Episode 9. Minyak Bintang

2246 Kata
Bab 9. Minyak Bintang Bertepatan dengan adzan maghrib, aku dan Radit tiba di gerbang kampung. Namun, ketika akan masuk gang menuju rumah, kami tertahan sebentar melihat kerumunan di salah satu rumah warga. Rupanya ada kecelakaan, pengendara motor oleng dan menabrak kios di pinggir jalan. Karena mengendara dengan kecepatan tinggi, luka yang dialami pun cukup parah. Aku berhenti sebentar untuk menanyai, dan ternyata korban sedang ada di depan rumah warga menunggu datangnya ambulans. “Sudah dihubungi ambulansnya Kak?” Tanyaku padaku salah satu warga. “Sudah, Bidan. Sudah dikasih minyak juga katanya, jadi gak apa-apa.” “Minyak? Minyak apa?” “Minyak bintang, Bidan. Gak tahu juga saya.” Minyak bintang, rasanya tak asing. Namun, aku tetap tidak tahu seperti apa rupanya. Radit kemudian memberitahuku untuk pulang saja karena korban telah mendapatkan penanganan. Kami pun pulang bersama. Selesai mandi dan salat maghrib, aku memilih untuk istirahat di kamar. Rasanya lelah juga setelah berkendara jauh. Pinggangku terasa pegal. Dari depan rumah kudengar ramai suara anak-anak, dengan langkah berlari-larian. Sepertinya mereka akan ke rumah Radit untuk belajar mengaji. Aku akan mengenang apa yang terjadi hari ini, dan berharap besok-besok Radit akan mengajakku bepergian lagi di hari libur. Atau malah mengajakku ke pelaminan. Ah, senangnya. Aku jadi salah tingkah. ... Hingga pukul sembilan malam, mataku tak kunjung mengantuk. Senangnya karena belum ada tugas untuk persalinan akhir-akhir ini, aku jadi punya cukup waktu untuk istirahat. Kunyalakan data seluler, terlihat Radit sedang online. Mungkin karena tahu aku sedang online, Radit pun terlihat sedang mengetik di laman chat kami. [Belum tidur?] Pesan dari Radit. [Dhea udah tidur.] Balasku. [Terus ini siapa? Demit?] [Kembarannya.] [Heleh.] [Weka weka.] [Tau kabar yang kecelakaan tadi gak?] [Gak. Kenapa?] [Katanya sih udah di rumah sakit.] [Syukur deh, oiya minyak bintang itu apa ya?] [Emang gak pernah tahu?] [Gak.] [Itu minyak hantuwen.] [What?] [Iya. Minyak sambung maut.] [Sambung maut?] [Iya. Katanya yang pakek itu, separah apa pun tetap bisa sembuh.] [Ohya?] [Iya.] [Emang itu minyak dari apa?] [Gatau juga sih dari apaan. Cuma emang dibilang minyak hantuwen. Kalau gak ditalak setelah empat puluh hari, bisa berubah jadi hantuwen.] [Dih. Jadi hantu dong.] [Iya, mau coba?] [Ogah!] [Kali aja mau. Weka weka.] [Kamu aja.] [Enggak, lah. Kalau aku jadi hantuwen, malah banyak cewek yang ngejar.] [Dih, kenapa emang?] [Mana ada hantuwen seganteng aku.] [Aih. Pede banget.] [Jiahaha.] Aku matikan data seluler setelah merasa chat kami sudah terlalu panjang. Aku kan harus tetap cuek walau naksir berat. Itu adalah prinsip yang harus selalu kuingat. Aku mulai memikirkan, bagaimana bisa ada minyak bintang. Minyak hantuwen yang sehebat itu bisa menyembuhkan orang-orang dengan sakit berat sekali pun. Namun, bukankah itu sesuatu yang sebenarnya menyesatkan? Hantuwen adalah iblis, itu berarti kita telah meminta bantuan pada Iblis. Sedangkan Iblis adalah musuh yang paling nyata. Ya, setiap orang akan melakukan apa saja demi mempertahankan kehidupan. Apa lagi bila terjadi pada orang terdekat. Naudzubillah. Semoga aku dan keluargaku terlindungi dari segala marabahaya dan terhindar dari kesesatan yang seperti itu. Mataku telah semakin kehilangan daya, tak mampu lagi untuk mengangkat kelopak mata. Kulepas gawai, kurafalkan bismillah. Perlahan semua terasa lepas dan gelap. .... Aku mengunjungi kediaman Kak Rina, karena merasa bosan berdiam diri di rumah. Apa lagi kunjungan bayi juga sudah selesai kukerjakan. Untuk pergi ke Puskesmas rasanya malas juga. Kak Rina sedang merapikan rumahnya, mengganti tirai jendela lamanya dengan yang baru dibeli. Warna tirainya merah muda, membuat rumah mereka semakin terlihat ceria, karena memang penghuninya lebih banyak perempuan. Aku memperhatikan rumah Kak Rina, terlihat bersih dan semua benda tertata rapi. Meski mereka tidak punya barang-barang mewah, akan tetapi mereka terlihat bahagia dan nyaman dengan kehidupan mereka selama ini. Saat duduk menyeruput teh yang dibuatkan Kak Rina, tiba-tiba datang Mang Rudin. Orang yang kemarin rumahnya dijadikan tempat sementara orang yang menjadi korban kecelakaan. “Kak. Ini botol minyaknya, saya kembalikan,” kata Mang Rudin menjulurkan botol berwarna hitam pada Kak Rina. “Cuma kasih sesendok, kan?” tanya Kak Rina. “Iya. Ini uang seserahannya. Terima kasih, banyak.” “Iya, jangan lupa ditalak.” “Iya, sudah saya bilangin kok.” Mang Rudin lalu pamit pergi setelah menyelesaikan urusannya. Jadi, mereka mendapatkan minyak bintang dari Kak Rina. Kenapa Kak Rina memiliki minyak yang seperti itu? Jangan-jangan Kak Rina itu hantuwen. Ah, masa iya? Apa hantuwen juga mengantar anak-anaknya pergi mengaji? “Minyak apa itu, Kak?” tanyaku dengan memasang wajah paling polos. “Minyak obat, Bidan,” jawab Kak Rina. Kak Rina lalu pergi ke kamarnya, sepertinya untuk menyimpan botol itu. Aku masih merasa ingin tahu banyak tentang minyak itu dari Kak Rina. “Itu minyak yang katanya minyak bintang itu, ya, Kak? Maaf aku kepo,” tanyaku lanjut. “Iya, Bidan. Itu minyak warisan keluarga,” jawabnya. “Bener ya, kalau gak ditalak bisa jadi hantuwen?” “Hehe. Begitu lah katanya Bidan. Saya Cuma menyambung apa kata orang terdahulu.” “Hemm. Gitu.” Kalau itu minyak warisan keluarganya, berarti Kak Rina keturunan hantuwen? Ya, ampun. Kuharap pemikiranku ini tidak keliru. “Bukan Cuma minyak itu, Bidan. Saya punya yang lain juga,” ungkap Kak Rina. “Mi-minyak apa aja, Kak?” “Minyak pemikat, minyak pulih, minyak panjilek. Saya punya, dari warisan nenek moyang juga.” “Kok, Kakak nyimpan minyak yang seperti itu? Bukannya itu bukan minyak yang baik ya?” “Kan Cuma saya simpan, Bidan. Kalau minyak bintang, itu dipakai saat benar-benar darurat saja. Kemarin saya gak tahu orang tau dari mana kalau saya punya, mereka langsung tanyakan ke saya.” “Hemm, gitu.” Minyak pemikat, dari namanya saja sudah bisa ditebak. Itu untuk senjata pelet apa bila perasaan seseorang tidak bisa dimiliki secara alami. Sekali oles di tubuh sasaran, asal kena saja ditambah dengan mantra, pasti langsung manjur. Minyak pulih, itu minyak paling menakutkan. Bisa membuat orang keracunan, muntah darah lalu mati tiba-tiba. Tentu semua juga karena kehendak Allah. Segala sesuatu tidak akan terjadi apa bila Allah tidak berkehendak. Sedangkan minyak panjilek, itu kebalikan minyak pemikat. Minyak itu bisa dioles atau dicampurkan sesuatu. Sasaran akan tidak menyukai tiba-tiba pada sesuatu yang direncanakan penggosok minyak. Kadang minyak itu digunakan untuk mengganggu hubungan suami istri. Sangat buruk pemakainya. Kak Rina mungkin tidak tahu hukumnya menyimpan sesuatu yang mengundang kemusyrikan seperti itu. Atau bisa juga dia tidak mengindahkan karena terlalu takut pada leluhurnya. Sedangkan untuk menyimpan hal seperti itu, kudengar juga harus mengorbankan sesuatu di saat tertentu. “Mama ...!” Seru anak Kak Rina dari arah dapur. “Iya, kenapa, Nak?” Kak Rina dan aku menghampirinya. “Ini, Ayamnya sudah ada.” “Oh, taruh saja di situ. Nanti mama yang urus.” Dua ekor ayam hitam yang tengah terikat, Kak Rina biarkan di dapur. Lalu kulihat Kak Rina mengambil nasi dan membawa nasi itu ke kamar. Tak lama dia kembali dengan warna nasi yang telah berubah sedikit hitam dengan bau yang menyengat. “Apa itu, Kak?” tanyaku. “Nah, kebetulan sekali ada Bidan. Ini buat seserahan minyak-minyak tadi, Bidan,” jawab Kak Rina. “Hah?” “Iya, makanannya.” “Makanannya?” Kak Rina lalu meletakkan wadah nasi itu di depan ayam, perlahan ayam-ayam itu pun mematuknya. Tak lama, tiba-tiba saja ayam itu sudah cegukan, kejang-kejang dan jatuh lemas ke lantai. Mata ayam itu pun terlihat membiru. Ini benar-benar pemandangan menakutkan yang harusnya tidak kulihat. Kulirik wajah Kak Rina, Kak Rina malah tersenyum puas seperti seorang psikopat di film-film. “Kak?” lirihku. “Hehe. Ini itu korban, Bidan. Kalau dulu kan yang jadi korban manusia, sekarang sudah saya ubah ke hewan ternak,” jawabnya tanpa ragu. “Gitu?” “Saya cerita ke bidan karena sepertinya Bidan penasaran sekali. Tenang aja Bidan, gak usah takut sama saya.” “Hehe, enggak, kok, Kak. Cuma agak kaget aja.” “Ini sudah biasa, kok.” Kali ini aku melihat Kak Rina dengan perasaan yang berbeda. Dia yang semula tampak kemayu dan sejuk, sekarang berubah menjadi seperti berdarah dingin. Walau korbannya sudah tidak lagi manusia, bisa jadi dia akan melakukan itu pada siapa saja yang membuatnya kesal kan? “Kalau udah gini tinggal buang ke sungai,” jelas Kak Rina. Kak Rina lalu memasukkan dua ekor ayam itu ke dalam karung. Dan mengikatnya erat. Ayam yang malang. “Kalau gitu saya pamit pulang dulu, Bidan,” kataku. “Iya, main lagi nanti Bidan.” “Iya, Kak.” “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku dengan langkah lemah berjalan menuju rumah. Rasanya masih merinding bila mengingat tentang yang barusan terjadi. Hal ini mungkin akan membuatku berhenti untuk menerima apa pun dari Kak Rina. Akan tetapi, bisa jadi itu malah membuatnya curiga dan membenciku. Lalu bisa saja Kak Rina mengolesiku dengan minyak panjilek atau minyak pulih. Huh. Menyeramkan, bahkan hanya untuk membayangkannya saja aku sudah merinding. Brakk! Tak fokus melihat jalan akhirnya aku menabrak seseorang di depanku, sialnya itu Radit. “Kamu mabuk, Dhea?” tanya Radit. Menyentil manja keningku. “Maaf, gak sengaja,” lirihku. “Dasar. Dari mana?” “Dari rumah Kak Rina.” “Ngapain?” “Gak ngapa-ngapain.” “Kirain, mau minta minyak pelet.” “Hah? Kamu tahu?” “Kamu gak tahu?” Aku dan Radit lalu lanjut mengobrol di kursi nongkrong. Kursi terbuat dari papan kayu yang baru dibuat Radit kemarin. “Aku baru tahu tadi. Auto merinding,” lirihku. “Haha. Aku tahu dari suaminya, waktu pergi mancing hari itu. Dia nawarin aku buat nyoba minyak pelet.” “Ohya? Terus?” “Ya, aku gak mau lah.” “Dia cerita apa aja?” “Cuma cerita itu. Mereka punya minyak pelet.” “Gak kamu nasihatin kalau itu gak baik?” “Aku Cuma kasih tahu soal haramnya berhubungan dengan hal-hal musyrik. Terserah dia mau menerima apa gak. Aku udah kasih tahu dosanya, cukup.” “Kak Rina punya banyak, bukan Cuma minyak pelet,” lanjutku setengah berbisik. “Ohya?” “Tapi kamu jangan cerita-cerita. Jangan bilang tahu dari aku.” “Iya.” “Dia punya minyak panjilek, minyak pamikat, sampai minyak bintang itu.” “Serius? Wah.” “Iya. Tadi dia ngorbanin ayam buat minyak-minyak itu. Aku jadi merinding. Jadi agak serem sama Kak Rina.” “Hemm. Semoga mereka bisa dapat hidayah. Dan kamu jangan menunjukkan sikap seperti itu, kita harus tetap bersikap baik pada sesama manusia.” “Iya. Aamiin.” “Dan kita juga tetap harus waspada, karena kita gak tahu hati orang gimana. Kalau mereka ada ngasih-ngasih, terima aja. Tapi jangan langsung di makan. Toh, selama ini kita aman-aman aja, dan yang gak penting gak cari masalah sama mereka.” “Iya, Dit. Aku juga mikirnya gitu.” “Kita serahkan semua sama Allah.” “Huum.” Setelah berbincang dengan Radit, aku pun pulang ke rumah. Mencoba berpikir positif dan melupakan semua pikiran negatif. Kembali pada peraturan, bahwa semua yang akan terjadi adalah kehendak Allah. ... Kebiasaan kepo setelah mengetahui sesuatu, membuatku banyak bertanya pada teman-teman di Puskesmas. Mereka yang tinggal di kawasan perkampungan penganut keyakinan nenek moyang, ternyata tahu banyak hal yang lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Namanya Ramitha, salah satu perawat yang seangkatan denganku dan hanya bekerja menjadi staf tetap puskesmas. Ramitha semula heran kenapa aku banyak bertanya, lalu aku memberi alasan bahwa hanya sekedar penasaran saja. “Memang minyak itu sering dipakai kalau udah sakit parah banget, sih, Kak Dhea. Dan bener, bisa langsung sembuh,” jelas Ramitha. “Gitu, ya?” “Iya. Abis minum itu, si pasien harus ditinggal sendirian di kamar. Gak boleh diintip,” lanjut Ramitha. “Emang kenapa?” tanyaku lagi. “Ya, gitu, Kak. Dia bakal jadi hantuwen sebentar. Lepas kepalanya, terus ngejilatin luka-lukanya sendiri gitu. Abis itu sembuh. Kalau diintip ya gak bisa, gak jadi.” “Hih. Serem.” “Iya, Kak. Makanya sebelum empat puluh hari harus di talak. Biar gak jadi hantuwen keterusan.” “Ehm, gitu.” “Iya, Kak.” “Kalau telat dan jadi hantuwen?” “Ya jadi. Gak tahu deh.” “Dih.” “Kalau jadi hantuwen, ya, bakal peka deh sama bau darah. Bakal tahu kalau ada yang mau lahiran, orang lagi menstruasi juga.” “Menstruasi?” “Iya, Kak. Dulu aku pernah denger cerita teman, lho. Dia gak tahu kalau temannya itu hantuwen kan. Nah, dia nginep di rumah temannya itu. Terus kan dia lagi menstruasi, eh, pas tengah malam. Dia kebangun ngeliat temannya itu udah jadi hantuwen dan mau ngejilatin dia.” “Ya ampun, serius?” “Iya. Kak. Dia teriak, gak mau lagi temenan sama orang itu.” “Hih, serem.” “Makanya, Kak. Jangan sampai deh kita ke makan minyak begituan. Amit-amit.” Aku semakin jijik dan merinding ketika mendengar cerita Ramitha. Ternyata Hantuwen tidak hanya mengganggu orang yang akan melahirkan, juga bisa mengganggu apa pun yang berbau darah. “Kalau di daerah lain namanya palasik, aku pikir Cuma ada di Kalimantan,” lanjut Ramitha . “Iya, aku juga udah tahu itu,” lirihku. “Huum, bahkan palasik itu bisa ngisep ubun-ubun bayi. Mungkin hantuwen juga bisa,” ujar Ramitha lagi. “Ngeri, ya. Dan itu jahat juga. Apa mereka bisa dihilangkan?” “Kurang tahu sih, Kak. Biasanya kita Cuma bisa waspada. Ngelakuin apa yang orang tua bilang biar kita terjaga.” “Iya, sih.” Puas mendengar cerita dari Ramitha, aku pun mengajaknya makan siang di kantin Puskesmas. Sebenarnya kami jarang bercengkrama karena kesibukan masing-masing, dan ternyata Ramitha orangnya asyik diajak ngobrol. Sekarang rasa penasaranku telah berkurang. Setidaknya aku siap kalau nanti terjadi sesuatu. Asalkan makhluk-makhluk jahat itu tidak menggangguku dan keluargaku, rasanya aku masih bisa membiarkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN