Bab 50. Kak Rina tak mengakuinya

1318 Kata
Aroma bawang tercium wangi, membuatku ingin segera bangun dari tidur panjangku. Tidurku semalam terasa sangat nyenyak, rasanya tubuhku sudah mulai pulih. Nadin sudah tak terlihat di tempat tidur, sepertinya dia lah yang memasak di dapur. Baru saja akan beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba Radit datang. Dia membawa nampan berisi segelas s**u dan dua sisir roti yang sudah diberi olesan selai cokelat. “Sudah bangun, Sayang,” ucap Radit langsung menciumi keningku. Dia tak pernah merasa jijik walau aku bahkan belum mencuci muka. “Eum, baru aja,” sahutku. “Sarapan dulu, atau mau cuci muka dulu? Oh, iya. Aku bawain buat cuci mukanya ke sini, ya?” “Eum, gak usah. Aku mau ke kamar mandi kok.” “Udah enakan badannya?” “Iya, Alhamdulillah.” “Ehm, Alhamdulillah kalau begitu.” “Iya, aku mau ke belakang dulu deh.” “Oke.” Radit akhirnya membawa lagi nampan itu ke dapur, karena aku juga ingin sarapan di dapur. Kulihat Nadin tengah menghidangkan nasi goreng di meja makan. Namun, hanya ada tiga porsi. Setelah mencuci muka, aku duduk di kursi meja makan. Radit, Bang Satria dan Nadin juga bersiap untuk sarapan. “Nadin, buat aku mana nasi gorengnya?” bisikku pelan. “Kamu kan lagi sakit, jangan makan nasi goreng dulu,” jawab Nadin. “Aku udah sehat, kok.” “Tetap aja, gak boleh dulu.” “Emang kenapa?” “Ya gak boleh kata orang mah.” “Hemm, pasti Cuma mitos.” Radit pun tersenyum melihat aku yang manyun. Dia dengan baik menyuapiku nasi goreng miliknya, sedangkan Nadin melirik saja padaku karena tak mendengarkan ucapannya. “Nasi goreng buatan Nadin emang paling maknyus,” puji Bang Satria. “Iya, makanya Dhea gak bisa menghindar,” aahut Radit. “Dhea mah, dibilangin juga, ngeyelan,” sahut Nadin. Aku melihatnya bodo amat, lalu lanjut menyantap sarapan. Rasanya aku makan dengan lahap karena kemarin aku kehilangan selera. Aku bersyukur sekali tak perlu lama-lama berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Selesai makan pagi, Nadin dan Bang Satria pun pamit untuk pulang. Meski rasanya menyenangkan ketika mereka ada, tetap saja kami punya rumah masing-masing untuk diurus. Nadin berjanji akan lebih sering datang. .... Radit telah berangkat ke sekolah, menyelesaikan tugasnya untuk mengajar hari ini. Aku merasa belum siap untuk mandi, dan memilih untuk berbaring lagi saja di sofa depan televisi. Tiba-tiba ada tamu yang datang, seseorang yang sepertinya harus kuajak bicara empat mata. Mengenai apa yang telah terjadi padaku. Ya, Kak Rina. Mungkin ini saat yang tepat untuk kuajak dia bicara. “Bidan, sudah sehat?” tanya Kak Rina. Dia membawa sepiring ikan saluang yang sudah dibersihkan. “Iya, Alhamdulillah sudah, Kak,” jawabku. “Eun, ini ikan saluang, saya beli banyak dari orang, jadi kepikiran mau kasih ke bidan dan pak guru." “Oh, iya, makasih banyak ya, Kak.” “Iya, Bidan.” “Kak, boleh gak kita bicara sebentar?” “Bicara?” “Iya, duduk aja dulu, Kak.” “Eum, baik, Bidan.” Aku dan Kak Rina duduk berhadapan di ruang tamu, televisi yang tadinya menyala juga sudah kumatikan. Kak Rina terlihat mulai kebingungan. “Ada apa ya, Bidan?” “Kak, langsung aja. Aku Cuma mau tanya, apa selama ini Kakak benci sama aku?” Kak Rina terdiam mendengar pertanyaanku, dia pun tampak mencoba berpikir. “Maksud Bidan apa?” “Kak, aku tahu. Kakak mungkin kecewa sama sikap aku waktu itu, soal Kakak yang ngasih minyak hantuen ke Radit. Jadi mungkin kakak mau balas aku, iya kan?” “Bi-bidan. Kenapa Bidan bisa berpikir begitu?” “Jujur aja lah, Kak.” “Ta-tapi saya gak begitu bidan.” “Saya sering menerima banyak gangguan, banyak kiriman teluh. Dan alhamdulillah, Radit membantu saya untuk bisa selamat dari itu semua. Maaf, Kak. Tapi saya rasa, kakak satu-satunya orang yang bisa mengirim itu semua kepada saya." “Ya Allah. Enggak, Bidan. Saya gak pernah berbuat seperti itu.” “Kakak jujur aja, Kak.” “Enggak, Bidan.” “Kakak mau bersumpah, demi Allah?” “Bidan, saya gak mungkin berbuat seperti itu.” “Tapi saya tahu kalau itu dari Kakak.” “Bidan telah salah menilai saya, dan saya gak nyangka. Bidan bisa berprasangka buruk sama saya. Untuk apa saya lakukan itu, Bidan?” “Untuk mendapatkan suami saya, kan?” “Ya Allah ...» Kak Rina tiba-tiba menangis, lalu tak kusangka Radit telah pulang dan sudah ada di depan pintu rumah. Aku pun merasa salah tingkah, takut Radit akan balik mengomeliku. “Saya sedikit pun gak pernah berpikir akan berbuat seperti itu kepada Bidan, saya tahu saya janda tapi saya tidak mungkin merendahkan diri saya begitu, Bidan,” ucap Kk Rina sembari menangis sesegukan. “Ya sudah kalau Kak Rina gak mau ngaku. Cuma saya ingin Kak Rina jangan sampai melakukan hal seperti itu lagi kepada saya.” Tegasku. “Saya terima kalau memang bidan merasa saya seburuk itu, maafkan saya Bidan. Maafkan saya Pak Guru.” Kak Rina lalu berlalu pergi, keluar dari rumah dan masih sambil menangis berjalan pulang ke rumahnya. Radit terlihat mengernyitkan dahi menatapku, aku akan bersiap mendengar nasihat atau omelannya. “Kamu kenapa bikin dia nangis kayak gitu, Dhea? Apa perlu kamu menuduh dia seperti itu?” tanya Radit yang baru duduk di sofa setelah melepas sepatunya. “Aku gak menuduh, aku Cuma kurang bukti,” jawabku tanpa menatapnya. “Justru itu, hal itu malah bisa berdampak buruk sama kamu.” “Aku gak peduli, seenggaknya aku sudah bicara sama dia, meski pun dia gak ngaku.” “Hemmm. Lalu apa bagusnya? Kali ini hubungan kalian akan makin buruk.” “Bodo amat, Dit.” “Harusnya kita tetap menjaga hubungan silaturahim, dan membiarkan kebencian itu menghilang dengan sendirinya.” “Udah lah, aku pusing. Gak usah bahas ini lagi.” Aku beranjak dari sofa dan pergi ke kamar, merebahkan kepalaku yang mendadak pusing. Yang dikatakan Radit memang benar, akan tetapi siapa peduli? Aku tidak akan hancur kalau pun tidak berhubungan baik dengan Kak Rina. .... Aku terbangun dalam keadaan rumah yang terasa begitu sepi, sepoy angin menerbangkan kain tirai jendela. Kulihat jam di ponsel, sudah pukul lima sore. Entah di mana Radit, aku tak melihat kehadirannya. Tidurku ternyata sangat lama, hingga tak terasa hari sudah mau gelap. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, melepas semua pakaianku dan bersiap untuk menyegarkan diri. Baru saja kunyalakan kran dan tiba-tiba semua air di bak mandi berubah menjadi warna merah. Cairan kental kehitaman keluar dari kran, dan aku terpaku tanpa ada hasrat untuk teriak. Ini bukan lagi hal baru untukku. Kubaca doa dalam hati, lalu kupejamkan lagi mataku. Kubuka mata dan air itu sudah kembali normal, tidak ada lagi tetesan darah atau noda di bak mandi. Sepertinya Kak Rina ingin membuka lagi perang denganku. Selepas mandi, aku bergegas memakai pakaian. Radit terlihat sudah datang dengan memakai kaos bolanya, rupanya tadi dia pergi ke lapangan untuk bermain bola. Aku menutup semua jendela, lalu kembali ke dapur untuk memasak makan malam. Entah kenapa pikiranku menjadi kacau, terasa kosong dan entah apa yang sebenarnya aku pikirkan. Hingga beberapa kali Radit mengajak bicara, aku tak mendengarnya. Aku merasa kalut, juga bercampur takut. Memikirkan apa yang akan terjadi padaku dan Kak Rina. Kak Rina bisa saja tak akan mengakui semuanya dan dia makin gencar mengirimkan gangguan padaku. “Kamu masak apa, Sayang?” tanya Radit yang baru selesai mandi. “Telor dadar aja, gak apa-apa ya?” “Ya gak apa-apa lah, aku laper mau langsung makan.” “Hemm, ya udah. Makan dulu aja.” Aku menyiapkan makanan untuk makan malam di atas meja. Radit makan dengan lahap, sedangkan aku malah kembali kehilangan selera. Aku menatap wajah Radit, mencoba mencari ketenangan yang kadang selalu bermula dengan hanya melihat senyumnya. Hatiku serasa begitu gugup kali ini, apa aku telah melakukan kesalahan? Atau aku hanya perlu bersiap untuk melindungi diriku dari kejahatan yang mungkin akan lebih besar. Radit, kuharap kamu bisa membantuku untuk selalu melewatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN