CHAPTER 20

3492 Kata
  Bian Melepaskan Tangan Casilda Ketika Sudah Berada Di Dalam Villa Yang Cukup Megah Itu. Ada Sedikit Rasa Kecewa Saat Bian Melepaskan Genggamannya. Rasanya Casilda Selalu Ingin Di Genggam Erat Oleh Lelaki Itu. " Makasih, Ya. " Ucap Casilda Pelan. " Untuk? " Tanya Bian. " Udah Mau Mengakui Aku Sebagai Pacar Kamu! " Jawab Casilda Di Sertai Senyuman Lebar Yang Menampilkan Deretan Giginya. " Emang Bener, Kan? " Bian Tersenyum Tipis, Tangannya Terangkat Mengacak Pelan Rambut Casilda. " SELAMAT DATANG DI VILLA MILIK BOMA GANTENG! " Teriak Boma Yang Baru Saja Datang Bersama Yang Lainnya. Ini Bukan Pertama Kalinya Boma Dan Teman – Temannya Datang Kemari. Di Saat Ada Waktu Libur, Terkadang Bian Dan Yang Lainnya Menginap Di Villa Boma. " Oke, Sekarang Kita Pembagian Kamar Ya. " Ucap Boma Kepada Semua Yang Kini Berada Di Ruangan Tengah Villa Tersebut.   Terlihat 3M Dengan Wajah Merengut Menatap Casilda Dengan Tajam. Namun, Kini Casilda Tersenyum Puas Melihat Mereka Seperti Itu. " Di Sini  Ada 5 Kamar Tidur ! Di Bawah 3 Dan Di Atas 2. “ Terang Boma.   “ Gue, Delon Dan Nugi Tidur Di Kamar Bawah Sedangkan Adrian , Bian Dan Casilda Tidur Dilantai Atas Yang Ada Balkonnya! Biar Casilda Bisa Lihat Pemandangan Ke Arah Laut! " Jelas Boma Panjang Lebar. " Sebentar. " Sahut Casilda. " Kan, Di Atas Ada 2 Kamar? Terus Gue, Adrian Dan Bian  Berarti Jumlahnya Tiga Orang Dong? " " Karena Ada Dua Kamar, Jadi Adrian Tidur Sendiri Dan Lo Sama Bian Satu Kamar! " Penjelasan Boma Kali Ini Membuat Mata Bian Ingin Keluar Dari Tempatnya, Ia Sangat Terkejut. " Gila Kali Lo, Bom! “ Mata Bian Melebar Sempurna. “ Gue Fikir, Adrian Yang Akan Sekamar Dengan Gue Dan Casilda Sendiri! " Seru Bian Tak Mengerti Pola Fikir Boma Karena Menyuruhnya Tidur Dengan Perempuan Dalam Satu Kamar.    " GAK GUE GAK MAU! " Bian Menggeleng Cepat. " Lagian, Gue Juga Yakin Casilda Juga Gak Akan Mau! " Tambah Bian Yang Terlihat Kesal Sendiri Mendengar Keputusan Boma. " Casilda Lo Keberatan Gak? " Tanya Delon Kepada Casilda Yang Kini Terlihat Tenang Tidak Seperti Bian. " Biasa Aja, Sih! " Jawab Gadis Itu Dengan Santainya Sambil Terkekeh Membuat Bian Semakin Tak Mengerti Dengan Semua Orang Yang Ada Disini. " Lagi Pula, Gue Juga Gak Mau Satu Kamar Sama Lo! Jadi, Lo Terpaksa Harus Satu Kamar Sama Casilda. " Ucap Adrian Tersenyum Meledek, Ia Berjalan Menaiki Lantai Atas Menuju Kamarnya Sebelum Bian Menempatkan Terlebih Dahulu. " Kita Juga Gak Mau Satu Kamar Sama Lo! " Jawab Nugi Dan Delon Bersamaan. " Tuh, Mampus Gak Ada Yang Mau Satu Kamar Sama Lo! Udah Sih, Terima Aja. Casilda Nya Aja Santai! " Ucap Boma Menahan Tawanya Melirik Teman – Temannya. Bian Menyipitkan Matanya Menatap Temannya Satu Persatu. " Ini Pasti Rencana Lo Semua, Kan? " Tanya Bian Penuh Penekanan. Bian Yakin Teman – Temannya Itu Sengaja Seperti Ini Agar Membuat Bian Semakin Lebih Dekat Dengan Casilda. " Udah Sih, Terima Aja Kalau Kita Satu Kamar! Kan, Yang Penting Kita Gak Ngelakuin Macam – Macam! " Sahut Casilda, Ia Malah Terlihat Semangat Satu Ruangan Dengan Lelaki Itu. Tentu Saja Casilda Tidak Berfikiran Kotor Atau m***m Karena Ingin Satu Kamar Dengan Bian. Dia Hanya Ingin Memiliki Waktu Lebih Banyak Untuk Bersama Dan Menatap Wajah Bian. " Yaudah Kalo Lo Gak Mau Satu Kamar Sama Casilda, Biar Adrian Aja Yang Berdua Sama Casilda? Gimana? " Celetuk Nugi, Ia Melirik Adrian Yang Sedang Menaiki Tangga. " Lo Setuju Kan, Adrian? " Teriak Nugi Ke Arah Adrian. " OKE! " Sahut Adrian  Yang Dapat Mendengar Teriakan Nugi Sambil Mengacungkan Jempolnya, Ia Menyahut Seperti Itu Berniat Untuk Meledek Bian.   Bian Menarik Nafas Panjang, Menatap Tajam Temannya Yang Kini Tersenyum Puas Ke Arahnya Sedangkan Casilda Hanya Bisa Menahan Tawanya Saja Melihat Bian Di Kerjain Oleh Teman - Temannya.   Bian Membalikkan Badannya, Ia Malas Jika Terus Berada Di Tempat Itu. Sebelum Pergi, Ia Melirik Sinis Ke Arah Teman - Temannya Itu.          " TEMEN SETAN! " Gerutu Bian, Setelah Itu Ia Pergi Berlalu Menaiki Anak Tangga Menuju Kamarnya. Ralat, Kamar Nya Bersama CASILDA. " Udah Sana Temenin Pacar Lo! " Celetuk Boma, Casilda Mengangguk Cepat. " Iya, Makasih Ya! Gue Gak Tau Kalau Kalian Punya Rencana Se-Bagus Ini! " Seru Casilda Kemudian Ia Segera Berlari Kecil Menuju Lantai Atas. " BOMA TERUS KITA GIMANA! " Teriak Mery Yang Sejak Tadi Diam, Ia Bahkan Sangat Merasa Iri Melihat Casilda Bisa Satu Kamar Dengan Bian. " Oh Iya, Lupa! " Boma Menepuk Jidatnya, Ia Melirik Delon. " Delon, Anterin Mereka Ke Kamar Yang Paling Spesial! " Perintah Boma Dan Delon Langsung Mengangguk Faham. " SIAP! " Dengan Penuh Semangat Delon Menghampiri 3M. " Ayo Ikut Gue. " Ajak Delon, Mereka Pun Mengikuti Saja. Ketika Sudah Sampai Di Depan Sebuah Ruangan, Delon Menghentikan Langkahnya. 3M Pun Juga Ikut Berhenti Dan Menatap Ruangan Dengan Pintu Yang Tertutup Rapat. " Katanya Di Sini Kamar Cuma Ada 5 Dan Itu Semua Kan, Udah Terisi? Terus Ini Ruangan Apa? " Tanya Mery Bingung. " Ponsel Kalian Semua Mana? " Delon Menadahkan Tangannya, Bodohnya Mereka Menuruti Saja Perintah Lelaki Itu Dan Segera Memberikan Ponsel Mereka Semua. " Terus Apa Lagi? " Tanya Mela. " Yaudah, Kalian Masuk! " Perintah Delon.   Perlahan Mereka Membuka Pintu Itu Dan Melangkah Masuk Ke Dalam. Mereka Semua Melongo Ketika Melihat Ruangan Itu Hanyalah Sebuah Gudang. Saat Mereka Ingin Membalikan Badannya Untuk Keluar, Dengan Cepat Delon Mengunci Gudang Itu Membiarkan Mereka Bertiga Terjebak Di Dalam Sana. " DELON!! BUKA PINTU NYA! " Teriak Mery Seraya Menggebrak Pintu Yang Sudah Terkunci Rapat Itu. Tawa Delon Berderai. " Kalian Diam Aja Dulu Di Dalam Sampai Besok! " Teriak Delon Dari Luar Gudang. " Delon Kenapa Kita Di Kunciin Disini! " " Itu Akibat Lo Semua Udah Jahat Sama Casilda! Ini Semua Perintah Dari Bian!                                                                                                                 Makanya, Jadi Cewe Jangan Kayak Monster!  HA HA! " Delon Benar – Benar Merasa Puas. Rencana Yang Telah Di Buat Oleh Adrian Berjalan Lancar Meskipun Tidak Sebanding Dengan Apa Yang Telah Mereka Lakukan Kepada Casilda, Paling Tidak Kini Mereka Sedang Merasa Menderita Di Kunci Di Dalam Ruangan Itu. Ponsel Mereka Sengaja Di Kumpulkan Agar Mereka Tidak Menelfon Atau Meminta Bantuan Kepada Orang Lain. Hal Itu Juga Sesuai Rencana Yang Adrian Beritahu. Lelaki Itu Benar - Benar Matang Merencanakan Sesuatu. Bian Tidak Salah Mempercayakan Adrian. " SELAMAT TIDUR DENGAN BARANG BEKAS! HATI – HATI ADA TIKUS! " Delon Mencoba Menakut – Nakuti Gadis Itu, Setelah Mendengar Mereka Menjerit Ketakutan Delon Segera Pergi Dari Sana Sebelum Telinganya Terasa Sakit Mendengar Teriakan Melengking Dari 3M. " DELON GILA! " Teriak Mereka Dari Dalam Gudang. Mereka Benar – Benar Merasa Tersiksa Berada Di Dalam Gudang Yang Terasa Pengap Dan Berisi Barang – Barang Yang Sudah Usang. Ditambah Lagi Perut Mereka Yang Terasa Lapar, Membuat 3M Tidak Bisa Tenang Dan Semakin Tersiksa.   Jika Tahu Dirinya Akan Di Perlakukan Seperti Ini, 3M Tidak Akan Pernah Berniat Ikut Berlibur Bersama Bian Dan Teman – Temannya.   " CASILDA b******k! "   " GUE BENCI BANGET SAMA LO! "   " LIAT AJA NANTI! "   **   Casilda Baru Saja Masuk Ke Dalam Kamar, Terlihat Bian Tengah Duduk Di Sofa Dengan Raut Wajah Yang Masih Terlihat Kesal Akan Keputusan Teman – Temannya Itu.   Perlahan Casilda Berjalan Mendekati Bian . " Bian Marah Ya Sama Casie ? " Tanya Casilda Ketika Sudah Di Depan Bian. Lelaki Itu Menggeleng Pelan. " Gue Gak Marah Sama Lo. " Jawab Bian Melirik Casilda Sekilas. " Bian Gak Mau Ya, Satu Ruangan Sama Casie? " Tanya Casilda Lagi Memasang Wajah Kecewa, Sorot Matanya Lurus Menatap Bian Yang Kini Tengah Menunduk.          " Bukan Gitu…" Bian Mendongakan Kepalanya Melihat Gadis Di Hadapannya Itu Tengah Menatapnya Sendu. " Iya, Bilang Aja Kalau Bian Gak Mau! Bian Gak Suka Kan, Kalau Berduaan Sama Casie? " Gerutu Casilda Lagi Membuat Bian Menghela Nafasnya. Bian Sudah Merasa Kesal Di Kerjai Teman – Temannya, Kini Casilda Menambah Ruwet Suasana Dengan Memasang Wajah Bersedih. Bian Jadi Tidak Tega.   " Gak Gitu Casie. " Ujar Bian Berusaha Menjelaskan Namun Casilda Memotong Pembicaraanya. " Yaudah, Bilang Aja Kalau Bian Gak Mau! " Ucap Casilda Lirih Dengan Wajah Tak Bersemangat. " Mau Kok, Mau! " Jawab Bian Dengan Pasrah, Ia Mengusap Wajahnya Sekilas Merasa Gelisah Dengan Keadaan Seperti Ini. Bian Terpaksa Mengiyakan Saja, Agar Casilda Tidak Terlihat Sedih Dan Yang Paling Penting Casilda Tidak Menerornya Dengan Pertanyaan – Pertanyaan Lagi.   Lebih Baik Dia Mengiyakan Saja Kemauan Gadis Itu. " Beneran? " Casilda Duduk Di Samping Bian Dengan Tatapan Tak Percaya.       " Iya. " Bian Manggut – Manggut Membuat Casilda Semakin Senang. " Yaudah, Aku Mau Mandi Dulu Ya. Badan Pada Lengket! " Ujar Casilda Setelah Itu  Beranjak Bangun Menuju Kamar Mandi. " Gue Kira Mery Dan Teman – Temannya Doang Yang Di Kerjain! Ternyata Gue Juga Ikut Di Kerjain! s**l! " Gerutu Bian Yang Masih Merasa Kesal Kepada Teman – Temannya.   Merasa Tubuhnya Lelah Karena Selama Di Perjalanan Ia Duduk Dan Fokus Mengemudi, Bian Memilih Untuk Merebahkan Tubuhnya Di Atas Kasur Ukuran King Size. Sambil Rebahan, Bian Mengeluarkan Ponselnya Yang Sejak Tadi Berada Di Sakunya. Bian Mengecek Notif Dari Grup w******p Yang Tak Lain Dari Teman – Temannya Yang Sibuk Meledekinya, Terutama Boma. Bian Hanya Bisa Mendengus Kesal Tak Berniat Menyahut Sepatah Kata Pun Di Grup. Setelah Cukup Lama Ia Fokus Memainkan Ponsel, Tiba – Tiba Saja Bian Dikejutkan Oleh Pemandangan Di Depannya, Yaitu Melihat Casilda Yang Baru Saja Keluar Dari Kamar Mandi Sudah Berganti Pakaian.   Gadis Itu Dengan Santainya Menggunakan Kaos Dengan Panjang Selututnya Tanpa Menggunakan Celana Panjang Lagi, Hal Itu Membuat Bian Tertegun Melihatnya. " Seger Banget Habis Mandi! " Ujar Casilda, Ia Berjalan Mendekat Ke Arah Kasur Sambil Melepaskan Handuk Yang Membungkus Rambutnya.   Bian Terdiam Membeku Melihat Casilda Menggunakan Pakaian Yang Cukup Minim Memperlihatkan Sebagian Tubuhnya Yang Putih Bersih Dan Rambutnya Di Biarkan Terurai Yang Masih Terlihat Sedikit Basah Membuat Bian Meneguk Ludahnya Dengan Susah Payah. Meskipun Bian Terkadang Bersikap Acuh, Tapi Ia Juga Lelaki Biasa Yang Tidak Mungkin Untuk Tidak Tergoda Melihat Seorang Wanita Yang Berpakaian Seperti Itu Membuat Darahnya Berdesir Deras Dan Tubuhnya Merinding Bukan Karena Melihat Hantu, Tentu Saja Karena Melihat Casilda Yang Kini Semakin Mendekat Kearah Nya. Casilda Sendiri Sebenarnya Sudah Biasa Menggunakan Pakaian Seperti Itu Ketika Ingin Tidur. Hanya Saja Dia Lupa Kalau Saat Ini Dia Tidak Hanya Tidur Sendiri, Melainkan Bersama Seorang Lelaki.   Suasana Terasa Menegang Di Tambah Lagi Mereka Hanya Berduaaan Saja Di Ruangan Itu Semakin Membuat Bian Merasa Gelisah Sendiri. Bian Dapat Merasakan Jantungnya Begitu Kencang Berdetak. Mata Bian Tak Berkedip, Ia Seperti Membeku Membiarkan Pandangannya Lurus Ke Arah Casilda Sebelum Akhirnya Lamunannya Buyar Saat Casilda Sudah Berada Di Sampingnya, Duduk Diatas Kasur. " Bian Kamu Kenapa Melamun? " Tanya Casilda, Seketika Bian Terlonjak Kaget Dan Menggeser Duduknya Sedikit Menjauh Dari Casilda. " Kenapa? " Casilda Tak Mengerti Mengapa Lelaki Itu Tiba – Tiba Menjauh. " Lo Ngapain Disini? " Tanya Bian Gugup Melihat Casilda Duduk Di Atas Ranjang Berdua Dengannya.   Bian Berusaha Bersikap Normal Meskipun Saat Ini Tubuhnya Mendadak Panas Dingin. Tentu Saja Itu Hal Biasa Terjadi Pada Lelaki Normal, Bian Berusaha Mengendalikan Dirinya. " Kan, Kita Satu Kamar?  " Jawab Casilda Santai. Bian Segera Beranjak Turun Dari Kasur Sebelum Para Iblis Membisikkan Hal Buruk Merasuki Nya Untuk Melakukan Hal Diluar Batas Kepada Casilda. Bian Tidak Ingin Itu Terjadi. " Lo Tidur Dikasur Dan Gue Di Sofa! " Ucap Bian Kepada Casilda Yang Masih Duduk Manis Diatas Kasur. " Yaudah. " Casilda Mengangguk Setuju, Ia Mulai Merebahkan Tubuhnya Karena Memang Dirinya Juga Sudah Sangat Lelah. Bian Yang Masih Berdiri Disamping Kasur Menatap Gadis Itu. " Lo Kenapa Pakai Baju Kayak Gitu? " Tanya Bian Menunjuk Pakaian Yang Casilda Kenakan. " Kenapa Emang?  Aku Udah Biasa Kalau Di Rumah Tidur Pakai Baju Kayak Gini? " Jawab Casilda. " Oh. " Bian Hanya Ber – Oh Ria Saja. " Yaudah Tidur! " Perintah Bian. " Bian Gak Apa – Apa Tidur Di Sofa? Gak Mau Di Samping Aku Aja? " Dengan Santainya Casilda Menyuruh Bian Untuk Tidur Berdua Dengannya, Ia Tidak Tahu Jika Lelaki Itu Kini Sedang Berusaha Mengendalikan Dirinya. " Gak Usah! " Bian Menggeleng Cepat. " Aku Janji Gak Akan Berbuat Sesuatu Kok Sama Kamu! Aku Gak Akan Macam – Macam! Janji, Deh! " Ucap Casilda Serius, Tapi Membuat Bian Ingin Tertawa Namun Ditahan. Bagaimana Bisa Casilda Bicara Seperti Itu, Harusnya Bian Yang Mengatakan Hal Itu. Bian Sudah Tidak Mengerti Lagi Dengan Isi Fikiran Casilda. " Kok Kamu Diam Aja? " Tanya Casilda Melihat Bian Diam Tak Bergeming. " Udah Tidur Aja, Jangan Bawel! " Tegas Bian, Ia Menarik Selimut Agar Menutupi Tubuh Casilda Yang Mengenakan Pakaian Sedikit Terbuka. " Gue Ke Bawah Dulu Ya. " Ucap Bian Setelah Selesai Menyelimuti Tubuh Casilda. " Mau Ngapain? " Tanya Casilda. " Mau Ke Kamar Delon, Ada Urusan Sebentar! " Bian Bangkit Dari Duduknya Dan Ingin Bergegas Pergi, Namun Tangannya Ditarik Oleh Casilda. " Kenapa? " Tanya Bian Melihat Casilda Menahan Dirinya. " Jangan Lama – Lama Ya? Aku Takut Sendirian? " Ucap Casilda Dengan Suara Sedikit Manja. " Iya. " Singkat Bian. " 1 Menit Ya? " Kata Casilda, Bian Mengerutkan Keningnya. " Gak Cukup, Lah! Itu Mah, Baru Turun Tangga Udah Habis Waktunya! " Ucap Bian. " Yaudah, 2 Menit? " Ujar Casilda. " 15 Menit? " Bian Mengajukkan Permintaan. " Kelamaan, Bian! " Casila Merengut Menatap Lelaki Itu. " Itu Sebentar, Casie! " " Tapi, Lama Bagi Aku! " Ucap Casilda Tak Mau Kalah . " Oke, 14 Menit? " Tawar Bian. " Itu Masih Terlalu Lama, Bian! " " Terus Berapa? " Tanya Bian Mulai Terlihat Frustasi. " 10 Menit, Deh! Aku Berbaik Hati, Tuh! " Gerutu Casilda, Bian Mengangguk Saja Yang Penting Ia Bisa Segera Pergi. " Yaudah. " Setelah Bian Setuju, Casilda Melepaskan Tangan Bian Yang Ia Tahan. " Dasar Bawel! " Selesai Bicara Bian Langsung Menyentil Kening Casilda Dengan Gemas.   PLETAK . . .   " Aduh, Bian! RESE BANGET, SIH! "  Teriak Casilda Kepada Bian Yang Sudah Berjalan Keluar Kamar, Tapi Ia Tidak Lupa Untuk Tersenyum Karena Bagi Dirinya Meskipun Bian Menyentilnya Itu Adalah Hal Yang Romantis.   Casilda Benar – Benar Sudah Sangat Jatuh Cinta.     **   Delon Terkejut Ketika Bian Tiba – Tiba Saja Masuk Ke Dalam Kamarnya Tanpa Permisi, Ternyata Di Dalam Kamar Delon Juga Ada Nugi Dan Boma. " DASAR GILA LO SEMUA! " Omel Bian Yang Baru Saja Datang. Dia Menjatuhkan  Tubuhya Kasar Di Atas Kasur Delon. Mereka Sudah Tahu Penyebab Bian Marah Pasti Karena Dipaksa Satu Kamar Dengan Casilda. " Kapan Lagi Lo Bisa Satu Kamar Sama Casilda. " Ujar Boma Menghampiri Bian Yang Berada Di Atas Ranjang. " Lo Udah Ngapain Aja? " Tanya Nugi Yang Juga Ikut Menghampiri Bian. Bian Terbangun Duduk. " Gue Kesini Bukan Mau Bahas Itu! Gimana Tuh, Si Mery Sama Teman – Temannya? " Tanya Bian Ke Arah Delon Yang Duduk Santai Diatas Sofa. " SEMUANYA UDAH BERES! " Delon Bangun Dari Duduk Berjalan Mendekati Bian. " Mereka Udah Gue Kunciin Di Gudang! Biar Tau Rasa Tuh Dia Pada! " Ucap Delon Terlihat Puas Mengerjai Gadis – Gadis Itu. " Yaudah. " Bian Bernafas Lega. " Muka Lo Kenapa Keliatan Gak Semangat Gitu? " Tanya Delon Yang Kini Berdiri Di Hadapan Bian. " Biasa Aja. "  Jawab Bian. " Gimana Satu Kamar Sama Casilda? Pasti Seru, Kan? " Ledek Delon Mencolek Dagu Bian. " Gila Lo Semua! Baru Sebentaran Aja Gue Udah Panas Dingin! " Celetuk Bian Geleng – Geleng. Namun, Selesai Bicara Dia Menyesal Telah Mengatakan Itu Karena Pasti Teman – Temannya Langsung Berfikiran Kemana – Mana. " Udah Ngapain Aja Emang? " Boma Semakin Mendekati Bian Karena Merasa Penasaran. " Ceritan Dong Penasaran, Nih? " Celetuk Nugi. " AH? Enggak, Maksud Gue… " Bian Terlihat Gelagapan Saat Mendapat Pertanyaan Dari Teman – Temannya. Delon Tersenyum Jahil, Ia Berjalan Mendekati Tas Miliknya Dan Mengambil Sesuatu Dari Dalamnya, Setelah Itu Delon Kembali Mendekat Ke Arah Bian. Delon Menyodorkan Apa Yang Baru Saja Ia Ambil Tadi Dari Tas Nya Ke Arah Bian. " Nih, Pakai Ini Biar Aman! " Delon Menyodorkan Sebuah Bungkus Plastik, Di Dalam Nya Ada Sebuah Kotak Kecil Yang Bian Sendiri Tidak Tahu Ada Apa Didalam Nya. " Apaan Ini? " Tanya Bian Bingung Menatap Bungkus Plastik Itu. " Pakai Pengaman, Biar Casilda Gak Hamil! " Terang Delon Membuat Bian Dan Yang Lainnya Seketika Tertegun Mendengar Apa Yang Baru Saja Delon Katakan. Bian Segera Berdiri Dari Duduknya, Ia Menarik Kerah Baju Delon Dengan Kuat, Tatapan Matanya Tajam Setajam Silet, Bahkan Sangat Mengerikan Melihat Kearah Delon, Rahangnya Mengeras.  " b******k! LO FIKIR GUE AKAN NGERUSAK CASIE! " Ucap Bian Penuh Penekanan. Boma Dan Nugi Malah Menahan Tawanya, Begitu Juga Dengan Delon. Mereka Terlihat Santai Bahkan Tidak Ada Ketegangan Sama Sekali Diantara Mereka, Padahal Bian Sudah Terlihat Emosi. " Gue Tau, Lo Gak Akan Berbuat Kayak Gitu! " Jawab Delon Santai Diselingin Senyuman Jail. Bian Segera Melepaskan Cengkraman Tangannya Dari Kerah Baju Delon, Ia Kembali Duduk Dan Menunduk. " Gue Gak Akan Ngerusak Casilda! GAK AKAN PERNAH! " Bian Bicara Dengan Sungguh – Sungguh. " Gue Cuma Bercanda Aja! Pengen Tau Aja, Lo Normal Atau Enggak! Eh, Ternyata Emang Bener Lo Gak NORMAL! " Selesai Delon Bicara, Nugi Dan Boma Tertawa Keras. " Gue Bukannya Gak Normal, b**o! " Bian Menoyor Kepala Temannya Satu Persatu. " Gue Gak Mau Ngerusak Hidup Casilda, Apalagi Gue Juga Punya Adik Perempuan! Sebelum Gue Berbuat Macam – Macam Sama Casilda, Gue Pasti Udah Mikir Lebih Dulu Gimana Kalau Seandainya Adik Gue Yang Diperlakukan Kayak Gitu Sama Cowo Lain! Pasti Hancur Banget Perasaan Keluarganya! " Terang Bian. " Iya Tau, Lagian Juga Kita Gak Akan Ngebiarin Lo Berbuat Kayak Gitu Sama Casilda! " Sahut Nugi. " Gue Juga Gak Akan Setuju! Lo Harus Jaga Dia Baik – Baik, Bian! " Kata Delon Seraya Menepuk Bahu Bian. " Yaudah, Gue Capek! Mau Ke Kamar Dulu! " Bian Bangkit Dari Duduknya. " Kok Sebentar Banget, Sih? " Teriak Delon. " Waktu Gue Cuma 10 Menit! " Sahut Bian Seraya Berjalan Keluar Kamar. " HAH 10 Menit? " Boma, Nugi Dan Delon Saling Bertatapan Tak Mengerti Maksud Bian. " Udah Lah, Gak Usah Difikirin. " Ujar Nugi. Boma Menatap Delon Bingung. " Kapan Lu Beli Itu? " Tanya Boma Melirik Bungkusan Plastik Yang Masih Di Genggam Delon. " Tadi Pas Di Supermaket, HE HE. " Delon Terkekeh. " Lo Mau Main Sama Siapa Emang? " Tanya Nugi. " Gak Ada. Gue Cuma Iseng Aja Beli! " Jawab Delon Kemudian Tertawa. " DASAR g****k! SONO MAIN SAMA KUCING! " Boma Tertawa Terbahak – Bahak Hingga Dirinya Terbatuk. ** Bian Membuka Pintu Kamar Secara Perlahan Agar Tidak Menimbulkan Bunyi Bising Yang Dapat Membangunkan Casilda Yang Sudah Tertidur. Bian Berjalan Mendekati Ranjang, Terlihat Gadis Itu Begitu Terlelap, Wajahnya Terlihat Damai. Mata Bian Menatap Gadis Itu Beberapa Saat Hingga Akhirnya Seulas Senyuman Tipis Terukir Di Wajahnya. Bian Segera Menjauh Dari Ranjang Dan Berjalan Mendekati Sofa, Ia Memilih Untuk Tidur Disana. Tidak Perlu Menunggu Lama, Mata Bian Langsung Terpejam Karena Memang Sudah Merasakan Kantuk. Disisi Lain, Casilda Terlihat Menggeliat, Perlahan Dia Membuka Kedua Matanya, Menoreh Ke Arah Samping Atau Lebih Tepatnya Ke Arah Bian Yang Tertidur Diatas Sofa Yang Tidak Terlalu Jauh Darinya. Casilda Terbangun Duduk, Ia Tidak Tega Melihat Bian Tertidur Di Sofa Yang Berukuran Tidak Terlalu Besar Dan Panjang Membuat Lelaki Itu Tidur Seadanya Saja Dengan Ruang Yang Ada Di Sofa Itu. Gadis Itu Mengambil Selimut Yang Berada Di Atas Meja Didekatnya Yang Masih Terlipat Rapih, Ia Beranjak Turun Dari Kasur Berjalan Mendekati Bian. Casilda Mulai Melebarkan Selimut Itu Dan Menutupi Tubuh Bian Agar Lelaki Itu Tidak Merasa Kedinginginan. Setelah Selesai Menyelimuti Tubuh Bian, Casilda Berlutut Di Samping Lelaki Itu. Dia Membiarkan Matanya Menikmati Pemandangan Indah Di Hadapannya Saat Ini Yang Tak Lain Adalah Bian.   Baginya, Memandangi Bian Selama Seribu Tahun Pun Casilda Tidak Akan Merasa Bosan Dan Jenuh, Ia Suka Itu. " Lagi Tidur Aja Ganteng Banget! " Gumam Casilda Pelan, Tangannya Terangkat Untuk Menyentuh Hidung Mancung Milik Bian. Casilda Tertawa Pelan Seraya Menyentuh Hidung Bian Dengan Jari Nya Beberapa Kali. Setelah Merasa Puas, Casilda Segera Berdiri Dan Membiarkan Bian Tertidur Pulas Tak Ingin Mengganggunya. Kaki Casilda Melangkah Ke Arah Pintu Balkon, Matanya Sudah Tidak Bisa Terpejam Lagi Karena Rasa Kantuknya Mendadak Hilang Begitu Saja. Dia Ingin Menikmati Dinginnya Angin Malam Dan Melihat Pemandangan Pantai Dari Balkon Kamarnya. Casilda Berdiri Di Balkon Memandangi Pantai Dengan Ombak Yang Tidak Terlalu Tinggi, Angin Laut Yang Menerpa Kulitnya Membuat Tubuhnya Terasa Dingin. Ia Menghirup Udara Yang Terasa Dingin Menusuk Tulangnya. Hanya Ada Suara Ombak Dan Angin Yang Menemani Kesunyian Malam Ini. " Belum Tidur? " Celetuk Seseorang Menggangu Ketenangan Casilda, Ia Segera Menoreh Kearah Sumber Suara. " Adrian? "  Ucap Casilda Melihat Lelaki Itu Juga Berada Di Balkon Kamar Yang Bersampingan Dengannya, Karena Memang Di Lantai Atas Kamarnya Masing – Masih Terdapat Balkon. " Mau Ke Bawah Gak? " Ajak Adrian Dengan Suara Sedikit Keras Agar Terdengar Casilda. Casilda Terdiam Sejenak Sebelum Akhirnya Mengangguk. " Ayo. " Dia Terlihat Semangat Ingin Berjalan – Jalan Di Pantai Pada Malam Hari. " Oke. " Adrian Segera Masuk Ke Dalam Kamar Untuk Segera Keluar, Casilda Pun Juga Melakukan Hal Yang Sama.   **   WAH APA YANG ADRIAN LAKUKAN BERSAMA CASILDA YA? TUNGGU BESOK YA KELANJUTANNYA :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN