Bab. 51. Candu

1358 Kata
Aku menengok rumah dinas setelah sekian lama aku mengabaikannya. Sebenarnya terlihat bersih dan baik-baik saja, karena aku masih melakukan perawatan untuk rumah. Walau hanya sekedar menyapunya. Pagi ini aku ingin membersihkan rumah dinas, membuka jendelanya dan membiarkan udara segar menembus masuk. Radit sudah pergi mengajar ke sekolah, aku sudah selesai memasak untuknya kalau saja dia akan pulang cepat. Jadwal kerjaku sedikit berkurang saat ini, karena juga sedang di akhir tahun. Perkiraan, awal tahun depan baru akan sangat sibuk mengurus bayi-bayi baru. Kuelus perutku, rasanya tak sabar lagi merasakan bisa cuti hamil dan melahirkan. Saat duduk di ranjang pasien, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dapur. Aku pun menghampirinya, ternyata ada kucing yang lewat dan menjatuhkan teko kosong. Aku pun kembali ke tempat tidur lamaku, merebahkan diri menikmati sepoy-sepoy angin pagi yang masuk lewat jendela. Aku teringat pada kenangan saat masih jomlo, di mana aku melewati waktu sendirian. Rumah ini menjadi saksi betapa aku telah melewati waktu yang sepi. Jahat sekali aku, setelah memiliki teman hidup aku mengabaikan rumah ini. Aku jadi ingin tahu, sebenarnya Kak Rina itu sesuai dugaanku atau tidak. Namun, aku bingung harus mencari tahu dengan cara apa. Kalau Kak Rina itu hantuen, aku ingin bisa melihat sendiri bagaimana dia berubah. “Dhea ...!” Kudengar suara Radit memanggil dari luar rumah dinas, aku terlalu melamun sampai tidak mendengar suara motor Radit yang datang. “Kamu di sini?” Radit langsung masuk ke kamar rawat. “Kamu udah pulang, Sayang?” “Iya, udah. Lusa ada acara perkemahan besar di SMP. Gabungan sama SD.” “Kemah pramuka?” “Iya, kemah pramuka.” “Seru dong.” “Iya, aku kan jadi kepala pembinanya, jadi harus mulai bikin persiapan.” “Semangat.” “Kamu mau ikut gak ke perkemahan?” “Boleh, kalau bisa.” “Oke.” Sudah lama sekali aku tak menikmati suasana kemah, apa lagi di malam hari. Terakhir kalau tidak salah saat SMA, lalu ada camping saat acara kampus. Aku jadi mulai merindukan suasana malam dengan hangatnya pemandangan api unggun. Dulu aku mengikuti kemah di Bukit Batu Kasongan. Perkemahan besar dengan mengundang hampir seluruh sekolah menengah pertama dan menengah atas di provinsi Kalimantan Tengah. Itu pengalaman pertamaku dan rasanya sungguh berkesan. Aku juga menjadi jorok sekali karena jarang mandi, dan ternyata aku tak setomboy yang kukira. Beberapa rintangan saat penjelajahan, tak mampu aku selesaikan. Di malam hari juga sering ada kejadian mistis, tentang anak-anak lain yang kesurupan. Mereka berteriak di tengah malam, lalu menangis tiba-tiba atau langsung jatuh pingsan. Entah sungguhan atau tidak, kami selalu diingatkan untuk tak lupa berdoa. Aku yang tak pandai memasak juga harus ikut memasak bersama teman yang lain, juga kami membuat kerajinan tangan bersama. Senang rasanya ketika grup kami terpilih menjadi juara dua dalam penilaian kebersihan. Di kemah itu, aku curi-curi pandang pada siswa daerah lain. Mereka banyak yang berpenampilan rupawan, akan tetapi banyaknya juga terkesan sok ganteng dan sombong. Teringat juga aku pada saat malam perpisahan. Aku menyumbang lagu di panggung dengan rasa percaya diri, sedang teman teman yang lain ikut mendampingi dan berjoget ria. Meriah sekali malam itu. “Dhea?” “Iya, Dit.” “Pulang yuk." “Eum, iya.” Aku kembali mengunci rumah dinas dan pulang bersama Radit ke rumahnya. Kami pun makan siang bersama, sembari diskusi apa saja yang telah Radit siapkan untuk menyambut kemah pramuka esok lusa. “Karena aku bakal sibuk, jadi kayaknya kamu akan sering aku tinggal di rumah,” ucap Radit. “Kan Cuma di SMP situ, Dit. Aku bisa nyusul kamu kapan aja,” sahutku. “Iya, ya.” “Kemahnya berapa malam?” “Dua malam aja kok.” “Ehm, gitu.” “Sebenarnya ini jadi ajang latihan mereka, supaya nanti sudah terbiasa kalau ada kegiatan pramuka di daerah lain.” “Iya, benar juga.” Setelah makan siang, Radit dan aku pun mengurusi aktivitas masing-masing. Radit membuat outline daftar acara untuk acara di sekolah, sedang aku memilih untuk bermain gawai di kamar. Mencari tahu style pakaian kekinian. Sudah lama aku tidak pernah belanja baju baru. Padahal mudah saja kalau aku mau, apa lagi di jaman serba online seperti sekarang. Tinggal pesan, bayar, lalu barang akan diantar ke rumah. Ketika scroll beranda, tiba-tiba muncul saran pertemanan. Akun aplikasi biru milik Kak Rina, lengkap dengan foto profil dengan tampilan wajah memesonanya. Aku yakin, akunku juga muncul di berandanya, kalau dia menyukaiku harusnya dia menambahkanku ke daftar pertemanannya bukan. Aku mencoba stalking ke akunnya dengan menggunakan akun Radit. Terkejutnya aku membaca status-status yang dia posting, tidak hanya foto selfie, akan tetapi juga curhatan-curhatan sedih yang dibuat seolah menyayat hati. Mengundang banyak like dan koment, terutama dari para buaya dunia maya. Lega rasanya ketika Radit tak pernah lagi berbalas chat dengan Kak Rina, meski Kak Rina terus mengirimi pesan yang mengomentari postingan Radit. Aku pun kembali ke beranda, meninggalkan aktivitas stalking akun media sosial Kak Rina. Akun janda dengan wajah cantik seperti dia, sudah pasti banyak penggemarnya. Aku meluncur ke akun penjual online yang berasal dari desa sini, ya, aku bisa membantu usaha penduduk sini dengan memesan pada mereka. Walau sebenarnya aku bisa memesan sendiri di aplikasi yang menawarkan harga lebih murah. Kupilih beberapa baju gamis, juga kerudung syar’i. Tak lupa memesan juga untuk Radit. Satu setelah baju couple berwarna ungu muda juga kupesan untuk melengkapi. Butuh waktu hingga seminggu untuk barang sampai, karena kebanyakan barang juga berasal dari Jawa. Belum lagi saat mengingat biaya ongkos kirimnya, membuat harga-harga semakin melambung tinggi. “Sayang, lagi ngapain?” Radit merebahkan tubuhnya di sampingku. “Habis mesan baju, Sayang,” jawabku. “Mesan baju? Belanja online maksudnya?” “Iya, belanja online.” “Hemm gitu. Tumben.” “Iya, aku baru nyadar kalau udah lama gak belanja. Kita kan perlu juga lah yang baru untuk pergi-pergi.” “Hemm, iya. Gak apa-apa. Asal jangan terlalu berlebihan saja.” “Iya, aku Cuma mesan dikit kok.” “Oke deh.” “Kamu gak ke masjid?” “Iya, bentar lagi udah dzuhur ya?” “Iya.” “Kalau gitu aku mau mandi dulu deh.” “Emang bau?” “Bau lah,” “Gak percaya ah, sini cium dulu.” “hih, genit.” “Weka weka.” Tatapanku dan Radit pun bertemu, pandangan yang semula hanya bercanda akhirnya sengaja kami buat menjadi serius. Bibir lembut saling berpadu, tak peduli pada terik siang yang menyala. Lalu cinta membuat kami tenggelam, menuntaskan gelora yang telah tak sabar menunggu malam. .... Cinta, ibarat madu pada inti sari bunga. Manis, mencipta candu di tiap kecupannya. Aku jatuh, tak ingin menjauh. Dalam pelukmu, kuharap selamanya utuh. Berpayung dalam kasih sayang, dan penjagaan yang paling teduh. Radit membuatku kepayahan, hingga cukup lama aku tertidur di tengah siang. Kalau saja tak mengingat belum salat dzuhur, pasti waktu penting itu akan terlewatkan. Sepulang dari Masjid, Radit kembali berbaring di sofa ruang tamu. Sedang aku memilih untuk duduk di sejadah lebih lama untuk merayu Sang Pencipta. Aku ingin, semua masalah dan gangguan dalam hidupku segera menghilang. Aku ingin segera dipercaya untuk menjadi seorang Ibu, melahirkan buah cintaku dengan Radit. Lalu kami menjadi keluarga yang bahagia, di dunia hingga nanti akhir hayat kami. Doa-doa itu menumpahkan air mataku deras, sungguh-sungguh aku berharap Allah akan memberiky kejutan yang indah. Selepas salat, aku menghampiri Radit di sofa ruang tamu, ternyata dia sudah tertidur. Kalau dipikir-pikir, pekerjaannya tidak begitu rumit dan melelahkan. Namun, seorang guru pasti memiliki rasa lelah juga karena tanggung jawab mereka harus mendidik anak-anak. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, ya, mereka memang tidak punya logo special di pakaian mereka. Namun, itu juga bukan berarti pekerjaan mereka mudah dan tak perlu balasan yang pantas. Gaji Radit sebagai guru tidak lah seberapa, apa lagi saat dia masih menjadi honorer. Namun, Radit memandang pekerjaannya saat ini, bukan hanya sebuah pekerjaan. Melainkan sudah menjadi tugasnya, salah satu impian besarnya untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Mencetak generasi-generasi cerdas yang akan menunjang kemajuan negara. Aku sangat bangga memiliki suami sehebat dia. Selalu baik di mana pun dia berada, hingga sulit sekali menemukan orang yang tidak menyukainya. Bahkan, sebagian ingin merebutnya dariku. Tentu saja aku tak akan pernah mau. Seperti dia, aku juga harus berusaha menjadi yang terbaik baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN