Bab 38. Belajar Menjadi Orang Tua

1470 Kata
Untuk pertama kalinya, terdengar suara tangisan bayi dari rumah kami. Hari sudah sore saat aku terbangun, dan baru menyadari kalau aku sudah tidur siang terlalu lama. Radit sedang menggendong Baby Ahmad dan memberinya s**u, meski sempat rewel, akhirnya Ahmad terdiam juga. Aku pun segera mencuci muka dan mengambil alih Ahmad. “Dia mau minum susunya?” tanyaku. “Iya, kayaknya laper deh, langsung habis,” jawab Ahmad. “Habis mimik s**u, harus disendawakan dulu. Kita buat agak duduk gini,” jelasku pada Radit sembari mempraktekkan. “Biar gak muntah, ya?” “Iya, Sayang. Tepuk-tepuk pelan bahunya, sampai dia sendawa.” Ahmad akhirnya bersendawa, dan Radit tersenyum melihatnya. Aku pun segera meletakkan Radit ke tempat tidurnya, dan tak lupa menutupnya dengan kelambu. “Padahal aku masih mau gendong,” ucap Radit. “Jangan dibiasain, nanti keenakan dia. Susah nidurinnya,” sahutku. “Masa gitu?” “Ya, emang biasa gitu. Lagi pula bayi baru lahir itu kan emang masih banyak tidurnya. Kamu mending tidur dekat dia, terus bacain ayat-ayat Al-quran.” “Oh, oke kalau gitu.” “Ya udah, kamu jagain ya. Aku mau keluar beli sayur.” “Kamu beli sayur? Naik motor?” “Iya, kenapa?” “Emang kamu udah gak apa naik motor?” “Gak apa, udah ah, aku berangkat ya. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aku mengambil dompet dan memasang kerudung, lalu pergi menyalakan motor. Melaju menuju warung sayur. Di perjalanan aku melewati rumah Kak Rina, terlihat dia sedang melihat anak-anaknya bermain di depan rumah. Kami pun saling melihat sekejap. Menyedihkan rasanya, hubunganku dengan Kak Rina menjadi asing seperti ini. Aku juga belum tahu, apa Kak Rina akan berubah kembali baik atau masih diam-diam menyimpan dendam dan strategi untuk menggangguku lagi. .... Pulang dari membeli sayur, aku segera kembali ke rumah. Betapa terkejutnya aku melihat Baby Ahmad sudah ada di gendongan Kak Rina. Kenapa Kak Rina harus pergi ke rumahku saat aku sedang pergi. Tidak tahu malu! “Bidan Dhea, sudah pulang?” sambut Kak Rina dari selasar rumah. “Radit mana?” tanyaku. “Lagi di toilet mungkin, Bidan. Tadi saya lewat sini, terus dengar suara bayi nangis, jadi saya ke sini.” “Ya udah, biar sini sama saya saja.” Aku mengambil alih Ahmad dari gendongan Kak Rina. Tak lama Radit muncul dan wajahnya langsung terlihat canggung karena sedang ada Kak Rina. “Radit, kenapa Ahmad nangis?” tanyaku. “Iya, Sayang. Tadi aku tinggal ke toilet karena mules gak ketahan. Tiba-tiba nangis, terus aku dengar ada suara Kak Rina, ya udah aku biarin aja dulu dipegang sama Kak Rina, perutku sakit banget,” jawab Radit. “Hemm, kamu bawa gih ikan sama sayurnya ke dapur.” “Oh, oke. Biar aku yang masak, kamu urus aja Ahmad.” “Iya.” Aku menggendong Ahmad yang sudah berhenti menangis, membiarkannya merasakan udara segar di luar rumah. Kak Rina masih duduk di depan selasar, memperhatikanku. “Maaf, Bidan. Kalau boleh tahu, itu anaknya siapa, ya?” tanya Kak Rina. “Anak pasien aku, Kak. Ibunya masih dirawat di rumah sakit, jadi sementara bayinya aku rawat di sini,” jawabku. “Oh, gitu. Beruntung sekali ada Bidan Dhea dan Pak Guru yang mau membantu. Namanya Ahmad ya?” “Iya. Nama sementara dari kami.” “Nama yang bagus itu, Bidan.” “Eum, makasih.” “Kalau begitu, saya permisi pulang dulu Bidan.” “Iya, Kak. Udah mau senja, aku mau bawa masuk Ahmad dulu.” “Iya, Bidan. Kalau senja anak kecil gak boleh di luar.” “Iya, Kak. Banyak setannya.” “Iya, kalau begitu saya pulang dulu.” “Iya.” Kak Rina langsung pulang ke rumahnya, dan aku segera masuk ke rumah. Radit juga telah menutup semua jendela dan pintu. “Ahmad gak mandi sore, Sayang?” tanya Radit yang masih memakai celemek. “Enggak usah, deh. Bayi kan juga gak perlu sering mandi,” jelasku. “Gitu? Ya udah.” “Kamu masak apa? Udah mandi belum?” “Aku udah mandi, bentar lagi juga selesai masakannya. Kamu udah mandi?” “Eum, udah pagi tadi.” “Kan pagi, Sayang.” “Ya, kan gak apa-apa juga kalau aku gak mandi.” “Kamu kan bukan bayi.” “Aku kan bayinya kamu, Dit.” “Hadeuh, bisa aja.” Radit tersenyum saja mendengar pernyataanku, membiarkanku terus menggendong Ahmad. Hari perlahan gelap, aku membacakan ayat-ayat di dekat telinga Ahmad. Berjaga-jaga agar tidak ada hal buruk yang mengganggunya, agar Allah selalu menjaganya. Sedangkan Radit, selepas masak dia langsung pergi untuk salat di Masjid. Berdua saja dengan Ahmad, rasanya berbeda sekali. Aku yang awalnya penakut, menjadi secara alami harus menjadi pemberani. Karena ada bayi yang harus kujaga dan lindungi. Waktu senja adalah saat di mana makhluk-makhluk hitam mulai berkeliaran. Makanya anak-anak tidak boleh dibiarkan berada di luar rumah, pun semua pintu dan jendela juga harus ditutup, agar makhluk-makluk itu tidak dapat masuk dan mengganggu. ... Malam yang biasa kulalui bersama Radit sebagai pengantin baru, kini mendadak menjadi seperti saat menjadi orang tua baru. Kami memastikan dulu Ahmad tidur dengan nyaman dan nyenyak, baru lah kami bisa merasa tenang untuk ikut tidur juga. “Beneran nih, kita mau langsung tidur juga?” bisik Radit. Kami berbaring dengan posisi Ahmad di tengah-tengah kami, aku pun tertawa mendengar perkataannya. “Emang mau ngapain?” tanyaku. “Ya, biasanya kan kita ngobrol-ngobrol dulu.” “Ya udah, ngobrol.” “Tapi kan sambil manja-manja juga, Sayang.” “Ya udah, sini. Tidurnya deketan.” “Terus Ahmad gimana?” “Kan Ahmad belum bisa ngapa-ngapain, aman aja kan dia di dekat kita.” “Iya, juga. Kok kita kayak berada di fase empat puluh hari ya. Haha.” “Iya, berasa kayak lagi masa nifas dan gak boleh manja-manjaan ya?” “Iya, kan aneh.” “Wekaweka.” Radit lalu berpindah berbaring di sebelahku, melingkarkan tangan memelukku. Sebelumnya kami selalu membiarkan kamar gelap, sekarang kami tetap menyalakan lampu tidur agar bisa tetap mengawasi Ahmad. Saat tidur memang saat terbaik menggelapkan ruangan, untuk menjaga kesehatan mata. Kalau dipikir-pikir agak aneh juga, bagaimana bisa gelapnya ruangan malah bisa memberi vitamin untuk mata. Membuat mata menjadi istirahat total dan mencegah mata minus yang semakin bertambah. “Sayang, gimana kabar ibunya Ahmad?” tanya Radit. “Udah agak mendingan, Cuma masih harus dirawat dulu di rumah sakit, kan baru sehari ini, Sayang,” jawabku. “Eum, iya juga. Kasihan ya, Ahmad. Harus jauh dari orang tuanya.” “Iya, pasti Ibunya juga kepikiran sama Ahmad.” “Semoga aja orang tuanya bisa cepat sehat lagi. Eh, tapi, berarti nanti kita gak bisa sama Ahmad lagi dong?” “Aamiin. Ya, kan kita Cuma dititipin bentar, Sayang.” “Eumm, aku udah ngerasa sayang banget sama Ahmad. Pokoknya aku mau nganggep dia jadi anak aku sendiri.” “Serius?” “Iya. Aku akan tetap perhatikan dia, meski nanti sudah gak tinggal sama kita.” “Eum, kamu memang berhati malaikat, Suamiku.” “Eumm, kan kamu bidadari surganya.” “Semoga kita bisa segera punya anak sendiri, ya?” “Aamiin, Sayang. Semoga.” “Aamiin ya Allah.” Malam semakin menua, hanya tersisa suara jangkrik dan burung-burung malam. Radit telah terlelap usai menuangkan cintanya padaku. Aku memastikan Ahmad sedang baik-baik saja, tak lupa memastikan perlengkapan untuk membuat s**u sudah tersedia di kamar. Mulai kupejamkan mata, tak lupa mengucap syukur untuk apa yang telah terjadi hari ini. Semoga orang tua Ahmad bisa segera pulang, meski itu juga akan memisahkan kami dengan Ahmad. Meski bukan bayi buah cinta kami, aku dan Radit tetap akan memberikan cinta sepenuh hati padanya. .... Suara tangisan memecah hening malam, tidak begitu keras, akan tetapi segera dapat membuat aku dan Radit terbangun dari tidur. Ahmad sepertinya buang air besar, dan kotorannya tentu masih lekat. Seperti bayi baru lahir biasanya. Orang-orang di Kalimantan menyebut kotoran bayi baru lahir sebagai t**i jual. Entah kenapa disebut begitu. Kudengar, mereka biasa mencontengkan kotoran itu ke alis bayi agar alis bayi tumbuh lebat dan bagus. Tentu saja hal-hal seperti itu tidak perlu untuk dipercaya. “Kamu tidur aja, Radit. Aku bisa sendiri kok,” ujarku setelah membersihkan kotoran Ahmad. “Eum, ya udah, aku tidur lagi.” “Huum.” Aku pun menggendong Ahmad dan memberinya s**u hangat, membuatnya hangat agar kembali bisa tertidur lagi. Ini masih terlalu malam untuk bangun dan berbincang dengannya. Malam yang gelap dan sepi tanpa mengajak bayi berbincang, akan membuat bayi terbiasa pada waktu. Dia akan dapat membedakan, mana saat bisa bermain. Dan mana saat dia harus istirahat dan tidur. Setelah Ahmad tertidur, aku meletakkannya kembali ke tempat tidurnya. Sungguh aku bahagia bisa merasakan hal ini, seperti sedang di trainee menjadi seorang calon Ibu. Meski seorang Bidan, aku tidak pernah sepenuh ini mengurus bayi seharian hingga terbangun saat tengah malam. Ini menyenangkan, walau juga melelahkan. Aku akan menikmatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN