Hamparan rumput hijau, pagi ini tidak terlihat kosong. Ada sekitar enam puluh anak berseragam cokelat, berdiri dengan posisi tegak di tengah-tengah lapangan. Di punggung mereka membawa ransel, di tangan kanan mereka memegangi tongkat kayu panjang.
Baret dan sabuk, serta pluit pramuka juga membuat penampilan mereka semakin lengkap dan rapi. Radit juga memakai pakaian dengan warna yang sama, dia menjadi yang paling tinggi sedang berdiri memberi arahan di lapangan.
Radit terlihat keren, apa lagi dengan cara bicaranya yang bersahabat dan penuh wibawa. Aku memperhatikan saja di pinggir lapangan, duduk di koridor sekolah sembari mengambil beberapa foto dan video Radit bersama anak-anak.
Setelah acara kemah resmi dibuka, mereka pun dengan grup masing-masing mulai bersiap mendirikan kemah. Tak hanya mendirikan kemah, mereka juga harus kreatif membuat tenda mereka lebih unik dan dapat nilai terbaik.
Aku di perkenalkan Radit sebagai tenaga medis yang akan bertugas apa bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tak lupa juga dia memperkenalkanku sebagai isterinya. Saat kami berdiri sejajar, dengan Radit di sampingku. Aku jadi teringat drama Korea yang dulu sempat viral. Pasangan tentara dengan seorang dokter, astaga ... Song Jongki dan Song Hye Kyo. Harusnya kami lebih serasi dari pasangan yang baru saja cerai itu. Dan semoga kami tidak akan pernah berakhir seperti itu.
Anak-anak terlihat kewalahan saat mendirikan tenda, apa lagi anak-anak dari regu siaga yangdatang dari sekolah dasar. Tubuh mereka kecil-kecil, hingga agak kesulitan mendirikan tenda yang ukurannya memang lumayan besar. Aku pun turun tangan membantu mereka.
Keadaan ini membuatku jadi merasa nostalgia. Seandainya aku dan Radit juga memasang tenda khusus untuk kami berdua.
“Dit, kamu bakal nginep di tenda juga kan?” tanyaku pada Radit yang sedang menyusun kayu untuk memasak.
“Iya, kan aku bawa tenda. Tapi kecil, kamu tidur di rumah aja,” jawabnya.
“Kok aku tidur di rumah? Gak mau lah.”
“Ya masa kamu tidur di tenda juga? Aku gak mau kamu sakit.”
“Kamu khawatir sama aku, sedangkan yang lain bahkan masih anak-anak.”
“Ya, kan beda ceritanya.”
“Ya, sama aja lah. Aku kan juga bidan, masa bidan takut sakit?”
“Iya, deh. Terserah kamu aja. Sekalian deh kamu bantuin masak.”
“Asiap!”
Radit mendirikan tenda khusus pembina, ada dua guru lain ternyata yang akan mendampingi. Satu guru laki-laki dari SD, dan satunya guru perempuan dari SMP. Tentu saja untuk mengawasi anak-anak sebanyak itu tak cukup hanya aku dan Radit.
Para pembina dibantu oleh masing-masing ketua regu mulai bersiap untuk membantu proses masak untuk nanti makan malam. Kami memasak nasi putih, telur dadar, dan membuat tumis sayuran. Kehidupan di pramuka memang sangat diajarkan hidup sederhana, berbeda seperti saat ada di rumah.
Ketik terdengar suara adzan maghrib, Radit menghimbau untuk semua laki-laki yang beragama muslim untuk ikut dengannya pergi ke Masjid, sedang yang perempuan akan salat di tenda masing-masing.
Selepas waktu salat, kami pun kembali berkumpul. Berdiri antri untuk mengambil makanan sembari memegangi piring, lalu membuat lingkaran mengelilingi api unggun kecil. Lalu kami makan bersama dengan saling bertukar canda dan tertawa bersama, tak lupa memulainya dengan doa.
Aku merasa senang bisa merasakan semua ini, bisa bergembira bersama anak-anak. Juga merasakan kemah bersama Radit walau kami tidak akan tidur berduaan saja di tenda.
Kegiatan malam hari, hanya diisi dengan ceramah singkat dan cerita tentang kepahlawanan. Radit mengisi cerita dengan penuh pendalaman karakter, hingga aku bisa merasakan reaksi antusias anak-anak yang menyaksikan.
Selepas salat isya, kami pun saling berpamitan untuk istirahat dan tidur malam. Anak-anak telah masuk ke tenda mereka masing-masing. Aku tidak bisa menduga, apa mereka akan tidur nyenyak. Atau mungkin juga akan kepanasan di tenda. Seperti yang kualami dulu.
...
Di depan tenda khusus pembina, Radit dan seorang guru laki-laki duduk sambil bercengkrama. Sepertinya mereka akan berjaga dulu, sampai benar-benar yakin kondisi aman untuk ditinggal tidur.
Aku pun berkenalan dengan guru perempuan, yang satu tempat mengajar dengan Radit. Dia masih lajang dan katanya tak lama lagi akan segera menikah. Namanya Sabila, dia berkerudung dan memiliki postur tubuh yang tinggi. Radit bilang dia mengajar bahasa Inggris, juga aktif menjadi pembina di extra kurikuler kepramukaan dan juga olahraga.
“Sabila, kamu sebelumnya udah pernah ikut kemah-kemah gini ya?” tanyaku.
“Kalau sebagai pembina sih, baru pertama kali ini, Kak,” jawabnya.
“Oh, gitu. Pasti nanti kalau ada perkemahan di luar kampung, kamu akan pergi juga menjadi pendamping.”
“Eum, ya, kayaknya sih gitu, Kak. Untungnya ada pak Radit dan Pak Arif, mereka kan lebih pengalaman dari aku. Jadi aku bisa belajar sama mereka.”
“Eum, iya. Emang harusnya begitu sih, kerja sama.”
“Iya, Kak. Kakak kayaknya juga suka ya berada di alam kayak gini? Buktinya sampai mau ikut nginep di sini.”
“Kalau aku sih suka banget, seru soalnya.”
“Haha. Tapi banyak nyamuk kak.”
“Kan ada obat nyamuk.”
“Gak mempan kan biasanya.”
“Hehe, iya juga sih.”
Setelah puas mengobrol dan mulai diserang kantuk, aku dan Sabila pun memilih untuk masuk selimut dan bersiap tidur. Mengabaikan Radit dan Pak Arif yang masih mengobrol di depan tenda. Kuharap tak ada kejadian aneh aneh. Lagi pula ini perkemahan di lakukan masih di dalam kampung, tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
...
Rasanya baru saja sekejab aku tertidur, tiba-tiba kurasakan guncangan di pundakku. Ternyata Sabila yang sedang mencoba membangunkanku.
“Ehm, kenapa, Salsa?”
“Kak, tolong anterin aku ke WC dong,”
bisiknya.
“Hem, kamu gak berani sendirian?”
“Gak berani, aku gak pernah ke wc sekolah malam-malam.”
“Hem, ya udah, yuk.”
Aku mencoba mengumpulkan kesadaran, lalu bangkit dari rebahan. Kulihat di sisi tenda yang lain, Pak Arif telah tidur pulas hingga mendengkur nyaring. Sedangkan Radit, aku tak melihatnya.
Aku dan Salsa pun mengandalkan cahaya senter dari ponsel, berjalan menuju toilet sekolah. WC sekolah memang kurang penerangan, bahkan lampu di dalam WC tak tersedia, mungkin karena memang dipikir hanya digunakan saat siang hari.
“Kak, tungguin ya,” ucap Sabila sembari melangkah cepat masuk ke WC.
“Iya, sana,” sahutku.
Aku pun berdiri di depan WC, mencoba untuk tetap berani dan tak mau menyapu pandangan ke mana-mana. Sabila cukup lama berada di WC, walau aku tak mendengar suara apa-apa. Tiba-tiba sebuah tepukan dari belakang menyentuh pundakku. Jantungku terasa mau meloncat keluar, apalagi saat aku menoleh ke belakang.
“Dhea? Kamu ngapain?” Radit menatap heran padaku.
“Radit, kamu itu mau bikin aku pingsan apa!”
“Ya, maaf. Terus kamu ngapain?”
“Aku nganterin Sabila ke sini, dia kebelet katanya.”
“Sabila?”
“Iya.”
“Sabila kan tidur di tenda, aku barusan dari tenda abis keliling lihat anak-anak.”
“Apaan sih, Dit. Jelas-jelas Sabila ada di WC.”
“Di dalam wc ini?”
“Iya."
Radit pun terlihat bingung, sedang aku mulai dilanda rasa cemas bercampur takut. Radit kemudian mengetuk pintu WC, aku baru sadar kalau sejak tadi tak terdengar suara apa-apa lagi dari dalam WC. Dan ini sudah terlalu lama kalau benar Sabila hanya ingin buang air kecil.
“Gak ada suara apa-apa, Sabila?” Radit
kembali mengetuk pintu WC. Keadaan hatiku pun menjadi makin tegang.
Radit kemudian memutar gagang pintu WC, tidak terkunci. Lalu kami tak menemukan siapa pun di dalam WC, walau lampu senter telah tersorot menyala ke setiap sisi.
Dengan ketakutan aku mencengkram lengan Radit. Ternyata yang tadi ke WC bersamaku bukan Sabila, melainkan makhluk yang entah apa. Aku dan Radit pun segera berjalan kembali ke tenda.
“Itu Sabila,” ujar Radit. Menyorotkan senter pada Sabila yang tengah tidur pulas.
“Itu yang asli?” bisikku.
“Ya asli, lah. Lihat aja tuh, dia nafas, ileran pula.”
“Jadi yang tadi itu hantu?”
“Jin, dia mau ngerjain kamu aja. Aku tadi lagi keliling, terus gak sengaja lihat kayak lagi ada yang jalan ke WC, aku lihat kamu gak ada di tenda, jadi aku ikutin. Ternyata si Dhea istriku.”
“Ya Allah, untung aja ada kamu, Dit.”
“Hemm, ya udah. Tidur lagi aja sana. Dan kalau nanti Sabila bangunin kamu lagi, minta antar ke WC lagi. Jangan percaya. Karena aku tahu banget, Sabila itu pecinta film horor dan super duper pemberani. Jadi dia gak mungkin minta anter ke WC.”
“Tapi aku jadi takut tidur dekat dia, Dit.”
“Terus mau tidur di mana? Gak usah ngawur. Tidur lagi sana. Ini tuh jam setengah satu malam, Dhea. Udah sana, aku jaga kok di sini.”
“Hemm, iya, deh kalau gitu.”
Aku kembali ke tempatku tidur semula, akan tetapi kupilih untuk membelakangi Sabila. Sabila tidur dengan kelopak mata yang sedikit terbuka, dan itu membuatku semakin takut saja.
Bisa-bisanya aku mengalami hal mengerikan begini. Apa jadinya tadi kalau aku terus di WC sendirian. Menyebalkan!