Bab. 8. Danau Biru
Beberapa hari setelah kejadian di malam itu, aku bersyukur karena tak terulang hal yang sama. Aku bisa mendapatkan tidur yang nyenyak, walau tetap harus waspada.
Dari penuturan Kak Rina, orang yang katanya dengan gangguan jiwa itu telah dimasukkan ke RSJ. Atas permintaan petugas kantor desa, karena bukan Cuma aku yang menjadi korban ketidaknyamanan.
Aku menjalankan aktivitas seperti biasa, lalu mulai terbiasa dengan adanya tetanggaku yang ganteng itu. Kami menjadi lebih akrab walau aku masih memegang erat prinsip tetaplah cuek walau naksir berat.
“Kak Rina, mau ke mana?” aku menghentikan langkah Kak Rina yang baru saja akan lewat di depan rumahku.
Di bahunya tampak ia tengah membawa lanjung dengan sebuah pisau di dalamnya.
“Mau ke hutan, Bidan. Nyari bambu muda,” jawab Kak Rina.
“Oh, sendirian?” tanyaku lagi.
“Iya, sendirian saja bidan. Bidan mau ikut?”
“Ah, enggak, Kak. Emang kakak berani sendirian?”
“Sudah biasa kok, Bidan.”
“Oh, yasudah.”
“Mari, bidan.”
Kak Rina benar-benar pergi sendirian ke hutan, memang ini bukan hal baru baginya. Seperti seseorang yang tidak takut apa pun.
Aku menyelesaikan pekerjaanku menjemur pakaian, lalu mulai membersihkan rumah dinas. Sebenarnya aku terpikir untuk memberi cat baru untuk rumah dinasku, akan tetapi rasanya tidak mungkin sempat kalau kulakukan seorang diri. Terpaksa hanya membersihkannya saja dulu, sampai nanti ada inisiatif dari pemerintah desa untuk memperbaharui rumah ini.
Selesai mengepel lantai, kulihat Radit tengah membersihkan halaman depan rumahnya. Laki-laki itu menyapu dengan sapu uduk, tanpa malu atau risih karena dia seorang laki-laki. Langka sekali laki-laki peka dan pengertian seperti dia.
“Cepat nikah makanya, biar ada yang nyapuin halaman,” celotehku dari serambi rumah.
Radit menyipitkan mata karena merasa silau dengan cahaya matahari pagi. Lalu dia tersenyum padaku.
“Aku kan cari istri, bukan cari pembantu,” sahutnya.
“Uwuuu ....” sahutku lagi.
Radit tertawa lalu datang menghampiriku. Meletakkan sapunya di senderan dinding, lalu duduk mengatur nafas yang cukup merasa kewalahan.
“Lagi libur, ya?” tanyanya.
“Kan hari ahad, libur semua lah pasti,” jawabku.
“Jalan, yuk!”
“Jalan?”
“Iya, jalan. Ke danau biru. Mau gak?”
“Danau biru? Ngapain?”
“Nyebur!”
“Hah?”
“Duh, Dhea. Ya, iseng aja cuci mata. Menikmati pemandangan danau biru, emang kamu belum pernah ke sana?”
“Belum sih.”
“Pantesan. Abis ini ke sana yuk, atau entar sorean?”
“Berdua doang?”
“Masa ngajak Kak Rina, bisa diomelin suaminya aku nanti.”
“Hemm, liat entar deh.”
“Bawa motor masing-masing tapi. Kalau boncengan entar takut dosa, kan belum mukhrim.”
“Iya, Pak Ustaz. Siapa juga yang ngarep dibonceng!”
“Yaudah sana mandi!”
“Udah keles.”
“Jiahaha.”
Cara bicara Radit padaku, kadang membuatku selalu ragu. Dia memperlakukanku mungkin sama saja seperti memperlakukan teman-temannya yang lain. Bicara penuh gurauan tanpa adanya perasaan.
Dadaku mendadak merasa gugup mengingat nanti akan pergi bersama dengan Radit ke danau biru. Seingatku aku memang belum pernah ke sana, hanya sering melihat foto orang-orang yang pernah ke sana dan menguploadnya ke sosial media.
....
Pukul dua siang, Radit benar-benar datang menunggu di rumahku. Menungguku segera bersiap untuk pergi. Aku memakai setelan jaket dan rok feminim syar’i, serta pashmina berwarna hitam. Penampilanku sudah seperti ukhty-ukhty. Menyesuaikan dengan siapa aku akan bepergian.
Radit memastikan motor kami terisi bensin penuh, lalu dia tiba-tiba memakaikan helm ke kepalaku tanpa kuduga sebelumnya. Benar-benar berhasil membuatku gugup dan merasa salah tingkah.
“Gak usah ngebut, santai aja jalannya,” kata Radit.
“Iya,” jawabku.
Lalu kami pun mengendarai motor dengan laju beriringan. Keluar dari desa dan meluncur di jalan tol Kalimantan yang lurus saja tanpa ada lampu merahnya.
Aku menyebutnya jalan tol karena memang menjadi jalan satu-satunya yang menjadi penghubung. Saling menghubungkan antar desa. Memang ada beberapa jalan pintas, akan tetapi dari pada tersesat dan tidak bisa pulang. Lebih baik tetap berada di jalan yang lurus.
Danau biru terletak lumayan jauh dari desa Dahian Tunggal tempatku bertugas. Harus melewati beberapa desa dulu. Danau biru terletak di Desa Tewang Rangkang.
Dari yang kudengar, danau biru terbentuk karena bekas galian pertambangan emas. Seiring waktu air di danau itu berubah menjadi kebiruan juga seperti hijau tosca. Belum lama ini viral menjadi tempat wisata baru.
Di perjalanan, cukup ramai lalu lalang kendaraan. Dan aku tetap memilih berkendara dengan kecepatan sedang di belakang Radit. Radit beberapa kali menoleh, lalu aku berpikir apa gunanya kaca spion? Dasar.
Setibanya di danau, ternyata sedang ramai pengunjung. Aku dan Radit berjalan bersisian lalu duduk istirahat di salah satu bungalo yang tampak kosong.
Pemandangan danau biru memang sangat menyejukkan mata. Sejenak membuat diri merasa refreshing. Pikiran menjadi lebih segar, melepaskan sejenak rasa penat dengan kegiatan sehari-hari.
“Danaunya dalam kali, ya?” tanyaku iseng. Mulai mengajak Radit mengobrol.
“Sekitar tujuh sampai delapan meter, katanya sih,” jawab Radit.
Radit tengah sibuk dengan kamera khusus yang dia bawa. Sepertinya dia cukup niat untuk mengambil moment di tempat ini hari ini. Style nya juga kekinian, lengkap dengan kaca mata keren yang sejak berangkat telah dia kenakan.
“Dalem dong.” Sahutku.
“Kenapa? Mau berenang?” tanya Radit sambil nyengir ganteng.
“Enggak, lah,” jawabku.
“Kali aja.”
“Kenapa gak ada yang berenang di sini?”
“Airnya kotor, udah pernah di tes sama badan lingkungan hidup. Bisa bahaya kalau dipakai aktivitas. Banyak parasit. Kan bekas tambang juga.”
“Oiya, ya.”
“Jadi manfaatnya buat dilihat dan dijepret doang.”
“Jepret?”
“Yoi. Yuk.”
“Ke mana, Radit?”
“Foto-foto, Dhea.”
“Gak ah, malu.”
“Hilih.”
Aku mengikuti langkah Radit yang sepertinya sedang mencari spot terbaik untuk foto. Penampilan kerennya telah menarik perhatian pengunjung lain, dapat kulihat banyak gadis yang mencuri-curi pandang padanya. Mereka mungkin menahan diri untuk mendekati karena mengira aku pasangan Radit. Dan itu bagus sekali.
“Dhea, coba berdiri di sana.”
Aku mengikuti perintah Radit. Berdiri dan mulai memasang fose terbaik. Dengan percaya diri aku mulai berlagak seperti ahli foto estetik.
“Widiw, keren banget,” kata Radit. Tersenyum melihat hasil jepretannya.
“Bagus?” tanyaku.
“Lihat aja nih.”
Aku mendekat ke arah Radit, lalu kami sama-sama memperhatikan foto di kameranya. Ternyata aku bisa sekeren itu, tentu saja ini dibantu oleh kemampuan Radit mengambil moment.
“Kalau gitu sekarang gantian,” kataku pada Radit.
“Kamu bisa megang kameranya gak?” tanya Radit ragu.
“Bisa dong. Gini doang.”
“Harus estetik, Dhea.”
“Iya, bawel.”
Aku pun mengambil alih kamera, tentu saja aku tidak katro dan cukup paham cara menggunakannya. Radit pun segera ambil posisi dan memulai fose super keren maksimalnya.
Aku dengan serius mengambil beberapa foto, lalu aku diam-diam menikmati pemandangan. Memandanginya yang benar-benar menyejukkan mata dan hati. Entah kenapa Tuhan menciptakan Radit semenarik ini.
“Udah?” tanya Radit
“Udah.”
Radit melihat hasil jepretanku, lalu tersenyum puas.
“Gak mengecewakan, makasih ya, Dhea.”
“Iye, sama-sama.”
“Mau foto lagi?”
“Udah ah, malu.”
“Yaudah. Nanti hasilnya aku kirim di WA, ya.”
“Iya.”
Selesai mengabadikan moment. Aku dan Radit kembali duduk di bungalo. Tak lama kemudian, Radit pergi ke sebuah warung dan membelikan minuman juga banyak makanan ringan untuk kami berdua. Kami meletakkan gawai masing-masing, lalu fokus mengemil sembari menikmati pemandangan danau.
Meski Radit bukan siapa-siapaku, hari ini dia membuatku seperti memiliki seseorang yang spesial. Dia sangat perhatian sebagai seorang laki-laki. Siapa pun perempuan yang kelak menjadi jodohnya, aku harap perempuan itu adalah aku. Ya, aku mulai egois sekarang.
“Dhea. Udah denger kabar baru belum?” tanya Radit.
“Apaan?” aku bertanya balik.
“Di desa tuh, ternyata ada hantuwennya,” bisik Radit.
“Ya ampun. Kirain apaan.”
“Beneran, Dhea. Temenku di sekolah kemarin cerita kalau dia lihat hantuwen.”
“Lihat di mana?”
“Di atas rumah, hantuwennya terbang.”
“Emang kamu belum pernah lihat?”
“Gak pernah.”
“Aku udah sering denger, dari pertama pindah ke desa sana. Bahkan ada pasien yang katanya lihat penampakannya di rumahku.”
“Serius?”
“Iya, Dit.”
“Kamu gak takut?”
“Takut, lah.”
“Kenapa takut?”
“Kan serem.”
“Kata nenekku dulu, kalau ada hantuwen. Tangkep aja.”
“Nenek kamu udah pernah nangkep?”
“Gak tahu juga sih. Hahaha.”
“Dih.”
“Tapi nenekku dulu pernah cerita. Kan dia dulu tinggal di desa kaharingan gitu. Dia dateng ke rumah temennya pagi-pagi.”
“Ehm, terus?”
“Dia cari temennya itu ke kamar, gak ada, kan. Terus dia ada lihat kayak seseorang di kamar lain. Dia pikir itu temannya, dia coba buka selimut mau lihat mukanya. Eh, pas dilihat gak ada kepalanya.”
“Hah?”
“Iya, Cuma ada badan gak ada kepala. Nenekku langsung kabur dong.”
“Dih. Serem banget.”
“Parah sih.”
Mendengar cerita Radit aku langsung shock dan merinding. Tak terbayang kalau aku berada di posisi itu. Mungkin aku akan langsung pingsan di tempat.
“Terus ada yang bilang ke nenek pas nenek cerita. Kalau ketemu gitu, harusnya masukin kain ke badannya hantuwen itu biar kepalanya gak bisa balik lagi,” lanjut Radit.
“Dih. Emang bisa gak balik lagi?”
“Bisa lah, kalau gak bisa balik kan hantuwennya bisa mati.”
“Hih. Ngeri.”
“Ya, emang aneh juga sih. Itu kan bukan hantu yang gimana ya. Emang kayak iblis jadi-jadian.”
“Mereka gak bisa mati?”
“Ya gak tahu juga sih, kalau di film kan bisa.”
“Haih. Di film mah yang selamat kameramen ama sutradaranya doang.”
“Jiahaha.”
Melihat Radit tertawa geli, rasanya ada yang hangat di dalam sini. Seakan telah menipis jarak di antara kami, akan membuatku semakin bersemangat dalam mengharapkannya dalam tiap untaian doa.
Hari perlahan semakin sore, aku masih tak jemu menikmati waktu santai di pinggir danau. Memperhatikan orang-orang yang datang lalu foto-foto selfie. Juga menikmati cemilan yang dibelikan Radit. Sedang Radit sepertinya terlalu nyaman berbaring hingga tak sadarkan diri. Alias tidur.
Tiba-tiba, Andin meneleponku via video call. Sudah lama sekali dia tidak menghubungiku. Sepertinya dia tahu aku sedang bersama Radit.
“Lama banget ngangkatnya!” Andin mengomel, sebagai salam permulaan.
“Ngapain video callan segala?”
“Sengaja, mau gangguin orang pacaran.”
“Dih. Siapa yang pacaran?”
“Itu siapa yang lagi tiduran di belakang?”
“Adik ipar lu!”
“Bener kan pacaran?”
“Auk ah.”
“Ke danau biru gak ngajak-ngajak kalian nih.”
“Lupa.”
“Sengaja kan biar gak ada yang ganggu.”
“Iya, eh.”
“Dih, dasar Dhea!”
Radit menggeliatkan tubuhnya, lalu bangkit dan duduk. Kegaduhan suara Andin pasti sudah membuatnya terbangun.
“Hai, Kak. Assalamualaikum,” ujar Radit. Melihat wajah Andin di gawaiku.
“Waalaikumsalam, adik ipar. Bangun tidur?”
“Iya, Kak. Enak banget tidur di sini. Sejuk.”
“Widiw. Kapan-kapan aku mau ke sana juga kalau gitu.”
“Harus lah, ajak Bang Satria.”
“Asiap-siap. Yasudah kalau begitu, lanjutkan saja kegiatan kalian. Kakak gak mau ganggu.”
“Gak ganggu lah, Kak.”
“Jiahaha. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Andin memutuskan panggilan video setelah puas meledek aku dan Radit. Kami pun bersiap untuk pulang mengingat takut pulang kemalaman.
Saat akan pulang, kami memeriksa motor dan minyaknya terlebih dahulu. Lalu aku menunggu untuk memakai helm, dan ternyata benar. Radit mengulanginya, memakaikan helm di kepalaku. Aku pun tak bisa menahan senyum. Begitu juga dia.
“Berasa kayak uwu banget, ya?” kataku.
“Apaan sih, uwu uwu terus kamu mah,” sahut Radit. Seperti salah tingkah.
“Kamu kenapa masangin aku helm? Mau nunjukin keahlian kamu jadi buaya?”
“What? Buaya?”
“Iya. Buaya.”
“Mana ada buaya good looking kayak aku?”
“Dih, sombong.”
“Emang bener kan?”
“Pret!”
“Haha. Udah sana. Yuk, pulang.”
“Berangkat.”
Kunyalakan mesin motor, lalu melaju seperti kecepatan semula. Kali ini aku yang ada di depan, sedang Radit menjaga di belakang. Lalu, ketika jalanan tampak sepi, Radit menyusul dan kami pun bermotor bersisian.
Sore ini sungguh sangat berkesan. Kuharap bukan menjadi kali terakhir kami bisa pergi keluar bersama. Kalau pun tak hanya berdua, aku tetap merasa bahagia bila ada Raditnya.
Suatu hari nanti, semoga kami bisa berada di satu motor yang sama. Dia di depan, aku duduk diboncengan. Menembus jalanan berduaan, sambil bersandar di pundaknya yang bidang.
Kehaluanku membuat jadi ingat dengan film romantis yang sempat viral. Ya, Dilan dan Milea. Entah Radit orang yang puitis atau tidak. Kalau iya, sungguh sangat menyebalkan. Membuatku semakin merasa ingin menyayangi dan mencintainya. Eaaa.