Bab 42. Suami Idaman

1496 Kata
Pernikahanku dengan Radit, baru akan masuk usia delapan bulan. Masih masa manis-manisnya, walau seminggu waktu itu sudah pernah merasakan repotnya mengurus bayi. Ya, benar-benar seperti hanya sedang belajar untuk menjadi orang tua. Setelah menikah, entah kenapa jadwal persalinan yang harus aku tangani jadi semakin berkurang. Mungkin belum musimnya orang-orang ingin memiliki keturunan. Kalau sudah musim, kamu akan melihat orang hamil dengan perut besar di mana-mana. Mengisi waktu luang, aku membersihkan rumah dinasku saja hari ini. Kuminta dua orang pemuda desa yang terkenal bisa mengecat rumah, untuk membantuku memperbarui cat rumah dinas. Warna ungu kupilih agar lebih cantik dan tak lagi terlihat membosankan dengan warna putih. Kurapikan barang-barang dan kututup dengan kain agar tak terkena noda cat, nanti akan kuminta salah satu tetangga untuk membersihkan lantai rumah. Tentu saja aku tak meminta dengan Cuma-Cuma, ini tidak gratis dan aku harus merogoh kocek sendiri untuk membayar mereka. “Bidan?” Kak Rina mengganggu duduk santaiku di selasar rumah dinas. “Iya, Kak,” sahutku. “Renovasi rumah ya?” “Iya, alhamdulillah bisa renovasi catnya.” “Warna catnya cantik, saya suka sekali warna ungu.” “Ohya?” “Iya, Bidan.” “Eum, anak-anak mana, Kak?” “Ada, Bidan. Biasa lah, lagi main.” Makin hari, kuperhatikan penampilan Kak Rina makin oke saja. Kali ini dia tak lagi memakai pakaian sexy, dia menggunakan gamis panjang walau belum menggunakan hijab. Rambut panjangnya digerai, wajahnya memang putih bersih. Ya, dia cantik. Tak lama terlihat Radit datang, dia langsung memarkirkan motor di depan rumah. Mungkin karena melihat aku bersama Kak Rina, Radit langsung saja masuk ke rumah tanpa menyapa kami dulu. “Pak guru udah pulang tuh,” ucap Kak Rina. “Hemm, iya, Kak. Aku pulang dulu ya,” sahutku. “Senang ya, masih ada suami. Ada yang ditungguin di rumah,” lanjutnya. “Kakak kenapa gak nikah lagi aja? Kan Kakak masih muda, cantik pula,” sahutku. “Saya mau dapat yang baik seperti Pak Guru,” gumamnya. “Radit?” lirikku. “Iya, yang soleh dan baik hati seperti Pak Radit.” “Haha, semoga ya, Kak. Semoga Kakak mendapatkan yang lebih terbaik dari suami aku.” “Aamiin.” “Ya udah, Kak. Aku masuk dulu.” “Iya, Bidan.” Suami seperti Radit, kurasa setiap perempuan memang menginginkan laki-laki pendamping seperti dia. Bukan hanya Kak Rina. Kak Rina kalau kutawari jadi isteri kedua, pasti dia tidak akan menolak. Radit telah selesai berganti pakaian, dan sekarang dia sedang salat duha di kamar. Bahagianya aku memiliki suami yang selalu taat pada Allah seperti dia, kadang aku saja malu karena masih tak bisa serajin dia dalam hal ibadah. Kubuatkan secangkir teh hangat, lalu kuletakkan di atas meja makan. Makanan untuk makan siang juga telah kusediakan, tinggal menunggu pujaan hatiku itu datang. Dan kami akan makan bersama. “Udah salatnya?” tanyaku setelah terlihat Radit ke dapur. “Udah, kamu udah belum?” “Udah.” “Salat duha?” “Salat subuh. Hehe.” “Hemm, kan udah aku bilang, mulai biasakan salat sunnah juga.” “Iya, iya. Makan aja dulu.” “Hemm, kamu masak apa?” “Masak lodeh ayam.” “Lodeh ayam? Enak nih kayaknya.” Radit terlihat bersemangat menatap masakanku, lalu dia mengambil banyak sekali nasi dan makan dengan lahap. Isteri mana yang tak senang melihat suaminya makan masakannya dengan lahap. “Enak banget, Sayang. Kamu makin pinter masaknya,” puji Radit. “Masa sih?” tanyaku iseng. “Iya. Apa lagi makan sambil dilihatin sama kamu.” “Kalau dilihatin Kak Rina?” “Hah? Apaan sih, malah sebut nama tetangga.” “Hehehe. Iseng aja. Tadi aku ngobrol sama dia.” “Terus?” “Aku tanya, apa gak mau nikah lagi?” “Terus?” “Terus dia bilang mau, tapi mau cari yang kayak kamu, Dit.” “Kayak aku? Haha.” “Iya, yang ganteng, soleh, baik dan perhatian sama isteri. Kamu banget kan?” “Hemmm, auto pengen terbang deh aku dengernya. Haha.” “Makanya, aku merasa beruntung banget bisa dapetin suami kayak kamu, Dit.” “Yang paling beruntung itu aku, bisa dapetin isteri yang selalu bersyukur dengan apa adanya suami.” Aku tersenyum bangga menatap Radit. Berharap semoga keharmonisan ini dapat selalu terjaga, sampai nanti kami menua bersama. Setelah makan siang, kami duduk santai di depan televisi. Menyaksikan berita kriminal, acara kegemaran Radit yang menurutnya lebih bermanfaat. Padahal rasanya mengerikan setiap mendapat kabar tragedi-tragedi pembunuhan atau perundungan. “Makin tua dunia, makin kejam aja manusianya,” gumamku. Setelah melihat kabar pembunuhan yang terjadi di suatu daerah hanya karena masalah sepele. Seorang pengunjung minimarket, membunuh seseorang di minimarket itu karena tak terima dikatai botak. Siapa sangka sebuah kritikan pada penampilan, yang bahkan mungkin hanya sebuah candaan, bisa berujung pada maut yang mengenaskan. “Iya, perasaan manusia makin mudah emosi dan tersinggung. Karena beban dan masalah kehidupan yang semakin membuat pusing kepala. Apa lagi kalau kebetulan orang itu orang yang jauh dari Allah, mudah terhasut godaan syetan dan akhirnya tak bisa mengontrol dirinya,” sahut Radit. Sembari menggigit biskuit. “Makin susah dong ngajakin orang becanda?” tanyaku asal. “Becanda itu lihat kondisi, dan jangan bercanda soal fisik, gak asik,” jawab Radit. “Eum, mungkin yang botak itu lagi berantem ama istrinya di rumah. Atau lagi banyak utang, jadi baperan.” “Makanya itu, jangan asal becanda apa lagi sama orang yang gak kita kenal.” Aku menatap Radit, dia terlihat serius menonton dan mengamati berita yang disampaikan pewarta. Aku malah jadi mengantuk, segera kurebahkan kepalaku di atas paha Radit. “Ngantuk?” “Iya, nih, Dit.” “Bentar lagi dzuhur, salat dulu.” “Eumm, kan belum adzan.” “Tidur di kamar sana.” “Maunya di sini aja.” “Hemmm.” Baru saja mataku ingin terpejam, terdengar sayup suara adzan berkumandang. Radit pun memintaku bangun, dan dia dengan sigap mengganti pakaian lalu pergi ke masjid. Kutengok ke rumah dinas, melihat pekerjaan tukang cat. Rupanya mereka sudah hampir selesai, dan meminta izin untuk pulang sebentar. Aku juga bergegas mengambil wudhu, lalu pergi salat dzuhur. Rasa kantuk yang tadi mendera, tiba-tiba sudah hilang. .... Aku terlelap di tempat tidur, hingga tak kusadari waktu sudah semakin sore. Radit tidaj ada di kamar, entah di mana dia. Tercium aroma pisang goreng dari luar kamar, memancingku untuk segera ke luar. Ada lima buah pisang goreng di atas meja, terlihat lezat hingga aku tak kuasa menahan diri ingin menyantapnya. Hap, rasanya sudah lama sekali aku tidak makan pisang goreng. Radit pasti membelinya. “Sayang?” Radit tiba-tiba datang dari luar. “Kamu dari mana?” tanyaku. “Beli gado-gado, laper,” jawab Radit. “Eum, ini pisang goreng kamu yang bikin apa beli?” “Eum, gak tahu. Aku gak ada beli atau bikin.” “Serius?” “Iya. Ada yang kasih kali.” “Jangan-jangan dari Kak Rina. Gawat! Aku udah makan dua biji.” “Ya udah, gak apa. Entar kamu tanya aja sama dia.” “Ya Allah. Harusnya aku gak makan ini.” “Emang kenapa?” “Kalau ada apa-apa nya gimana?” “Kebiasaan deh, berprasangka buruk.” “Emang.” “Hemmm. Ya udah, makan gado-gado aja lagi.” Aku pun mencoba berpikir positif, Radit pun dengan cuek menghabiskan pisang goreng yang tersisa. Setelah itu kami saling menyuapi makan gado-gado yang dibelinya. “Pedas banget, Dit,” ucapku. “Cabenya enam,” sahut Radit. “Pantesan.” “Tapi gak terlalu pedas, masih dominan manis.” “Pedas lah, ini.” “Tapi enak kan?” “Enak.” “Ya udah makan aja.” Meski pedas, gado-gado itu pun tandas. Dilengkapi dengan seteko es teh, lengkaplah sudah cemilan sore yang mengenyangkan. Aku bersiap pergi mandi, dan kulihat Radit memilih untuk kembali duduk santai di selasar rumah. Sembari memperhatikan kegiatan orang yang kusuruh mengecat rumah dinas. “Oiya, Dit. Kamu tadi gak beliin buat mereka?" “Siapa?” “Itu yang lagi cat rumah dinas aku.” “Yang suruh kerja siapa?” “Aku.” “Terus kenapa harus aku yang merhatiin.” “Kok, kamu gitu sih?” “Ya, kan kamu yang mantau dari pagi. Harusnya kamu juga yang sediain minum sama makanannya, Sayang.” “Ya kan aku tadi tidur.” “Paginya udah kamu kasih makan minum belum?” “Udah. Ada kopi sama kue.” “Ya udah, sana. Cepat mandi. Biar aku ke sana liat lagi.” “Gitu dong, makasih ya, Radit.” “Hemm.” Radit sepertinya sedang kekenyangan, jadi dia malas menanggapi pertanyaanku. Aku pun pergi ke kamar mandi, dan membiarkan Radit mengurus sisa-sisa pekerjaanku memantau tukang cat di rumah dinas. Mandi adalah saat menyegarkan yang dapat membuat refresh pikiran. Lemas dan malas yang tadi hinggap karena dampak tidur, jadi hilang seketika dengan kesegaran air dan wangi sabun mandi. Radit menyukai kebersihan, pastinya dia juga ingin memiliki pasangan yang menjaga kebersihan. Sebab itu, aku selalu memperhatikan kebersihan diriku. Aku tak ingin Radit jenuh bersamaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN