Bab. 56. Mengenaskan

1485 Kata
Donat buatan Kak Rina, berukuran jumbo. Dengan hiasan krim yang membuatnya menggoda dan sangat layak jual. Biasanya kue donat kentang seperti itu akan laku dengan harga dua ribu lima ratus, hingga tiga ribu rupiah perbiji. Radit membaca doa panjang sebelum mencicipi donat. Dan pada akhirnya, enam kue donat itu tandas tak tersisa. Radit mukbang donat dengan lahap di hadapanku. “Kamu laper, Dit?” tanyaku tak habis pikir dengan tingkahnya. “Dari pada nanti kamu buang, mubazir,” jawab Radit sambil cengengesan. “Memang rasanya gimana? Enak?” tanyaku lagi. “Enak banget, persis rasa donat mahal yang biasa kita beli,” jawab Radit lagi. “Hemm, berarti Kak Rina emang pandai bikin kue, ya." “Iya. Dan kayaknya dia bakat bisnis kuliner.” “Hemm. Tapi tetap aja aku gak akan beli.” “Kenapa?” “Menurutku, masakan buatan dia itu salah satu yang berbahaya di dunia.” “Itu mah prasangka buruk kamu aja, Sayang.” “Dan itu memang bersumber dari dia juga kan. Salahkan dirinya sendiri.” “Hemm.” Radit menghentikan debat, lalu mencuci piring bekas donat. Aku terperanjat mendengar kabar kriminal hari ini, kabar buruk yang sangat mengenaskan. Bersumber dari postingan status Bidan Santi. Terjadi peristiwa pembunuhan di Tumbang Samba. Tepatnya di tempat jualan sate langganan kami. Penjual Sate itu bernama Sanusi, keturunan Jawa yang dagangannya sangat laris manis. Saat tidur di selasar rumahnya, seseorang datang dan menyembelih lehernya dengan pisau hingga hampir putus. Dan yang mengejutkan, pelaku adalah keponakannya sendiri. Pelaku diduga menderita kelainan jiwa, dan akhirnya dia babak belur dihajar masa saat ketahuan dan tertangkap di tempat persembunyiannya. “Kamu udah lihat berita hari ini gak, Dit?” tanyaku pada Radit yang baru duduk di sofa. Di sampingku. “Soal pembunuhan di Tumbang Samba?” dia balik bertanya. “Iya.” “Iya. Aku juga barusan lihat. Innalillahi wa innailaihi rojiun.” “Innalillahi wa innailahi rojiun. Aku gak nyangka banget, Dit.” “Siapa yang nyangka sih? Begitu lah maut, datang tak pernah kita sangka kapannya.” “Apa kita gak ngelayat?” “Gak bisa, di sana lagi rame banget, Dhea.” “Iya juga sih.” Tak bisa kubayangkan, seperti apa mengenaskannya keadaan korban. Dari yang kudengar cerita simpang siur, korban masih sempat berjalan menghampiri istrinya dengan keadaan leher yang sudah tersembelih itu. Sang isteri pun menjerit, bahkan mungkin pingsan. Serupa mimpi terburuk dalam hidup. .. Selepas makan banyak, Radit tidur siang tanpa melewatkan salat dzuhur. Aku pun berbaring di sampingnya. Kemarin setelah menonton film zombi, aku merasa ketagihan untuk menonton lagi. Namun, sebuah judul film asal Thailand cukup menarik perhatianku. Tentang seorang perempuan yang ingin menjadi terkenal, dan dengan menggunakan boneka arwah. Boneka arwah itu mengingatkanku pada hal yang kemarin sempat viral. Aku senang karena publik figur yang aku senangi itu akhirnya mau berhenti bermain boneka karena tak ingin lagi ada kegaduhan. Film kumainkan tanpa suara, tepatnya ini hanya sebuah spoiler yang cukup lengkap. Film trailer yang tak terlalu banyak menunjukkan penampakan. Lalu muncul lagi sebuah film, yang kupikir film lokal ternyata film asal India. Tentang perempuan hamil dan bayi perempuan yang dianggap pembawa sial. Sangat menyakitkan ketika tahu bahwa film ini diambil dari kisah nyata. Di sebuah perkampungan tanpa sinyal seluler, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Terdapat sebuah perkebunan tebu yang sangat luas. Ternyata di dalam perkebunan itu, ada sebuah tempat yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa mengerikan. Tentang seratus lebih bayi perempuan yang dijatuhkan ke sumur, dibunuh karena dianggap pembawa sial. Dan juga sebagai tumbal untuk menambah panen tebu. Sungguh miris melihat semua kebodohan yang benar-benar nyata itu. Banyak perempuan yang sulit untuk mengandung, dan sangat ingin memiliki keturunan. Namun, banyak orang jahat tak berhati yang justru malah membuang-buang keturunan mereka karena pemikiran bodoh dan ketinggalan zaman. “Sayang, kamu ngapain? Serius banget.” Radit tiba-tiba bangun dan memelukku dari belakang. “Lagi nonton film, Sayang,” sahutku. “Film India? Horror?” “Iya. Kayaknya seru. Aku lihat spoilernya doang sih.” “Hemm, kalau ini sih aku juga udah lihat. Video pendek doang tapi.” “Jahat banget ya mereka.” “Ya, namanya juga pemikiran jahiliyah. Sama seperti pada zaman nabi dulu, bahkan para sahabat sebelum masuk islam pernah melakukannya juga.” “Membunuh anak perempuan?” “Iya.” “Kasihan banget.” “Mereka kembali ke surganya Allah, dan mungkin itu juga lebih baik dari pada harus mendapatkan dunia yang kejam ini.” “Aku mau cepet hamil, Dit. Cepat ngerasain punya anak.” “Sabar, Sayang.” “Iya." Mataku terasa lelah terlalu lama di depan layar ponsel, kuputuskan untuk tidur sebentar sementara menunggu waktu sore. .. Riuh suara membangunkanku, terdengar suara canda tawa di depan rumah. Aku yang masih merasa lemas karena bangun tidur, berjalan gontay menuju selasar. Ternyata Radit sedang bermain dengan anak-anak tetangga, mereka membuat sapu lidi dengan pelepah daun kelapa. “Sayang, udah bangun?” tanya Radit. “Kamu lagi ngapain?” tanyaku balik. “Bikin sapu lidi,” jawab Radit. Menunjukkan sedikit lidi yang telah dia buat. “Dapat dari mana daun sebanyak ini?” “Anak-anak ini yang bawa, di sana ada yang nyingkah pohon kelapa, jadi mereka bawa pelepahnya buat aku dari pada gak dimanfaatkan.” “Memangnya ada acara apa?” “Nikahan, nanti malam acaranya.” “Ohya? Siapa?” “Ada lah, warga sini. Katanya sih masih di bawah umur.” “Oh gitu.” Tak kusangka Radit bisa mengetahui lebih banyak hal baru lebih dulu dari aku. Anak-anak terlihat makin senang ketika Radit membuatkan bola dan banyak mainan dari pelepah daun kelapa itu. Satu buah sapu lidi berhasil dibuat, untuk mengganti sapu lama yang memang sudah rapuh dan pendek. Radit menambahkan kayu panjang untuk menjadi pegangan, agar pinggang tak perlu sakit karena terus membungkuk. “Aldo, nanti malam ada acara musik ya?” tanya Radit pada salah satu anak. “Iya. Artisnya lima,” jawab Aldo. “Artisnya lima, banyak banget,” sahutku. “Iya, Kak. Nonton kah kak nanti malam?” tanya Aldo lagi. “Hemm, malas ah, takut Bang Radit ikut joged.” “Biar aja Abang joged.” “Hahaha.” Meski tempat dangdutannya dekat, aku dan Radit tak ada niatan sedikit pun untuk menonton. Mungkin hanya datang untuk memenuhi undangan makan, itu pun kalau nanti ada yang mengundang. Di pedesaan seperti ini, acara pernikahan dirasa tak lengkap bila tanpa acara musik. Dulu hanya di isi oleh organ tunggal, akan tetapi bsru-baru ini mulai di isi juga dengan musik DJ yang disukai anak-anak muda. Acara musik tentu saja sudah pasti mengundang acara mabuk-mabukan juga. Terjadilah banyak kemaksiatan, hingga kadang terjadi pertengkaran antar pemuda. Hal yang membuatku semakin malas untuk datang ke acara seperti itu. Setelah mendapatkan banyak mainan, anak-anak pun pamit pulang ke rumah mereka. Hari telah semakin sore, saatnya untuk pergi mandi. Namun, baru saja aku dan Radit akan masuk rumah, ada seseorang yang datang. Ternyata niatnya untuk mengundang kami ke acara pernikahan yang di adakan nanti malam selepas isya. Aku dan Radit pun berjanji untuk datang. .. “Padahal udah jarang acara nikah malam-malam,” ujar Radit ketika menyisir rambutnya di depan cermin. “Mungkin karena modal seadanya dan tanpa resepsi,” sahutku. “Hemm, iya juga.” “Kita beneran nih mau ke sana?” “Iya dong. Kan aku udah siap-siap.” “Iya, deh. Yuk.” Karena sedang ada acara, suasana desa pun menjadi ramai. Banyak lalu lalang sepeda motor menuju ke tempat acara. Aku dan Radit pun memilih jalan kaki saja karena rumah mempelai tak begitu jauh. Acara akad nikah sudah selesai ketika kami tiba, tinggal menunggu antrian untuk masuk ke rumah dan menikmati hidangan. Yang datang hampir satu kampung, butuh waktu lumayan lama sampai akhirnya aku dan Radit bisa masuk ke rumah mempelai. “Silahkan, Bidan. Pak Guru.” Rupanya ada Kak Rina yang tengah membantu tuan rumah untuk menghidangkan makanan. Kak Rina pun melayani aku dan Radit. Dia mengambilkan makanan juga air putih. Sangat membantu sekali bila dilayani seperti ini. Nuansa ini seperti keadaan zaman dulu, saat acara pernikahan dibuat tanpa meja kursi prasmanan. Satu menu saja dan harus menunggu untuk sampai di hadapan kita. Aku dan Radit cukup menikmati bisa berbaur dengan orang-orang, meski mereka melayani kami terlalu sungkan dan berlebihan. “Enak banget,” bisik Radit. “Mau tambah?” tanyaku. “Enggak. Udah kenyang,” jawab Radit. “Hemm, ya udah yuk. Gantian sama yang lain.” “Iya, yuk.” Aku dan Radit menyalami pengantin terlebih dulu sebelum pulang. Tak lupa menyelipkan amplop yang telah kami siapkan dari rumah. Berharap menjadi penghibur hati pengantin. .. Musik pun menggema, memecah kesunyian malam. Seiring langkah menuju pulang ke rumah, kami pun terpaksa menikmati alunan dangdut yang semakin mendayu-dayu. Langit malam terlihat cerah, ada banyak bintang-bintang bertaburan. Malam yang indah, lebih-lebih untuk kedua pengantin yang baru saja sah itu. Radit menggenggam tanganku menyusuri gang, lalu tak lama kami pun telah tiba di rumah. Beristirahat di kamar dengan perut kenyang. Nikmat yang luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN