Setelah selesai mengurus persalinan, aku mengajak Bidan Santi ke ruang konsultasi. Tanpa sepengetahuan Radit, aku ingin konsultasi perihal apa yang aku alami.
“Bidan Santi, kamu tahu gak resep obat buat ngilangin bau gak sedap saat menstruasi?” tanyaku padanya.
“Bau gak sedap?”
“Iya, aku kayaknya lagi parah banget mens kali ini. Sampai berbau di ruangan rumah.”
“Masa sih, Kak? Tapi aku gak ngerasa cium bau apa-apa.”
“Masa? Sebenarnya aku juga heran, aku kan gak lagi pilek, tapi aku gak cium bau aneh kok waktu aku periksa pembalut segala macam.”
“Oh ya? Kok bisa gitu ya?”
“Gak tahu juga.”
“Ehmm, jangan-jangan ada yang salah, Kak.”
“Ya, makanya aku coba tanya kamu. Siapa tahu kamu punya solusinya.”
“Oh iya, aku jadi ingat. Dulu aku punya teman, pernah cerita kayak gitu. Ternyata itu bukan karena menstruasi atau penyakit, tapi karena gangguan orang, Kak.”
“Gangguan orang?”
“Iya, Kak. Coba kakak tanya sama suami kakak, kan kalian dulu pernah ngobatin orang kesurupan. Ya, siapa tahu aja ada yang iri sama kalian.”
Aku mencoba merenungi ucapan Bidan Santi, akan tetapi mengapa bisa seperti itu. Aku tak merasa telah memakan sesuatu yang asing di rumah, aku juga tak memakan apa-apa pemberian dari Kak Rina.
“Ehm, kalau gitu. Aku akan coba tanya suami aku nanti, makasih ya, Santi.”
“Iya, Kak. Yang sabar ya. Punya suami perfect emang kudu hati-hati. Hehe.”
“Hemm. Ya udah, Santi. Bye.”
“Bye, Kak.”
Aku menghampiri Radit yang telah menunggu di parkiran puskesmas, udara dini hari begitu terasa menusuk kulit. Aku duduk di boncengan dan memasukkan jari-jariku ke dalam saku jaket Radit. Ditambah memeluknya, rasanya aku menjadi lebih hangat.
Kalau tidak sering diingatkan Radit, mungkin aku bisa ketiduran di atas motor. Bisa berbahaya sekali. Untungnya kami tak lama akhirnya tiba di desa, kembali ke rumah kami.
Aku minta temani Radit untuk pergi mandi, dia pun dengan baik menyiapkan air hangat untukku. Radit duduk di meja makan sembari menyesap s**u hangat, sedang aku gegas membersihkan diri.
Besok hari terakhir menstruasiku, biasanya aku hanya akan mens dalam tujuh hari. Kuharap tidak ada lagi bau yang aneh saat mens ini selesai. Dan aku tak perlu khawatir kalau ini sebuah penyakit atau pun gangguan dari orang.
“Sudah mandinya?” tanya Radit yang dengan setia menungguku.
“Iya, makasih ya udah nungguin,” jawabku.
“Ya sudah, sekarang ke kamar. Kita istirahat.”
“Iya.”
Radit terlihat lelah, dia pun langsung menghempaskan diri di atas tempat tidur. Aku memakai baju tidur lebih dulu dan menyisir rambut di depan cermin, tak lupa menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh.
“Dit, kamu sudah tidur?” bisikku sembari memeluknya dari belakang.
“Hemm, tamunya udah pulang?”
“Haha. Belum lah, mungkin besok.”
“Aku udah kangen tahu.”
“Biar pun bau?”
“Hemm.”
“Aku serius, aku jadi khawatir banget tahu.”
“Hemm, aku ngantuk ah. Mau bobok.”
“Oke. Oke. Tidur gih.”
Radit benar-benar langsung tertidur, sedang aku masih memikirkan apa yang terjadi hari ini hingga akhirnya kantuk datang dan membuatku lelap juga.
....
Alunan musik terdengar nyaring dari salah satu rumah tetangga, sebenarnya jarang sekali ada yang menyalakan musik sepagi ini. Mungkin mereka sedang berbahagia.
Aku mencoba bangkit dari tempat tidur, sedang Radit sudah tak terlihat lagi di kamar. Aku segera pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Sepertinya masa haid ku telah usai, aku pun langsung mandi besar. Kuharap bau-bau yang mengganggu Radit juga sudah tak tercium lagi, dan aku bisa merasa kembali percaya diri dekat dengannya.
Setelah merapikan penampilan diri, kulihat Radit sedang menyirami tanaman di halaman rumah. Kuhampiri dia dengan senyuman termanis, berharap memulai hari baru yang lebih romantis.
“Dhea, kamu kenapa senyum-senyum gitu?” lirik Radit sebentar, lalu fokus menata pot pot bonsai.
“Eumm, aku udah selesai haidnya, Dit,”
sahutku.
“Oh, kirain kenapa.”
“Kamu gak seneng?”
“Biasa aja sih.”
“Hemm.”
“Becanda.”
“Kamu tumben, gak ngajar?”
“Kan hari ahad, Sayang. Libur.”
“Oh, iya. Aku sampai lupa.”
Setelah merapikan tanaman, Radit pun langsung pergi mandi. Lalu kami berdua membuat makan pagi bersama. Bermodal roti, sosis, dan telur. Penyedap rasa utama juga ada pastinya, yaitu kasih sayang dan cinta.
“Dit, aku boleh nanya gak? Kamu jawabnya jujur.”
“Apa, Sayang?”
“Eum, aku masih bau gak?”
“Emang beneran udah selesai haidnya?”
“Iya.”
Radit kemudian menghentikan aktivitasnya sebentar, lalu memeriksa keadaanku. Dan ternyata dia berkata kalau bau itu masih ada, aku pun tak mengerti mengapa bisa bau itu masih ada sedang aku sudah merasa semua baik-baik saja.
“Dit, kata Bidan Santi. Mungkin ada yang gangguin aku, Dit.”
“Ganggu gimana?”
“Ya karena aku merasa aku sehat-sehat aja. Kenapa bisa bau segala?”
“Jadi?”
“Ya, aku minta kamu lakuin yang seperti biasa aja, Dit.”
“Sayang. Aku jadi khawatir deh sama kamu. Takut kamu selalu terbawa ke pikiran buruk sama orang.”
“Tapi aku benar-benar sehat aja, Dit. Mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa aku sadari.”
“Oke. Kalau gitu aku buatkan penawarnya seperti biasa.”
“Iya. Aku mau kamu doain aku.”
Meski belum terlalu yakin, Radit akhirnya menuruti keinginanku. Dia mengambil wudhu lalu mengerjakan salat sunnah duha. Setelah salat, Radit mengambil segelas air putih dan membacakan doa-doa.
Aku juga melaksanakan salat duha terlebih dahulu, lalu meminum air putih yang sudah didoakan Radit. Aku tak merasa ada desiran apa pun, sampai akhirnya selepas salat dan dzikir pagi. Aku merasakan nyeri yang sangat hebat di ari-ari ku.
“Dhea? Kamu gak apa-apa?”
“Ari-ari aku sakit banget, Dit.”
“Ya Allah. Apa kita harus ke rumah sakit?”
“Enggak. Kayaknya ini reaksi dari minum air putih yang kamu bacakan doa tadi, Dit.”
“Kalau begitu, tetap istighfar dan berdzikir.”
Tubuhku terasa panas, hingga keringat dingin mengalir deras. Ini nyeri yang paling sakit yang pernah aku rasakan, tak pernah sebelumnya separah ini. Radit pun melanjutkan berdzikir untuk meruqyah ku, hingga selang berapa lama, reaksi pun terhenti. Rasa sakit di ari-ari ku telah mereda, akan tetapi kurasa ada yang basah dan mengenai mukenaku.
Cairan kental berwarna merah kehitaman, keluar dari area intimku. Berbau busuk dan membuat kepalaku sakit, tak bisa kutahan hasrat untuk muntah.
“Astaghfirullah.”
“Radit. Aku kenapa, Dit.”
“Sepertinya benar yang kamu bilang, ada yang mengirim gangguan ke kamu. Kalau gitu sekarang aku bantu kamu, ya.”
Radit tanpa rasa jijik, menggendongku menuju kamar mandi. Lalu dia dengan sabar membantuku membersihkan diri, hingga semua darah telah bersih. Namun, untuk berjaga-jaga aku tetap memakai pembalut lagi.
Radit juga membersihkan kamar kami dari semua noda darah dan muntahanku. Aku merasa lemas sekali, seperti telah kehilangan banyak tenaga. Radit kembali membopongku menuju tempat tidur, dan aku langsung berbaring dengan lega di sana.
“Tetap ucap istighfar dan dzikir, Sayang. Semoga semua gangguan itu telah pergi dari kamu,” ucap Radit sembari mengusap kepalaku.
“Iya, aamiin. Makasih ya, Radit.”
“Iya, Sayang. Bahkan bau yang sempat tercium beberapa hari ini juga sudah tidak tercium lagi, kok.”
“Serius, Dit?”
“Iya, Sayang. Semoga kamu lekas baikan ya.”
“Iya, Dit.”
“Kalau gitu kamu istirahat, aku harus bersihin semua yang kotor tadi.”
“Maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu.”
“Kamu gak pernah ngerepotin aku, Sayang. Udah, sekarang kamu istirahat.”
“Iya, Dit.”
Radit kemudian berlalu pergi meninggalkanku sendirian di kamar, dia terdengar sibuj mencuci semua pakaianku yang kotor karena darah. Bau darahnya sangat busuk, tak kusangka Radit bertahan denganku beberapa hari ini dengan mencium bau itu.
Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi padaku, apa mungkin ini perbuatan orang yang sama? Kak Rina? Lalu dengan apa dia bisa mengirimkannya padaku. Padahal selama ini aku sudah sangat berhati-hati, ternyata masih bisa saja gangguan itu menimpa diri ini.