Embun pagi menabrak pori-pori wajah, meresapkan hawa dingin yang terasa semakin. Sisa -sisa hujan semalam, menggenang di tengah-tengah jalan berwarna coklat.
Beberapa helai daun pandan telah Della petik, bersiap para tetua membuat tampung tawar untuk acara tasmiyah Ahmad hari ini.
Ayunan dari kain jarik dengan desain batik telah tergantung di tengah-tengah ruang tamu, disisi-sisinya bergantungan juga hiasan yang dibuat dari pelepah kelapa muda. Aku dan Radit merasa tak berhak untuk ikut campur, ketika Della dan suaminya ingin melakukan ini untuk melengkapi tasmiyah putra pertama mereka. Sulit meninggalkan tradisi yang telah lama bersemi.
Nasi kuning dan ayam bumbu merah, menjadi menu utama hari ini. Sebaskom seserahan untuk bidan kampung juga disediakan, padahal yang menangani persalinan kemarin adalah aku dan teman-teman di puskesmas.
Radit menjadi pemimpin acara tasmiyahan, dan itu membantunya untuk mensyiarkan cara-cara yang sesuai syariat. Ahmad Azzam resmi menjadi nama Ahmad. Sepuluh hari lagi anak itu telah akan melewati usia empat puluh hari.
Aku senang karena batuk Ahmad sudah sembuh, dan Della tak merasa panik lagi karena ada suami yang akan menemaninya di rumah.
“Bidan, kalian mau pulang sekarang?” tanya Della seusai acara.
“Iya, Del. Makasih banyak ya,” jawabku.
“Saya yang berterima kasih banyak, Kak. Kalau tidak dengan bantuan Bidan dan Pak Radit. Saya pasti kebingungan untuk mengurus Ahmad.”
“Hemm. Ingat pesan kami saja, Del. Jaga Ahmad dengan baik. Jangan beri dia sesuatu apa pun yang macam-macam dan tidak jelas. Jangan lupa juga kasih kabar untuk kami.”
“Baik, Bidan. Pasti akan saya ingat.”
“Kalau begitu kami pamit dulu.”
“Iya, Bidan. Sering-seringlah datang ke sini.”
“Insya Allah.”
Aku dan Radit menggendong lagi si bayi mungil dalam pangkuan kami. Melihatnya tersenyum membuatku merasa tak ingin berjauhan dengannya, akan tetapi aku sadar, Ahmad lebih membutuhkan orang tua kandungnya. Radit menciumi Ahmad penuh kasih sayang, lalu kami mengembalikan Ahmad ke dalam gendongan Della, dan bergegas untuk masuk ke mobil. Kami akan kembali lagi ke desa.
....
Beberapa hari aku telah lalai memberi hak untuk tubuhku sendiri, rasanya sangat lelah. Walau aku ikhlas membantu Della untuk mengurus Ahmad, aku tetap saja butuh istirahat.
“Dit, aku mau istirahat total untuk beberapa hari,” ucapku pada Radit di tengah-tengah perjalanan.
“Hemm, ya, terserah kamu aja, Sayang,” sahut Radit.
“Tapi kalau memang ada persalinan, aku harus tetap bertugas sih.”
“Ya iyalah, masa aku yang gantiin tugas kamu. Kan lucu.”
“Hahaha.”
“Kasian banget istri aku, capek banget ya?”
“Huum.”
“Ya udah, sekarang senderan. Tidur aja.”
“Eum, iya.”
Aku bersender pada kursi mobil, mencoba untuk memejamkan mata. Sementara Radit menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang lain fokus menyetir.
....
Aku tidur sangat lelap, hingga tak sadar kami telah sampai di depan rumah. Radit bahkan berkata dia tak tega untuk membangunkanku. Kurasakan pipiku basah saat terbangun, memalukan. Radit pasti melihat aku ileran tadi saat tidur.
“Kamu mau mandi atau lanjut tidur lagi? Tanya Radit.
“Huaaaam. Aku mau makan,” jawabku.
“Makan?”
“Iya, Dit. Aku mau makan.”
“Makan apa dong kita?”
“Seblak pedas.”
“Seblak?”
“Iya.”
“Tapi aku gak bisa bikin seblak, Dhea.”
“Lihat resep di yutub gih.”
“Jadi aku yang masak?”
“Iya.”
“Hemm.”
Aku dengan manja kembali berbaring di sofa, lalu menyalakan televisi. Sementara Radit benar-benar melakukan apa yang aku minta. Apa susahnya membuat seblak, kesusahan itu hanya untuk orang yang malas. Seperti aku. Haha. Aku pun tertawa di depan televisi, melirik pada Radit yang mempelajari resep membuat seblak di internet.
Tak lama, suara blender terdengar dari dapur. Semua bahan memasak ada di kulkas, jadi tidak akan sulit bagi seorang perfect seperti Radit untuk mewujudkan keinginanku makan seblak di siang hari ini.
Aroma bumbu menguar dari dapur, terasa membuat perutku makin keroncongan. Entah kenapa hari ini aku ingin makan seblak. Padahal aku belum pernah memakannya sama sekali.
Seblak itu kerupuk, makanan khas orang Jawa Barat. Orang-orang di daerah itu pandai sekali berinovasi, menciptakan menu-menu jajanan baru yang akhirnya laku keras di pasaran. Kerupuk di rebus, dicampur dengan bumbu khas Indonesia. Ditambah dengan banyak cabai, dan tambahan topping banyak rupa. Seblak pun akhirnya memiliki banyak penggemar di seluruh Indonesia, tak hanya di daerah asalnya.
Pernah kubuka sebuah video, buatan salah satu konten kreator konyol Indonesia. Dia memberi nama video itu, Seblak Kodok. Seblak kodok khas thailand. Satu kodok Bangkok besar, dimasak bersama seblak. Berhasil membuatku ingin muntah ketika menontonnya.
“Dhea ... Tolong cicipin dong,” ujar Radit nyaring dari dapur.
“Apa?”
“Cicipin bumbu seblaknya, pas apa enggak.”
Aku pun dengan langkah pura-pura malas, berjalan ke dapur. Di wajan besar, Radit telah berhasil membuat seblak pedas dengan campuran mie, sosis dan ceker. Aku mencicipi sedikit kuahnya, dan rasanya sangat luar biasa. Aku bingung mengapa Radit diciptakan sepandai ini.
“Gimana, Sayang?” tanya Radit dengan tatapan penuh harap.
“Enak banget, ini seblak terenak yang pernah aku makan,” jawabku.
“Hyperbola banget kamu, Dhea. Kan kamu gak pernah makan seblak sebelumnya.”
“Ya iya, tapi aku yakin buatan kamu itu yang paling terenak di dunia.”
“Ngalahin master chef Indonesia?”
“Oh, pasti. Master Chef Indonesia mah lewat.”
“Hadeuh. Istriku ini emang ajaib banget.”
“Jiahahaha.”
Radit lalu menghidangkan seblak ke dalam mangkuk, ada tiga mangkuk seblak karena memang dia membuatnya terlalu banyak.
“Ini banyak banget, Dit.”
“Iya, banyak banget. Kamu kasih Kak Rina gih satu mangkuk, kali dia suka.”
“Cieee, mau ngasih kak rina?”
“Lah, kan dia selama ini sering ngasih-ngasih ke kita.”
“Iya, sampai minyak-minyak setan pun dia kasih.”
“Ya, jangan gitu, lah. Kejahatan harus kita lawan dengan kebaikan.”
“Ehmm. Oke oke.”
“Kalau gitu aku anter ke sana dulu, ya. Kamu makan aja.”
“Kenapa harus kamu yang anter? Kamu mau ketemu sama Kak Rina? Kangen?”
“Enggak gitu lah, Dhea.”
“Ya udah, aku aja yang anter.”
“Iya, deh. Terserah kamu.”
Semangkuk seblak pun akhirnya kubawa ke rumah Kak Rina. Meski sebenarnya malas juga. Hitung-hitung ini menjadi balasan yang akan membuat hatinya semakin terbakar. Cinta Radit padaku tidak akan semudah itu bisa dia rebut, apa pun masalah atau racun yang dia kirimkan, aku dan Radit akan bisa menghadapinya.
“Assalamualaikum,” ucapku di depan pintu Kak Rina.
Cukup lama aku menunggu sampai Kak Rina keluar dan menjawab salamku. Dari raut wajahnya seperti orang baru bangun tidur.
“Bidan, ada apa ya?”
“Ini, Kak. Mau nganterin seblak.”
“Seblak?”
“Iya, masakan buatan Radit. Enak lho, Kak. Kakak pasti suka.”
“Wah, terima kasih ya, Bidan.”
“Iya, Kak. Sama-sama. Kalau gitu saya pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, eh, tunggu saya salin dulu mangkuknya.”
“Gak usah, Bidan. Nanti aja.”
“Ya sudah kalau begitu.”
Aku pun kembali ke rumah, menghampiri Radit di meja makan. Dia tak memulai makan duluan karena sengaja menungguku. Kami pun makan seblak buatannya dengan lahap. Pedasnya seblak membuatku jadi lebih bersemangat.
“Dit, kamu bakat banget ya masak,” ucapku.
“Masya Allah, alhamdulillah kalau kamu mikir gitu,” sahutnya.
“Gimana kalau kamu pensiun aja jadi guru, terus kita jualan seblak!”
“Ehmm, boleh juga.”
“Serius?”
“Ya enggak, lah. Dhea. Ngapain coba.”
“Jiahaha. Kan siapa tahu kamu udah jenuh jadi guru.”
“Menjadi manusia yang bermanfaat itu tidak boleh merasa jenuh.”
“Tapi jadi pedagang juga bermanfaat kan?”
“Iya, semua usaha yang halal itu pasti manfaat. Tapi kan aku pengennya jadi guru aja, bukan jadi pedagang seblak.”
“Eum, iya, iya.”
Aku tersenyum menatap Radit, dia selalu menanggapi pembicaraanku meski aku bicara asal-asalan. Hidup tidak mungkin selalu membicarakan hal-hal serius, kalau tanpa bercanda bisa-bisa semua orang akan menjadi gila. Bercanda dengan seseorang yang dicintai, pasti akan menjadi moment yang selalu dirindukan hati.