Setelah dua hari, Ibu dan Andin serta keluarga Radit akhirnya kembali ke kota. Mereka memaksaku untuk ikut, akan tetapi mana mungkin aku meninggalkan tugas dalam waktu dekat ini. Barusan saja sudah ada yang menghubungiku, mengabarkan bahwa akan ada persalinan yang kuperkirakan akan berlangsung nanti malam.
Tanpa kehadiran Ibu, rumah dinasku menjadi kembali sepi. Begitu juga rumah Radit, kami pun mengobati rasa sepi itu dengan sering mengobrol di serambi rumah saat tidak ada tugas.
Mengenai Kak Rina, aku sudah belajar untuk melupakan kasus kucing mati kemarin. Namun, aku akan tetap waspada dan berusaha untuk menjaga jarak saja dengannya.
Malam hari saat mengaji, kami duduk bersisian. Bacaan mengaji Kak Rina telah semakin bagus. Radit menyarankan Kak Rina untuk bisa melanjutkan sendiri belajar di rumah, karena dia telah bisa membedakan mana yang salah dan benar dalam bacaan. Radit ingin fokus mengajar pada anak-anak saja. Kak Rina pun mengiyakan, meski terlihat raut kecewa di wajahnya.
Seusai mengaji, aku segera pulang. Bersiap untuk ke alamat rumah ibu hamil yang akan bersalin. Entah kenapa banyak persalinan terjadi di malam hari, sangat jarang pada saat siang. Dan memang, banyak Ibu hamil yang lebih senang melahirkan saat sepi di malam hari, agar tidak menjadi pusat perhatian orang-orang.
“Dhea, mau ke mana?” tanya Radit yang tiba-tiba datang ke rumahku.
“Ada tugas, Dit,” jawabku.
“Tempatnya di mana? Jauh?” tanyanya lagi.
“Gak juga, masih di kampung sini. Sore tadi mereka bilang mau bersalin di rumah saja, jadi ya, di rumah mereka aja.”
“Mau aku temani?”
“Gak usah, lah. Udah biasa sendiri kok.”
“Hemm, hati-hati kalau gitu.”
“Iya, Dit.”
Aku segera melajukan motor setelah pamit pada Radit, berpapasan dengan Kak Rina yang baru pulang mengaji bersama anak-anaknya. Kalau Kak Rina hantuwen, pasti dia akan merasa sangat b*******h malam ini.
Karena baru saja lewat waktu isya, masih banyak lampu-lampu rumah warga yang menyala. Rumah pasienku kali ini berada di pinggir jalan, tepat di daerah yang ramai. Saat aku tiba di rumahnya, ternyata ada banyak tetangga yang merupakan mayoritas Ibu-Ibu sedang bertamu.
Mereka bercengkrama, menyarankan banyak hal agar persalinan menjadi mudah. Aku tersenyum saja menyimak pembicaraan mereka, lalu mulai fokus memeriksa keadaan Ibu hamil dan sudah masuk berapa bukaannya.
“Tekanan darahnya normal, Kakak gak sakit kepala kan?” tanyaku pada calon Ibu.
“Enggak, Dokter. Tapi perutku tambah sakit,” jawab calon ibu dengan meringis. Matanya terlihat basah.
Mungkin karena persalinan pertama, pasienku merasa akan tidak kuat menahan rasa sakitnya.
“Namanya juga akan melahirkan, makin lama ya makin sakit,” sahut Ibu pasien yang sejak tadi menunggui sambil mengusap-usap perut pasien.
“Betul itu, makanya harus bersabar. Ini namanya perjuangan, barengi dengan dzikir, jangan panik. Karena kalau kamunya panik, yang nungguin juga bisa lebih panik,” sahutku.
Kontraksi bayi makin terasa ketika menjelang tengah malam, akan tetapi ketuban belum juga pecah. Aku mengajari Ibu bayi cara mengatur nafas untuk mengejan, sampai akhirnya ketuban pecah dan kami memulai persalinan.
Ibu bayi semakin menjerit ketika bayi sudah menunjukkan kepala, lalu aturan nafasnya keliru dan membuat kepala bayi tertahan.
“Tarik nafasnya lagi, Kak. Sedikit lagi, Kak!”
Dengan sekali hembusan nafas lagi, bayi akhirnya keluar dengan selamat. Tangisan bayi yang masih merah pun memecah keheningan malam, Ibu bayi yang tadinya panik pun tiba-tiba ikut menangis, membuat kami yang menunggu geleng-geleng kepala.
Aku meletakkan bayi masih dalam pangkuan, sampai seluruh ari-arinya ikut keluar. Cukup banyak darah hari ini, apa lagi ibu bayi terlalu aktif tidak bisa melembutkan gerakannya.
“Jangan banyak gerak dulu, ya, Kak. Nanti bisa pendarahan besar,” kataku.
“Iya, kamu ini. Yang sabar, dong,” sahut Ibu pasien.
Aku gegas membersihkan bayi dengan air hangat. Lalu memasangkannya pakaian dan membedongnya. Setelah siap, langsung meletakkannya di tempat tidur, membiarkannya menjadi pusat perhatian keluarga setelah ini.
Tanpa bantuan dukun beranak, aku ikut membersihkan Ibu pasien. Memindahkannya dari tempat penuh darah, ke tempat tidur yang masih bersih.
Pada sepuluh menit pertama setelah bayi lahir, ibu akan kehilangan banyak darah. Untuk mencegah pendarahan lebih banyak, aku memberikan suntikan oksitosin di otot paha. Bertujuan agar rahim berkontraksi lebih kuat untuk membantu menghentikan pendarahan.
Aku kembali memeriksa tekanan darah pasien, memastikan bahwa tidak terjadi pendarahan serius dalam dua jam ini.
“Jangan banyak gerak dulu, ya, Kak. Yang sabar,” kataku.
“Iya, Bidan.”
“Sambil di perhatikan pemberian ASI untuk dede bayinya nanti. Dilatih terus untuk bisa menyusu, ya?”
“Iya, Bidan.”
Tanpa bantuan dukun beranak, rasanya memang lebih melelahkan. Namun, ini juga sudah jadi resiko.
Usai membersihkan tangan, aku disuguhi minuman teh hangat. Rasanya lega sekali melihat ibu dan bayi yang sehat. Ayah bayi terlihat senang mendapatkan jagoan pertama mereka. Timangan-timangan pun mulai memenuhi rumah, setiap ada yang datang melihat si bayi.
Waktu telah menunjukkan pukul tiga dini hari, aku pun pamit pulang pada keluarga pasien. Aku akan pulang dan tidur barang sebentar, lalu harus bersiap lagi untuk kunjungan pagi esok pagi.
Di perjalanan pulang ke rumah, jalanan masih sepi. Hawa dingin terasa begitu menusuk hingga menembus jaketku. Aku melajukan motor lebih ngebut saat telah masuk gang menuju rumah, bertujuan untuk menghindari dari melihat rumah Kak Rina. Entah kenapa rumah itu menjadi sangat menyeramkab bagiku sekarang.
Saat melaju, tiba-tiba saja ada yang mendadak melintas di depan motorku. Aku hampir tak sempat mengerem dan akhirnya terhenti juga di jalan depan rumah Kak Rina.
“Bidan?”
Kedatangan Kak Rina yang tiba-tiba, benar-benar membuat jantungku hampir copot.
“Kak Rina?”
“Bidan dari mana?”
“Kakak dari mana pagi-pagi begini?”
“Saya dari sungai, ngebersihin sayur yang mau dijual buat pagi ini.”
“Kenapa harus jauh ke sungai? Bukannya di rumah kakak ada pompa air?”
“Eum, ini sayur nangka, Bidan. Lebih enak bersihin getahnya di sungai.”
“Oh yaudah.”
“Bidan dari bantu orang melahirkan, ya?"
“Iya.”
“Pantas kerudungnya ada kotor gitu.”
“Iya. Saya pulang dulu, Kak.”
“Iya, Bidan.”
Entah apa yang tadi melintas, hampir saja membuatku terjatuh dari motor. Rasanya aku tidak kaget lagi melihat Kak Rina di malam gelap seperti ini, mungkin dia baru selesai mengisap darah dari tempat persalinan. Atau mungkin benar, dia baru selesai membersihkan nangka di sungai. Ah, sudahlah. Aku tidak peduli.
...
Sesampai di rumah, aku langsung membersihkan diri. Merendam semua pakaian kotor, lalu pergi tidur. Setidaknya aku bisa tertidur sebentar sembari menunggu adzan Subuh.
....
Aku terbangun cukup kesiangan hari ini, terpaksa harus mengkodo salat subuh. Dari pada tidak salat sama sekali. Kulihat gawai dan membuka aplikasi chat, ada rentetan pesan dari Radit yang rupanya telah dikirim sejak semalam.
[Sudah pulang?]
[Subuh.]
[Woy.]
[Tidur nih pasti.]
[Jangan lupa makan pagi.]
Begitu lah isi pesan Radit. Cukup membuatku senyum-senyum sendiri pagi ini. Kalau dia sudah jadi suamiku, pasti dia akan menjadi lebih perhatian lagi.
Kuhampiri rendaman cucian di kamar mandi, darahnya sudah perlahan luntur. Aku selalu butuh banyak pewangi untuk menghilangkan bau anyir darah.
Bekerja di bidang kesehatan, apa lagi soal persalinan. Kadang membuat orang terdekat merasa jijik pada kita. Apa lagi kalau mereka tahu kita baru saja melakukan tugas, mereka akan enggan berbagi makanan yang sama dengan kita. Karena beralasan kita baru saja memegang sesuatu yang kotor.
Saat menjemur pakaian, kulihat Radit baru akan berangkat ke sekolah. Hari ini dia memakai setelan batik berwarna biru, pasti karena hari rabu.
Radit itu lelaki pecinta kebersihan, meski motornya sudah sering dicuci, setiap akan menggunakannya Radit masih akan mengelapnya lagi. Motornya selalu kinclong seperti baru.
Aku melanjutkan menjemur baju, lalu tiba-tiba terdengar suara klakson dari jalan gang depan rumah. Aku menoleh, ternyata Radit. Dia berhenti sepertinya hanya untuk mengatakan dia akan pergi ke sekolah.
“Ke sekolah dulu,” katanya. Sesuai dugaanku.
“Iya,” sahutku.
Radit pun tersenyum dan kembali melajukan motornya, semakin jauh dari gang. Sedangkan aku, harus bersiap pergi lagi melakukan kunjungan pada bayi baru lahir.
Saat aku kembali ke dalam rumah, kulihat Kak Rina datang dan berjalan menuju rumah Radit. Aku mengintip dari jendela melihat apa yang sedang dia lakukan. Rupanya Kak Rina tengah menaruh sesuatu di tanaman Radit. Dari kantung plastik hitam, dia menaburkan sesuatu seperti tanah pada tanaman Radit.
Aku gegas keluar rumah, lalu berpura-pura seolah baru melihat Kak Rina. Aku menunggu sampai Kak Rina selesai, lalu dia melihatku saat berjalan pulang.
“Dari mana Kak?” tanyaku.
“Dari rumah Pak Radit, Bidan,” jawab Kak Rina.
“Kan Radit tadi udah berangkat ke sekolah.”
“Iya, Bidan. Saya Cuma ngasih pupuk. Kemarin sudah saya bilang kok. Ada pupuk kandang yang saya buat sendiri.”
“Oh, pupuk.”
“Iya, Bidan.”
“Hemm.”
Kak Rina lalu pergi, raut wajahnya terlihat senang. Aku langsung mengambil gawai dan menghubungi Radit.
“Baru aja pamitan, udah kangen?” kata Radit saat telepon kami tersambung.
“Apaan! Aku mau ngasih tahu sesuatu, Dit,” sahutku.
“Apa?”
“Tadi aku lihat Kak Rina naruh sesuatu di tanaman-tanaman kamu, pas aku tanya, katanya itu pupuk kandang.”
“Oh, iya. Aku emang suruh dia langsung naburin aja waktu kemarin dia nawarin ngasih pupuk. Pupuk kandang bagus, kok.”
“Kamu yakin itu pupuk kandang beneran?”
“Coba kamu perhatikan, kalau bau kotoran hewan, berarti benar.”
“Dih.”
“Weka weka. Kan bener. Emang kenapa, Dhea?”
“Bisa aja itu pelet.”
“Pelet? Baru tahu aku orang melet pakai pupuk kandang.”
“Ya, kan bisa aja.”
“Hemm. Kalau gitu, nanti aku lihat, aku cek.”
“Eum, terserah kamu deh.”
“Kamu jangan curigaan gitu dong.”
“Curiga itu wajar, biar kita bisa waspada!”
“Hemm, iya, deh. Aku mau sibuk dulu, ya.”
“Iya, maaf ganggu.”
“Gak kok. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Memang tidak masuk akal kalau memberi pelet lewat pupuk kandang. Tapi apa saja bisa terjadi kan.
...
Kunjungan pertamaku berjalan cukup menyebalkan. Entah karena mengurus bayi pertama dalam keluarga mereka, keluarga bayi mengikuti perkataan orang-orang perihal cara mengurus pusat bayi mereka.
“Kenapa pusat bayi diginikan? Sudah sejak setiap datang ke kelas ibu hamil, kami ingatkan untuk tidak membubuhkan apa-apa ke pusat bayi baru lahir. Cukup dengan kain kasa saja,” kataku. Merasa kaget dengan keadaan pusat bayi hari ini.
Ternyata mereka membubuhkan kunyit dan garam, seperti membumbui ikan yang akan digoreng. Mereka beralasan agar cepat kering dan tidak berbau.
“Tapi gak apa kok, Bidan. Bayinya gak nangis,” jawab nenek bayi.
“Terserah saja kalau begitu. Tapi saya gak ikut bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa nantinya.”
Aku memandikan bayi, lalu membersihkan pusatnya. Pusat bayi yang masih basah itu kukeringkan dan kubalut dengan kain kasa. Kalau sudah seperti ini, rasanya aku tidak ingin lagi melakukan kunjungan. Harusnya mereka lebih mendengarkanku, bukan tetangga mereka yang bukan siapa-siapa.
Usai mengurus bayi, aku pun pulang. Kulihat rumah Radit, pintunya masih tertutup. Radit benar, aku mudah merasa curiga. Juga mudah merasa merindukannya.
Kami harus segera membicarakan rencana kapan pernikahan akan diadakan. Meski Andin dan Bang Satria juga sudah memastikan bahwa mereka akan mengurus semuanya untuk kami. Aku tidak perlu pesta mewah dan meriah. Cukup akad yang sakral dan sederhana, meriah dengan kehadiran seluruh keluarga kami. Begitu saja sudah cukup bagiku.
[Mau makan siang apa?] Radit mengirim pesan. Baru saja aku akan terlelap karena terlalu nyaman berada di atas tempat tidur.
[Emang ada menu apa saja di desa ini?] balasku.
Sadar diri tinggal di desa, menu makanan yang dijual tentu terbatas dan itu itu saja. Mau membeli martabak manis saja harus menunggu waktu pasar. Ah, iya. Hari ini kan hari rabu, pasar mingguan selalu buka tiap hari rabu.
[Kali aja mau soto atau gado-gado.] balas Radit.
[Aku mau ke pasar, beli makanan.]
Aku memasang lagi kerudung dan jaket, lalu mengambil dompet berisi beberapa lembar uang pecahan.
[Ke pasar? Ya udah, kalau gitu nanti kita ketemu di pasar ya?]
[Kamu udah selesai ngajar?]
[Udah, kok. Abis ini langsung balik.]
[Oke.]
Aku melajukan motor melaju ke pasar yang letaknya tak begitu jauh. Bangunan pasar masih terbilang bangunan baru, semula tak terbuat dari beton dan tak tertata rapi.
Di pasar, sudah banyak orang yang datang. Pengunjungnya tak hanya warga desa sini, akan tetapi juga dari desa lain yang bertetangga. Dari Desa Tumbang Tungku, mereka juga hampir tak pernah absen. Walau untuk datang ke desa ini mereka harus menggunakan perahu air menyusuri sungai. Dan dari yang kudengar, jarak desanya lumayan jauh.
Aku tak membeli sembako, langsung meluncur saja ke gerobak martabak manis. Memesan dua porsi lima ribuan, martabak manis rasa coklat kesukaanku.
Ada banyak makanan lain juga, aku merasa seperti anak-anak saja karena tidak belanja keperluan lain seperti ibu-ibu lainnya. Ya, aku kan memang bukan ibu-ibu.
[Aku tunggu di warung lontong.] Radit mengirim pesan lagi.
[Iya. Aku lagi beli martabak manis.] balasku.
Pesanku hanya dilihat, aku lalu berjalan menuju warung lontong. Benar sudah ada Radit di sana. Kebetulan warung masih agak sepi.
“Udah aku pesenin, kamu suka lontong kan?” tanya Radit.
“Suka kok,” jawabku.
Radit lalu terus menatapku, jarak duduk kami cukup dempet. Meski bertemu setiap hari, bahkan tinggal bertetangga, rasanya belum ada rasa bosan di antara kami.