Rasa cinta, dapat tumbuh seiring bertambahnya perhatian. Bahkan, bisa saja di awal kita bilang tidak akan suka, perhatian yang terus datang menghujani akan membuat rasa terbiasa hingga cinta sedalam-dalamnya.
Kak Rina ternyata bukan hanya mengantar anak-anaknya untuk pergi mengaji, akan tetapi dia juga ikut belajar meski super terbata-bata. Aku diam-diam memperhatikan Kak Rina yang duduk mengaji di depan Radit. Tatapannya lebih sering menatap Radit dengan sengaja, dibanding fokus pada apa yang dia baca.
Aku ikut belajar mengaji untuk menghindari waktu kosongku di malam hari, agar diri juga menjadi lebih kebal dari rasa takut. Bukan kah setan takut pada orang yang sering mengaji. Setan itu lemah, dan dia akan semakin lemah bila memaksakan diri terlihat oleh manusia.
Kak Rina sekarang sedang menunjukkan sisi setannya yang sebenarnya. Beberapa hari ini aku bisa melihat itu. Pertengkaran di rumahnya sering terdengar, antara dia dan suaminya yang entah kenapa tiba-tiba jadi pesakitan.
Hampir setiap hari, ada saja yang Kak Rina hantarkan ke rumah Radit. Entah kue, entah sayuran. Sikapnya itu jelas menunjukkan bahwa Kak Rina memiliki rasa yang berbeda. Entah hanya dari sudut pandangku atau juga bisa dilihat oleh semua orang.
Semakin lama, makin bertambah murid Radit. Meski masih didominasi oleh anak-anak. Karena kewalahan, aku juga ikut membantunya mengajar iqro pada anak-anak. Lalu di akhir jam, aku dan Kak Rina lah murid yang tersisa.
[Dit, aku mau ngomong sesuatu.]
Aku mengirim pesan pada Radit, setibanya di rumahku. Padahal aku baru saja pulang dari rumahnya.
[Iya, ada apa, Dhea?] balasnya cepat.
[Kayaknya Kak Rina naksir sama kamu.]
[Ada-ada aja kamu, Dhea.]
[Aku serius, Dit.]
[Gimana bisa? Yang ada aku bisa dikirim pulih sama suaminya.]
[Kamu gak lihat perhatian dia ke kamu, tatapan matanya ketika ngaji sama kamu?]
[Biasa aja.]
[Itu udah lebih dari biasa, Dit.]
[Dia ngasi-ngasi itu karena aku udah ngajarin ngaji, gitu katanya.]
[Heleh.]
[Itu sih karena kamu cemburu aja.]
[What? Cemburu? Apaan!]
[Ngaku, deh.]
[Enggak.]
[Masa?]
[Ngapain aku cemburu sama kamu.]
[Wekaweka.]
Ya, bisa jadi aku telah cemburu. Meski Kak Rina sudah punya suami dan dua anak. Penampilannya itu masih seperti perempuan lajang yang berbadan bagus dan berparas cantik, apa lagi kulitnya putih seolah tanpa nada. Mungkin itu karena dia rajin mengkonsumsi darah manusia.
Meski sudah kuceritakan kecurigaanku pada Radit, sepertinya Radit belum percaya seutuhnya kalau Kak Rina itu hantuwen. Aku takut kecurigaanku kali ini juga benar, bahwa Kak Rina naksir pada Radit. Kak Rina bisa saja memberi Radit minyak pelet, juga minyak pulih untuk menghabisi suaminya sendiri. Namun, semoga itu hanya kecurigaanku saja.
Lagi pula, aku dan Kak Rina sudah tak seasyik dulu. Seperti ada sekat yang semakin tebal di antara kami. Aku pun merasa sendirian lagi di desa ini, kalau saja tidak ada Radit. Radit lah yang sekarang menjadi teman terdekat tempatku berbagi cerita.
[Udah tidur?] Radit mengirim pesan lagi setelah lama tadi tak kubalas.
[Belum.] balasku.
[Besok hari libur kan, ada kegiatan gak?]
[Gak ada kayaknya.]
[Kalau gitu boleh gak, aku main ke rumah kamu?]
[Ya ampun, tetanggaan aja masih nanya.]
[Maksudnya aku gak sendirian.]
[Sama siapa?]
[Lihat aja besok.]
[Dih, apaan sih, Radit? Jangan bikin khawatir.]
[Udah, bobok aja dulu.]
Radit langsung off line, meninggalkanku dalam kebingungan. Entah apa maksudnya barusan.
Aku yang penasaran hanya bisa pasrah menunggu besok, entah apa yang akan terjadi.
....
Ketika dunia telah kembali terang, aku langsung buru-buru membuka pintu rumah dan melihat ke rumah Radit. Tidak ada aktivitas mencurigakan, Radit juga terlihat sedang menyirami tanaman. Dia menyadari aku memperhatikannya, lalu dia menoleh dan mengulum senyum saja. Aku pun mencoba abai dan mengerjakan pekerjaan rumahku.
Namun, ketika siang. Baru lah aku sadar ada yang aneh. Mobil Andin dan suaminya terlihat di depan rumahku, dan dari dalam mobil tak hanya pasangan bar-bar itu yang keluar. Ada Ibuku juga orang tua Radit. Ya, ampun!
“Sureprise!”
Andin datang langsung memeluk dan mencium pipi kiri kananku. Aku yang sudah lama tak pulang, rasanya ingin menangis melihat kedatangan Ibu yang jauh-jauh dari kota datang untukku.
Ternyata mereka datang untuk melamarku atas permintaan Radit. Rumah dinasku yang kecil pun akhirnya terasa sesak karena kedatangan mereka.
“Mau melamar ke rumah ibu kamu di kota, tapi kamunya di sini, Radit juga. Ya sudah, langsung saja ke sini, sekalian bawa Ibu.”
Jelas Andin. Sahabat yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri.
Menjelang sore, Radit baru datang ke rumahku. Tentunya setelah mendengar persetujuan dari aku dan Ibu. Ya, secepat itu aku mengiyakan untuk menikah dengan Radit. Karena hatiku telah lama jatuh hati padanya, dan tak kusangka dia menyatakannya hari ini dengan bahkan langsung melamarku untuk menjadi istrinya.
“Udah diterima, Kak?” Radit bertanya setengah berbisik pada Andin.
“Udah, dong. Kan aku udah bilang, mana mungkin Dhea nolak,” sahut Andin dengan suara berbisik yang dapat didengar semua orang.
Hari ini terasa lengkap kebahagiaanku. Bukan hanya bisa berkumpul dengan Ibu, tapi juga bisa bertemu dengan keluarga Radit. Aku juga telah merasakan bagaimana rasanya dilamar. Impianku untuk bisa segera menikah, tak lama lagi akan terwujud.
Ibu dan Andin menginap di rumahku malam ini, sedang Bang Satria dan orang tua Radit menginap di rumah Radit. Sebenarnya orang tua mereka sama, karena mereka memang bersaudara.
Aku menanyakan kabar Ibu, juga apa saja yang telah terjadi di kota. Ibu bilang, adik-adikku terlalu sibuk sekolah sampai membuatnya kadang merasa kesepian di rumah. Aku menawarkan Ibu untuk tinggal bersamaku beberapa saat.
Aku juga menceritakan tentang keadaanku di desa ini. Selain tentang hantuwen, semuanya terasa sangat nyaman. Lalu kami membahas bagaimana tentang pernikahan. Kami pun sepakat untuk mengadakan akad dan resepsi pernikahan di kota, karena keluarga kami berkumpul tinggal di sana. Sedang sebagai rasa hormatku pada warga desa sini, aku akan mengundang mereka datang kalau mereka mau datang.
Aku tak menyangka, perasaanku selama ini pada Radit ternyata bukanlah cinta sepihak. Radit menyatakan cintanya dengan segudang perhatian yang dia berikan. Meski itu hanya menanyakan kabarku, mengawasi rumahku agar tidak diganggu. Semua keindahan karunia ini, rasanya membuatku tak butuh yang lebih banyak lagi.
“Ibu mau kan tinggal sama Dhea di sini? Di sini sejuk, banyak sayur-sayuran,” kataku pada Ibu sebelum tidur.
“Tapi kata Andin, banyak hantuwen juga,” sahut Ibu.
“Di mana-mana juga ada hantuwen.”
“Tapi rumah kamu udah pernah didatengin. Entar Ibu di datengin, ngeri ah.”
“Ngapain takut sih, Bu. Kan ada Radit.”
“Emang Radit berani?”
“Berani lah, makanya Dhea merasa tenang karena ada dia di sini.”
“Hilih. Bucin.”
“Dih, ibu tau bucin bucin sekarang?”
“Tau dong.”
“Dih, Ibu.”
Kami bertiga membicarakan banyak hal hingga larut malam, hingga rasa kantuk pun datang tanpa bisa lagi di tahan. Aku merasa senang ketika rumah dinas yang sepi menjadi ramai seperti ini.