Aku tak habis pikir ketika menyalakan televisi pagi ini, aku menonton acara gosip dan mendapati berita tentang viralnya orang-orang terkenal memiliki boneka. Ada yang menyebutnya sebagai boneka biasa, ada pula yang menyebutnya boneka arwah.
Dulu aku sempat menonton video tentang boneka ini, boneka bayi yang benar-benar mirip seperti sungguhan. Mereka memberikan boneka itu untuk orang-orang yang sudah berumur dan tinggal di panti, dengan maksud agar orang-orang tua itu tidak merasa kesepian.
Dan sekarang menjadi viral di Indonesia, beberapa artis dan selebgram membeli boneka itu dengan harga yang fantastis, bahkan mereka rela membayar hingga sepuluh juta rupiah untuk orang yang mau menjadi pengasuh bonekanya.
Mereka dianggap terlalu kaya dan sudah tidak tahu menghabiskan uangnya untuk apa, juga dianggap hanya ingin menaikkan pamor saja. Bahkan, sebagian dianggap sudah hilang kewarasan. Aku pun merasa sedih ketika salah satu yang viral adalah seorang publik figure yang aku sukai.
“Hey, kamu lagi ngapain?” Radit yang sedang libur mengajar, membuatkan kopi dan duduk di sampingku.
“Nonton, lah,” sahutku.
“Euum, yang lagi viral itu,” lanjutnya.
“Iya.”
“Kamu mau coba?”
“Coba apa?”
“Beli boneka gitu, wekwek.”
“Dih, ogah banget. Serem.”
“Kan lucu.”
“Lucuan juga kamu, gak mau ah ikutan begituan.”
“Haha, kali aja mau.”
“Ogah.”
“Menurut kamu gimana? Mereka waras gak?”
“Entah. Mereka kan selalu punya dua sisi. Entah drama atau real.”
“Eumm, iya juga sih.”
“Memangnya kamu mau pelihara boneka kayak gitu?”
“Ngapain, ogah juga sih. Kecuali kalau anak kita nanti, mau dibelikan boneka.”
“Boneka barbie gitu ya?”
“Ya, iya. Masa boneka chaki.”
“Serem banget.”
“Banget, lah.”
Berita tentang boneka itu pun kini berganti dengan berita viral lainnya, yaitu tentang kabar terbaru matahari buatan China yang ternyata telah berhasil dinyalakan untuk beberapa detik.
Matahari buatan China itu, katanya dirasakan lebih panas dibanding matahari asli. Entah mengapa mereka bisa berpikir untuk membuat matahari buatan. Apa mereka pikir, suatu saat nanti matahari akan berhenti berfungsi? Lalu mereka bisa menggunakan matahari buatan. Ya Ampun.
“China memang selalu berusaha lebih canggih,” ujar Radit
.
“Iya, tapi serem kan kalau misalnya yang mereka buat itu gagal,” sahutku.
“Mereka pasti udah mikirin semuanya, dampak positif dan negatifnya.”
“Hemm, ya. Menurut kamu, apa dunia ini benar akan semakin rusak nantinya?”
“Ehmm, ya. Rasulullah sudah mengingatkan kita, bahwa dunia ini tidak akan lebih baik dari masa ke masa, semakin dekat dengan kiamat dan akan semakin banyak kerusakan.”
“Dalam segala bidang?”
“Ya, segala bidang.”
“Jadi?”
“Jadi, ya, kita tidak perlu terlalu memusingkan perubahan dunia. Yang kita pikirkan adalah bagaimana diri kita, apa kah semakin baik atau tidak. Di mata Allah, itu tujuan utama.”
“Tapi, kayaknya berat deh. Apa lagi dengan beragam masalah. Kesehatan dunia, ekonominya. Sedangkan untuk fokus beribadah, tentunya kita tidak ingin diganggu oleh masalah-masalah itu.”
“Allah akan menguji hambanya, sesuai dengan kemampuannya, Dhea.”
“Iya, sih.”
“Jadi ya fokus aja. Sekarang kita punya pekerjaan, bermanfaat untuk orang lain. Saat sedang tidak kerja, kita bisa fokus dengan ibadah kita. Hasilnya akan baik-baik saja. Justru kalau terlalu pusing, selalu ikut memikirkan apa-apa yang lagi viral, konsentrasi kita malah jadi terganggu nantinya.”
“Eumm, iya sih.”
“Contohnya, kayak kita sekarang. Asik nonton televisi, sampai lupa belum makan pagi, sarapan sama roti doang.”
“Ehehehe. Iya, iya, aku masak dulu deh.”
Ketika aku akan beranjak ke dapur, tiba-tiba Radit menahan tanganku.
“Gak usah masak, kita ke warung aja,” ujarnya.
“Warung? Warung mana?” tanyaku.
“Warung soto yang biasa, Sayang,” jawabnya.
“Eumm, oke deh kalau gitu."
“Yuk!”
Aku memakai kerudung dan membiarkan Radit saja yang membawa dompet di dalam saku. Matahari baru saja menghangatkan bumi, ini namanya kencan pagi.
Coba bayangkan kalau matahari buatan China itu berhasil menyala dan bersamaan dengan matahari asli, reaksi panasnya akan semakin membakar bumi. Melariskan skincare pelindung kulit, juga mungkin akan membuat setokan air semakin kering. Jangan sampai hal seperti itu terjadi di negeriku tercinta, Indonesia.
Saat berjalan menyusuri gang, Radit terus berusaha menggandeng tanganku. Kubisikkan padanya kalau aku malu dilihat tetangga, akan tetapi dia bersikap tidak peduli.
Biasanya kami selalu menggunakan mobil atau motor, kali ini berjalan kaki. Cukup membuat sedikit berkeringat, hitung-hitung olahraga pagi.
Di warung soto, ternyata sudah ada Kak Rina dan anak-anaknya. Aku tak menyangka akan bertemu mereka. Mereka sedang menunggu pesanan mereka, alhasil kami akan makan bersama kali ini.
“Kalian dari mana?” tanya Radit pada anak-anak Kak Rina.
“Dari pasar, Pak Guru,” jawab Bella.
“Oh, ya? Beli apa itu? Boneka?” tanya Radit lagi.
“iya, boneka barbie,” jawab Bella, dia terlihat senang dan terus memegangi bungkus mainannya.
“Wah, cantik banget. Mirip sama bella,” goda Radit.
Bella tersipu malu mendengar ucapan Radit, lalu mereka pun terus mengobrol hingga pesanan soto datang.
“Aku sampek lupa ini hari rabu,” gumamku.
“Memang dipikir hari apa?” tanya Radit.
“Hemm, gak mikir hari apa sih,” jawabku.
“Hemm.”
Meski malas dengan keberadaan Kak Rina, aku tetap menikmati soto yang kami beli. Rasanya enak dan pas sekali dengan perut yang sudah kelaparan tadi.
Usai makan, Kak Rina terlihat akan membayar makanannya. Namun, Radit segera menyusul dan mengatakan bahwa dia akan membayar semuanya. Sungguh tetangga yang baik.
Usai makan soto, aku dan Radit pun pulang. Sedang Kak Rina dan anak-anaknya berjalan mendahului di depan kami.
Tidak mudah menjadi orang tua tunggal, apa lagi membesarkan dua anak perempuan yang masih sekolah. Mungkin Kak Rina harus berjuang keras agar keluarga mereka bisa tetap bertahan.
“Kak Rina kerja apa ya, selama ini?” tanya Radit tiba-tiba.
“Hemm, jual sayur, jual ikan. Aku dengar dia juga mulai nitip kue di warung-warung,”
jawabku.
“Hemm, syukur deh, kalau gitu.”
“Memangnya kenapa, Dit?”
“Ya, gak apa-apa. Cuma mau tahu aja, Dhea.”
“Kamu kasihan sama mereka?”
“Ya, wajar kan kalau kita kasihan?”
“Hemm.”
“Kenapa? Kamu cemburu, Sayang?” lirik Radit.
“Enggak, lah. Ngapain aku cemburu.”
“Kali aja.”
“Tapi emang kamu gak tertarik sama janda kayak Kak Rina?”
“Haha. Apaan sih, Dhea?”
“Ya, kan kamu bisa aja tertarik sama dia. Dia cantik, sexy.”
“Kamu udah cukup segala-galanya buat aku, Dhea.”
“Hemm.”
“Udah, ah. Gak usah bahas janda.”
“Janda semakin di depan.”
“Hahaha. Ada-ada aja kamu.”
Wajar Radit ikut cemas dan kasihan pada kehidupan Kak Rina, Kak Rina adalah tetangga kami. Bisa dibilang tetangga terdekat, meski sebenarnya juga kadang menjadi sumber masalah. Radit yang berhati lembut tentu ingin bisa bermanfaat untuk siapa pun.
Sepulang ke rumah, aku dan Radit langsung pergi tiduran di atas kasur. Kuambil gawai Radit, mengecek media sosialnya dengan izin darinya terlebih dahulu. Lalu, aku pun menemukan sebuah pesan di aplikasi biru miliknya.
[Guru, ini akun pesbuk saya. Rina.]
Pesan itu belum dibuka, mungkin Radit belum tahu. Karena belum berteman, jadi pesannya masih ada di ruang permintaan pesan.
Ku klik akun Kak Rina, terpampang jelas wajah mulusnya di foto profil. Sepertinya akun itu belum lama dibuat, dan hanya ada sedikit teman. Saat kulihat aplikasi milikku, tak kutemukan permintaan pertemanan dari Kak Rina. Ternyata dia hanya mengirim permintaan pertemanan pada Radit. Ya ampun, menyebalkan!
“Radit, ada satu chat nih,” ucapku pada Radit yang baru akan memejamkan mata.
“Hemm, siapa sih?” sahutnya bertanya.
“Lihat aja sendiri.” Kuserahkan gawai padanya.
Radit langsung tersenyum ketika tahu itu dari Kak Rina. Dia pun tak segan membalas pesan itu di hadapanku.
[Oh, iya, Kak. Sudah saya konfirmasi.] balas Radit pada Kak Rina.
“Seneng banget kayaknya,” gumamku sambil meremas jari.
“Ya senang lah,” sahut Radit.
“Habis itu pasti dichat terus.”
“Haha. Kalau penting ya aku balas, Sayang. Gak usah ngambek gitu deh.”
“Au ah!”
“Ngambek aja teros.”
Tanpa kuduga, Radit langsung bangkit dan melakukan gerakan karate, menjepit tubuhku masuk dalam pelukannya. Ciuman pun mendarat di wajahku dengan bertubi-tubi tanpa bisa kuhindari. Rasa cemburu yang tadi menyerang, berubah menjadi rasa sebal bercampur sayang.