Bab. 53. Malam Perkemahan, Malam Terakhir.

1248 Kata
Aroma kopi bercampur dengan aroma alam yang terhipnotis embun pagi. Rerumputan masih basah, akan tetapi kayu bakar di tungku telah menyala dan menghamburkan asapnya. Aku jadi yang terakhir keluar dari tenda setelah mengerjakan salat subuh yang kesiangan. Anak-anak telah banyak yang kembali dari aktivitas mandi pagi di sungai, dan sepertinya hanya aku juga yang belum mandi. Ini perkemahan hari kedua, ada beberapa agenda kegiatan yang akan dilakukan hari ini. Salah satunya agenda jelajah. Namun, Radit belum yakin untuk melepas anak-anak ke daerah hutan . Jadi mereka akan jelajah kampung saja dengan pawai baris berbaris. “Kamu gak pulang mandi dulu?” tanya Radit sembari menjulurkan secangkir kopi panas dengan asap yang masih mengepul. “Boleh gak aku hari ini cuci muka doang, mandinya sore,” jawabku. “Aih, terserah kamu dah.” Sahut Radit. “Kegiatan hari ini apa aja?” “Jelajah kampung, sambil gotong royong mungut sampah.” “Hemm gitu. Pagi?” “Nanti sore. Pagi ini formasi baris berbaris dulu.” “Ehm. Oke. Terus makannya gimana?” “Barusan udah sarapan roti sama s**u, nanti kamu sama Sabila belanja lauk pauk, sekalian buat makan malam.” “Ini malam terakhir kan?” “Iya.” “Malem ini bakar-bakar ayam aja, Dit.” “Hemm, boleh. Tapi beli ayamnya pake uang kamu pribadi. Haha." “Okeh, gak masalah.” “Asik.” Kalau dana dari kas pramuka digunakan untuk membuat acara bakar ayam, tentu saja sama dengan penyalah gunaan. Lagi pula kurasa tidak akan cukup. Sesuai permintaan, aku dan Sabila pergi ke warung sayur. Kami belanja untuk makan pagi dan juga memesan tujuh kilo ayam untuk dibakar nanti malam. Sepulang belanja, aku baru teringat perihal kejadian semalam. Sepertinya Radit belum cerita pada Sabila. “Sabila, tahu gak? Semalam aku ngalamin kejadian horror,” ucapku. “Hah? Kejadian horror apa, Kak Dhea?” “Jadi semalam, kamu bangunin aku dan minta antar ke WC. Terus.” “Hah? Perasaan aku semalam gak ada minta antar ke WC, Kak.” “Tunggu, dengerin dulu, Sabila.” “Oh iya, maaf. Lanjutkan.” “Jadi, aku langsung berangkat anterin kamu ke WC. Dan ternyata, pas aku nungguin lama di luar, Radit dateng dan bilang, kalau kamu itu ada di tenda lagi tidur. Ternyata di WC gak ada orang.” “Ya Allah, jadi kakak dikerjain sama hantu?” “Iya, ada Jin yang ngerjain aku.” “Lucu banget.” “Lucu apaan, serem tau!” “Hahaha. Iya sih, serem juga.” Sabila sepertinya memang bukan penakut, dia malah tertawa setelah mendengar ceritaku. Kami pun kembali ke tenda dan mulai menyiapkan bahan untuk dimasak. Sedang di lapangan, Radit tengah memperhatikan satu persatu grup yang unjuk kebolehan mengatur formasi baris berbaris. Hasil didikan Radit rupanya tidak mengecewakan, mereka tak kalah dengan anak-anak yang sekolah di kota. Aku dan Sabila memasak banyak nasi dan lauk pauk, memastikan semua orang mendapat bagian dan makan dengan cukup. Kami hanya tinggal menunggu sampai waktu istirahat, dan kami bisa makan bersama. .... Meski lauk sederhana, semua orang tampak bisa makan dengan lahap. Anak-anak terlihat menyukai setiap kegiatan di perkemahan pramuka ini. Sebenarnya, mereka tidak akan diperlakukan begini saat di kemah luar. Mereka akan masak sendiri dan kerepotan sendiri. Tidak seperti sekarang. Setelah makan pagi sekaligus makan siang, kami pun istirahat. Melakukan kegiatan bebas, sembari menunggu waktu sore tiba. “Ayamnya udah dipesan?” tanya Radit. “Udah, tapi mau aku ungkep di rumah dulu,” jawabku. “eum, oke. Kamu atur aja.” “Kamu capek gak? Sini aku pijetin.” “Enggak, Dhea. Gak ada capek-capeknya kok, segini doang.” “Ya udah.” Mengaku tidak capek, Radit akhirnya tertidur di tenda setelah salat dzuhur. Dia begadang semalam, tentu saja sekarang dia ngantuk berat. Tak mempan diobati kopi, tubuh harus mendapatkan haknya. Aku pun kembali ke rumah bersama Sabila, kami berdua akan membersihkan ayam yang telah datang dari pesanan. Kami mengungkepnya dengan bumbu agar tidak berbau, dan proses pembakaran juga akan jadi lebih cepat karena sekarang telah setengah matang. “Duh, aku gak sabar nunggu sampai nanti malam,” ucap Sabila. “Mau ayam bakar? Bakar aja duluan buat kamu, Sabila.” “Enggak, ah. Aku mau nya barengan sama anak-anak, di tenda sambil lihat api unggun. Wuh, seru banget pasti.” “Iya, aku juga gak sabar mau ngerasainnya entar malam.” Kami pun membawa semua ayam yang telah diungkep ke sekolah, cukup berat dan menguras tenaga. Kami meletakkannya di dalam tenda, lalu mulai menyediakan tempat untuk pembakaran nanti malam. .... Angin sore terasa sangat sejuk bersahabat, meski terik cahaya matahari masih terasa juga. Radit membuka kegiatan jelajah kampung, dan semua anak-anak akan mulai berjalan keliling dengan formasi rapi mereka masing-masing grup. Sabila kuminta untuk ikut saja, untuk mengabadikan moment. Sementara aku memilih untuk tinggal di tenda. Menjaga ayam dan bahan-bahan, khawatir kalau ditinggal tidak ada yang menjaga. Perkemahan pun menjadi sepi, tinggal aku sendiri. Kubuka gawai dan membuka media sosial, Sabila ternyata telah memposting beberapa foto Radit bersama anak-anak. Mereka menjadi perhatian warga sekitar, bukan hanya lewat saja, akan tetapi juga mengulurkan tangan untuk membersihkan sampah-sampah di jalanan. ... Waktu yang ditunggu pun tiba, semua telah berkumpul mengelilingi api unggun setelah melaksanakan salat isya. Di malam terakhir, Radit telah memberitahu anak-anak untuk menunjukkan sebuah penampilan. Pentas seni dadakan, entah menyanyi, membaca puisi atau menari. Ternyata beberapa orang anak telah mempersiapkan penampilan, mereka kebanyakan menyanyi solo. Hanya ada satu orang saja yang membaca puisi. Mungkin karena mereka masih merasa malu atau kurang persiapan. Aku dan Sabila ikut menonton sembari terus membakar ayam, nasi juga telah matang sejak sore walau tidak banyak. Pak Arif ternyata membawa banyak jagung yang dibelinya dari kampung sebelah, kami akan membakarnya nanti setelah acara pertunjukan selesai. “kakak harap, ini akan menjadi sebuah pengalaman berharga untuk kita semua. Dan jangan kapok, ya? Haha. Sekarang tiba waktu yang kita tunggu, makan makan.” “Horeeee ....!” Sekarang tiba saatnya untuk menyantap ayam bakar bersama, anak-anak terlihat sangat antusias. Dan ternyata keramaian perkemahan telah mengundang banyak tetangga sekolah untuk ikut bergabung. Kami pun saling berbagi dan membakar jagung-jagung sepuas hati. Aku membawa sepiring ayam bakar menemui Radit yang memilih duduk di tepian, menepi dari ramainya anak-anak untuk mengabadikan moment ke dalam kameranya. “Sayang, makan dulu nih,” ucapku. “Eumm, kamu bawain spesial buat aku nih?” “Iya, buat Kakak yang super tampan.” “Asiiik.” Sembari memandangi api unggun yang menerangi kegelapan malam, aku dan Radit makan bersama dan saling menyuapi. Rasanya sangat bersyukur untuk kebersamaan kami, dan suksesnya perkemahan yang kami galakkan. Semoga tidak berhenti sampai di sini, kegiatan pramuka yang akan menyenangkan anak-anak juga menambah wawasan serta pengalaman mereka. “Jadi malam ini langsung bubar ya, Dit?” tanyaku. “Enggak, lah. Besok pagi, beres-beres tenda, setelah itu pulang,” jawab Radit. “Oh, gitu.” “Kamu senang gak?” “Senang banget, lah. Apa lagi anak-anak, mereka pasti seneng banget.” “Ya, kuharap ini bisa nambah rasa percaya diri mereka.” “Iya, Dit kamu bener banget.” Lumayan larut malam sampai acara bakar-bakar telah selesai. Anak-anak telah diminta untuk kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat, menikmati malam terakhir mereka di tenda perkemahan pramuka sekolah. Api unggun pun mulai mengecil nyalanya, aku dan Sabila pun masuk ke tenda dan beristirahat. Sedangkan Radit dan Pak Arif memilih untuk beres-beres sembari berjaga malam. Radit seperti robot yang tak menunjukkan rasa lelah sama sekali, dia pasti akan meninggalkan kenangan indah di hati anak-anak. Menjadi idola dan panutan, bahkan impian gadis-gadis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN