Bab 55. Ulang Tahun Radit

1159 Kata
Entah kenapa, aku jadi ketagihan nonton zombi film Korea. Walau seram, ya, sepertinya seram-seram nagih yang sensasinya cukup kusukai. Ketika Radit sedang mengajar di sekolah, aku duduk di selasar rumah. Berbekal kopi dan cemilan, lalu asyik membuka internet. Mencari-cari film terbaru di sosial media. Zombi tak selalu dimulai dengan virus, ada juga yang memang hasil Iblis. Sebenarnya tidak masuk akal juga, bagaimana virus bisa seperti itu bila tanpa kerja sama Iblis juga. Dan memang ini masuk akal, penyakit atau virus memang selalu ditunggangi iblis untuk mengganggu manusia. Saat asyik scrool, tiba-tiba muncul juga tentang film horror lokal. Sebagian juga video hoak tentang kemunculan hantuen. Meski tahu itu bohong, tetap saja aku menontonnya. Hantuen juga ada yang menyebutnya kambe danum, atau hantu air. Biasa menampakkan diri di sungai, akan tetapi penampakannya malah seperti video penampakan putri duyung. “Bidan ....” Ya ampun, suara Kak Rina membuatku terkejut. Suasana pagi ini terasa sangat sepi, entah tetanggaku pada ke mana. Yang selalu muncul hanya Kak Rina, sedang yang lain kadang lewat saja. “Kak Rina? Kenapa, Kak?” tanyaku. “Bidan lagi ngapain?” tanyanya dengan senyum datar. “Lagi santai aja, kenapa?” jawabku jutek. “Bidan gak bikin sesuatu untuk ulang tahun pak Radit?” “Ulang tahun?” “Iya. Masa bidan lupa, kan bidan isterinya.” “Ya terus kenapa kalau suami saya ulang tahun?” “Ya, saya Cuma mau tahu aja. Kalau bidan mau bikin acara, saya mau bantu.” “Saya dan Radit gak merayakan ulang tahun, jadi gak usah repot-repot. Dan makasih atas perhatiannya.” “Oh gitu ya. Soalnya saya lihat di postingan anak-anak SMP. Mereka buat kejutan ulang tahun untuk Pak Guru.” “Hemm.” Kak Rina lalu berlalu pergi, setelah berusaha aku abaikan. Aku memang tidak pernah mengingat tanggal lahir Radit, karena memang kami berdua tidak merayakan kelahiran. Radit adalah seseorang yang taat beribadah, dia tidak akan melakukan hal-hal seperti itu Penasaran dengan pernyataan Kak Rina. Aku membuka media sosialku dan melihat postingan akun-akun yang menandai akun aplikasi biru milik Radit. Ada beberapa foto dan video, dan Radit hanya tersenyum menerima setiap kejutan dan hadiah itu. Di kolom komentar juga banjir ucapan selamat untuk Radit. Namun, saat anak-anak memulai acara tiup lilin, Radit dengan lembut memberi pernyataan bahwa dirinya tidak pernah dan tidak ingin merayakan ulang tahun. Apa yang disampaikan Radit tampak bisa diterima oleh anak-anak, lalu mereka langsung memakan kue bersama setelah Radit membaca doa untuk keselamatan bersama. Membuktikan cinta, tidak harus dengan membuat perayaan setiap tanggal spesial. Yang dibutuhkan adalah bagaimana kita membuat setiap hari yang dilewati menjadi istimewa dan penuh kenangan. Begitu menurutku dan Radit selama ini. Menjelang satu tahun usia pernikahan kami. .. Aku menaruh gawai di meja, lalu memulai untuk masak. Tidak masak terlalu pagi agar makanan bisa dimakan saat sedang hangat-hangatnya ketika Radit pulang. Tak lama, suara motor Radit pun terdengar berhenti di pekarangan rumah. Tepat ketika makanan telah kuhidangkan di atas meja. Aku menyambut Radit, lalu membantunya membawa bungkusan berisi banyak kado dari anak didiknya di sekolah. “Cieee yang lagi ulang tahun,” godaku sembari meletakkan kado di atas meja ruang tamu. “Rame banget anak-anak, ini ada kuenya sisa dikit. Kali aja kamu mau,” sahut Radit. “Boleh, kita makan aja dulu.” “Kamu masak?” “Iya, Sayang. Ada sambal cumi asin, ayam goreng, sayur oseng, sayur bening. Lengkap deh pokoknya.” “Banyak banget.” “Biar banyak makannya.” “Ayuk lah.” Setelah membersihkan diri, kami pun mulai makan. Radit terlihat lahap memakan masakanku, tak lupa dia memberikan pujian yang membuat hatiku menjadi makin berbunga-bunga. “Aku heran sama anak-anak, padahal aku kan guru mata pelajaran agama. Meski aku belum mengajarkan bab soal ulang tahun yang tasyabuh menyerupai agama lain, harusnya mereka mikir dulu gitu, aku bakal ngerayain apa enggak,” kata Radit. Sembari mengunyah makanan. “Mungkin karena benar-benar gak tahu, Dit,” sahutku. “Hemm, bisa jadi. Dan lucunya, gak semua guru mereka kasih kejutan ulang tahun begitu.” “Berarti kamu salah satu yang istimewa di hati mereka, Dit.” “Ya, semoga. Semoga ilmu yang aku bagi juga jadi nempel di pikiran dan di hati mereka.” “Aamiin.” Setelah makan siang, aku membantu Radit membuka bungkus-bungkus kado. Rupanya banyak dari anak-anak gadis, lengkap dengan surat ucapan doa yang beragam. Tempat sekolah Radit mengajar memang tidak semua beragama islam, dan ternyata tak hanya yang beragama islam yang memberinya ucapan selamat juga hadiah. Kadonya kebanyakan snack, cokelat, juga permen. Namun, ternyata juga ada yang benar-benar niat, hingga membelikan Radit peci dan sarung. “Ini dari Anita, anak kelas tujuh. Dan dia dari kampung sebelah,” jelas Radit sembari langsung mencoba peci putih di kepalanya, dan ternyata sangat pas juga cocok. “Akrab sama kamu?” tanyaku. “Dia anak pramuka, anaknya rajin, dan agak manja. Mungkin karena dia anak tunggal, terbiasa dimanja sama keluarganya. Di sekolah dia suka memperlakukan aku kayak abangnya.” “Abang apa abang?” “Dih, dia ini masih bocah banget, kecil juga badannya.” “Emang seakrab apa?” “Ya gimana ya, dia suka tiba-tiba nyamperin, minta ajarin ngerjain PR. Minta ditraktir di kantin.” “Eum, gitu?” “Iya. Tapi dia tetap sopan kok. Gak aneh-aneh.” “Syukur lah.” Semua kado telah dibuka, semua snack kukumpulkan ke dalam keranjang dan kusimpan saja di depan lemari televisi. Lumayan, jadi ada banyak setokan makanan ringan di rumah. “Udah mau dzuhur, aku ke masjid dulu.” “Gak mandi?” “Oiya, lupa mau mandi.” “Saking senangnya dapat kado dari Anita?” “Apaan sih, Dhea. Cemburunya lebay banget.” “Haha.” Sebenarnya aku tidak cemburu, hanya saja merasa ingin iseng pada Radit. Aku ikut senang bila dia telah mendapatkan hubungan yang baik dengan anak-anak di sekolah. Berarti dia tidak terlalu direpotkan dalam hal mengajar. Yang membuatku cemburu, adalah bila Kak Rina yang memberikan hadiah untuk Radit. Aku tidak ingin ada kejadian seperti itu, dalam moment apa pun. Aku tidak ingin ada benda apa pun di rumah ini yang datang dari Kak Rina. Ketika aku memikirkan nama itu, tiba-tiba saja wujudnya telah berdiri di depan pintu rumahku yang terbuka. Dengan tatapan dan senyuman yang entah, mengingatkanku pada tatapan dan senyuman iblis di film zombi Korea semalam. “Kak Rina?” kuhampiri dia sedang Radit telah masuk ke kamar mandi. “Ini hadiah untuk pak Radit,” jawabnya. Menjulurkan piring berisi banyak kue donat dengan toping cream. “Kan saya bilang, gak ngerayain apa-apa,” kataku. “Tapi ini khusus dibuat oleh saya dan anak-anak, tolong diterima.” “Eum, oke.” Aku pun menerima piring kue itu, lalu kak Rina berlalu pergi. Aku melihatnya menjauh lalu masuk ke rumah dan meletakkan kue itu di atas meja ruang tamu. Aku bingung, harus membiarkan Radit memakannya, atau aku harus membuangnya. Entah sejak kapan tersetel otomatis dalam otakku, bahwa apa saja yang datang dari Kak Rina adalah sumber bahaya. Pengganggu dalam kehidupanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN