Rumah tempat tinggalku bersama Ibu di kota, tak jauh beda dengan rumah Radit sekarang. Pemandangan depan rumah penuh dengan tanaman bunga juga sayur-sayuran. Ibu menyukai tanaman, alhasil membuatnya merasa senang punya menantu yang sefrekuensi.
Melihat lingkungan rumahku yang ramai, ternyata mengundang Kak Rina untuk datang. Aku memperkenalkan Kak Rina pada Ibu, terkecuali soal sisi mistisnya. Kurasa soal mistis Kak Rina, cukup aku saja yang tahu. Kalau kuberitahu pun belum tentu semua akan langsung percaya.
Ketika kuceritakan soal Radit yang sudah melamarku, raut wajah Kak Rina terlihat berubah. Senyum ramah tamah yang semula terlihat begitu bersinar, dapat kulihat menjadi redup. Tak lama, dia pun pamit pulang.
Semoga dugaanku kalau Kak Rina naksir Radit itu tidak benar. Dan kalau pun benar, semoga ini bisa menyadarkan dia kalau apa yang dia lakukan itu salah. Salah menginginkan cinta yang lain ketika dia sudah memiliki suami.
“Dhea, kamu kenapa melamun? Ayo, bantuin ibu marut kelapa.”
Aku dan Ibu akan memasak tumbuk daun singkong hari ini, katanya ibu sudah lama tidak memakannya. Sedangkan Andin dan Ibu mertuanya juga sedang memasak menu mereka sendiri.
“Ngapain harus capek marut, Bu. Lagian di dapurku gak ada parutan. Biar aku bawa ke tukang parut dulu,” kataku pada Ibu.
“Lah, terus kenapa banyak kelapa tua di dapur kamu?”
“Itu dikasih tetangga. Selain kasih yang muda, mereka juga kasih yang tua.”
“Gak pernah kamu gunakan pasti.”
“Hampir gak pernah. Aku kan jarang masak yang berat-berat, Bu.”
“Tau gitu kirim aja buat Ibu di kota.”
“Duh, Ibu. Males banget lah ngirim kelapa segala ke kota.”
Aku buru-buru membawa kelapa yang telah ibu kupas ke tukang parut, sebelum ibu mengajakku berdebat tentang kelapa tua lagi.
Aku pergi ke tukang parut kelapa, untuk pertama kalinya. Padahal Ibu sudah punya riwayat kolesterol, kalau menginginkan sesuatu susah dilarang. Semoga tidak apa-apa makan masakan bersantan hari ini. Lagi pula, Ibu tinggal di kota dan jauh dari pantauanku.
Selagi menunggu kelapa di parut, aku membayangkan apa yang terjadi pada Kak Rina. Bagaimana kalau dia patah hati, lalu mengirimiku mantra teluh atau sejenis itu untuk membahayakan nyawaku. Ya Allah. Semoga aku selalu ada dalam lindungan Allah.
“Bidan Dhea, tumben saya lihat ngantri di sini?” Seorang tetangga menegurku. Kalau tidak salah namanya Kartika.
“Iya, Kak. Lagi mau masak bersantan,” sahutku.
“Masak apa?” tanyanya lagi.
“Masak daun singkong tumbuk, Kak,” jawabku.
“Wah, enak itu. Apa lagi kalau ada ikan panggangnya.”
“Hehe, iya, Kak. Kebetulan sudah ada ikannya juga.”
Kartika lalu tersenyum dan meninggalkanku setelah pesanannya selesai. Tinggallah aku menunggu. Lalu tak kusangka ada kedatangan Kak Rina yang ternyata juga mau beli kelapa parut.
“Kak Rina?” aku menyapanya.
“Eh, Bidan. Ada di sini juga?”
“Iya. Mau masak tepe suluh kunjuy.”
“Oh, enak dong.”
“Kakak mau masak apa?”
“Masak opor ayam, Bidan.”
“Ohya? Wah, menu istimewa itu.”
“Iya, Bidan. Anak-anak lagi pengen dimasakin ayam.”
Kelapa parut yang kupesan akhirnya selesai dan siap kubawa pulang. Kutinggalkan Kak Rina yang masih menunggu. Ibu pasti sudah menunggu di rumah.
....
Setelah masakan semua telah siap, Andin memintaku untuk datang ke rumah Radit agar makan bersama. Namun, Ibu bilang ingin makan di rumah saja. Aku pun makan sedikit menemani Ibu, lalu membawa semangkuk masakan kami ke rumah Radit.
Di rumah Radit, mereka semua tengah makan pagi. Ada menu ikan panggang dan sayur bening, tak lupa sambal. Hidangan yang sepertinya kesukaan sejuta umat dari sabang sampai merauke.
Ketika kami akan mulai makan, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Dan itu adalah Kak Rina. Di tangannya terlihat membawa rantang. Ternyata Kak Rina memberikan serantang opor untuk Radit dan keluarganya. Dari aromanya saja tercium sangat lezat.
“Wah, baik banget. Makan bareng yuk, Kak,” kata Andin pada Kak Rina.
“Ah, enggak, Mbak. Saya udah ditunggu anak-anak di rumah. Silahkan, semoga enak masakannya,” sahut Kak Rina.
“Terima kasih, ya, Kak.”
“Sama-sama.”
Kak Rina lalu pergi, meninggalkan masakannya. Ayah Radit sepertinya suka masakan berat seperti opor, dibanding masakanku yang sederhana, Ayah Radit lebih dulu memakan masakan dari Kak Rina. Jujur, ada sedikit nyeri di dalam sini. Kecemburuan yang seharusnya tidak perlu.
Aku merasa telah kehilangan selera makan, akan tetapi mencoba untuk menutupi. Radit tak menyentuh sedikit pun masakan dari Kak Rina. Radit memakan masakanku dengan lahap, seolah sangat menjaga perasaanku.
Aku terus tak bisa berhenti dari menatapnya, entah mengapa rasanya bisa jadi secentil ini. Aku sangat bahagia bisa berada di dekat Radit, apa lagi diperlakukan istimewa olehnya. Aku sangat bahagia dengan semua tentangnya.
Setelah makan bersama, aku dan Andin mencuci piring bersama juga. Andin sepertinya tidak peka, kalau barusan tadi aku tengah cemburu pada Kak Rina. Mungkin karena hanya aku yang merasa kalau Kak Rina telah naksir pada Radit.
Setelah makan, Radit dan aku duduk berdua di serambi rumah. Radit duduk sembari merawat tanaman bonsainya, sedang aku, mulai terpikir untuk memposting sedikit tentangnya di sosial media.
“Oiya, Radit. Foto yang di danau biru, kayaknya belum kamu kirim buat aku?” kataku.
Kesibukanku membuat lupa tentang hasil foto-foto estetik kami hari itu.
“Oiya, lupa. Entar ya.”
Radit lalu masuk ke dalam rumah, mengambil gawainya kemudian menyerahkannya padaku.
“Semua udah aku pindah ke hape. Kamu langsung kirim aja,” ujarnya.
“Gak apa-apa nih, aku pegang hape kamu?” tanyaku.
“Hati aku aja udah kamu pegang, apa lagi Cuma hape.”
Aku tersenyum otomatis ketika mendengar pernyataannya. Terasa ada banyak kupu-kupu yang terbang disekelilingku.
Aku lalu membuka ponsel Radit. Ponselnya tanpa kunci apa pun. Tidak ada aplikasi game atau yang aneh-aneh. Saat kubuka galery, ada banyak foto selfie Radit. Ada foto bersama keluarganya, juga sebuah album yang khusus berisi foto kami berdua. Hatiku terasa makin berbunga mengetahuinya.
Bahkan sebagian foto, diambil Radit tanoa sepengetahuanku. Aku sedang mencuci motor, sedang duduk di serambi rumah saat sore. Radit menjepretnya dengan sangat baik membuatku terlihat seperti selebritis.
“Jadi selama ini, kamu diem-diem fotoin aku, Dit?” aku membulatkan mata padanya.
Radit pun seolah tersadar, lalu salah tingkah dan tersenyum nyengir saja.
“Maaf. Kadang iseng aja karena gabut,” sahutnya.
“Dih. Tapi bagus sih, aku keliatan cantik banget.”
“Hemmm.”
Aku mengirim semua foto kami berdua, lalu mengembalikan gawai Radit. Dengan gawaiku, kulihat-lihat lagi foto kami, sungguh sangat tidak membosankan.
“Kamu gak ada tugas ya, akhir-akhir ini?” tanya Radit.
“Hemm, gak ada. Jarang masih yang lahiran,” jawabku.
“Kalau tengah malam tugasnya, kasih tahu aku, biar aku temenin.”
“Kenapa?”
“Kan aku khawatir, Dhea.”
“Tumben.”
“Sebenarnya aku selalu khawatir. Tiap kamu pulang tengah malam, aku susah tidur. Sengaja nungguin kadang, mastiin kamu udah pulang apa belum.”
“Cieee.”
“Udah sana pulang, kasihan ibu ditinggal sendirian.”
“Eum. Iya, iya. Aku pulang ya.”
Radit tersenyum, aku pun melangkah pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Ibu sedang tiduran di atas kasur.
Saat ke dapur, tercium bau yang tak asing dari meja makan. Ternyata, Kak Rina juga mengantar opor ke rumahku.
“Dhea, itu tadi ada yang ngantar makanan,” ujar Ibu dari dalam kamar.
“Ibu udah nyicipin?” tanyaku.
“Gak, ibu takut kolestrol naik. Abis makan daun singkong aja ibu pusing.”
“Kalau gitu jangan dimakan dulu.”
“Tadi ibu kasi ayamnya sepotong buat kucing.”
“Kucing?”
“Iya, ada di dapur tadi.”
Aku melihat ke pintu dapur. Benar ada kucing di sana, akan tetapi kucing itu terlihat tak bergerak. Ayamnya sudah hampir habis, kuraba kucing karena kupikir dia tidur. Ternyata, dari mulut kucing keluar lendir berbusa dengan warna kehitaman.
Dadaku berdebar kencang. Kuambil alat pemeriksa detak jantung dari tas tugas. Lalu kuperiksa keadaan kucing itu. Ternyata kucing itu sudah mati.
Kucing berbulu abu-abu itu bukan milikku, akan tetapi memang sering datang untuk mencari makanan. Aku berpikir mungkin ini karena kucing telah memakan sepotong ayam dari opor pemberian Kak Rina. Bisa saja opor itu telah diberi racun.
Aku langsung mengambil mangkuk opor itu dan membuangnya. Kucuci mangkuknya, bahkan sebenarnya aku ingin melempar mangkok kaca itu hingga pecah untuk menuntaskan rasa marah dan cemasku.
“Dit, ke rumah aku sekarang!” aku mengirim voice note ke nomer Radit.
Tak lama, pesanku telah Radit terima. Dia pun langsung datang ke rumahku. Aku menunjukkan kucing yang telah mati itu pada Radit. Radit terlihat terpukul, karena dia juga sangat menyukai hewan peliharaan.
“Kok, bisa?” Radit termenung sambil menatap kucing.
“Dia Cuma makan sepotong ayam dari opor pemberian Kak Rina. Mungkin yang jadi sasaran Kak Rina itu aku, Dit!”
“Enggak. Kamu jangan terlalu cepat membuat kesimpulan, Dhea.”
“Terus kenapa?”
“Bisa aja kucingnya tersedak tulang.”
“Tersedak sampai muntah darah hitam?”
Radit lalu menatapku, aku yakin dia juga sudah mulai mempercayai kecurigaanku. Namun, Radit hanya berusaha agar tidak terjadi perselisihan.
“Kita bereskan kucingnya dulu,” ucap Radit.
Radit lalu menyingsingkan lengan bajunya dan mengambil cangkul. Radit menggali tanah yang ada di belakang rumahku, cukup jauh dari rumah. Menggali untuk menguburkan kucing malang itu.
Aku mengambil kain tak terpakai di lemari, lalu membersihkan dulu kucing itu dari kotoran dengan memandikannya. Dan membungkusnya dengan kain. Air mataku jatuh tak tertahan, Ibu yang menyaksikan juga tak kalah kaget dan heran.
Aku dan Radit lalu menguburkan kucing malang itu. Dalam hati aku masih tak terima, bagaimana bisa Kak Rina berbuat nekad.
Bagaimana kalau yang jadi korban itu Ibuku, aku sungguh tidak akan memaafkannya. Selepas menguburkan kucing, aku langsung ke rumah Kak Rina meski Radit berusaha menahanku. Aku berdalih hanya ingin mengantar mangkok Kak Rina yang tadi dipakainya untuk wadah opor.
Kak Rina terlihat kaget saat melihatku datang, akan tetapi dia langsung tersenyum untuk menutupi kebusukannya. Kulihat suaminya ada di depan TV, dengan tubuh yang terlihat semakin kurus dan setoples obat-obatan terparkir di depan tempat duduknya.
“Kak, aku ke sini mau antar mangkuk. Terima kasih, ya, opornya enak banget,” kataku.
Menjulurkan mangkok itu padanya.
“Wah, sama-sama. Saya senang kalau bidan suka,” sahutnya.
“Iya, Kak. Kalau gitu saya pulang dulu.”
“Iya. Bidan.”
Aku berlalu pergi tanpa membahas soal kucing yang mati, mungkin lebih bagus begini saja. Dengan begitu Kak Rina akan merasa kesal karena melihat aku dan Ibu yang baik-baik saja. Dia akan berpikir kalau racunnya tidak mempan. Dan semoga itu membuatnya tidak akan mengirimi racun lagi padaku.
[Kamu gak berantem kan sama Kak Rina?]
Kubaca pesan dari Radit setibanya di rumah.
[Enggak, kok. Baik-baik aja.] Balasku.
[Mungkin kita salah paham aja, Dhea.]
[Ya, semoga.]
[Lagi pula untuk apa Kak Rina melakukan itu?]
[Untuk apa lagi, bisa aja untuk bunuh aku karena dia gak suka dengar kabar kita akan nikah.]
[Semoga gak begitu, Dhea.]
[Iya. Semoga ini Cuma karena kekhawatiran aku aja, Dit.]
Sebenarnya aku agak kesal melihat sikap Radit. Padahal jelas banyak bukti kalau semua kejahatan itu bersumber dari Kak Rina. Apa mungkin karena sikap baik Kak Rina selama ini, Radit seolah ingin buta dan tuli pada keburukan yang disebabkan olehnya.
Kumatikan data seluler, lalu meletakkan gawai begitu saja di atas nakas. Kupilih untuk berbaring di samping ibu dan menunggu hingga lelap dengan sendirinya.