merengut, Ia Tak Menyentuh Makanan Nya Sama Sekali. Alisa Yang Duduk Dihadapannya Menatapnya Bingung. " Lo Kenapa, Sih? Cerita Sama Gue? " Tanya Alisa.
" Sebenarnya… " Alisa Menghela Nafasnya. " Gue Lagi Sedih Banget Alisa, Tapi Gue Malu Ceritanya! "
" Ngapain Malu, Sih! Kita Kan, Sahabatan. " Jawab Alisa. " Ayo Cerita, Ada Apa? "
" Tadi Pagi Gue Pura – Pura Jatuh Di Depan Adrian, Berharap Dia Nolongi Gue Gitu Kayak Di Sinetron! Ternyata Dia Sama Sekali Gak Tolongin Gue. Dia Malah Suruh Orang Buat Tolongin Gue! " Mira Mulai Bercerita, Alisa Mendengarnya Hanya Bisa Menggelengkan Kepalanya Saja, Ternyata Adrian Benar – Benar Lebih Cuek Dari Bian.
" Padahal, Apa Salahnya Bantuin Gue Berdiri Kan, Tapi…" Mira Berhenti Bercerita Ketika Melihat Kedatangan Casilda. " Nanti Aja Ceritanya! " Bisiknya Kepada Alisa.
" Kenapa? " Tanya Alisa Tak Mengerti, Padahal Sebelumnya Mira Selalu Bercerita Kepada Dirinya Dan Casilda Karena Tidak Ada Yang Disembunyikan Satu Pun Diantara Mereka.
Melihat Mira Sepert Itu, Alisa Mengikuti Saja. Mungkin Ia Hanya Ingin Bercerita Dengannya.
" Ayo Kita Makan! " Ucap Casilda Yang Baru Saja Datang. Mereka Pun Segera Menghabiskan Makanan Sebelum Jam Istirahat Berakhir.
**
Bel Pulang Sekolah Berbunyi, Dengan Cepat Casilda Berlari Keluar Kelas Menuju Lapangan, Di Mana Saat Ini Bian Akan Bertanding Basket Dengan Kelas Lain. Gadis Itu Terlalu Bersemangat.
" Lihat Tuh, Casilda! Bener – Bener Bucin Ha Ha. " Alisa Tertawa Saja Melihat Tingkah Temannya Itu Berlari Terburu – Buru.
" Kapan Ya, Kita Kayak Dia? " Celetuk Mira Menatap Punggung Casilda Yang Sudah Mulai Menjauh.
" Kapan – Kapan Kayaknya, Mir! " Alisa Tertawa Lagi. " Untuk Bisa Dapatin Cowo Ganteng Dan Keren, Hanya Berlaku Untuk Cewe Cantik, Bukan Seperti Kita Yang Terlalu Biasa Aja! " Lanjut Alisa.
" Ngaco! “ Cetus Mira Tak Setuju Dengan Pendapat Alisa. “ Hidup Itu Gak Selalu Tentang Si Tampan Dan Si Cantik! " Lanjut Mira Seraya Berjalan Keluar Sekolah Bersama Alisa.
" Terus Tentang Apa? " Tanya Alisa.
" Hidup Itu Tentang Keberuntungan! " Terang Mira. " Casilda Hanya Beruntung Aja Bisa Dapatin, Bian! Lo Bisa Liat Kan, Ada Banyak Cewe Cantik Disekolah Ini Yang Bian Tolak! Itu Semua Karena Mereka Kurang Beruntung! " Tambah Mira.
" Berarti, Lo Termasuk Orang Yang Kurang Beruntung Dong? " Celetuk Alisa Membuat Langkah Mira Terhenti.
" Maksudnya? " Tanya Mira Bingung, Alisa Juga Ikut Menghentikan Langkahnya Ketika Sudah Berada Di Ambang Pintu Gerbang Keluar Sekolah.
" Iya Maksudnya, Lo Termasuk Orang Yang Kurang Beruntung Karena Gak Bisa Dapatin Adrian? " Ledek Alisa Berhasil Membuat Mira Merengut Kesal.
" Heh! Rese Banget Sih, Lo! " Mira Mencubit Lengan Alisa Sebentar. " Udah Ayo Pulang! " Ajaknya.
" Bercanda, Sahabatku! " Alisa Merangkul Lengan Mira Dan Melanjutkan Langkahnya.
**
Casilda Sudah Duduk Manis Di pinggir Lapangan Menunggu Kedatangan Bian Dan Teman – Temannya. Tidak Terlalu Lama, Bian Pun Datang Bersama Yang Lainnya Sudah Berganti Pakaian Olahraga Basket.
Hari Ini Mereka Akan Bertanding Melawan Kelas Sebelas. Tidak Ada Acara Khusus, Mereka Bertanding Permainan Biasa Saja Yang Kadang Sehabis Pulang Sekolah Mereka Lakukan Hanya untuk Sekedar Mengeluarkan Keringat.
" Udah Dari Tadi? " Tanya Bian Menghampiri Casilda Yang Duduk Di Teras pinggir Lapangan.
" Lumayan. " Casilda Manggut – Manggut.
" Yakin Mau Tunggu? " Tanya Bian Lagi.
" Yakin Seribu Persen! " Ucap Casilda Penuh Semangat.
" Atau Mau Gue Pesenin Ojek Online? " Tawar Bian, Dengan Cepat Casilda Menggeleng.
" No! Aku Mau Tunggu Kamu Disini! " Jawab Casilda Terlihat Serius.
" Ok, Gue Kelapangan Dulu. " Bian Segera Pergi Berlalu Diikuti Teman – Temannya Yang Berjalan Dibelakangnya.
" Semangat Boma, Delon, Nugi! " seru Casilda Saat Mereka Bertiga Melewatinya.
" Makasih, Casilda. " Jawab Mereka Serentak.
" Loh, Kurang Satu? Si Adrian Kemana? " Tanya Nya Bingung Melihat Kini Bian Dan Teman – Temannya Sudah Memulai Permainan Bola Basket, tapi Tidak Ada Adrian Diantara Mereka.
" Hmm… Entah, Lah. " Ucapnya Setelah Itu Ia Kembali Duduk Memperhatikan Bian Yang Sedang Serius Mendribble Bola Basket Itu Dengan Cepat.
Dipinggir Lapangan Juga Ada Banyak Perempuan Yang Sengaja Menonton Karena Ada Bian.
" Semangat, Bian! " Teriak Casilda Sangat Kencang Hingga Membuat Beberapa Pasang Mata Melihat Ke Arahnya Yang Heboh Sendiri. " Jangan Mau Kalah! Semangat! Semangat! Yeay! " Casilda Terus Saja Berteriak Menyemangati Bian, Ia Tidak Perduli Dengan Tatapan Orang – Orang Ke Arahnya.
" Heboh Banget Sih, Itu Cewek! " Bisik – Bisik Wanita Lain Termasuk 3M Yang Saat Ini Juga Ikut Menonton, Namun Duduk Dipinggir Lapangan Yang Bersebrangan Dengan Casilda. Jadi, Cukup Jauh Sehingga Casilda Tidak Melihat Ada Para Wanita Tidak Berperasaan Itu. Pandangannya Hanya Fokus Ke Satu Titik Yaitu, Bian!
" Bawa Lari Aja Bian Bola Nya, Gak Usah Di Pantul – Pantul! " Teriak Casilda Mengganggu Konsentrasi Bian, Ia Melirik Gadis Itu Sebentar Sambil Menggelengkan Kepalanya Heran Karena Casilda Selalu Saja Cerewet.
" Bola Nya Jangan Kasih Boma Ya, Bian! Soalnya Boma Kepalanya Sama Kayak Bola Basket Ha Ha Ha. " Casilda Benar – Benar Heboh Sendiri Mengganggu Permainan Yang Terlihat Serius Itu.
Mendengar Casilda Menyebut Namanya, Seketika Boma Berhenti Berlari Dan Memegang Kepalanya.
" Kepala Gue Lagi Diem Aja Di Salahin! Nasib – Nasib! " Boma Kembali Melanjutkan Kegiatannya Mengejar Bola Basket Yang Kini Berada Di Tangan Lawan.
" Liat Tuh, Cewe Gatel! Ngapain Dia Ada Disin! " Ucap Merry Menatap Tajam Ke Arah Casilda Yang Cukup Berjauhan Dengannya.
" Ha Ha. Ternyata Seru Juga Ya, Nonton Pertandingan Basket Kayak Gini! " Ucap Casilda, Tenggorokannya Sampai Terasa Kering Karena Sejak Tadi Tak Berhenti Teriak.
Casilda Melirik Kesampingnya Berniat Mengambil Botol Mineral Miliknya Yang Ia Beli Tadi Sekalian Untuk Bian, Namun Ia Dikejutkan Ketika Ada Seseorang Yang Sudah Duduk Disampingnya Entah Sejak Kapan.
" Eh? " Bahu Casilda Terangkat Sebentar Seraya Memegang Dadanya. " Gue Kaget, Loh! "
" Sejak Kapan Lo Disini, Adrian? " Tanya Casilda Saat Melihat Kini Adrian Sudah Duduk Di Sampingnya Dengan Tatapan Fokus Kearah Lapangan.
" Dari Tadi. " Jawab Adrian Tanpa Melirik Casilda.
" Kayak Hantu Aja Lo Dateng Tiba – Tiba! " Jawab Casilda Seraya Membuka Tutup Botol Air Mineral Yang Masih Tersegel.
" Dari Pada Lo Teriak – Teriak Mulu Kayak Komentator Pembawa Acara Turnamen Bola! " Sahut Adrian Tak Mau Kalah.
" Emang Sih, Sebenernya Gue Ada Keinginan Jadi Komentator? Kira – Kira Cocok Gak? " Tanya Casilda, Tapi Adrian Hanya Diam Saja Tak Menjawab.
" Lo Darimana Aja? Kok Gak Ikut Main Basket? " Tanya Casilda Lagi.
" Habis Bantuin Guru Di Lab Komputer! Lagian, Gue Juga Gak Terlalu Suka Main Basket. " Jawab Adrian, Casilda Hanya Manggut – Manggut Saja.
Disisi Lain, 3M Yang Kini Melihat Casilda Tengah Berduaan Dengan Adrian Segera Mengabadikan Kedekatan Mereka Dengan Memotret Nya. Entah Niat Buruk Apa Yang Akan Mereka Lakukan, Yang Jelas 3M Tidak Akan Berhenti Hingga Membuat Casilda Jera.
" Eh Adrian, Bukain Dong Susah Banget, Nih. " Pinta Casilda. Sejak Tadi Ia Memutar Tutup Botol Itu Sedikit Kesulitan Karena Cukup Kuat Segel Itu Menempel.
Adrian Segera Mengambil Botol Itu Dari Tangan Casilda, Lalu Memutar Tutup Itu Hanya Dalam Satu Kali Putaran Saja Langsung Terbuka Membuat Casilda Takjub Melihatnya Dengan Mudah Membuka Tutup Itu.
" Wah… Lo Punya Tenaga Super, Ya? " Ucapnya Menatap Adrian, Ia Mengambil Botol Air Itu Dan Segera Meneguknya. " Makasih Ya. "
" Kenapa Wanita Kuat Bertahan Soal Perasaan, Tapi Dalam Hal Kayak Gitu Aja Gak Kuat? " Tanya Adrian Melirik Casilda Sekilas Kemudian Pandangannya Kembali Lurus Kedepan.
" Bentar, Sebelum Jawab Gue Mau Minum Dulu, Haus! " Ucap Casilda, Ia Kembali Meneguk Air Itu. Setelah Merasa Cukup, Ia Menutup Botol Mineral Itu.
Casilda Menghela Nafas, Sebelum Akhirnya Menjawab. " Karena Wanita Pakai Hati Bukan Kekuatan Atau Fisik! " Jawab Casilda.
Adrian Segera Menoreh. " Apakah Wanita Pernah Memakai Otaknya Ketika Dirinya Terluka, Namun Tetap Bertahan? " Tanya Adrian Lagi, Kali Ini Membuat Casilda Harus Berfikir Keras Untuk Mencari Jawaban.
Karena Memang Pada Dasarnya Kaum Wanita Selalu Saja Memilih Bertahan Dalam Luka Demi Seseorang Yang Di Cintai Dibanding Menggunakan Akal Sehatnya.
" Menurut Lo Gimana? " Casilda Bertanya Balik.
" Kan, Gue Bukan Perempuan. Jadi, Gue Gak Tahu. " Balas Adrian Membungkam Casilda.
" Sebenarnya, Kadang Wanita Itu Sadar Kalau Apa Yang Dilakukan Itu Salah! Hanya Saja, Rasa Cinta Yang Terlalu Dalam Membuat Wanita Kehilangan Akal Dan Logika. Jadi, Wanita Lebih Memilih Menggunakan Hati Dan Perasaannya! " Jelas Casilda Terlihat Serius.
" Jadi, Itu Sebabnya Lo Kejar Bian? Karena Terlalu Cinta? " Tanya Adrian Tentu Saja Dengan Cepat Casilda Mengangguk.
" Apa Lo Pernah Merasakan Jatuh Cinta Yang Terlalu Dalam, Sampai Tidak Bisa Menggunakan Akal Sehat Lo Dan Hanya Mengikuti Kata Hati? " Pertanyaan Casilda Kali Ini Membuat Adrian Terdiam Membisu.
Setelah Terdiam Beberapa Saat, Adrian Membuka Suara. " Belum. " Singkatnya.
" Semoga Lo Segera Menemukannya! " Casilda Menepuk Bahu Adrian Sekali, Lelaki Itu Melirik Tangan Casilda Yang Sempat Menempel Di Bahunya.
" Ternyata Lo Asik Juga Ya Di Ajak Diskusi? Lo Cewe Smart ! Gue Kagum Sama Perempuan Yang Punya Pola Pikir Luas! " Ucap Adrian Tersenyum Tipis.
" Iya Dong, Casilda Gitu, Loh! " Casilda Melirik Adrian.
" Awas Lo Jangan Sampai Jatuh Cinta Ya, Sama Gue! Ha Ha. " Tambah Casilda Di Lanjuti Tawa. Adrian Sempat Terdiam Sesaat Sebelum Akhirnya Juga Ikut Tertawa.
**
DITUNGGU PART BERIKUTNYA YA :)