Morning sickness terus terjadi, sudah masuk minggu kedua sejak aku tes kehamilan. Aku kehilangan nafsu makan, juga sedikit pun kerjaan rumah tak ada yang kulakukan. Rasanya sangat nikmat, dan membuatku ingin terus berada di tempat tidur.
“Sayang, ini susunya, diminum dulu.”
Radit melayaniku tanpa kenal mengeluh, semua pekerjaan rumah pun dia kerjakan dengan baik. Semua asupan nutrisi untukku juga tak pernah dia lupakan. Selelah apa pun dia, dia masih mau memijatiku ketika malam datang kembali membawaku menuju waktu tidur yang panjang.
“Makasih, ya, Dit,” sahutku.
Aku selalu mengucap terima kasih. Setiap hari, entah berapa kali. Sebagai tanda betapa aku sangat merasa beruntung hidup bersamanya.
Jangan kan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, untuk tampil cantik dan bersemangat saja sangat sulit untukku sekarang.
Mungkin hanya sedikit perempuan hamil yang bisa lolos dari fase malas ini. Tubuhku terlihat tidak kurus atau gemuk, hanya saja tidak terlihat bagus dan seperti sangat menderita.
Aku berharap masa-masa ini segera berlalu, bukan karena aku tidak suka hamil. Aku hanya tidak ingin selalu merepotkan Radit, walau memang sudah menjadi kewajibannya sebagai suamiku untuk selalu berada di sampingku dalam keadaan apa pun.
“Aku udah masak, kamu mau makan?” tanya Radit sembari memasang kancing baju seragam batiknya untuk mengajar.
“Masak apa?” tanyaku balik.
“Masak ayam kecap, sama tumis sayur. Mau? Biar aku ambilin.”
“Eum, nanti aja deh. Kalau laper aku ambil sendiri.”
“Beneran?”
“Iya.”
“ Ya sudah kalau gitu.”
Radit kemudian segera berangkat kerja, meninggalkanku sendirian guling-guling di kamar. Tempat tidur menjadi tempat ternyamanku saat ini.
Setiap ada pasien, aku selalu mengatakan kalau aku sedang sakit. Untung lah Bidan Hana selalu bisa mengambil alih semua. Aku belum mengambil cuti, karena aku yakin masih bisa bekerja suatu hari nanti. Kalau bisa juga sih. Kalau tidak ya terpaksa, tiduran saja di kamar.
Setelah minum s**u hamil, aku kembali sibuk hanya bermain dengan ponsel. Melihat-lihat media sosial, lalu menonton video-video lucu. Di Indonesia makin marak video lucu, yang entah kenapa rasanya menjenuhkan bagiku. Tidak terlihat alami, walau sebenarnya memang lucu. Ah, entah lah. Mungkin jiwa komediku terlalu lama kaku.
Aku lalu membuka sebuah video, tentang penyanyi asal Jepang yang baru saja bercerai dengan suaminya karena sudah terlalu sering diselingkuhi. Suaminya seorang aktor, dan telah cinta lokasi juga berselingkuh dengan lawan mainnya di drama dan film. Sungguh miris, melihat penyanyi Jepang itu yang sebenarnya cantik dan berpenampilan menarik. Pernikahan mereka juga telah dikaruniai empat orang anak, harusnya pernikahan mereka tidak berakhir berpisah seperti ini.
Kasihan sekali anak-anak mereka nanti, lahir dari orang tua yang superstar akan tetapi tak mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Kehidupan bintang memang glamour, membuat manusia biasa sepertiku kadang iri. Lalu saat menyadari sisi miris mereka, aku kembali bersyukur dengan kehidupanku yang biasa-biasa saja.
Walau bagiku, Radit juga tak ubahnya seorang super star. Tampan, dan berkarisma juga pandai dalam berbagai bidang. Bagaimana mungkin tak banyak hati yang jatuh hati padanya. Namun, aku yakin Radit adalah suami setia dan akan menjadi suami yang baik.
Di video lain, ada cerita mengejutkan lagi yang masih berhubungan dengan penyanyi itu. Tentang ayah si penyanyi yang membongkar aibnya sendiri. Ternyata ayah si penyanyi dulunya juga tukang selingkuh, dan beberapa kali mengkhianati isterinya. Kini putrinya juga menjadi korban perselingkuhan. Keluarga yang miris, semoga tidak terjadi pada cucunya juga.
Di dalam islam, Zina adalah hutang. Jadi, bukan hal mengejutkan sesuatu seperti itu terjadi berturut-turut pada sebuah keluarga. Itu sebabnya Allah melarang mendekati zina dan selalu bertaubat padanya. Aku berharap keluargaku dilindungi dari semua keburukan zina, sampai anak dan cucuku nanti. Semoga hal buruk dan hina tak menimpa keluarga kami. Aamiin.
Puas melihat banyak cuplikan video pendek, aku pun pergi ke ruang tamu. Menyalakan televisi lalu melangkah ke dapur, berusaha untuk mengisi perut walau tak berselera. Ayam kecap buatan Radit terlihat enak, akan tetapi mencium baunya membuat kepalaku mendadak pusing. Kuurungkan untuk makan dan hanya mengambil cemilan keripik pedas dari kulkas.
Aku berbaring di sofa setelah mendapatkan chanel TV yang pas. Pagi masih menjelang siang, masih ada acara gosip juga ftv indonesia pagi. Ada berita viral tentang perebutan harta juga artis yang diduga hamil di luar nikah. Kadang aku merasa menonton acara dan mendapatkan berita tentang kehidupan orang lain hanya akan menambah beban dan tidak menguntungkan sama sekali.
Namun, di era modern ini. Masih banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi populer di televisi. Sedangkan sebagian memilih untuk populer instan melalu media sosial. Membuat video joget-joget atau konten viral yang bisa menarik perhatian, juga menambah pundi-pundi uang.
Tok. Tok. Tok.
Aku berjalan menuju pintu ketika terdengar suara ketukan, ketika kulihat siapa yang datang ternyata si Bella. Anak Kak Rina. Dia datang membawa sebungkus mangga muda yang entah mengapa langsung bisa mencairkan air liurku
“Ada apa, Bel?” Tanyaku.
“Di suruh mama kasih ini, Bidan,” jawab Bella.
“Mangga?” tanyaku lagi.
“Iya, Bidan. Buat dirujak katanya,” jawab Bella lagi.
Aku melihat saja mangga itu lalu mulai bingung harus menerimanya atau tidak. Bagiku apa pun yang datang dari Kak Rina adalah hal mencurigakan dab bisa jadi membahayakan.
“Ini dikasih?” tanyaku lagi.
“Iya, dikasih aja Bidan,” jawab Bella.
“Dapat dari mana?” selidikku lagi.
“Dari pohon depan rumah, banyak buahnya.”
“Gak dikasih apa-apa kan sama Mamamu?”
“Enggak kok bidan, ini gak dikasih apa-apa.”
“Gak dikasih pulih?”
“Enggak, Bidan. “
“Memang kamu pernah lihat Mama kamu kasih pulih?”
“Pernah. Tapi ini enggak kok.”
“Hemm, jangan bilang sama Mama kamu ya kalau saya nanya gitu.”
“Iya, Bidan.”
Bella masih kelas empat SD, tapi aku yakin dia sudah cukup mengerti soal apa yang aku bicarakan. Aku pun mengambil bungkusan mangga itu, lalu memberi selembar uang berwarna hijau untuk Bella. Bella sempat bingung dan menolak, akan tetapi akhirnya aku memaksa dia untuk menerimanya dan membawanya pulang.
Aku kembali menutup pintu rumah, lalu membawa bungkusan mangga ke dapur dan mencucinya super bersih dengan cairan anti kuman untuk makanan. Buah mangganya masih muda, air liurku terasa ingin menetes karena sudah membayangkan memakannya. Apa lagi ketika kulihat bumbu penyedap di tempat bumbu, sungguh perpaduan obat ngidam yang sangat sempurna.
Namun, aku belum yakin untuk memakannya. Aku harus menunggu sampai Radit pulang dulu. Aku akan memintanya untuk membaca doa penolak mara bahaya agar pikiranku menjadi tenang. Karena dalam diriku sekarang aku tak sendirian, ada janin yang harus kujaga. Tidak boleh aku lengah dan egois hanya karena keinginanku sendiri.
.
Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya Radit pulang dari sekolah. Dia terlihat heran saat mendapati keranjang berisi mangga muda yang kuletakkan di atas meja ruang tamu.
“Kamu beli mangga? Kok gak bilang sama aku, Sayang?” tanya Radit yang baru melepas tas dan sepatunya.
“Dikasih kok,” jawabku.
“Ohya, sama siapa?”
“Dari Kak Rina.”
“Oh gitu.”
“Kamu pastiin dulu kalau mangga ini aman aku makan.”
“Kamu jangan suudzon terus dong, Sayang.”
“Bukan suudzon, Dit. Aku Cuma jaga-jaga.”
“Ehm, oke deh kalau gitu.”
Radit lalu mencuci tangannya dan membaca doa di depan mangga, setelah dia membaca doa, dia langsung menyiapkan bumbu untuk rujak. Air liurku serasa makin pecah. Apa lagi saat aroma mangga yang kulitnya sedang Radit kupas mulai tercium. Wangi asam yang pasti sangat menggiurkan.
“Kupas gak kulitnya?” tanya Radit.
“Iya, lah.”
“Biasanya ada yang gak usah dikupas.”
“Pait kalau gak dikupas.”
“Oh, oke. Aku kupas dulu. Bumbunya mau garam sama cabe aja atau pake kacang, kecap, gula merah?”
“Emang ada semuanya bahannya?”
“Ada, di warung.”
“Pakai kecap aja, sama bumbu, sama cabe.”
“Hemm, oke. Nanti aku cari lagi bahan lainnya, siapa tau nanti-nanti kamu mau ngerujak lagi. Harusnya kamu bilang dong kalau mau ngerujak.”
“Iya, iya. Makasih ya, Dit.”
Setelah mangga di potong, aku langsung mencoleknya ke bumbu kecap. Rasanya benar-benar lezat, bahagia intinya. Serasa penderitaan sickness ku telah akan berlalu. Air liurku pecah sepecah-pecahnya.
Membangkitkan gairah mukbang yang lama tertunda. Radit meringis saja melihatku mengunyah mangga muda, tanpa sedikit pun dia ikut menikmati.
“Kamu ikut juga dong, Dit,” ajakku.
“Enggak ah, masam,” sahutnya.
“Enggak kok.”
“Masam.”
“Ayo lah, sekali aja. Coba!”
“Gak mau gak suka. Gelay.”
“Jiahahaha.”
“Kamu aja yang makan, tapi jangan kebanyakan juga, Dhea.”
“Emang kenapa?”
“Entar mules, mencret.”
“Iya juga ya. Tapi kan enak.”
“Ya tapi pikirin perut kamu juga.”
“Iya, deh.”
Karena takut akan sakit perut, aku hanya memakan sampai dua buah mangga ukuran kecil. Rasanya hasratku sudah terpuaskan juga. Setelah menikmati rujak mangga muda, aku jadi bisa lebih semangat. Haruskah aku berterima kasih pada Kak Rina? Dia mengerti kalau ibu hamil sedang ingin makan yang masam-masam saja. Ah, biarlah.
.
Saat hamil, seorang Ibu dituntut untuk benar-benar menjaga kesehatan. Aku beruntung bisa tidak sakit perut setelah makan rujak mangga. Namun, Radit selalu menasihatiku untuk makan apa saja yang kumau akan tetapi sesuai dengan porsinya. Jangan sampai berlebih-lebihan. Karena sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.
Aku juga harus semakin kuat membentengi diriku dengan ibadah, agar tidak terjadi gangguan dari dunia ghaib. Beruntung ada Radit yang selalu setia di sisiku, aku jadi seperti ada yang melindungi. Tentu semua juga karena karunia yang selalu terlimpahkan dari Allah. Aku harus selalu bersyukur pada-Nya untuk semua yang telah diberikan dalam hidupku.
“Kamu gak makan malam?” tanya Radit setelah selesai salat maghrib di masjid.
“Malas ah, mau minum s**u aja,” jawabku.
“Mau aku buatin sekarang?”
“Boleh.”
Susu hamil rasa cokelat, tak butuh waktu lama sampai siap tersaji di atas meja ruang tamu. Dengan tambahan sedikit es batu, membuat rasa eneknya berkurang. Aku pun bisa menikmatinya sampai tandas.
Demi menjaga kewarasan Radit, karena tak ingin dia stres karena terlalu lelah. Aku segera mengambil minyak zaitun dan body lotion untuk memberi sedikit pijatan di punggungnya. Meski sempat menolak, Radit akhirnya pasrah saja mendapatkan pijatan lembut dariku.
“Udah, Sayang. Nanti kamu capek,” gumam Radit.
“Lebih capek kamu, Sayang. Setiap hari, setiap saat melakukan banyak hal untuk aku. Aku mah Cuma segini doang, mana ada capeknya,” sahutku.
“Aku melakukan itu karena aku bahagia bersama kamu, mencintai kamu dan anak kita juga.”
“Iya, Sayang. Kan aku mijetnya bentar doang kok.”
“Hemm.”
Hingga adzan isya sayup terdengar, pijatanku pun berhenti. Radit bersiap untuk pergi ke masjid dan aku juga salat isya sendirian di kamar.
Ketika salat, aku menjadi tidak khusyuk. Terdengar suara berisik dari luar kamar, hingga aku tak lupa sudah sujud ke rakaat berapa. Salat pun kuulang lagi, berusaha fokus mengabaikan suara berisik yang tiba-tiba hilang itu. Mungkin saja kucing yang sedang berlarian ingin menangkap cicak.
Setelah salat, aku pun merapikan mukena. Meski ragu aku berjalan ke luar kamar, mencari tahu apa yang terjadi, akan tetapi semua terlihat baik-baik saja. Lalu saat berbalik, tiba-tiba terdengar lagi suara berisik dari dapur. Aku melangkah mendekati, dengan hati yang menjadi sedikit gugup.
Terdengar suara seseorang sedang mengunyah. Dan betapa terperanjatnya aku melihat sosok hitam yang berdiri di atas meja makan. Wajahnya mengerikan tak berbentuk, sedang memakan mangga muda yang sisa rujakku tadi siang. Aku langsung beristighfar, berlari ke kamar.
Aku meringkuk di atas kasur, dan tak lama terdengar suara motor di luar. Radit datang dan mengucap salam. Aku masih menutup diriku dengan bantal ketika Radit telah tiba di kamar. Dia pun terkejut melihatku.
“Kenapa?”
“Ada hantu, Dit. Di dapur.”
Radit tanpa bertanya lagi langsung berjalan menuju dapur. Aku pun berjalan mengikutinya dan memegangi tangannya. Di dapur sudah tak terlihat apa-apa lagi. Keadaan meja makan juga baik-baik saja dengan empat buah mangga yang masih utuh.
“Gak ada apa-apa, hantunya mungkin udah pergi,” ucap Radit santai.
“Serem banget, hantunya makan buah mangga itu.”
“Serius?”
“Iya.”
“Wah, berarti hantunya lagi ngidam juga.”
“Hus! Kok kamu ngomongnya gitu?”
“Ya abisnya, makan mangga muda segala.”
“Dih. Ya udah yuk. Aku takut.”
“Hemm.”
Aku menarik tangan Radit menuju kamar, dan Radit membacakan Al-quran untuk menenangkanku. Entah makhluk apa yang kulihat tadi, harusnya tidak ada kejadian seperti itu lagi. Biar bagaimana pun tetap saja aku merasa ngeri.
Radit lalu terpaksa salat isya di rumah ketika tiba waktu salat, karena khawatir meninggalkanku. Tak disangka, setelah salat isya tiba-tiba turun hujan dengan derasnya. Kemudian pemadaman listrik pun terjadi. Membuatku semakin tak ingin beranjak jauh dari Radit, lalu kami menghabiskan malam dengan melantunkan dzikir dan doa. Berharap lindungan dari yang Maha Kuasa.
Hujan turun cukup lama, membuat berisik dan sedikit sulit terlelap karena suara jatuhnya yang menimpa atap seng. Beruntung pemadaman listrik hanya sebentar. Setidaknya tidak perlu terlalu sesak nafas karena gelap-gelapan.
Karena belum ada kantuk, Radit pun membuat roti goreng selai coklat. Kami menyalakan televisi dan menikmatinya sembari menonton film aksi Mandarin. Anehnya di malam hari aku merasa lebih baik, dan serasa bisa makan apa saja. Semoga morning sickness ku segera berakhir. Aku ingin semua hari berjalan kembali lebih bersemangat, tentunya dengan kesehatan yang stabil juga.