The Fact * Louis baru saja menginjakkan kakinya di kantor saat melihat raut wajah sahabatnya yang kusut. "Ada apa? Apakah sahabatku ini baru saja patah hati?" Louis bertanya sambil menepuk bahu Dennis, lalu duduk di kursi kebesarannya, yaitu di depan jendela. Pemandangan pagi ini tidak terlalu menarik minatnya, selain wajah mendung sahabatnya yang biasanya ceria itu. "Semalam aku melamarnya dan Eliza menerimaku. Pernikahan kami akan diadakan bulan depan," Dennis berkata datar, matanya memandangi jendela lebar di belakang Louis tanpa sekali pun memandang sahabatnya. Ada perasaan aneh dalam diri Louis saat mendengar pernyataan Dennis, ia tidak mengerti apa itu. Rasanya ia tidak rela kalau wanita yang tempo hari menciumnya harus menikah dengan orang lain. Tapi, kenapa tidak ada raut ba

