Bab. 54. Makan Malam Di Luar

1179 Kata
Acara perkemahan di tutup dengan upacara bendera pagi hari. Setelah semua tenda dan barang-barang dibereskan, hingga tidak tertinggal satu sampah pun di lapangan. Hanya ada sedikit bekas arang pembakaran api unggun yang tersisa. Aku dan Radit pun pulang ke rumah, membersihkan diri lalu rehat di atas tempat tidur. Radit yang terlihat paling kelelahan, dia pun tertidur pulas dengan cepat. Sedang aku memilih untuk bermain gawai, melihat lagi hasil-hasil jepretan bersama anak-anak di acara perkemahan. Radit terlihat tampan, dari sudut pandang kamera mana pun. Apa lagi saat dia tersenyum, hatiku terasa langsung meleleh. Jatuh cinta lagi dan lagi, tak pernah merasa bosan. Puas melihat fotonya, aku pun segera memeluk Radit yang tidur di sampingku. Memeluknya yang ada di dunia nyataku, kekasih pertama dan terakhirku. Akan kujaga selalu. “Hemmm, kenapa?” gumam Radit, lalu tangannya semakin erat balas memelukku. “Kangen aja,” bisikku. “Perasaan kita barengan terus deh.” “Iya, tapi aku tetap kangen. Setiap saat aku kangen sama kamu, Dit.” “Waduh, bucin banget tiba-tiba.” “Emang, aku bucinnya kamu.” “Hemmm. Kalau gitu nanti kita makan malam di luar, ya.” “Dinner di luar?" “Iya, Sayang.” “Di mana?” “Liat aja entar.” “Hemm.” Aku terus memeluk Radit, hingga kantukku pun tak terasa telah menyusul. Heningnya siang membuat kami terlelap, merehatkan tubuh yang terasa lelah sangat. .. Radit mengunciku di kamar setelah selesai salat isya. Dia bilang sedang mempersiapkan makan malam spesial untuk kami berdua. Entah apa yang sedang dia persiapkan, aku bahagia karena Radit menyempatkan melakukan ini semua untukku. Dengan mata terpejam, tiba saatnya Radit membawaku keluar dari kamar. Aku benar-benar memejamkan mata, karena ingin merasakan terkejut tanpa pura-pura. Rupanya Radit membawaku ke selasar rumah, sudah ada meja dengan dua kursi di sana. Beserta lilin dan bunga di atas meja. Jadi ini yang di maksud Radit makan malam di luar, ya, di luar rumah. Aku merasa lucu bercampur bahagia. “Silahkan duduk ratu hatiku,” ujar Radit yang langsung membawaku ke kursi. “Sayang, ini kita gak jadi diliatin tetangga kan?” “Ya, biarin aja lah kalau ada yang lihat. Kan yang penting kita gak lagi ngepet,” sahut Radit. “Hahahaha, iya, dih. Udah kayak ngepet aja pake segala lilin.” “Kan biar romantis kayak di film-film.” “Eumm, jadi mau ngikutin film nih? Steaknya mana?” “Steak? Jangan khawatir, tunggu sebentar ya.” Radit meninggalkanku, sepertinya dia telah menyiapkan makanan istimewa juga untuk menjadi menu makan malam kami. “Taraaa ... Steak sapi spesial.” Radit menyuguhkan dua porsi steak sapi lengkap dengan kentang goreng dan dua gelas sirup anggur merah. Benar-benar seperti makan malam yang istimewa. “Kamu kapan beli dagingnya, Dit?" “Ini kan stok daging kita di kulkas, Sayang.” “Serius? Kok aku gak pernah tahu.” “Emang baru aku beli kemarin, langsung taro kulkas.” “Oh gitu.” “Enak gak?” “Baru mau aku coba.” Aku mengambil pisau dan garpu, walau sebenarnya terasa asing makan dengan cara begini. Kuhiris daging menjadi lebih kecil, dan memasukkannya ke dalam mulutku. Rasanya sangat lembut, tidak keras dan bumbunya mudah diterima lidah. “Enak, Dit,” ucapku. “Aku niru resep simplenya di internet, dagingnya di masak gak lama, jadi masih lembut,” jelas Radit dengan bangga. “Sering-sering deh kamu masak kayak gini.” “Eumm, entar tensi darah kamu naik.” “Dih. Enggak lah.” “Hahaha.” Angin malam terasa menyejukkan tubuh, benar-benar pas menemani waktu makan kami. Suasana di sekitar rumah juga telah hening, selepas makan kami pun membereskan semuanya bersama-sama. Radit memang selalu bisa membuatku bahagia, dengan setiap cara dan perhatiannya. Hal yang membuatku selalu merasa dicintai, dan ingin bersamanya selamanya. .. Setelah selesai beres-beres, kami pun duduk santai di sofa depan televisi. Radit memutar film horror dan aku terpaksa ikut menontonnya juga. Ada film horror Korea baru dan menurutku tidak terlalu seram. Tentang iblis yang ingin menguasai dunia dengan rasa takut dan kecemasan, korban iblis berubah menjadi zombie. Namun, Zombi yang satu ini tidak asal serang. Mereka sudah punya strategi khusus untuk mencapai tujuan mereka. Ya, film horror yang lumayan kusuka dan masih bisa kutonton hanya film horror zombie. Entah kenapa aku tidak terlalu takut melihatnya. Walau kadang merasa jijik juga setiap mengingat usus-usus yang keluar setelah dicabik-cabik. “Kamu pernah nonton yang zombi dead shaun gak? Film zombi barat,” tanya Radit. “Kayaknya udah, yang lucu-lucu itu kan?” “Iya, lucu banget. Dan itu zombi yang paling bikin bengek.” “Iya, aku juga suka. Agak membagongkan ceritanya.” “Terus ada juga zombi versi bocah, aku Cuma liat spoilernya sih di yutub.” “Gimana tuh ceritanya?” “Iya, zombi yang tiba-tiba ada di peternakan. Waktu acara sekolah anak-anak gitu. Zombinya super lelet, sampai gak bisa ngejar anak-anak lari. Jadi di kolom komentar, netijen pada komentar lucu gitu.” “Hahaha. Mungkin karena menghadapi anak-anak, jadi gak boleh main kasar.” “Iya, banyak yang komen gitu. Lucu juga kalau dipikir-pikir.” “Tapi menurut kamu, zombi yang keren yang mana?” “Aku sih masih suka reciden evil.” “Hemm, itu film udah lama banget ya. Kalau aku sih zombi Korea lah.” “Ya iya lah, pemain bintangnya cakep, iya kan?” “Ya emang seru juga ceritanya, jadi aku suka.” “Iya sih. Zombi bussan emang seru juga.” “Versi Indo kan juga udah ada.” “Haha. Iya, dan abis liat film itu jadi mikir, ya ampun. Semoga zombi gak bisa bertahan hidup di Indonesia, kasian kan setan-setan lainnya kehabisan lapak." “Hhaha. Coba bayangin zombi ketemu setan-setan lokal.” “Eumm, bakal rame kayaknya.” “Atau setan lokal jadi berubah kayak zombi?” “Duh, bakal lebih seram.” “Hahaha.” Astaga, malam sudah semakin larut dan kami malah membahas soal setan. Setelah menonton dan ngobrol, kami berdua pun kembali ke kamar. Radit mengunci pintu dan mematikan semua lampu. Aku pun mulai merasakan trauma setiap setelah menonton film horror. Rasa takut yang akan bertahan berhari-hari. “Gak usah minta temenin ya nanti kalau mau ke WC,” ucap Radit. Lalu dia tertawa mengejek. “Dih. Temenin lah.” “Penakut banget, tadi aja cekikikan.” “Ya kan karena berdua sama kamu, Dit.” “Ya masa kamu mau boker aku harus nungguin juga?” “Ya iya lah.” “Dih, ogah. Bau.” “Katanya cinta katanya sayang.” “Hahaha. Ya udah, tidur gih.” “Tumben mau langsung tidur.” “Ya emang mau diapain?” “Dih, apanya diapain.” “Jiahahaha.” Kami berbaring sangat dekat, dengan wajah saling berhadapan. Jemari lembut Radit membelai pipiku, membuatku merasa tak ingin buru-buru terpejam dan ingin jatuh ke dalam pelukannya lebih dalam. “Aku makin cinta sama kamu, Dit,” lirihku. Radit pun tersenyum mendengarnya, lalu bibir lembutnya pun berpadu dengan bibirku. Setiap sentuhan lembut penuh cinta, menambah gelora yang tak pernah padam dalam jiwa. Denganmu Radit, kuingin habiskan sepanjang usia. Seolah tanpamu, aku tak akan mampu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN