BAB 10. Dia Ada Di Mana-Mana
Ramitha masih melanjutkan obrolan kami tentang hantuwen saat kami makan siang. Dia bilang, hantuwen itu bisa ada di mana saja dengan menjadi siapa saja. Bahkan banyak yang bilang mereka banyak bekerja sebagai tenaga medis. Hingga banyak cerita mistis yang terjadi di puskesmas atau rumah sakit kota sekali pun.
Hantuwen panjang umur, selagi mereka bisa mendapatkan makanan mereka. Namun, sebagiannya juga memilih untuk menahan diri. Aku rasa memang sebenarnya tidak ada yang ingin menjadi hantuwen. Hanya karena sebuah kesalahan mereka terpaksa menjadi seperti itu.
Selesai dengan tugas di Puskesmas, aku kembali pulang ke desa. Ramitha berjanji akan datang ke rumah tugasku saat ada waktu lenggang.
Sesampai di rumah tugas, semua menjadi seperti biasanya saja. Aku mungkin akan segera lupa pada masalah hantuwen dan segala misterinya dalam beberapa hari. Lagi pula aku tidak punya kepentingan sama sekali mengurusi hal itu.
...
Terakhir setelah aku datang ke rumahnya hari itu, Kak Rina seperti sedikit berubah. Atau sebenarnya mungkin aku yang telah berubah. Kami hanya saling menyapa dan tersenyum saat berpapasan di jalan, tak lagi duduk berdua dan mengobrol seperti biasanya.
Tiba-tiba, saat sore hari aku duduk di serambi rumah. Anak-anak Kak Rina datang membawa sepiring kue apam, aku dengan ragu menerimanya. Radit juga menerima kue yang sama, lalu kami duduk berdua di depan rumah untuk memakannya bersama.
“Entar ya, Dit. Aku bikin kopi dulu,” kataku.
“Gak usah repot-repot, jangan kemanisan ya,” sahut Radit.
“Haha. Iya.”
Aku membuat dua cangkir kopi untuk diriku sendiri dan juga Radit. Semula kami merasa ragu untuk memakan kue itu. Namun, Radit membaca doa dan meyakinkanku bahwa kue itu bersih tanpa racun apa pun. Seharusnya aku juga tidak perlu merasa curiga.
“Kak Rina udah jarang kulihat datang ke rumah kamu, Dhea? Bahkan, yang ngantar kue ini aja disuruh anak-anaknya,” ujar Radit.
“Aku juga gak tahu kenapa,” jawabku ragu.
“Ehm, apa mungkin dia insecure sama kamu?”
“Kenapa harus insecure?”
“Ya, entah lah. Makan aja kuenya. Nanti kamu ke sana kembalikan piringnya.”
“Aku yang kembalikan?”
“Yaiyalah. Sekalian silaturahmi.”
“Iya, iya.”
Kue apam buatan Kak Rina terasa enak, ditambah dengan parutan kelapa muda yang dicampur gula. Rasanya manis gurih.
Setelah kue apam tandas, aku pun langsung mencuci piringnya dan berjalan ke rumah Kak Rina. Kebetulan dia sedang bersantai bersama suami dan anak-anaknya di depan rumah.
“Kak, Rina. Ini, saya kembalikan piringnya,” kataku setiba di depan rumah Kak Rina.
“Oh, iya. Terima kasih, Bidan Dhea,” sahutnya.
“Sama-sama, Kak. Apamnya bikinan sendiri?”
“Iya, Bidan. Saya baru belajar bikin.”
“Baru belajar rasanya sudah seenak itu.”
“Hehe, bisa aja Bidan.”
“Kalau gitu saya pulang dulu.”
“Iya, Bidan.”
Aku senang bisa berbasa-basi dengan Kak Rina. Karena aku tidak pernah ingin ada permusuhan di antara kami. Apa lagi sesama tetangga.
....
Persalinan darurat kembali memanggilku, setelah baru saja selesai menjalankan salat isya. Kebetulan rumah pasien tak jauh dari rumah. Aku pun menanganinya dibantu oleh bidan kampung.
Suami pasien adalah seorang pemuka agama, dan setiap persalinan istrinya tidak pernah dilakukan di Puskesmas. Menurutnya lebih baik ditangani di rumah, karena khawatir ada lawan jenis yang akan menangani istrinya bila dibantu banyak petugas medis.
Yang menyambut bayi juga harus seiman, padahal itu tidak ada pengaruhnya. Toh, setiap bayi akan menangis saat lahir.
Keadaan ibu hamil cukup sehat, tensi darahnya normal. Memungkinkan untuk bisa bersalin di rumah. Aku pun menunggu sampai bukaan jalan rahim telah semakin besar, kontraksi pun sudah semakin sering.
Sempat tertidur sebentar, aku pun dibangunkan oleh bidan kampung yang memberitahu kalau kontraksi sudah semakin kuat. Aku menyiapkan alat-alat yang sudah kusterilkan, lalu mengambil posisi.
Hanya dua kali aturan nafas, bayi pun berhasil keluar tanpa hambatan berarti. Tangisan bayi nyaring terdengar di tengah malam yang dingin. Aku membiarkan Bidan kampung membantu untuk membersihkan bayi, lalu aku kembali fokus membantu ibu bayi mengeluarkan ari-ari.
Semua telah selesai, lalu bidan kampung mengikatkan seuntai tali panjang mengelilingi bawah perut ibu bayi. Mereka biasa menyebutnya babat anak. Anak rahim peranakan tidak turun. Warga kampung memang biasa menggunakan seperti itu. Dan aku tidak ingin menentangnya walau tidak ada aturan medis seperti itu.
Nyatanya, pendapat bidan kampung juga cukup membantu untuk keselamatan Ibu bayi. Asalkan sesuai dan tidak aneh-aneh atau justru malah membahayakan.
Setelah memasang babat anak, biasanya mereka juga akan memasang babat. Babat akan membuat perut terasa kencang, juga mengokohkan pinggang. Itu sebabnya banyak yang masih menggunakan. Sebagian juga agar perut kembali langsing, itu biasanya sangat disarankan bagi yang baru melahirkan anak pertama.
“Alhamdulillah, Kak. Bayinya perempuan, makin banyak teman ngobrol kakak di rumah,”
kataku pada ibu bayi yang terlihat kewalahan.
“Iya, Bidan. Saya bersyukur, mau laki-laki atau perempuan, semuanya titipan rejeki dari Allah.”
“Iya, Kak.”
Setelah persalinan, keluarga bayi membuatkanku secangkir teh panas dan menyuguhkan roti. Bukan hanya ibu yang bersalin, para bidan juga tentu merasa tegang dan lelah dalam membantu proses persalinan.
Ibu bayi juga langsung diberi makan setelah dibersihkan. Karena pendarahan tidak banyak, proses pembersihannya juga cepat. Aku harus menunggu paling lama dua jam, sampai bisa memastikan semuanya normal dan bisa kutinggal pulang.
Kebiasaan warga kampung sini setelah melahirkan, adalah memberi makan ibu bayi dengan nasi dan ikan gabus asi. Sayurnya juga sayur kelakai, sejenis pakis yang berwarna merah dan kebanyakan hanya tumbuh di Kalimantan. Daun kalakai yang berwarna agak merah, akan membuat air rebusannya juga merah. Seperti darah. Mungkin karena itu mereka menganggapnya sebagai penambah darah bagi yang baru saja selesai melahirkan.
Rasa daun sayur kalakai juga khas, tidak pahit. Ditambah dengan lada dan bawang putih, akan terasa lezat dan menghangatkan badan ketika dimakan saat masih panas. Aku meneguk air liur ketika melihat Ibu Bayi makan dengan lahap.
Setelah merasa semua sudah baik-baik saja, aku pun pamit pulang. Karena tak jauh dari rumah, aku tak membawa motor dan hanya berjalan kaki.
Jarum jam masih di angka setengah tiga, masih terlihat gelap semua. Kunyalakan senter dari ponsel untuk melihat jalan. Saat melewati depan rumah Kak Rina, entah kenapa langkahku melambat. Lalu mataku menangkap sesuatu di jendela depan rumahnya. Sepasang mata dengan nyala merah tengah melihatku. Aku menajamkan penglihatan lalu tiba-tiba lampu di rumah itu mati semua.
Dengan bulu kuduk merinding, aku spontan berlari pulang ke rumah. Saat tiba di tangga teras rumah, aku menoleh lagi ke rumah Kak Rina. Lampunya sudah menyala normal lagi.
Entah apa yang terjadi. Apa semua hanya salah lihat, apa mungkin karena halusinasi bawaan rasa takutku. Lagi pula, yang kulihat tadi tidak terlalu jelas apa.
Aku pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Membuang semua aroma tidak sedap setelah membantu persalinan tadi. Di seragamku juga sedikit ada noda darah, belum lagi di kaos tangan. Cukup sulit untuk dibersihkan bila tidak dibilas berkali-kali.
Saat akan merendam pakaian, tak kutemukan bungkus detergen yang biasanya kugantung di cantolan kamar mandi. Aku menyelesaikan mandi lalu berniat mencuci pakaian kotor nanti saja.
Selesai mandi, aku mengambil detergen dari lemari stok barang. Lalu kembali ke kamar mandi, akan tetapi pintu kamar mandi yang tadi terbuka saat kutinggal, sekarang menjadi tertutup.
Lalu terdengar suara aneh seperti yang pernah kudengar dulu di sungai. Suara hantuwen menikmati darah!
Aku berjalan perlahan dan membuka pintu dengan cepat, tetapi tidak ada apa-apa di dekat ember cucian. Lalu lampu kamar mandi tiba-tiba mati.
Jantungku terasa mau copot ketika kulihat sosok kepala menjulurkan lidah dengan mata merah menyala yang keluar dari balik pintu kamar mandi. “Argggggh!!!!!” teriakanku keluar begitu saja lalu aku berlari keluar dari kamar mandi.
Aku lari terbirit-b***t menuju luar rumah, berharap hantuwen itu tak mengikuti. Aku berlari menuju rumah Radit, dan Kulihat sesuatu yang menyala terbang di langit. Aku duduk meringkuk bersembunyi di balik tanaman depan rumah Radit, dan kulihat nyala merah yang terbang itu menghilang tepat di atas rumah Kak Rina.
“Bidan Dhea?”
“Argh!”
Nafasku masih memburu ketika sadar Radit telah berdiri di belakangku. Aku pun mengatur nafas mencoba kembali tenang.
“Kamu kenapa, Bidan Dhea?” tanya Radit dengan wajah cemas.
“Hantuwen!”
“Kamu lihat hantuwen?”
“Iya!”
“Di mana?”
“Di rumahku!”
“Ah, serius?”
“Iya, Radit!”
Aku terduduk di serambi rumah Radit, lalu tersadar bahwa aku hanya sedang memakai sarung kain dan handuk di kepala yang menggulung rambut. Astaga! Karena ketakutan, aku tak peduli lagi lari terbirit-b***t menggunakan apa.
“Aku pulang dulu, maaf udah ganggu.”
Menahan malu, setengah berlari aku kembali ke rumah. Radit pun jadi melongo melihat kelakuanku. Bukan hanya ketakutan, aku juga telah melakukan hal memalukan.
Aku tak berani ke kamar mandi, langsung saja aku ke kamar dan masuk ke dalam selimut. Tak mau peduli pada rambut yang basah. Aku yakin hantuwen itu sudah pergi dan tidak ada lagi di rumahku.
Aku dilanda kelelahan juga kecemasan. Belum lagi kalau kupikirkan, mengapa Hantuwen itu menghilang di rumah Kak Rina. Jangan-jangan benar, Kak Rina itu juga hantuwen. Dan yang selama ini menjadi hantuwen mengganggu ketenangan warga desa ini adalah dia.
....
Matahari telah meninggi, ketika aku terbangun dari tidurku. Kalau saja tak karena pancaran silaunya cahaya matahari dari sela tirai jendela, aku pasti akan tertidur lebih lama lagi.
Rambut yang kugulung handuk sejak semalam pun telah mengering, kalau tidak pakai shampoo pasti sudah jadi lepek dan bau. Setelah membuka semua jendela di rumah, aku beranikan diri ke kamar mandi. Tidak ada tanda-tanda mengerikan lagi di sana. Cucianku juga masih sama seperti semalam. Aku segera mencucinya, lalu menuangkan sebotol pewangi ke atasnya.
Aku masih merasa lelah, kepalaku juga terasa berat. Namun, aku harus melakukan kunjungan pasca bersalin mulai pagi ini. Kalau saja ada yang bisa menggantikanku.
“Assalamualaikum.”
Kudengar suara Radit mengucapkan salam dari depan rumah. Aku yang telah selesai berpakaian dan menggunakan kerudung, dengan lemas membukakan pintu untuknya.
“Waalaikumsalam, Dit.”
“Kamu sakit, ya?”
“Enggak, kok.”
“Muka kamu kayak lesu gitu.”
“Biasa aja kok.”
Kulihat Radit membawa bungkusan di tangannya, dari aromanya terasa manis. Seperti pisang goreng hangat yang baru saja matang.
“Sarapan yuk.”
Radit nyelonong masuk ke dapurku, mengambil piring untuk wadah pisang goreng. Aku yang merasa lesu akhirnya duduk pasrah di kursi ruang tamu, membiarkan Radit melakukan apa yang dia mau di dapur.
Radit membuatkan s**u kambing, dia pasti menemukan bungkusan s**u kambing yang sekalu tersedia di atas meja dapurku. Aku selalu menyetoknya, akan tetapi hampir selalu lupa untuk meminumnya. s**u kambing memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi dari s**u sapi, manfaatnya hampir setara dengan ASI. Terlebih, lebih mudah untuk dicerna.
Radit menyediakan sarapan untukku. s**u kambing dan Pisang goreng hangat. Kami menyantapnya bersama walau sebenarnya seleraku tidak ada.
“Sekarang mau cerita gak soal yang terjadi semalam?” tanya Radit.
“Kamu gak ngajar?” aku bertanya balik.
“Aku ngajar, tapi entar siang,” jawab Radit.
“Eum. Semalam aku bantu persalinan istrinya pak Ridwan. Pas pulang, mau nyuci pakaian kotor. Tiba-tiba aku lihat penampakan di kamar mandi. Aku ketakutan sampai lari ke rumah kamu.”
“Jadi gitu? Aku juga dengar waktu kamu teriak, aku udah bangun mau siap-siap tahajud sebenarnya.”
“Ngeri banget, ngalahin yang di film horror!”
“Kok, bisa ya?”
“Pas aku lari ke luar itu, aku lihat penampakannya terbang, dan menghilang di atas rumah Kak Rina.”
“Rumah Kak Rina?”
“Jadi aku pikir, mungkin, Kak Rina itu hantuwen!”
“Aih, gak mungkin ah.”
“Aku juga gak tahu sih.”
“Masa iya?”
Radit terlihat datar saja ketika aku bercerita, padahal aku serius dan tak membual. Entah Radit percaya atau tidak, aku tidak peduli juga.
“Aku mau kunjungan ke rumah Pak Ridwan, Dit.”
“Sekarang?”
“Iya. Makasih ya udah nyiapin sarapan buat aku.”
“Eum. Iya, aku khawatir takut kamu sakit.”
“Aku Cuma shock aja, dah ya, aku tinggal dulu. Kami abisin aja dulu sarapannya.”
“Iya, Dhea.”
Kuraih tas kerjaku lalu menyalakan motor, melaju ke rumah Pak Ridwan. Saat melewati rumah Kak Rina, aku melihatnya sedang menjemur pakaian. Aku tersenyum saja padanya berpura-pura tidak mengetahui apa-apa, sedangkan wajah Kak Rina malah terlihat seperti kaget dan gugup melihatku.
....
Usai melakukan kunjungan, aku langsung kembali ke rumah. Meminum vitamin dan obat sakit kepala. Aku menarik selimut, menutupi tubuh yang terasa dingin meriang. Derita tinggal seorang sendiri, ketika sakit harus bisa mengurusi diri sendiri.
Aku salah satu yang sulit move on dari rasa takut. Menonton film horror saja, butuh seminggu untuk menghilangkan rasa takutnya. Apa lagi melihat hantu benar-benar di dunia nyata, sekarang saja aku sudah merasa demam.
Kalau benar itu Kak Rina, kenapa dia harus menampakkan diri di rumahku? Bukan kah selama ini kami berhubungan baik.
Aku tak pernah merasa mengganggunya. Bahkan kalau pun benar dugaanku, dia itu hantuwen. Aku tidak akan mau repot-repot memusnahkannya seorang diri.
Kalau dia sampai menunjukkan diri di hadapanku lagi, aku tidak boleh takut. Aku harus membuat kepalanya itu benar-benar tak bisa menyatu dengan tubuhnya lagi. Agar sekalian saja dia musnah dari muka bumi.