Bab. 40. Perpisahan Dengan Ahmad

1438 Kata
Radit sedang salat ashar ketika aku tiba di rumah, Ahmad dalam keadaan bangun berbaring di dekat Radit. Aku segera pergi mandi dulu sebelum menyentuh Ahmad. Noda-noda darah saat persalinan tadi ada yang mengenai pakaianku, beberapa alat medis juga harus kusterilkan lagi. “Kamu udah pulang?” Radit menghampiriku di depan pintu kamar mandi. “Iya, ini mau mandi dulu,” sahutku. “Bayinya laki-laki atau perempuan?” “Perempuan, gendut. Sama kayak bayi Ahmad.” “Alhamdulillah.” “Kamu jagain Ahmad lagi, ya. Aku mau bebersih dulu.” “Iya, kamu abis itu makan dulu gih. Istirahat.” “Iya. Iya.” Aku segera menutup pintu kamar mandi, setelah Radit berlalu pergi. Aku malah jadi mengantuk, baru terasa lelah saat di rumah. ... Setelah mandi, tak kulihat Radit dan Ahmad di rumah. Aku mengintip dari jendela, ternyata mereka sedang jalan-jalan di depan rumah. Dan yang menyebalkan, ada Kak Rina di sana. Mereka entah mengobrol apa, Kak Rina terlihat sedang menimang-nimang Ahmad. Aku segera berganti pakaian, mengeringkan rambut dan memakai kerudung. Segera berjalan mendekati Radit dan Ahmad. “Radit, harusnya Ahmad gak dibawa jalan dulu,” ucapku. “Kenapa emang?” tanya Radit. “Kan belum lepas tali pusatnya, Sayang,” jawabku. “Emang kenapa?” “Ya, katanya gak boleh.” “Kata siapa?” “Kata orang-orang.” “Heleh. Sejak kapan kamu ikut apa kata orang?” “Jiahahaa.” Aku dan Radit lalu membawa Ahmad duduk di selasar rumah, sedang Kak Rina telah pulang dengan sendirinya tanpa perlu aku usir dulu. “Orang tua Ahmad gimana? Kamu udah nanya kabarnya lagi?” tanya Radit. “Kan baru tiga hari ini, Sayang,” jawabku. “Ya, siapa tahu udah bisa pulang,” “Eum, ya udah, aku mau telpon bidan Santi dulu.” “Iya, cepetan.” Aku memeriksa gawai, lalu mencari nomor Bidan Santi dan menghubunginya. Cukup lama baru tersambung, Bidan cantik dan jomlo seperti dia pasti memiliki cukup banyak kesibukan. “Halo, Bidan Dhea,” sambut Bidan Santi dari seberang telepon. “Halo, Bidan Santi. Ganggu gak?” sahutku. “Enggak, Kak. Aku lagi di jalan pulang dari puskesmas.” “Oh, lagi di jalan.” “Iya, Kak. Tapi ini udah berhenti sebentar kok. Mau isi bensin sekalian.” “Eum, aku Cuma mau nanyain kabar Della. Gimana ya kabarnya?” “Oh, iya, Kak. Insya Allah besok udah boleh pulang kata dokternya, Kak.” “Besok?” “Iya, Kak. Terus katanya semua administrasi sama transportasinya udah diurus sama ... Sama Ustaz Ibrahim kalau gak salah. Makanya aku dari kemarin udah pulang.” “Eum, gitu. Alhamdulillah kalau gitu. Berarti besok aku harus ke Menduing buat lihat kabar orang tuanya.” “Bayinya gimana, Kak? Sehat kan?” “Iya, Alhamdulillah sehat. Besok kayaknya aku harus antar bayinya juga nih.” “Pasti berat ya, Kak? Pasti Kakak udah sayang banget tuh. Hehe.” “Iya, nih. Rasanya pengen aku culik aja.” “Hem, ada-ada aja kakak nih.” “Hehe, ya udah ya, Santi. Maaf aku ganggu.” “Hehe, gak kok, Kak. Makasih ya.” “Aku yang makasih. Udah ya, bye.” “Bye, Kak.” Radit terlihat lega, akan tetapi tatapannya menjadi sendu. Diciuminya kening Ahmad seolah penuh kerinduan. Biar bagaimana pun kami harus mengantar Ahmad pulang, kembali pada kedua orang tuanya. Orang tuanya juga pasti lebih merindukan Ahmad, anak pertama mereka. “Gimana?” kataku. “Apanya, Dhea?” “Apa Ahmad gak usah kita balikin?” “Kita culik aja?” “Iya. Kita bilang aja sama orang tuanya kalau Ahmad udah kita kasih sertifikat.” “Jiahahaha. Emang bisa gitu?” “Gak bisa, lah!” “Tapi gimana kalau kita coba minta aja, siapa tahu dikasih.” “Kayak minta kerupuk aja kamu, Dit.” “Gak bakal dikasih ya?” “Ya iyalah, kan anak pertama mereka.” “Eummm, sedih deh bakal pisah sama Ahmad.” “Kita akan sering jenguk dia kan?” “Pasti lah, aku kan juga udah bilang, akan selalu sayang sama dia meski dia gak tinggal lagi sama kita.” “Eumm. Iya. Kayaknya kita akan balikin sampai tali pusarnya lepas. Nanti aku bilang sama Ustazah Anna.” “Kamu yakin bakal gak apa-apa?” “Gak apa-apa, lah.” “Ya udah kalau gitu.” Aku dan Radit tentu akan merasa sedih, karena akan segera berpisah dengan Ahmad. Meski baru tiga hari mengurusnya, rasanya sudah seperti mengurus buah hati kami sendiri. Selepas maghrib, aku menelepon Ustazah Anna. Meminta pengertiannya untuk memberitahu orang tua bayi, dengan jujur kami memberitahu kalau aku dan Radit sangat menyayangi Ahmad. Setidaknya kami juga merasa lega kalau nanti Ahmad sudah lepas tali pusat. ... Seminggu pun berlalu, tali pusat Ahmad telah lepas dan sembuh. Aku bersyukur orang tua Ahmad mau memberi kami izin untuk mengurus Ahmad selama ini. Radit membelikan Ahmad setokan beberapa kotak s**u formula, juga banyak baju-baju bayi, juga beberapa bungkus popok bayi. Hari ini kami akan mengantar Ahmad pulang, ke rumah orang tuanya di desa Menduing. Tak lupa, Radit juga menyiapkan amplop berisi sejumlah uang, itu bisa digunakan untuk keperluan Ahmad juga untuk tasmiyahannya nanti. “Melewati tujuh hari, Ahmad udah makin gemoy,” ucapku. Saat kami telah berada di tengah perjalanan. “Iya, pasti nanti makin gemoy,” sahut Radit. “Nanti kita sekalian aja bilang, minta izin untuk sering-sering nengokin Ahmad.” “Eum, iya, Sayang. Aku yakin orang tuanya baik dan gak akan keberatan.” Kami tiba di rumah orang tua Ahmad. Della dan suaminya telah menunggu di depan rumah. Della masih berada di masa nifas, akan tetapi sepertinya sudah jauh lebih sehat. Tubuhnya juga sudah semakin berisi. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam, Bidan.” Semua orang di rumah Ahmad, sepertinya bersikap segan pada aku dan Radit. Mereka berkata sangat ramah, juga langsung menyuguhi kami banyak makanan. Aku bersyukur dengan keadaan ini, seperti telah memiliki keluarga baru. Ya, Ahmad juga sudah aku dan Radit anggap seperti keluarga, sebagai anak kami sendiri. “Terima kasih, Bidan dan Ustaz telah menjaga dan merawat Ahmad dengan sangat baik. Bahkan memberikan semua ini untuk anak kami,” ujar Ayah kandung Ahmad, matanya terlihat berair. Tak kusangka dia akan terharu dengan perlakuan kami. “Sama-sama, Pak. Alhamdulillah kami senang bisa ikut membantu. Kami juga sangat menyayangi Ahmad, tidak merasa ada beban sama sekali,” sahut Radit. “Kalian orang yang baik, beruntung sekali anak kami dirawat oleh kalian,” lanjut Suami Della itu. Setelah banyaknya pujian dan ucapan terima kasih, aku dan Radit pun menceritakan kalau kami telah memberi nama pada bayi mereka. Tak disangka mereka tidak keberatan. “Setelah empat puluh hari, kami akan langsung mengadakan selamatan, Pak. Ya, saya akan kerja untuk satu trip dulu,” kata Ayah Ahmad. “Ya, terserah bapak saja,” sahut Radit. “Nama Ahmad itu bagus sekali, Pak. Mungkin kami akan tambahkan satu kata untuk namanya lagi. Della selalu ingin memberi nama untuk anaknya, Ahmad Azzam, gimana menurut bapak guru Radit?” “Masya Allah, bagus itu, Pak. Ahmad Azzam.” “Alhamdulillah.” Setelah banyak mengobrol, kami pun diminta untuk makan dulu sebelum pulang. Menyadari akan berpisah, aku menggendong Ahmad sekali lagi. Kuciumi dia dengan penuh kerinduan. Aku dan Radit pasti akan merindukan kehadirannya di rumah kami, tak kuasa kutahan air mataku jatuh juga. Radit lalu memelukku, memberiku ketabahan. “Bidan, tenang saja. Bidan bisa datang ke sini kapan saja untuk jenguk Ahmad. Dan saya doakan, Bidan akan segera mengandung,” ucap Della. Air matanya ikut mengalir karena melihatku. “Terima kasih, ya, Della. Aamiin. Semoga saya bisa secepatnya memiliki anak juga.” “Aamiin, Bidan.” Meski masih terasa berat, akhirnya aku dan Radit pamit untuk pulang. Orang tua Ahmad terlihat baik dan tulus sekali, semoga Ahmad bisa tumbuh menjadi anak yang baik. Semoga hingga kelak dia sudah bisa bicara, dia bisa memanggil aku dan Radit seperti Ayah dan Ibunya. “Radit, kamu gak sedih pisah sama Ahmad?” tanyaku iseng. “Ya, sedih lah, Sayang,” jawab Radit. “Ahmad bakalan bahagia kan sama orang tuanya.” “Pastinya lah, mereka menyayangi Ahmad lebih dari kita, Sayang.” “Kenapa aku belum hamil juga, ya, Dit?” “Heumm, ya emang belum waktunya, Sayang. Gak usah manyun gitu deh.” “Hemm.” “Kita mau langsung pulang nih?” “Iya, aku mau tiduran aja di rumah.” “Oke. Kalau gitu.” Aku dan Radit kembali ke rumah, setelah perpisahan dengan Ahmad. Meski hanya seminggu, aku merasa telah bersama begitu lama dengan Ahmad. Semua kebutuhannya telah kami cukupi untuk beberapa waktu, semoga dia tetap tumbuh dengan sehat. Lalu nanti, kami akan punya waktu untuk menjenguknya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN