Bab. 41. Mimpi Buruk Lagi

1791 Kata
Rumah kembali terasa sepi saat Ahmad tak lagi mengisi. Tidak begitu sepi yang terlalu, akan tetapi rasanya tetap berbeda. Tidak ada lagi suara tangisan bayi, juga suara timang-timang menidurkan bayi. Sepi yang makin membuat harapan besar untuk bisa segera memiliki momongan. Baju Ahmad tak semua kukembalikan, ada satu baju bayi yang sengaja kusimpan untuk menjadi kenang-kenangan. Kuciumi baju itu dengan haru, aku merindukannya lagi saat ini. Aroma minyak telon dan bedak bayi bahkan masih bisa tercium di kamar. Aku juga menyimpan minyak telon dan bedak yang tersisa, untuk menjadi pengobat rinduku. “Udah kangen lagi, ya?” tanya Radit. Dia memergokiku sedang mengoles minyak telon di telapak tanganku. “Iya, Dit. Aku gak nyangka, perasaanku sudah sedalam ini sama Ahmad,” jawabku. “Nanti kita akan terbiasa lagi kok, tanpa kehadiran dia. Dan semoga, akan ada bayi baru yang mengisi rumah kita ini lagi. Bayi buah cinta kita berdua,” ujar Radit mengusap-usap lembut rambutku. “Aamiin,” lirihku. Perjalanan ke Menduing cukup melelahkan, aku dan Radit pun memilih tiduran saja di kamar sembari menunggu waktu sore. Semoga Ahmad tidak rewel di rumah barunya. .... Kami baru saja akan tenggelam dalam selimut, ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seorang laki-laki menggunakan hoodie putih terlihat panik di depan pintu rumah kami, ternyata dia datang dari ujung desa, meminta pertolongan karena anaknya yang demam tinggi. Biasanya warga sini tidak padaku untuk keluhan sakit, mereka hanya datang untuk cek kehamilan dan persalinan. Aku pun segera mengganti pakaian dan mengambil tas medis, melaju bersama Radit mengekori laki-laki muda itu. Sesampai di rumahnya, terlihat ada beberapa orang ikut menjenguk si anak. Ternyata yang sakit adalah bayi berusia delapan bulan, bayi perempuan yang tidak begitu gemuk. Aku langsung mengeluarkan termometer, memeriksa suhu tubuhnya. “Udah dari kapan sakitnya, Pak?” tanyaku. “Dari sore tadi, Bidan. Sepulang kondangan sama Ibunya, saya sudah bilang gak usah bawa anak, dianya gak nurut,” jawab Ayah pasien sembari menatap kesal pada istrinya yang sedang duduk saja di samping bayi. “Dia demam, apa sudah diberi obat lain?” tanyaku. “Obat yang biasa diminumnya habis, Bidan. Jadi saya sekalian saja langsung nyuruh bidan periksain dulu.” Aku mengambil dua botol sirup dari dalam tas, penurun panas yang sangat direkomendasikan di puskesmas. Aku tinggal meresepnya sesuai umur anak. Aku sendiri juga langsung menyuapi anak itu obat, untungnya si Anak tidak begitu sulit diurus. “Ini sudah saya kasih, tunggu sampai tiga jam an. Kasih lagi obatnya. Semoga lekas sembuh, ya,” ucapku. “Terima kasih, Bidan.” “Sama-sama, Pak. Jangan dimarahin ya isterinya. Ibunya pasti juga gak mau anaknya sakit.” “Hehe, iya, bidan.” Aku dan Radit tak langsung pulang, aku tunggu dulu sampai obatnya mulai bereaksi. Si Anak berhenti menangis dan mulai mengantuk, hingga akhirnya dia terlelap dalam gendongan Si Ibu. “Oh, iya, lupa. Aku kan bawa kompresan. ” Aku lupa telah membawa kompresan canggih dengan teknologi Jepang, serupa sticker dengan jell. Jell itu yang akan membantu untuk menurunkan demam anak. Aku langsung menempelkannya di kening pasien. “Terima kasih, Bidan. Saya harus bayar berapa ya?” tanya Ayah pasien. “Gak usah, Pak. Kan saya bilang semuanya gratis,” jawabku. “Ya Allah, baik sekali Bidan. Terima kasih banyak, ya.” “Iya, kalau begitu saya pulang dulu ya. Kalau demamnya gak turun-turun, tolong hubungi saya lagi.” “Baik, Bidan. Terima kasih.” “Ya, sama-sama. Kami pamit dulu ya, assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku dan Radit langsung pulang ketika tugasku selesai. Sebenarnya masih merasa takut berkendara malam-malam begini dengan motor, hingga Radit pun memelankan laju motornya dengan super pelan. “Sepi banget ya, kampung kalau udah malam begini,” ujar Radit. “Iya, gak kayak di kota,” sahutku. “Di kota banyak tongkrongan, banyak pedagang pinggir jalan yang buka sampai tengah malam. Jadi rame.” “Hooh.” Kami pun tiba di rumah setelah menyusuri gang yang sepi. Aku langsung masuk ke rumah dan mencuci tangan juga kaki, lalu menghempaskan diri ke tempat tidur. Sedang Radit masih memastikan dulu semua pintu dan jendela terkunci, juga mematikan lampu-lampu yang tidak dibutuhkan. Ya, kami kembali pada rutinitas tanpa mengurusi popok bayi. “Sayang,” Radit merebahkan tubuhnya di sampingku. “Eum?” sahutku. “Kalau boleh tahu, kenapa pasien yang tadi kamu bebaskan biayanya?” tanya Radit. “Aku jarang diminta periksa anak yang sakit, jadi aku pikir ya udah gratis aja,” jawabku. “Maksudnya, kamu juga gak yakin dengan pemeriksaan dan obat dari kamu?” “Enggak juga sih. Pemeriksaan yang aku lakuin benar kok, obatnya juga yang paling disarankan dokter di puskesmas tiap kami ada meeting soal itu.” “Ehmm, gitu.” “Iya.” “Bagus lah, sekalian jadi sedekah kamu.” “Iya. Aku gak salah kan?” “Enggak, lah. Aku malah jadi makin bangga sama kamu.” “Gitu doang bikin bangga?” “Pekerjaan kamu itu sangat mulia, Dhea Sayang.” “Ehmm, iya. Kamu juga.” “Alhamdulillah kita bisa memiliki pekerjaan yang bermanfaat seperti ini. Bisa membantu banyak orang.” “Iya, Dit. Aku juga selalu merasa bangga dengan pekerjaanku. Tapi ... Apa kamu gak keberatan kalau aku nanti jadi sibuk ngurus kerjaan terus?” “Ehm, enggak lah. Kan kamu fokusnya di persalinan, dan sudah pasti dinas di daerah sini aja. Aku yakin gak akan sampai sibuk-sibuk banget.” “Ehmm, iya, sih.” “Kamu harus pikirkan lebih soal kesehatan kamu, makan teratur dan sehat. Aku juga akan gitu, supaya kita bisa semangat terus setiap hari.” “Iya, Raditku sayang.” “Ya udah, tidur.” “Iya.” Malam pun semakin sepi, gulitanya malam menutupi dua inshan yang tengah berpadu kasih. Berharap bintang kecil hadir mengisi gelap langit, memberi pelengkap keindahan dan dunia menjadi semakin berkerlap-kerlip. .... Aku terbangun di tempat yang sepertinya tak asing, gelap dan hanya ada pepohonan. Sendirian aku duduk di atas tanah. Sedang angin terasa dingin menusuk hingga tulang. Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi, makin lama makin terdengar jelas. Lalu ... Brak! Seseorang melempar gumpalan dengan kain penutup berwarna putih. Aku sangat terkejut saat melihat lebih dekat apa yang tadi dilempar ke hadapanku. Ahmad! Wajah bayi kecil itu memucat biru, dari mulut dan hidungnya keluar darah. Tidak mungkin! Ahmad! “Dhea?” “Ahmad!” Mimpi, benar-benar hanya mimpi ketika kulihat Radit duduk di hadapanku. Bisa-bisanya aku mimpi Ahmad dalam keadaan mengerikan seperti itu. “Dhea, kamu ngigo?” “Iya, Dit. Aku mimpi buruk.” “Kalau gitu meludah ke kiri, baca doa dan jangan cerita soal mimpi kamu ke siapa pun.” “Kenapa aku gak boleh cerita?” “Karena itu mimpi buruk. Tidak perlu diceritakan dan berdoalah bahwa itu hanya akan jadi mimpi.” “Iya, Dit.” Aku mengikuti permintaan Radit, lalu kembali berbaring. Rasanya sangat mengganggu pikiranku kalau ini tak kuceritakan pada Radit. “Dit ....” lirihku. “Hemm?” sahut Radit. “Aku mimpiin Ahmad,” lanjutku. “Ehm, bisa jadi karena kamu kangen sama dia.” “Tapi aku takut.” “Jangan berpikir mendahului Allah, doakan saja Ahmad baik-baik di sana.” “Aku harus lihat dia besok.” “Besok? Kita baru sehari ninggalin dia di sana.” “Tapi aku tetap mau lihat dia.” “Ehmm, oke deh.” “Kamu mau nganterin aku kan?” “Ya iya, lah. Sayang. Sekarang tidur lagi gih. Aku gak mau kamu kecapekan.” “Iya.” Sulit rasanya untuk kembali memejamkan mata. Mimpi tadi benar-benar membuatku gugup sampai berkeringat dingin. Aku takut menjadi pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun, aku juga berharap benar apa yang dikatakan Radit, itu hanya mimpi. Dan memang harusnya hanya terjadi dalam mimpi. ... Setelah sarapan pagi aku menelepon nomor ponsel Della, aku hampir lupa menyimpan nomernya di gawaiku saat kami mengantar Ahmad. Setidaknya aku bisa menanyakan kabar Ahmad lewat telepon dulu. Radit sedang mengajar, dan aku tak ingin juga membuatnya jadi sibuk. “Halo, assalamualaikum,” sapaku ketika telepon telah tersambung. “Halo, waalaikumsalam, Bidan Dhea,” sahut Della. “Maaf ya, aku ganggu pagi-pagi.” “Enggak, Bidan. Ini baru selesai memandikan Ahmad.” “Hemm, gimana kabarnya kalian di sana?” “Alhamdulillah, baik Bidan. Ahmad juga gak rewel, anteng sekali.” “Alhamdulillah kalau begitu. Semoga selalu sehat, aamiin.” “Aamiin, Bidan.” “Terus, Ahmad lagi ngapain sekarang?” “Ini sambil saya pakai kan baju, Bidan. Teleponnya saya speaker.” “Boleh gak saya video call?” “Boleh dong, tunggu sebentar ya, Bidan.” “Iya.” Aku memutuskan panggilan telepon, dan menunggu sebentar sampai aplikasi WA Della telah aktif. Beberapa menit kemudian dia pun melakukan panggilan video. Aku bahagia dan lega ketika bisa melihat Ahmad yang tengah terbangun dan sedang bercengkrama dengan Della, ibunya. “Ahmad, aku kangen banget,” ucapku. “Bidan gak mau dateng ke sini?” tanya Della. “Ehm, mau sih. Tapi gak tahu deh kapan,” jawabku. “Gimana kalau nanti pas tasmiyahannya?” “Oh, iya. Insya Allah kami datang.” “Alhamdulillah, karena bantuan Bidan dan Suami Bidan, ekonomi kami jadi mudah. Rejekinya Ahmad.” “Alhamdulillah. Saya senang dengarnya.” “Terima kasih ya, Bidan.” “Sama-sama. Kalau begitu kamu lanjut aja kasih Ahmad s**u dan tidurin dia.” “Eum, iya, Bidan.” “Ya udah kalau gitu, assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku merasa lega melihat Ahmad baik-baik saja, ini berarti aku tidak perlu buru-buru mengajak Radit untuk pergi menemui Ahmad. Semoga tak terjadi hal buruk apa pun pada Ahmad dan keluarganya. Saat melepas gawai, aku membuang pandangan ke jendela. Betapa terkejutnya aku melihat Kak Rina sedang memandangi dari jalan gang. Cukup jauh, tapi tatapannya itu aneh dan mengerikan. Dia memandangi rumahku dengan tatapan seperti orang yang sedang marah. Lalu tak lama, dia berlalu pergi membawa sayur-sayuran di dalam kusak yang dipegangnya. Mungkin dia dari hutan mencari bambu muda dan sayur kelakai. “Radit, kita gak jadi deh ke rumahnya Ahmad,” ucapku setelah tersambung via telepon ke nomor ponsel Radit. “Hemm, kenapa lagi, Sayang?” tanya Radit. “Aku barusan udah video callan sama Della dan Ahmad,” jawabku. “Ohya? Terus gimana?” “Hemm, ya, kayaknya Ahmad sehat-sehat aja.” “Alhamdulillah, syukur deh kalau gitu.” “Iya. Aku Cuma mau bilang itu ke kamu.” “Ya udah.” “Kamu masih mau ngajar ya? Atau lagi sibuk ngapain?” “Ini lagi di depan kelas, Sayang. Masih ngajar.” “Hemm, oke deh. Maaf ya aku ganggu. Love you.” “Iya. Love you too.” Telepon kumatikan, lalu kembali aku pergi memasak di dapur. Ada ayam yang harus digoreng, juga sayur bening yang tadi sudah kubersihkan dari kulitnya. Terbiasa tidak memasak, aku jadi agak malas berurusan dengan dapur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN