Dulu, dulu sekali aku pernah merasakan apa yang mereka sebut cinta. Kalau tidak salah dengan salah satu mahasiswa yang sejurusan denganku. Ya, mahasiswa kesehatan terkenal sekali memiliki paras yang rupawan. Namun, bukan hanya karena paras tampan. Sosok itu juga ramah, cerdas, dan perhatian pada semua orang yang dikenalnya. Tak jauh berbeda dengan Radit.
Aku bukan sosok pemberani dalam hal perasaan, cukup lama perasaan itu kusimpan sendirian. Sampai akhirnya, aku tahu sesuatu yang mengejutkan. Lelaki yang sempat kusukai itu ternyata telah jatuh hati pada sahabat dekatku. Aku bisa apa selain merelakan perasaanku. Sakit memang, tanpa sepengetahuan siapa pun aku menyembunyikan luka itu. Lalu berusaha sembuh juga sendirian.
Lama, lama sekali setelah pengalaman mencintai dalam diam. Aku tak membuka hati untuk laki-laki, tak berusaha peka pada siapa pun meski sebagian jelas terang-terangan menyatakan kesukaannya padaku. Di Puskesmas daerah sini saja aku sudah dijodoh-jodohkan dengan seorang perawat yang bernama Irfan, padahal kami hanya berteman biasa. Beberapa hari ini kami juga tak banyak bertemu, sepertinya Irfan cukup sibuk di desa tempatnya bertugas.
“Gak mau tambah lagi?” tanya Radit. Beberapa saat setelah kuletakkan sendok di atas piring kosong.
“Udah kenyang,” jawabku.
“Enak, ya, sotonya.”
“Iya. Kayaknya aku bakal sering datang ke sini lagi nanti.”
“Ajak-ajak kalau gitu.”
“Ahsiap.”
Aku baru saja akan membayar, ketika Mbak Penjual soto bilang pesananku sudah dibayar sekaligus oleh Radit. Radit juga langsung pergi tanpa memberitahuku. Salah satu ciri orang yang baik dan patut disegani sebagai teman. Mentraktir diam-diam.
...
Aku kembali ke rumah, lalu memeriksa lagi setiap tempat. Orang-orang aneh bisa saja masuk tanpa kita duga melewati jalan mana. Setelah memastikan semua aman, aku baru bisa berbaring santai di depan televisi.
Kucoba untuk terlelap, lalu bayangan wajah Radit tiba-tiba datang mengganggu. Ini adalah kegawatan. Salah satu pertanda bahwa aku akan jatuh cinta pada seseorang.
Haruskah kubiarkan perasaan ini tumbuh? Bukankah ini juga keinginan Andin untuk menjodohkan kami, kali ini harapanku cukup besar. Bisa jadi Radit benar akan menjadi jodohku.
Adzan dzuhur berkumandang, segera kuhampiri kran air dan berwudhu. Sentuhan air menyegarkan wajahku, juga membersihkan pikiran aneh yang sempat menyerang tadi. Salat adalah penolong, menjaga hati dari pikiran semu dan kosong.
...
Kubuka media sosial, sembari menunggu rasa kantuk datang untuk tidur siang. Di aplikasi biru aku hampir tidak pernah lagi memposting apa pun. Namun, saat melihat saran pertemanan, tiba-tiba saja ada permintaan pertemanan dari akun Radit. Aku langsung stalking membuka akunnya. Ada banyak foto tentang kegiatannya di sekolah, kolom komentar juga di isi banyak komentar dari akun-akun perempuan yang sepertinya berteman akrab dengannya.
[Kirain akun mati.] Sebuah pesan masuk dari akun Radit. Lampu hijaunya menyala, sedang aktif juga ternyata.
[Wkwk, lama gak buka.] balasku.
[Kenapa? Gak ada yang chat ya?]
[Dih. Mentang-mentang punya asrama putri.]
[Jiahaha. Mana ada.]
[Ngaku aja deh.]
[Kamu kali yang punya asrama putra. Secara cantiknya kebangetan.]
[Apaan.]
[Wkwkwk.]
[Dih.]
Aku kemudian berpindah dari laman chat, kembali menjelajahi beranda. Status teman banyak yang memposting kabar bahagia mereka. Ada yang baru saja menikah, ada yang hamil muda, ada yang masih hoby galau dalam untaian kata status statusnya.
Radit tak mengirim chat lagi, lalu aku juga berpikir sama. Prinsipku, tetap lah cuek meski naksir berat. Jiahaha. Meski sebenarnya hal itu berat di lakukan. Apalagi bagi jiwa-jiwa yang pandai membuka rasa.
Kalau bermain ponsel, susah sekali bisa mendatangkan kantuk. Apa lagi kalau sedang berbalas pesan dengan seseorang yang spesial. Sayangnya aku belum punya. Dan inginku orang itu merasakan hal yang sama.
..
Suasana sore terasa lebih ramai hari ini. Banyak anak-anak remaja datang ke rumah Radit, kuintip dari jendela dan ternyata mereka sedang membuat kerajinan tangan dari bambu.
Radit memang serba bisa, menyebalkan. Membuatku makin kagum saja dengannya. Dengan alasan penasaran, aku pun ikut datang ke serambi rumahnya. Memperhatikan apa yang tengah mereka kerjakan.
“Kalian lagi bikin apa?” tanyaku.
“Lagi bikin tempat pensil sama celengan, Kak,” jawab salah satu anak yang tubuhnya paling gemuk di antara yang lain.
“Wah. Keren, ya. Siapa yang cari bambunya?”
“Ini kemarin kami cari sama Pak Radit.”
“Cari di hutan sana?”
“Iya, di hutan.”
“Berani kalian masuk hutan?”
“Berani lah, Kak.”
Radit tertawa mendengar pertanyaanku. Ya, di dunia ini sepertinya hanya aku yang penakut. Apa yang harus ditakutkan di hutan? Tentu saja banyak. Di sana bisa banyak hewan liar. Ular, orang utan, anjing dan babi liar. Serangga beracun. Kita bukan harus takut, akan tetapi waspada.
Apa lagi di hutan Kalimantan. Di sini terkenal dengan banyaknya orang utan. Kata orang tua terdahulu, orang utan ada yang lebih besar dari ukuran manusia. Orang utan juga suka mengganggu manusia, mereka bisa berbuat liar pada manusia yang mereka temui. Walau kenyataannya orang utan juga sering menjadi korban kejahatan manusia.
Dulu, terungkap sebuah berita tentang kriminalitas yang dilakukan pada seekor orang utan. Tempatnya tak jauh dari tempat tinggalku sekarang, kira-kira dua jam perjalanan. Manusia tak berotak menjadikan orang utan tersebut sebagai pelampiasan nafsu manusia tak berotak lainnya. Mereka mencukur semua bulu, lalu menguncinya di ruangan yang gelap. Mereka menjualnya kepada para pekerja sawit yang mungkin tidak mampu untuk menggunakan jasa manusia normal. Kasihan sekali orang utan itu, untungnya berhasil diselamatkan dan butuh waktu untuk kembali pada kebiasaan dan habitat yang sebenarnya.
“Harusnya kemarin kamu ikut, Dhea,” ujar Radit.
“Ngapain,” cuekku.
“Kali aja kamu ketemu sejenis hantuwen di sana.”
“Dih. Ngapain ke hutan buat liat hantuwen?”
“Ya, kali aja hoby.”
“Emang ada hantuwen di hutan?”
“Ada lah, kayak di film thailand.”
“Heleh. Kebanyakan nonton Film!”
“Tapi bisa aja kan?”
“Au ah.”
Kuperhatikan Radit yang tengah membuat goresan di atas bambu dengan spidol. Sepertinya harus di sketsa dulu, baru proses pemotongan.
Tak lama, terlihat lah bentuk wadah pensil dan celengan yang estetik. Radit mengolahnya sedemikian rupa hingga berupa karya yang menarik.
“Setelah ini kita haluskan dulu, lalu kita kasih cat, supaya warnanya menarik,” ujar Radit.
“Warna pink, bagus,” sahutku.
“Jangan, Kak. Masa warna pink?”
Aku baru sadar kebanyakan dari mereka adalah anak laki-laki. Mereka mana suka warna pink. Aku pun terdiam dan pasrah melihat saja apa yang mereka lakukan.
Mereka memilih warna biru, merah, warna khas laki-laki yang memiliki kesan berani. Radit membiarkan anak-anak memilih warna yang mereka suka.
Radit sangat dekat dengan anak-anak, salah satu tanda calon ayah yang baik. Dia suka bergurau juga pandai membuat aneka permainan, tentu saja anak-anak menyukainya.
Berbeda denganku yang dianggap menakutkan, apa lagi kalau membawa tas medis dan lengkap menggunakan masker. Mereka berpikir aku akan sembarangan menyuntik p****t mereka. Apa lagi memang profesi kesehatan sering digunakan para orang tua untuk menakut-nakuti anak mereka. Sebuah didikan menyebalkan yang seharusnya tidak dilakukan.
Setelah mengoles cat, mereka meletakkannya di pinggir dinding. Harus menunggu sampai catnya mengering. Cukup banyak karya yang dihasilkan, Radit mengerjakannya cukup cepat seperti profesional.
“Bentar lagi juga kering, catnya Bapak pilih yang mudah kering. Jadi kalian bisa bawa pulang langsung nanti,” ucap Radit.
Anak-anak terlihat senang mendengar hasil karya mereka yang akan bisa secepatnya dibawa pulang.
Aku duduk di serambi rumah Radit, menikmati sepoy angin sore sembari menonton anak-anak yang sedang bermain bola. Radit juga duduk di dekatku, lalu kami terjebak dalam diam, tak terpikir mau mengobrol apa.
“Mereka yang nyuruh kamu bikin? Ada tugas dari sekolah ya?” tanyaku. Mencoba memecah hening.
“Sebenarnya itu kemarin aku kan ngisi pelajaran Seni Budaya. Jadi menerangkan tentang kerajinan, mereka kayak penasaran pas aku bilang bisa bikin. Jadi ya, mereka minta diajarin bikin,” jawab Radit.
“Oh, gitu? Jadi kamu gak Cuma ngajarin mata pelajaran Agama dong?”
“Kemarin emang lagi pelajaran kosong, gurunya gak masuk. Aku iseng aja gantiin. Kan aku juga ngajarnya gak tiap hari.”
“Ehm, gitu.”
“Gak kayak kamu yang selalu full tugas.”
“Eh, iya. Aku kan belum kunjungan sore hari ini.”
Terlalu asyik melihat Radit dan anak-anak, aku hampir lupa menyelesaikan tugasku hari ini. Untungnya belum terlalu sore.
“Ada tugas lagi?” tanya Radit.
“Iya, kunjungan tiga hari pasca bersalin,” jawabku.
Aku segera kembali ke rumah lalu mengambil tas dinas. Menyalakan motor langsung meluncur ke tempat pasien bayi kembar. Kulihat Radit hanya melongo melihatku.
...
Sekembalinya ke rumah, hari sudah mulai gelap. Anak-anak yang tadi ramai di rumah Radit juga sudah tak terlihat. Sedang Radit kulihat duduk di serambi rumah, telah siap menggunakan baju salatnya.
Aku gegas pergi mandi, lalu mengganti pakaian. Hingga adzan maghrib pun berkumandang. Kujalankan rutinitas ibadahku tanpa beban. Meski rasanya terasa lelah juga.
Kubuka pintu rumah ketika selesai salat maghrib. Melihat lagi Kak Rina dan anak-anaknya menuju rumah Radit untuk belajar mengaji.
Kuraih ponsel lalu duduk saja di depan rumah. Namun, tiba-tiba saja aku teringat kejadian semalam. Astaga, harusnya aku tak sesantai ini duduk santai di depan rumah. Segera aku masuk dan mengunci semua pintu rumah juga jendela, meringkuk ke kamar dengan gawaiku.
Bersyukur sekali malam ini tidak sedang turun hujan. Ada sedikit rasa ketenangan dalam diri, setidaknya aku bisa menajamkan telinga tanpa gangguan bunyi hujan.
Kalau dipikir-pikir, mengapa juga rumahku yang menjadi sasaran orang tidak waras itu. Apa karena aku cantik? Padahal di kampung sini juga banyak yang tinggal sendirian, juga banyak janda-janda yang lebih menarik untuk diisengin. Kenapa harus aku?
Kembali kubuka media sosial, melihat-lihat kabar di beranda. Tidak ada yang istimewa. Kotak masuk pesanku juga tak ada pesan yang menarik. Harusnya ada kejutan, pesan dari Radit misalnya.
Ah, kenapa pikiranku selalu menjadi ke arah memikirkan lawan jenis. Aku kan tidak boleh begitu. Tetaplah cuek meski naksir berat. Aku harus ingat dan terus berpegang teguh pada prinsip itu. Agar tidak dianggap mudah oleh laki-laki. Tidak mudah ditaklukkan. Jadi lah perempuan tangguh, meski harus lama menjomlo. Hasek.
Aku mau makan, kuingat kamu. Aku mau tidur, kuingat kamu. Oh, Cinta ... Mengapa semua serba kamu. Lirik lagu itu pun terngiang-ngiang di telinga dan pikiranku. Menyebalkan.
Sudah lama aku tidak mendengarkan musik. Rasanya tidak sempat untuk menikmati semua itu. Lebih-lebih saat baru-baru ini aku tahu bagaimana hukumnya, hukum mendengarkan musik sangat tidak disarankan ulama. Karena dapat merusak jiwa. Banyak yang akhirnya berdebat soal itu. Akan tetapi, aku lebih memilih untuk meninggalkannya karena aku merasa lebih tenang.
Ketenangan jiwa sangat sulit diraih, dan ketika kamu telah menemukan salah satu cara untuk mendapatkannya. Maka pertahankanlah. Menjaga kesehatan jiwa dan raga sangat penting, apa lagi di masa yang sangat susah ditebak keadaan cuacanya.
Aku yang seorang bidan, sering dianggap hanya melayani orang hamil dan persalinan. Padahal aku juga bersedia setiap kali ada yang ingin datang untuk periksa tekanan darah. Setidaknya aku bisa memberi mereka pertolongan pertama dan mengetahui tensi darah mereka.
Namun, entah ini sesuatu yang harus dibanggakan atau dicemaskan. Kebanyakan masyarakat terbiasa untuk meresep obat-obatan untuk diri mereka sendiri dan membelinya di warung. Tanpa konsultasi ke dokter dan membeli obat di apotik. Kebanyakan mereka berhasil sembuh, kebanyakan juga akhirnya mengalami gangguan kesehatan yang lebih parah karena kurangnya konsultasi pada yang lebih ahli.