Bab. 44. Petihang

1236 Kata
Malam hari, aku memberi resep obat pada Ahmad. Namun, anehnya, semakin malam batuk Ahmad malah semakin sering. Aku dan Della menjadi khawatir lagi. “Itu kalau kata orang, batuk anjing,” ucap Nenek Ahmad yang sedang menyirih. “Maksud Mama apa?” tanya Della. “Iya, batuk yang terus-terusan dan susah berhenti,” lanjut Nenek Ahmad. “Emang anjing bisa batuk?” Bisik Radit. “Kamu ini ya, namanya juga perumpamaan, Dit.” “Oh gitu.” Nenek Ahmad terus menyarankan obat-obat yang menurutku tidak masuk akal, sampai dia mengatakan bisa menggunakan sedikit bulu anjing yang dibakar lalu digosokkan pada leher bayi. Tentu aku langsung menolak, dan memberi penjelasan pada Della bahwa itu tidak benar. Batuk Ahmad semakin menjadi-jadi, kuputuskan untuk segera membawa Ahmad ke rumah sakit saja, walau malam sudah sangat larut. “Kamu bisa kan Dit, nyetir ke kota malam ini?” tanyaku. “Bisa, aku sih khawatirnya sama kamu, Dhea.” “Aku gak apa-apa, kok. Ayuk kita pergi sekarang. Della, kamu sudah siapkan keperluan Ahmad kan?” “Sudah, Bidan.” “Tapi, Mama kamu gimana?” “Gak apa, Bidan. Aku sudah minta tolong tetangga untuk melihat Mama nanti.” “Oh, gitu. Ya udah, ayok kita berangkat.” Mobil mulai melaju, aku semakin tak tega melihat Ahmad yang terus menangis dan batuk. Hingga akhirnya dia pun muntah, muntahannya berwarna merah kental. Ini mengingatkanku persis pada mimpi burukku malam itu. “Radit! Ahmad muntah darah!” jeritku. “Subhanallah, kamu jangan panik dulu, sebentar lagi kita akan sampai kok.” Ucap Radit. Jarak menuju kota cukup jauh, jalanan yang sepi tapi gelap, sedikit membuat perjalanan kami terhambat. Aku memeluk Ahmad, memberikan air hangat untuknya. Aku terus berdoa, sementara Della sudah semakin panik dan menangis melihat Ahmad. “Della, kamu doain Ahmad, Della,” ucapku. Aku pun tak bisa menahan air mata kecemasanku. Wajah Ahmad terlihat kepayahan, batuknya masih saja datang. Kupeluk dia, berharap Allah menghilangkan sakitnya. Sedih sekali melihat Ahmad dalam keadaan seperti ini. “Ahmad, kamu yang kuat, ya,” ucapku. Cukup lama, sampai Radit akhirnya bisa memastikan kami telah berada di kota Palangkaraya. Ahmad sudah tertidur, matanya bahkan bengkak karena terus menangis. “Kita langsung ke rumah sakit aja, Dit,” ujarku. “Iya, Sayang. Ini aku langsung ke rumah sakit, kok.” “Kasihan Ahmad, Dit.” “Iya, yang sabar.” Sesampai di rumah sakit, kami langsung meminta agar Ahmad diperiksa. Dengan dokter spesialis anak, Ahmad pun dibawa ke ruang ICU. Cukup lama proses hingga bisa mengetahui penyakit yang sedang di derita Ahmad. “Sudah jam dua pagi, Sayang. Aku ke mushola dulu, ya,” ujar Radit. “Dit, tolong kamu doain Ahmad, ya.” “Iya, tanpa kamu suruh aku juga selalu doain dia. Kamu dan Della standbye di sini.” “Iya.” .... Setelah melihat hasil pemeriksaan, aku dan Della juga Radit, terkejut mendengar pernyataan dokter. Dokter menjelaskan kalau Ahmad hanya batuk biasa. Bahkan muntah darah itu pun tidak ada dampak dari paru-paru atau pun asma. Aku menjadi teringat pada apa yang kualami dulu, batuk parah yang terjadi sebelum pernikahan. Bisa jadi, Ahmad juga mengalami hal yang sama. Dia terkena pulih, entah oleh siapa. “Dit, jangan-jangan Ahmad kena pulih, kena teluh!” kataku pada Radit saat kami keluar dari ruang dokter. “Astaghfirullah, mana mungkin, Dhea. Siapa yang tega ngelakuin itu sama bayi?” “Siapa aja bisa tega, Dit. Aku gak mau mikir pengirimnya siapa, aku Cuma mau Ahmad sembuh!” Della diam saja mendengar ucapanku, kami mengelilingi Ahmad yang telah tertidur di tempat tidur khusus bayi. Ahmad sedikit terbantu dan dapat tidur nyenyak dengan penanganan dari rumah sakit “Bidan, maksud bidan apa?” tanya Della. “Dulu aku sempat kena pulih, Del. Dan alhamdulillah bisa terobati karena dibantu Radit, dan atas pertolongan Allah juga,” jawabku. “Pak Radit bisa mengobati ya? Seperti Ustaz Ibrahim?” “Iya.” “Kalau gitu, saya minta tolong sama pak Radit. Tolong Pak Radit, tolong bantu sembuhkan Ahmad. Kasihan anak saya.” Radit terdiam mendengar ucapanku dan Della. Akhirnya dia pun mau mencoba pengobatan ruqyah untuk Ahmad. Radit membaca ayat dan doa-doa dan diperantarakan dengan segelas air putih. Air itu akan diminumkan untuk Ahmad, juga digosokkan ke badannya. “Semoga Ahmad lekas sembuh, dan tidak ada gangguan apa pun lagi,” ucap Radit selesai mendoakan. “Aamiin.” Aku meminumkan sedikit demi sedikit air ke mulut Ahmad, juga mengompres leher Ahmad dengan kain dari air itu. Ahmad masih tertidur nyenyak, dan aku bersyukur batuknya sudah jarang terdengar. Della menghubungi suaminya yang sedang bekerja, butuh waktu lama untuk suaminya datang karena lokasi kerja cukup jauh. Tak bisa kubayangkan kalau Della harus mengurus Ahmad seorang diri. Kalau benar kecurigaanku bahwa Ahmad terkena pulih, aku bertanya-tanya siapa yang telah tega melakukan itu pada bayi kecil yang baru lahir ke dunia. Apa Kak Rina? Tapi ini sudah cukup lama sejak aku dan Radit mengantar Ahmad pulang. Kak Rina tidak mungkin ada kesempatan untuk mencelakai Ahmad. “Della, coba kamu ingat-ingat, apa ada sesuatu yang kamu lakukan baru-baru ini?” tanyaku pada Della. Della lalu terdiam, seperti mencoba untuk mengingat sesuatu. Sedangkan Radit sudah pamit untuk ke masjid, juga akan mencari makanan untuk kami. Tak terasa hari sudah berganti, aku dan Della jadi tak mengurus diri karena fokus memperhatikan Ahmad. “Entah, lah, Bidan. Sepertinya saya tidak ada melakukan kesalahan. Cuma memang, kemarin saya sempat memetik daun sirih milik tetangga tanpa bilang dulu, karena tetangga saya itu lagi tidak di rumah. Saya lupa minta izin. Apa mungkin tetangga saya itu pakai petihang?” “Memangnya sirih itu buat apa?” “Saya rendam untuk diminumkan ke Ahmad, Bidan. Saya ngikutin apa kata neneknya Ahmad.” “Eumm. Kalau begitu, nanti saat pulang, kamu terus terang sama tetangga kamu. Kita hanya perlu memastikan, kalau apa yang masuk ke dalam tubuh Ahmad itu sesuatu yang halal.” “Iya, Bidan.” Petihang hampir sama dengan Pulih. Biasanya dipakai untuk melindungi tanaman. Di kampung orang yang kita asing, kita harus waspada untuk tidak mengganggu tanaman apa pun. Kalau tidak, bisa terkena penyakit atau pengaruh sihir. Memasang petihang bisa membuat orang-orang tidak mengganggu tanaman atau pohon buah kita. Kadang orang-orang akan melihat penampakan ular besar di pohon itu hingga takut untuk mengganggu. Kadang juga langsung dipakai tanpa petanda, hingga yang tak sengaja memetiknya pun menjadi korban. Ibuku selalu mengingatkan setiap aku akan pergi ke tempat baru, tangan tidak boleh jahil asal-asalan menyentuh benda atau sesuatu apa pun milik orang lain. Tak lama, Radit datang membawa makanan. Tak terasa aku makan dengan lahap karena menanggung lapar dan dahaga yang terasa sangat. Begitu juga , usianya sangat muda. Seusia dia belum tentu bisa menyelesaikan masalah sendiri. Ahmad pun terbangun setelah tidur yang sangat nyenyak. Terus kuminumkan air doa dari Radit, dan aku melihat kondisinya telah semakin membaik. “Alhamdulillah, sepertinya Ahmad sudah semakin baikan,” ujar Della sembari mengelus kening putranya. “ Alhamdulillah, semoga kita bisa segera pulang dari sini,” sahutku. “Suami saya mungkin hari ini sampai, Bidan,” ucap Della. “Syukurlah, berarti akan ada yang menemani kamu di rumah.” “Iya, Bidan.” “Kalau bisa, percepat saja tasmiyahannya. Aku dan Radit akan bantu.” “Iya, Bidan. Kata saya dan suami saya juga gitu.” “Syukurlah.” Tasmiyah sejatinya tidak perlu menunggu sampai empat puluh hari. Semakin cepat akan semakin baik. Semoga ini juga menjadi penjaga untuk Ahmad, semoga tidak ada sakit apa pun lagi yang mengganggunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN