Bab 49. Demam

1289 Kata
Setelah menjalani pengobatan ruqyah, kini giliran demam tinggi yang datang menyerang. Aku benar-benar tak berdaya di atas tempat tidur, kehilangan selera makan juga tenaga. “Sayang, makan dulu ya, aku udah buatin sup ayam kampung.” Radit datang ke kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas panjang teh hangat. Aroma bubur buatannya justru membuatku merasa pusing, menciumi baunya saja aku malas apa lagi kalau harus memakannya. “Gak mau, Dit,” lirihku. “Kok gak mau, kamu belum makan dari pagi,” sahut Radit yang terus mengaduk bubur itu agar cepat dingin. “Gak selera,” ujarku lagi. “Paksain lah, sesendok aja, terus minum obat, ya.” Aku pun bangkit dari tidur, duduk bersandar pada tepian ranjang. Mencoba untuk mengunyah satu sendok bubur yang Radit suapi. Entah kenapa terasa hambar hingga aku kesulitan menelannya. “Lagi, ya?” “Udah, Dit. Gak mau.” “Ya udah kalau gitu, minum teh hangatnya.” Setelah sedikit mengisi perut, aku pun meminum obat yang kuresep sendiri khusus bila aku jatuh demam. Rasanya menjadi lebih baik, dan membuatku ingin tidur saja. “Kamu mau makan yang manis-manis? Aku bikinkan kue, ya?” tanya Radit. Radit sangat perhatian, apa lagi saat aku sedang sakit begini. Membuatku merasa selalu dimanja saja. “Aku lagi gak mau apa-apa, Dit,” jawabku. “Hemm, kalau kamu lagi gak selera gini. Aku jadi ikutan gak selera juga.” “Kok gitu, kamu harus tetap makan banyak biar bisa jagain aku. Hehe.” “Tapi aku kan sedih lihat kamu begini, Sayang.” “Gak lah, aku gak apa-apa kok.” “Hemm, ya udah kalau gitu. Kamu istirahat aja lagi.” “Iya.” Keringatku deras keluar setelah minum teh hangat dan minum obat. Darah busuk itu sudah tak keluar lagi, rasa nyeri di ari-ari juga sudah hilang. Namun, aku masih merasa trauma. Aku takut rasa sakit itu menyerang lagi. Hari telah semakin sore, ketika kudengar suara seseorang yang datang. Ternyata Nadine dan Bang Satria, mereka datang karena mampir selepas bepergian ke daerah lain. Nadin pun terkejut mendengar ceritaku tentang sakit yang kualami. “Ya Allah, Dhea. Kamu punya musuh besar ya kayaknya,” ucap Nadin. “Hemm. Aku juga gak ngerti.” “Semoga orang itu dapat balasannya langsung dari Allah.” “Hemm. Ya.” “Setelah ini kamu periksa ke dokter sekalian. Memastikan kalau keadaan tubuh kamu sudah bersih dari segala gangguan itu.” “Hemm, ya. Semoga gak terlalu serius sih, Din.” “Aamiin. Aku bawain oleh-oleh nih dari Tumbang Samba. Martabak telor, mau gak?” “Hemm, aku lagi gak nafsu. Tadi aja Radit bikinin aku bubur ayam.” “Iya, ih. Bubur ayamnya enak lho, Satria aja lahap makannya.” “Dia bikin banyak?” “Iya.” “Kalau gitu syukur deh, biar gak mubazir.” “Ya udah, sekarang cobain dulu martabaknya.” “Males, Din. Simpan aja lah dulu. Entar kali aja aku nafsu.” “Hemm. Ya udah.” “Kamu gak nginep?” “Nginep lah, lagian besok juga gak ada kerjaan.” “Syukur lah. Biar rame juga ada temen Radit ngobrol.” Nadin dan Bang Satria akhirnya menginap, karena kalau pulang mereka sudah akan keburu gelap. Lagi pula kami jarang bisa bertemu. Meski kondisiku sedang tidak sehat, tidak bisa ikut asik bercengkrama dengan mereka. ... Selepas salat isya, Radit bersama Bang Satria dan Nadin asyik mengobrol di ruang tamu. Aku yang merasa sedikit enakan pun akhirnya ikut bergabung, berbaring di sofa. Aku merasa bersyukur karena Nadin juga mengatakan bahwa bau tidak sedap dari badanku sudah hilang. Radit membelikan banyak cemilan serta minuman dingin untuk menemani obrolan mereka, kadang mereka membahas yang tidak aku mengerti lalu aku ikut tertawa ketika merasa ada yang lucu. Aku jadi merindukan keluargaku di kota, Ibu dan adik-adikku. Selama ini kami sering komunikasi, hanya sekedar bertukar kabar. Sebentar bicara lalu selesai. Aku tak memberitahu tentang hal buruk yang menimpaku pada Ibu, agar Ibu tak menjadi sakit karena khawatir. “Siapa sih kira-kira yang udah ganggu Dhea?” tanya Bang Satria tiba-tiba. “Hemm, kami gak mau prasangka buruk, Bang,” jawab Radit. “Tapi kan ini sudah keseringan, Dit. Sudah membahayakan nyawa Dhea,” sambung Nadin. “Semoga ini yang terakhir,” sahut Radit. Apa yang dikatakan Nadin benar, ini sudah terlalu sering gangguan datang padaku. Bahkan ini juga sudah dapat mengancam nyawaku kalau aku tidak menyadarinya lebih cepat. Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku pergi menemui Kak Rina dan meminta dia untuk jujur mengatakan semuanya, tentang apa saja yang kurasa telah dilakukannya padaku. Aku belum punya bukti pasti dan nyata, orang-orang bisa saja berpikir kalau aku hanya sedang berprasangka tanpa bukti. “Sayang, kamu masuk kamar gih. Tidur, di luar kan dingin,” ucap Radit padaku. “Kamu siapin tempat tidur untuk Nadin dan Bang Satria ya, Dit.” “Iya, Sayang. Tenang aja. Nanti aku suruh mereka tidur di dapur.” “Dih, kok gitu.” “Becanda lah.” “Hemm, ya udah. Aku ke kamar duluan ya.” “Iya, Dek. Istirahat gih,” sambung Bang Satria. Aku berjalan ke kamar dengan langkah gontay, mungkin karena perutku tidak terisi dengan baik. Aku pun segera kembali berbaring di tempat tidur, berharap bisa cepat tidur dan besok pagi sudah kembali sehat. Kupikir Radit akan cepat menyusulku juga ke kamar, ternyata dia memilih untuk mengobrol lebih lama lagi dengan Bang Satria sembar menonton TV. Terbiasa tidur dengan memeluk Radit, aku jadi merasa ada yang kurang saat dia belum ada di sisiku. Tiba-tiba pintu terbuka dengan datangnya Nadin. Rupanya Radit menyarankan Nadin untuk tidur di kamar bersamaku. “Gak masalah kan kalau aku tidur di sini?” tanya Nadin yang sudah berbaring di atas tempat tidurku. “Ya gak masalah, lah,” jawabku. “Nanti ada tanding bola katanya, jadi mereka mau nonton bareng,” lanjut Nadin. “Bola?” “Iya. Masa drakor. Kita aja yang nonton drakor. Hahaha.” Nadin kemudian memainkan gawainya, membuka aplikasi khusus untuk menonton drama Korea. Anehnya, aku yang semula mengantuk jadi kembali melek. Akhirnya kami berdua pun menonton bareng drama Korea. “Kamu udah nonton Panthouse?” tanya Nadin. “Apaan tuh?” tanyaku balik. “Ya, drama korea, Dhea!” “Ehm, aku udah lama gak nonton.” “Dih, ketinggalan.” “Emang seru?” “Seru banget, lagi viral tahu.” “Ehm. Soal apa emang?” “Soal perselingkuhan, harta dan tahta.” “Ehm, gitu doang?” “Tapi seru tau. Ini udah seaseon tiga, katanya sih terakhir.” “Banyak banget seaseonnya.” “Ya karena emang bikin penasaran.” “Hemm.” “Kita nonton ini atau yang lain?” “Terserah kamu, Nadin. Aku mah Cuma mau nunggu kantuk aja.” “Oke deh.” Nadin menonton drama dengan serius, sedang aku hanya menyimak sambil sesekali bertanya. Memang ada suasana berbeda ketika menonton drama Korea, mungkin karena visual mereka yang modern. Penampilan aktris dan aktornya juga menawan, pantas lah memiliki banyak penggemar. “Belum tidur ternyata?” tiba-tiba Radit datang. “Kamu pindah ke kamar, Dit?” tanya Nadin. “Enggak, lah. Mau ngambil selimut,” jawab Radit. Radit mengambil selimut di lemari, lalu kembali keluar kamar. Nadin pun kembali asyik menonton drama Koreanya. Perutku tiba-tiba saja terasa lapar tak tertahan, aku pun bangkit dari tempat tidur dan mengambil martabak yang sudah dingin dari atas meja. “Kamu lapar?” tanya Nadin. “Iya, Din. Makan martabak aja deh,” jawabku. “Itu kan udah dingin, Dhea. Aku angetin ya.” “Gak usah deh, aku Cuma mau makan dikit kok.” Setelah merasa perut sudah cukup terisi, aku pun kembali ke tempat tidur. Rasanya tak bisa lagi menahan kantuk, kuputuskan untuk segera menutup mata dan membiarkan Nadin asyik dengan dramanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN