Bab..47. Bau Tidak Sedap

2119 Kata
“Banjirnya perhatian, akan membuatku semakin merasa ingin tenggelam. Dalam mencintaimu.” Usia pernikahanku dengan Radit sudah hampir setahun, aku masih belum dapat kepercayaan untuk menerima titipan malaikat-malaikat kecil menggemaskan. Entah apa kerjaku mengurus bayi selama ini dianggap belum berpengalaman oleh Yang Maha Pencipta, hingga aku masih saja diragukannya untuk bisa menjadi seorang Ibu. Ketika kuutarakan pikiranku ini, Radit langsung menyerangku dengan pelukan hangatnya. “Aku menstruasi, pantas saja nyeri banget semalam,” ujarku. “Mau aku bikinkan seblak lagi?” tanyanya. “Eumm, gak selera ah mau makan,” jawabku. “Terus mau apa? Jalan-jalan? Belanja?” tanya Radit lagi sembari memasang sepatu kerjanya. “Aku maunya Cuma kamu, selalu bersama kamu di rumah,” jawabku dengan senyum merekah, meski sebenarnya belum mandi. “Auto mabok aku dibucinin pagi-pagi.” “Wekaweka.” “Aku ke sekolah dulu, ya. Kamu istirahat aja di rumah.” “Kamu selalu nyuruh aku istirahat, capek tahu istirahat terus.” “Istirahat juga bisa bikin capek?” “Hehe. Iya.” “Ya udah, kalau gitu. Kamu baca-baca buku aja di dalam, oh iya, kamu belum masak kan? Mau masak gak?” “kamu mau dimasakin apa, Dit?” “Ayam crispy.” “Ayam?” “Iya, pakek tepung. Bisa kan?” “Eum, oke.” “Ya udah, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Radit menciumi keningku lalu melaju pergi bersama motorku yang dipinjamnya. Perlahan, trauma karena kecelakaan itu sanggup aku lupakan. Kami juga mulai memikirkan untuk membeli motor baru untuk Radit, mengganti yang rusak karena kecelakaan. ... Mengikuti keinginan Radit, selepas mandi aku pun pergi ke warung sayur. Membeli daging ayam dan tepung, juga sayur-sayuran untuk pelengkap. Warung sayur tengah ramai, beberapa mama muda terlihat asyik mengobrol di depan warung sayur. “Ngeri ya, Bu. Apa iya di kampung kita masih ada hantuen?” “Lah, buktinya semalam suami saya lihat. Dia mau kejar, susah.” “Susah atau takut?” “Hahaha.” Ternyata mereka sedang membicarakan soal hantuen, padahal akhir-akhir ini tidak ada persalinan. Aku bahkan merasa sedang jadi pengangguran karena tidak ada panggilan bersalin. “Ada apa, Bu?” aku putuskan untuk ikut merumpi setelah beres membeli ayam dan sayuran. “Itu, Bidan. Suaminya Bu Naura, semalam dia lihat hantuen di belakang rumahnya. Kayaknya sih mau makan ternak,” jelas Bu Hanifah. “Makan ternak?” tanyaku lagi. “Iya, Bidan. Hantuen kan juga bisa makan ternak. Kayak sapi atau ayam.” “Oh, gitu?” “Iya, Bidan.” Aku memikirkan tentang cerita yang barusan kudengar sembari berjalan pulang menyusuri gang. Apa mungkin, karena sepinya orang yang melahirkan, hantuen sekarang jadi mengincar hewan ternak. Saat melewati depan rumah Kak Rina, kulihat dia sedang mengupas kelapa tua. Aku menghampirinya, kurasa perlu untuk mulai sedikit terbuka dengannya tentang misteri ini. “Hay, Kak,” sapaku. “Bidan? Mampir, Bidan,” sahut Kak Rina yang langsung meletakkan pisaunya. “Lagi ngupas kelapa, Kak? Mau masak apa?” tanyaku lagi setelah duduk berjongkok di dekatnya. “Ehm, mau bikin kolak pisang, Bidan.” “Oh, gitu. Aku baru abis belanja di warung.” “Ehmm, gitu ya, Bidan.” “Iya. Tadi di warung saya dengar cerita tentang hantuen, Kak. Kakak udah dengar?” “Ha- hantuen?” “Iya, Kak. Katanya ada yang lihat hantuen mau makan ternak.” “Oh ya? Kok, bisa ya?" “Ehm, gak tahu, Kak. Emangnya hantuen bisa makan ternak ya, Kak?” “Hem, saya juga kurang tahu, Bidan.” “Kan Kakak punya segala macam minyak, pasti lebih tahu.” “Maaf, Bidan. Tapi saya juga benar-benar tidak tahu.” “Oh, gitu, Kak.” Kak Rina lalu melanjutkan mengupas kelapa, dengan tatapan yang tak lagi nyaman padaku. Aku pun segera pulang setelah berpamitan. Ingin rasanya aku langsung bertanya blak-blakan. “Kak Rina ngapain semalam? Mau makan ternak ya?” Ah! Tak mungkin aku akan langsung bertanya seperti itu. Bisa-bisa dia berubah menjadi hantuen dan langsung menerkamku dengan taringnya. ... Aku kembali ke rumah, akan tetapi ada yang aneh dengan selasar rumah. Ada tanah yang berserakan di selasar, padahal saat aku pergi rasanya masih bersih. Radit selalu menyapu rumah hingga selasar setiap pagi. Bisa jadi ada ayam yang naik ke rumah. Aku langsung menyapunya. Aku pergi ke dapur dan bergegas untuk memasak, meski sebenarnya aku ragu. Aku tidak pandai membuat ayam tepung yang renyah seperti yang biasa dijual orang-orang. Biasanya, hasil ayam gorenganku akan keras dan tidak ada aestetiknya sama sekali. Namun, Jangan pernah katakan tidak bisa, saat belum mencoba. Aku pun mengikuti resep di media sosial, sekaligus cara membuatnya. Terserah bagaimana hasilnya nanti, lagi pula Radit tidak akan mengomel kalau ternyata hasilnya tidak sempurna. Ya, seorang suami yang baik adalah yang mau menerima kekurangan istrinya. Apa lagi dalam segi memasak, masakan yang tidak sempurna bukan alasan mereka untuk mengomel. Karena seorang istri tentu sudah sangat berusaha untuk melakukan yang terbaik pada suaminya. .... Setelah menyiapkan makan pagi, aku kembali rebahan di kamar. Sembari menunggu Radit pulang. Menstruasi kali ini rupanya terasa sangat nyeri, lebih dari biasanya. Aku juga mulai merasa gatal di daerah intim. Sebelumnya aku tidak merasa serisih ini. Selang berapa lama, Radit telah kembali dari sekolah. Dia langsung mengganti pakaian di kamar, lalu bersiap untuk pergi makan pagi. Sedang aku merasa sangat tidak nyaman dengan keadaanku saat ini. “Sayang, makan bareng, yuk!” ajak Radit dengan memanggil dari dapur. “Kamu duluan aja,Sayang,” sahutku. “Bareng aja,” lanjutnya. Aku pun terpaksa bangkit dari tempat tidur, menghampiri Radit di dapur. Radit telah siap di meja makan dan aku duduk di dekatnya. Entah kenapa kulihat ekspresi Radit tiba-tiba berubah. Dia pun seperti menghidu aroma, hingga tatapannya terhenti padaku. “Kenapa, Dit?” tanyaku. “Kamu cium bau gak enak gak?” Radit balik bertanya. “Bau gak enak?” Aku pun mencoba mencari aroma yang katanya tidak enak, akan tetapi semua terasa normal. Bahkan aku bisa menghirup aroma pewangi yang kami letakkan juga di dapur. “Gak ada bau apa-apa, Dit,” ucapku. “Kamu gak cium baunya? Ya udah, deh. Lupain aja. Makan aja dulu,” ujar Radit. Radit tetap makan walau kulihat dia kurang menikmati, aku semakin bingung aroma apa yang dia maksud. Setelah makan, aku pergi ke kamar mandi dan memeriksa pembalut yang kupakai. Darah yang keluar terlihat normal banyaknya, aku juga mencium baunya, bau darah mens normal saja. Aku takut aroma tidak sedap yang Radit hirup adalah bersumber dariku karena sedang menstruasi. Segera kubersihkan pembalut yang kupakai dan memakai lagi pembalut yang baru. Radit terlihat kembali sibuk di meja belajarnya, memeriksa tugas harian anak-anak didiknya yang ternyata dia bawa pulang ke rumah. Aku pun segera membuatkan secangkir kopi untuk menemaninya. “Dit, ini kopinya,” ucapku setelah meletakkan cangkir kopi di mejanya. “Eum, terima kasih, Sayang,” sahutnya. “Mau aku bantuin?” “Gak usah, Sayang. Mending kamu istirahat.” “Eum, ayam goreng crispynya enak gak?” “Enak banget, lebih enak dari yang biasa dijual orang.” “Masa?” “Iya, Sayang. Udah ya, aku mau lanjut kerja.” “Eum, iya.” Aku memilih untuk duduk menonton drama Korea di kamar, membiarkan Radit dengan pekerjaannya di ruang belajar. Untung lah kalau masakanku benar enak, tapi aku masih penasaran dengan aroma tidak sedap yang dicium Radit. Aku bahkan telah memeriksa setiap sudut dapur, takut ada tikus atau cicak yang mati, akan tetapi tidak ada apa-apa. Asyik menonton, aku hampir tak menyadari Radit masuk ke kamar. Dia mengganti pakaian untuk pergi ke masjid, aku lupa waktu kalau saja tak mendengar sayup suara adzan. Anehnya, Radit seperti buru-buru meninggalkan kamar, tanpa pamitan mesra padaku seperti biasanya. ... Ketika suami tidak sedang di rumah, istri yang sedang menunggu tentu paling senang ketika dibawakan oleh-oleh saat suami pulang. Radit jarang membawakanku oleh-oleh tanpa kupesan lebih dulu, dan hari ini dia berhasil mengagetkanku dengan apa yang dia bawa. Radit membawa sekantong besar botol minuman jamu untuk perempuan yang sedang menstruasi. Padahal aku tidak memesannya. Dia juga membeli pewangi ruangan, kebetulan pewangi semprot kami sudah habis. “Kamu perhatian banget beliin aku jamu, Dit,” ucapku. “Ehm, kamu biasa minum jamu kan?” tanyanya. “Iya, jarang sih.” “Itu katanya enak, supaya gak nyeri dan haid jadi lancar, juga supaya gak berbau.” “Ehm, jadi aku bau?” “Kan aku Cuma jelasin yang katanya fungsi jamu itu.” “Jujur aja, lah. Siapa tahu hidung aku lagi mampet sampai gak bisa cium bau diri aku sendiri.” Radit lalu tersenyum, mendekat padaku setelah mengganti pakaian salatnya dengan pakaian rumah. Kaos dan celana cingkrang, Radit biasa memakai pakaian sederhana saja ketika sedang di rumah. “Maaf kalau bikin kamu tersinggung, Dhea. Maksud aku bukan untuk nyinggung kamu,” ucapnya lembut sembari mencium pipiku. “Eum, iya, gak apa-apa kok,” lirihku. Radit lalu menggenggam jemariku, kemudian memasukkanku dalam pelukannya. Menciumi bibirku lembut hingga aku tak kuasa untuk mengelak. Kemesraan yang dia buat agar aku tidak merasa kecewa, dan mana mungkin aku bisa kecewa padanya bila dia sedekat ini padaku padahal aku sedang bau. Botol jamu itu pun kubawa ke dapur, lalu cepat meminumnya. Sebagian sisanya kusimpan di kulkas. Dari semua menstruasi yang kujalani sejak menikah, baru kali ini sampai Radit mengeluhkan bau. Aku pun dengan rajin mengganti pembalut, juga rajin meminum jamu-jamu herbal. Rasa gatal makin terasa ketika hawa panas, akan tetapi aku belum juga bisa mencium bau yang Radit maksud. [Dhea, malam ini siap-siap, ya. Ada pasien di ujung kampung.] Pesan masuk dari Bidan Hana. [Kakak gak menangani?] Balasku. [Kan tugas kamu, aku tadi diberitahu karena ketemu di jalan.] [Oh, gitu. Oke.] [Jadi aku udah periksa dulu tadi kondisi pasien, kemungkinan nanti malam persalinannya. Aku sudah beritahu mereka untuk hubungi kamu.] [Hemm, oke.] Akhirnya aku akan kerja lagi malam ini. Walau perutku masih terasa nyeri, aku tetap harus melakukan tugas. ... Aku tiduran di kamar setelah mandi, sedang Radit juga berbaring di sebelahku. Tak seperti biasanya, dia mulai jarang memelukku. Radit sekarang seperti menjaga jarak, bahkan kemarin malam kulihat dia tidur di ruang tamu sampai pagi. Meski beralasan karena menonton bola. “Dit.” “Iya, Sayang?” “Nanti aku kayaknya ada kerjaan, deh. Ada yang mau lahiran.” “Ohya? Eum, kalau gitu aku siap anterin kok.” “Aku bisa pergi sendiri.” “Jangan lah, Sayang.” “Hemm.” “Kenapa lagi?” “Aku udah minum jamu banyak, juga minum obat pilek. Aku masih bau ya?” “Eum, emang kamu pilek?” “Gak tahu, aku juga bingung. Kayaknya aku gak sakit apa-apa, kok.” “Ehm, mungkin Cuma karena menstruasi, Sayang. Nanti kalau udah selesai, pasti semuanya akan kembali normal.” Secara tidak langsung, Radit mengiyakan kalau aku masih bau. Aku tak mengerti, kenapa aku tidak bisa mencium bauku sendiri. Selepas salat isya, Radit mengantarku menuju rumah pasien yang akan bersalin. Kami harus bersiap untuk begadang malam ini. Karena setiap persalinan tak bisa diprediksi semua waktunya. Bau yang dibilang Radit, sejatinya telah membuatku merasa tidak percaya diri. Aku takut menjadi buruk di hadapan orang-orang, aku takut membuat orang menjadi tidak nyaman. Di rumah pasien ternyata ada perawat dari puskesmas, di samping rumah juga sudah ada ambulans. Tak biasanya mereka datang tanpa menunggu pemberitahuan dariku. “Bidan Dhea?” perawat langsung menghadapku. “Kalian sudah ada di sini? Apa pasien akan melahirkan di puskesmas?” “Ya, mereka tadi yang langsung menghubungi puskesmas, Bidan.” “Kalau gitu biar saya periksa dulu.” “Baik, Bidan.” Aku melihat ke kamar pasien, sudah terlihat sebuah tas bergambar hello kitty yang sepertinya telah disiapkan untuk dibawa ke puskesmas. Tak biasanya pasienku sigap seperti ini. “Biar saya periksa dulu, Bu,” kataku. “Tadi sore sudah diperiksa, Bidan. Katanya karena saya sudah berumur, jadi lebih aman melahirkan di puskesmas.” “Benar sekali, Bu. Jadi apa ibu masih merasa kuat melakukan perjalanan ke puskesmas?” “Insya Allah, Bidan.” “Ya sudah, kalau gitu kita berangkat sekarang.” Aku membantu pasien untuk dipindahkan ke ambulans, lalu ikut mendampingi di dalam ambulans. Radit bilang akan mengekori ambulans menuju puskesmas. Usia ibu hamil yang sudah di atas empat puluh tahun, memang sebaiknya di siapkan bersalin di tempat yang peralatannya lebih memadai. Walau menurutku, pasien masih cukup bertenaga untuk menunggu waktu persalinan di rumah. Tak lama kami pun tiba di puskesmas, sudah ada Bidan Santi yang menyambut. Aku pun tetap diminta untuk mengawal proses persalinan, sementara Radit dan keluarga pasien duduk menunggu di lobby puskesmas. Nafas pendek membuat persalinan agak lama, hingga aku juga harus menyediakan infus aa tenaga pasien tetap terjaga. Menjelang jam sepuluh malam, bayi merah pun berhasil lahir ke dunia. Tangisan bayinya terasa sangat kurindukan, sepertinya aku akan merindukan si gemoy Ahmad lagi. Entah sudah berapa kilo berat badannya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN