Bab. 43. Ahmad Sakit

1473 Kata
Dering telepon membangunkanku, tepat saat jarum jam telah berada di pertengahan malam. Kulihat layar gawai, kudapati nama Della yang menelepon. Segera aku mengangkat telepon, dan terdengar lah suara tangisan Ahmad yang sudah lama aku rindukan. “Halo, Della. Ada apa?” tanyaku dengan perasaan gugup. “Ahmad, Bidan. Dari kemarin batuknya gak sembuh-sembuh. Sudah saya kasih obat dari mantri tapi tetap gak sembuh, sekarang dia nangis terus.” “Ya Allah, kenapa kamu baru telepon sekarang. Kalau gitu aku akan cepat ke sana, ya.” “Iya, Bidan. Saya harap Bidan bisa bantu saya.” “Iya.” Aku segera mematikan gawai dan membangunkan Radit dengan menggoyangkan tangannya. “Eum, ada apa, Dhea?” “Ahmad sakit batuk, Dit. Kita harus ke sana. Kasihan dia nangis terus.” “Ehm, ya udah. Tunggu dulu sebentar.” Aku pergi ke rumah dinas, tanpa menghiraukan lagi rasa takut yang datang setiap akan memasukinya. Kuambil alat uap yang masih baru dan tak pernah kupakai selama ini, masih tersimpan rapi di lemari. Kubuka buku resep obat anak yang kucatat dari dokter spesialis saat bertugas di puskesmas. Radit telah menunggu di atas motor, aku gegas menghampirinya setelah perlengkapanku siap. “Pegangan yang erat,” ucap Radit. “Eh, kenapa kita naik motor?” “Lah, terus mau naik apa, Dhea?” “Mobil kamu lah.” “Naik motor lebih cepat, Sayang.” “Gak mau, aku mau naik mobil aja!” Radit pun mengalah dan mengikuti permintaanku. Cukup lama menyiapkan mobil, karena perlu dipanaskan dulu. Hingga akhirnya kami pun siap meluncur ke Menduing, tempat Ahmad tinggal. Perasaanku jadi tak karuan, aku khawatir pada Ahmad. Bayi itu usianya bahkan belum sebulan, masih sangat kecil untuk bersentuhan dengan obat-obatan. Aku berharap obat-obat yang kubawa dapat membantunya kalau memang dibutuhkan. Sebenarnya Nebulizer tidak terlalu dibutuhkan, kalau pasien tidak mengalami asma. “Dit, kita harus bawa Radit ke dokter spesialis anak,” ucapku pada Radit di tengah perjalanan. “Bukannya kamu bawa alat-alat dan obat kulihat.” “Iya, tapi aku kan bukan dokter. Aku gak bokeh seenaknya.” “Aku yakin kamu bisa.” “Gak, gak bisa gitu.” “Hemm, aku ikut apa kata kamu aja, deh.” Sesampai di Menduing dan tiba di rumah Della, aku langsung masuk ke rumah. Di rumah hanya ada Della, Ahmad, dan neneknya. Ayah Ahmad pasti masih bekerja. “Bidan. Ini Ahmadnya baru tertidur sebentar,” ujar Della. Kulihat Ahmad di tempat tidur, wajahnya seperti mengalami kepayahan. Batuk dan filek pasti sangat mengganggu waktu tidurnya. “Di rumah ini ada yang merokok?” tanyaku. “Enggak, Bidan. Saat saya hamil, saya sudah suruh Ayahnya Ahmad untuk berhenti merokok. Dan sampai sekarang dia sudah gak pernah merokok di dalam rumah,” jawab Della. “emm, Kamu tolong siapkan air hangat, ya.” “Baik, Bidan.” Air hangat Della tuangkan ke baskom kecil, lalu kutuang beberapa tetes minyak kayu putih ke dalamnya. Ini adalah cara uap alami, kuharap bisa membantu melegakan pernapasan Ahmad. Kuletakkan Ahmad dalam pangkuanku, sedikit kuturunkan kepalanya untuk mendapatkan uap dari air hangat dan minyak kayu putih. “Jagoan, cepat sembuh ya,” ucap Radit setelah membacakan doa untuk Ahmad. “Aamiin.” “Aamiin. Oiya, Bidan. Ini obatnya, sudah dari kemarin saya kasih, tapi gak ada perubahan. Hanya hilang sebentar batuknya, setelah itu kambuh lagi,” jelas Della. “Kamu dapat ini dari puskesmas?” “Enggak, Bidan. Dari mantri di sini saja.” “Saya sudah bawa obat, kita coba pakai yang saya bawa. Kalau sampai besok pagi batuknya masih, kita bawa ke dokter spesialis di kota.” “Saya ikut apa kata Bidan aja.” Ahmad terbangun dan mulai rewel, batuknya pun kembali datang. Batuk itu tak berhenti sampai akhirnya Ahmad muntah, sungguh menyakitkan melihat bayi berada di keadaan seperti ini. Aku memberinya obat dari yang kubawa, sesuai dengan aturan dosis. Dadanya juga kubaluri dengan minyak telon. Setelah minum obat, batuknya sedikit reda dan Ahmad kembali dapat memejamkan matanya lagi. Selain Ahmad, kulihat Della juga kelelahan. Dia pasti kelelahan karena harus begadang menjaga Ahmad seorang diri. Ibunya yang sudah tua hanya bisa duduk menemaninya, sesekali juga menyarankan obat tradisional. “Della, kamu pergi tidur aja. Biar Ahmad aku yang jaga,” kataku pada Della. “Apa gak apa-apa, Bidan?” “Gak masalah, cepat tidur. Kamu juga jangan sampai sakit.” “Baik, Bidan.” Kulihat Della pergi kamar Ibunya, dan dengan cepat dia tertidur di sana. Sedang aku masih berdiri dengan Ahmad dalam gendongan. Rasa rindu dan cemas membuatku tak peduli pada rasa lelahku sendiri, sedang Radit sepertinya juga tertidur lagi di ruang tamu. Bayi baru lahir rawan sekali sakit, dan flu serta batuk menjadi yang paling sering datang mengganggu. Syukurlah Ahmad tidak demam, walau badannya terasa agak hangat. Ahmad dapat tidur nyenyak hingga pagi, aku bersyukur dia bisa tidur lebih lama malam ini. “Sayang?” “Iya, Dit?” “Aku mau ke masjid dulu, ya.” “Iya.” “Nanti aku bawakan sarapan.” “Iya.” Radit berlalu pergi, sementara Della kulihat masih sangat pulas dalam selimutnya. Harusnya dia tak sendirian menjaga Ahmad, ibu muda seperti dia bisa jadi rentan stres karena kewalahan. Senyum Ahmad pun terbit, ketika dia bangun. Meski masih ada batuk, batuknya tidak separah semalam. Tatapannya sangat kurindukan, dan mungkin dia juga merindukanku. Aku pergi ke dapur dan menyiapkan air hangat, untuk menyeka wajah dan tubuh Ahmad agar dia merasa lebih segar. Kamar tidur Della berantakan sekali, sepertinya dia tidak punya waktu untuk beres-beres karena fokus mengurus Ahmad. Tubuh Ahmad sudah semakin gendut, tubuhnya juga memanjang. Kalau tidak karena batuk dan pilek, pasti harinya akan baik-baik saja. Walau sedang sakit, dia tetap bisa tersenyum padaku dan melelehkan perasaan rinduku. “Bidan, Ahmad sudah bangun?” tanya Della yang rambutnya terlihat kacau karena baru bangun tidur. “Iya, alhamdulillah batuknya sudah agak mendingan,” sahutku. “Alhamdulillah.” “Kamu cepat mandi, Della. Bersihkan kamar kalian, siapkan makanan untuk mama kamu, ya?” “Iya, Bidan. Maaf ya, saya ngerepotin Bidan.” “Enggak, Della. Biar Ahmad saya bawa keluar dulu, udara pagi bagus untuk dia.” “Iya, Bidan.” Aku menggendong Ahmad ke luar rumah, kulihat Della menuruti permintaanku. Dia mulai mengumpulkan barang-barang kotor dan mencucinya. Kalau ada suaminya, pasti pekerjaan rumahnya tidak akan seberantakan ini. Ahmad terlihat nyaman dalam gendonganku, meski batuknya masih kadang datang. Mendengar irama pernafasannya, kurasa Ahmad tidak memiliki gejala asma. “Sayang, Ahmad udah bangun?” Radit datang menghampiri. “Iya, Sayang. Udah agak mendingan kayaknya, alhamdulillah,” sahutku. “Alhamdulillah kalau begitu. Kasihan banget lihat dia batuk-batuk kayak semalam itu.” “Iya. Kasihan banget kalau lihat bayi sekecil ini udah sakit.” “Jadi, kita jadi gak berangkat ke rumah sakit?” “Eumm, kayaknya dipending dulu deh. Kita lihat sampai besok. Semoga dengan bantuan obat aku dari aku dia bisa sembuh.” “Eum, ya udah kalau gitu.” “Kayaknya aku harus nginep di sini dulu, Sayang.” “Nginep di sini lagi?” “Iya. Gimana?” “Ya, gak masalah. Lagi pula di sini kan tetanggaan sama Ustaz Ibrahim. Tapi kayaknya rumahnya dia lagi gak ada orang waktu aku lewat tadi.” “Hemm, aku mau nemenin Della dulu. Kasihan dia ngurus Ahmad sendirian pas lagi sakit gini.” “Hemm, iya, bagus deh kalau gitu. Tapi aku harus ngajar kan, gimana?” “Kamu pulang aja dulu ke desa, sorenya kamu ke sini lagi, sekalian bawa baju ganti aku.” “Hemm, oke deh kalau gitu.” Radit kembali sendirian ke desa, setelah membelikan banyak makanan untuk makan pagi kami. Della terlihat senang karena aku memutuskan untuk menginap, Della menjadi seperti adikku sendiri. Usianya memang jauh dibawahku, dan rasanya memang seperti adik kakak saja. “Cuma pas ada Bidan nih, aku jadi ada kesempatan nyisir rambut,” ucap Della di depan cermin. Setelah Radit sudah tidak di rumah. “Gawat tuh, entar suami kamu serem ngelihatnya, Della.” “Abisnya, rempong banget jadi mama muda.” Astaga! Melihat Della menyisiri rambut panjangnya itu langsung membuatku teringat pada kejadian kesurupan di puskesmas. Mendadak aku merasa seram melihatnya. “Del, rambut kamu potong aja. Serem tahu!” ucapku. “Kenapa, Kak? Ini udah gak pernah kupotong lama banget, sayang tau.” “Jadi keinget pas kamu kesurupan di puskesmas.” “Haha. Oh iya, ya? Ya Allah, aku gak nyangka Kak bisa kesurupan, sampai gak percaya aku pas Ayahnya Ahmad cerita aku kesurupan.” “Kamu salatnya rajin kan?” “Hehe. Masih bolong-bolong, Kak.” “Hemm. Salatnya jangan sampai bolong dong. Dzikir ngaji juga jangan lupa, biar benteng kamu kokoh.” “Gitu, ya, Kak?” “Iya, lah.” Della tersenyum saja mendengar nasihatku, lalu dia mengambil alih untuk memangku Ahmad sebentar. Karena aku tak kuasa lagi menahan rasa kantuk, tanpa mandi dan dengan perut yang sudah terisi, aku pun tertidur di kamar Ahmad.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN