Bab. 39. Ada persalinan, Ada Hantuen

1281 Kata
Radit bangun dan membereskan pekerjaan rumah lebih pagi hari ini, hari kedua kami tinggal bersama baby Ahmad. Dia bahkan menyiapkan roti isi di dapur untuk sarapan. “Sayang, aku berangkat ke sekolah, ya, soalnya hari ini ada kunjungan dari dinas pusat,” jelas Radit sembari memasang sepatunya. “Oke. Maaf ya, aku kesiangan.” “No, kamu gak perlu minta maaf. Aku tahu kamu beberapa kali kebangun kan semalam buat ngurus dan jagain Ahmad. Kalian baik-baik ya, di rumah. Aku akan cepat pulang.” “Iya, Sayang.” Kecupan hangat mendarat di kening dan pipiku, Radit bahkan tak peduli kalau aku belum mandi. Dia juga mencium Ahmad yang masih terlelap, benar-benar seperti dengan buah hatinya sendiri. ... Seperti saat melakukan kunjungan pasca bersalin, aku memandikan dan mengurus tali pusat Ahmad. Tali pusatnya cukup tebal, bisa habis seminggu untuk benar-benar mengering dan lepas dari pusatnya. “Jadi bener ada bayi di rumah kalian?” Andin meneleponku, terdengar antusias setelah mendengar cerita dari Radit. “Iya, Andin. Kamu kapan mau main ke sini?” tanyaku. Sembari menidurkan Ahmad yang baru selesai minum s**u. “Eumm, kapan ya. Liat entar deh, suamiku lagi sibuk juga soalnya.” “Eum gitu.” “Udah dulu ya, Dhea. Aku mau mandi, entar ada kondangan di kampung sini.” “Ohya? Oke, deh, kalau gitu.” “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Selepas menelepon, aku meninggalkan Ahmad di tempat tidurnya untuk pergi mandi. Tak lupa aku mengunci pintu rumah, jaga-jaga agar tidak ada yang masuk. Rutinitas baru sebagai Ibu, membuatku mulai lupa merawat diri. Apa lagi nanti kalau memang memiliki anak sendiri, bisa-bisa aku tak terlihat menarik lagi. Lalu bagaimana dengan Radit, bisa-bisa dia bosan dan berpaling ke perempuan lain. Hiks. Aku tidak ingin terjadi hal buruk seperti itu. Seperti drama-drama perselingkuhan yang sering viral, baik di layar akting atau dunia nyata. Suami yang berselingkuh, akan memilih perempuan yang lebih menarik dibanding isteri sahnya. Walau kadang, juga banyak istri sah yang super cantik masih diselingkuhi juga. Semua itu hanya alasan laki-laki yang tidak bisa menjaga pandangannya, tidak bisa menjaga syahwatnya. Semoga Radit bukan laki-laki yang seperti itu. .... Hingga siang hari, Radit belum pulang juga. Dia juga tidak ada mengirim pesan. Sementara Bidan Hana baru saja mengirim pesan untuk memintaku menangani persalinan di kampung sebelah bersamanya. Karena yang akan bersalin lebih dari satu orang, tidak mungkin ditangani sendirian. Aku menyiapkan tas s**u Ahmad, bersiap membawanya keluar. Terpaksa aku bawa saja ke sekolah untuk menemui Radit. Namun, saat tiba di bibir pintu, ada Kak Rina yang datang membawa sebungkus ikan saluang yang telah dibersihkan. “Bidan, mau ke mana?” tanya Kak Rina. “Eum, mau ke sekolah, Kak,” jawabku. “Waduh, dedeknya dibawa? Panas lho, ini mataharinya.” Kupandangi langit, memang sedang terik. Rasanya khawatir juga untuk membawa Ahmad keluar. Ini juga belum masa empat puluh hari. “Tali pusatnya sudah lepas, Bidan?” tanya Kak Rina. “Belum, Kak,” jawabku. “Tuh, belum lepas juga. Bahaya nanti.” “Saya mau ke kampung sebelah, ada yang mau lahiran. Radit belum pulang.” “Oh, kalau gitu biar saya yang jagain sampai Pak Radit pulang.” Aku diam sejenak, bingung harus percaya atau tidak pada Kak Rina. Meski bukan anak kandungku, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Ahmad. “Kakak bisa jagain sebentar? Cuma sampai Radit pulang.” “Iya, Bidan. Saya bisa kok. Kerjaan saya juga sudah beres.” “Ya sudah, masuk.” Aku membawa Ahmad kembali masuk ke dalam rumah, dan kembali menidurkannya di tempat tidur bayi. Kak Rina duduk di dekat Ahmad, menatap Ahmad sembari tersenyum. Aku entah kenapa merasa tak bisa percaya begitu saja. [Dit. Cepat pulang. Aku mau ke kampung sebelah, ada persalinan mendadak. Ahmad aku titipin ke Kak Rina. Kamu cepat pulang ya.] Kukirim pesan pada Radit. Sepertinya Radit benar-benar sedang sibuk, sampai pesanku belum juga dia baca. Aku mengganti pakaian dan segera meraih tas kerja, bersiap untuk pergi setelah kembali mengingatkan Kak Rina untuk menjaga Ahmad dengan baik. Semoga Kak Rina tidak sejahat yang kupikirkan, tidak mungkin dia akan berubah jadi hantuen lalu menghisap ubun-ubun Ahmad. Ya, ampun! Jangan sampai. ..... Di tempat pasien persalinan, terjadi kekacauan. Mertua pasien bersikeras menolak untuk membawa pasien ke puskesmas, karena trauma pada kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang membuat anaknya harus meninggal saat persalinan di puskesmas, dia pun menyalahkan oknum puskesmas yang telah membuat nyawa anaknya hilang. Aku pun dengan sabar menjelaskan kalau semua itu bisa saja karena salah paham, toh, tidak ada tenaga medis yang sempurna. Aku atau siapa pun bisa saja melakukan kesalahan selagi bertugas. Lagi pula sebenarnya aku tidak memaksa mereka untuk pergi ke puskesmas. Setelah kuperiksa, bisa kupastikan pasien bisa melahirkan di rumah. “Belum pecah ketubannya, Bidan?” tanya seseorang yang selalu berada di samping pasien. “Belum, sedikit lagi. Tetap atur nafas mengejan, jangan terlalu dikuras dulu tapi tenaganya,” jawabku. Aku duduk menunggu setelah mensterilkan alat-alat medis yang nanti akan kupakai. [Aku udah di rumah, Sayang. Ahmad masih tidur kok.] Balas Radit. [Kak Rina pulang?] tanyaku. [Belum. Dia bantu goreng ikan yang tadi dia kasih.] [Kenapa gak nanti aja gorengnya tunggu aku pulang.] [Aku gak enak mau nolak, kan dia mau bantuin.] [Ya udah, awasin terus.] [Iya, iya.] Menyebalkan, Kak Rina pasti senang ada kesempatan berduaan dengan Radit lebih lama. Aku berharap persalinan ini cepat terjadi dan aku bisa cepat pulang. “Bidan, diminum dulu kopinya,” ujar suami pasien. Baik sekali dia menyuguhiku kopi. “Terima kasih,” sahutku. “Apa belum waktunya persalinan, Bidan?” “Belum. Tunggu ketubannya pecah dulu.” Aku menyeruput kopi, lalu kembali mengambil posisi untuk memeriksa jalan lahiran. “Tarika nafas, keluarkan. Sama seperti waktu mau buang air besar. Kalau ketubannya pecah, udah gak akan seberapa lagi sakitnya,” ucapku. Pasien yang akan bersalin terbilang masih muda, ini pun anak pertama. Pinggul yang besar dan badan berisi, membuatnya menjadi tetap sehat dan bisa diprediksi akan mudah saja melakukan persalinan. Meski wajahnya terlihat meringis sekali kesakitan. Tak lama, pecah ketuban pun terjadi. Hampir saja muncrat mengenai wajahku. Pasien kemudian mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mengejan, hingga hanya butuh sekali ejan, bayi pun berhasil keluar. Tangisan memecah ketegangan, bisa kurasakan kelegaan semua orang yang ikut menyaksikan persalinan. “Alhamdulillah, bayinya perempuan,” ucapku setelah melihat alat vital bayi. “Alhamdulillah,” sahut suami pasien. Suami pasien terlihat bahagia, dia langsung menciumi wajah isterinya dengan penuh kasih sayang. Seorang suami tentu yang paling mengkhawatirkan keadaan istrinya. Melihat bayi merah ini, aku jadi merindukan Ahmad. Aku ingin segera pulang dan menciuminya. “Jangan banyak gerak dulu. Saya suntik dulu, ya.” Kuberikan suntikan pasca bersalin kepada pasien, agar tidak terjadi pendarahan. Setelah menggunting tali pusat, aku segera membersihkan dan membedong bayi. Lalu kembali mengurus sang Ibu. Membersihkan darah yang lumayan banyak, hingga aromanya begitu tercium memenuhi ruangan. Kalau hantuen benar akan memakan darah orang yang melahirkan, dia pasti akan kekenyangan menelan semua darah ini. Sial, setiap ada persalinan aku jadi langsung teringat pada hantuen dan segala ceritanya. Persalinan kali ini terjadi siang hari, setidaknya membuat tak terlalu seram. Dan hantuen juga pasti tidak akan berani keluar siang-siang terik begini. .... Ketika k****a artikel tentang hantuen asal Kalimantan, sejatinya mereka berasal dari siluman landak dan Siluman ikan. Mereka sepasang kekasih yang menikah dan memiliki banyak keturunan. Entah kenapa ceritanya menjadi hantuen suka mengisap darah orang yang akan melahirkan, dan mereka melakukan itu tidak karena keinginan mereka. Mungkin karena perkembangan zaman, ada perubahan juga di dunia siluman. Sulit dipercaya kalau cerita-cerita legenda seperti itu telah benar terjadi, akan tetapi bisa saja memang benar karena ada banyaknya yang menjadi saksi cerita. Di dalam islam juga sudah diterangkan, kalau dunia ghaib itu ada. Bahkan, dunia bayi dalam rahim itu juga disebut alam ghaib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN