Bab. 59. Suami Idaman

1334 Kata
Gara-gara ngeri dengan kejadian semalam, aku meminta Radit untuk membuang saja sisa mangga pemberian Kak Rina yang masih tersimpan di atas meja makan. Radit pun langsung membuangnya, tentu saja sembunyi-sembunyi. Tidak enak kalau sampai ada yang lihat. Entah apa maksud makhluk itu menampilkan diri di hadapanku, mungkin dia ngiler melihatku makan rujak mangga. Jadi dia ingin merasakan mangga itu juga. Menyebalkan. Agar tubuhku menjadi lebih bersemangat dan dapat berkeringat segar, Radit mengajakku untuk olahraga pagi. Kebetulan sedang libur, kami memutuskan untuk jalan-jalan santai menyusuri gang. Tanpa menggunakan alas kaki, membiarkan telapak kaki kami bersentuhan langsung dengan kerikil-kerikil dan pasir. Sesekali aku meringis karena tak sengaja menginjak batuan yang lumayan tajam. Berjalan hingga terasa hangatnya cahaya matahari, cukup membuat keringat membasahi tubuh. Aku merasa cepat lelah, akan tetapi rasanya menjadi lebih baik juga. Saat melewati depan rumah Kak Rina, tampak dia sedang menyapu halaman. Dia tersenyum padaku dan Radit, lalu kami hanya menoleh sebentar dan melanjutkan jalan. Setelah merasa cukup lelah, aku mengajak Radit cepat kembali pulang ke rumah. Kebetulan ini libur akhir pekan, Radit tak pergi ke sekolah untuk mengajar. . Selepas mandi, aku merasa sedikit ada perubahan. Mungkin karena habis gerak jalan dan olahraga, jadi terasa lebih menyegarkan. Radit yang juga selesai mandi, langsung bersiap membuat makan pagi. Menu simple, ayam goreng dan sayur bening. “Mau makan dulu apa minum s**u dulu?” tanya Radit. “Aku mau minum s**u pakai es batu,” jawabku. “Masih pagi, jangan minum es.” “Aku maunya es, biar seger.” “Haih. Iya iya.” “Aku bisa bikin sendiri kok.” “Jangan, kamu tunggu aja di ruang tamu.” “Hemm.” Radit sibuk sendiri di dapur, aku pun melangkah ke luar. Duduk di selasar rumah, menikmati sepoy-sepoy angin udara pagi hari. Dari selasar rumah Radit, kuperhatikan rumah dinas yang cukup lama tak pernah kutengok sejak tahu aku hamil. Entah kenapa, makin kulihat makin terasa membuat merinding. Di jendela kamar, tiba-tiba kulihat ada yang bergerak. Lalu semakin lama semakin jelas, aku seperti terhipnotis untuk terus melihat ke sana. Sesosok perempuan berambut panjang dengan wajah pucat, tengah melihatku juga. Semakin kulihat, kusadari wajahnya itu mirip dengan wajahku. Astaga! Aku melihat diriku sendiri. “Dhea?” “Radit!” “Kamu kenapa melamun gitu?” “Eum, aku seperti melihat sesuatu di rumah dinasku. Di jendela kamar.” “Makanya jangan bengong, jangan biarkan pikiran kamu kosong dari mengingat Allah.” “Hemm.” “Minum dulu susunya.” Aku mengambil segelas s**u yang Radit berikan. Lalu tiba-tiba Radit berjalan ke rumah dinas, membuka pintu dan semua jendela bahkan jendela kamarku yang menampakkan sosok aneh tadi. Sosok seperti diriku sendiri, denga versi pucat yang membuat ngeri. Entah apa maksudnya. “Nanti habis makan aku bersihin rumah sebelah,” ucap Radit. “Aku gak nyuruh kamu lakuin itu, Dit,” sahutku. “Tapi aku pengen, ternyata udah berdebu banget di sana.” “Hemm. Ya udah.” Sepertinya Radit mulai terlihat kesal pada keanehan yang kualami. Mungkin dia merasa lelah dan bosan, karena aku terus mengatakan melihat penampakan. Kususul dia ke dapur, ternyata dia sedang makan pagi. Kelelahan jelas terlihat di matanya, meski dia tak pernah mengeluhkan hal itu di hadapanku. “Kamu kesel ya, Dit. Sama aku?” tanyaku. “Enggak,” jawab Radit. “Tapi kok kamu jadi cuek gitu?” tanyaku lagi. “Cuek apa sih, Dhea? Jangan aneh-aneh deh.” “Tapi aku serius. Aku lihat ada penampakan do sana, cewek yang mirip sama aku. Aku seperti lagi ngaca, Dit.” “Iya, aku percaya kok. Aku selalu percaya apa pun yang kamu lihat, Sayang.” “Iya, dan aku gak tahu juga kenapa mereka selalu ganggu aku kayak gitu. Kamu pikir aku seneng liat setan?” “Kan aku gak nyalahin kamu. Aku Cuma nasihatin supaya kamu gak melamun.” “Iya, aku ngerti kok.” “Terus, kenapa kamu pikir aku lagi kesel?” “Ya pokoknya gitu.” Kutelungkupkan kedua tangan di atas meja lalu menekukkan wajah di sana. Melihat manyun pada Radit yang masih makan dengan lahap. “Susunya sudah habis?” tanya Radit sembari mencuci perabot di westafel. “Sudah,” jawabku. “Gak mau rebahan?” “Malas.” “Tumben banget bisa malas rebahan.” “Kenapa? Gak boleh?” “Ya Allah, sensi banget sih ibu hamil.” “Biasa aja.” “Hemm.” Moodku menjadi tidak baik dan membuat malas bicara hari ini. Sedang Radit benar-benar pergi membersihkan rumah dinasku setelah makan pagi. Dia menyapu, mengepel lantai, juga mengelap kaca jendela. Aku hanya duduk memperhatikannya dari selasar rumah. Kemudian, tak lama seseorang datang. Perempuan dengan setelan baju hitam putih, dan berkerudung pashmina hitam. Dia menghampiriku dan menanyakan alamat Radit. Rupanya dia membawa banyak pesanan, barang-barang yang dibeli online oleh Radit tanpa sepengetahuanku. Perempuan itu langsung pergi setelah mengantar barang-barang. “Radit ...!” panggilku dari selasar. Rupanya Radit sedang membersihkan dapur di rumah dinas. Tak lama dia pun muncul, masih dengan memegang sapu. “Ada apa, Dhea?” “Ada barang pesanan kamu nih.” “Oh, tadi ada yang anter?” “Iya.” “Bawa masuk aja, terus kamu buka deh.” “Ini kan barang kamu.” “Tapi itu buat kamu semua, Sayang.” “Buat aku?” “Iya, buka aja sana. Aku bentar lagi selesai kok bersihin rumahnya.” “Ya udah kalau gitu.” “Iya.” Radit kemudian kembali ke rumah dinasku, melanjutkan bersih-bersih. Aku membawa barang-barang ke dalam kamar, dan bersiap untuk membuka semuanya. Radit tak bohong ketika bilang semua itu untukku. Ada beberapa stelan baju khusus untuk ibu hamil, handuk baru, juga gamis baru dengan ukuran yang lebih besar. Radit bahkan membelikan selembar baju hangat dengan kain rajutan. Ini hadiah pagi hari yang sangat membuat hatiku berbunga-bunga. Perasaan yang tadi sempat aneh, menjadi kembali merasa bersemangat. “Gimana, Sayang. Kamu suka?” tanya Radit yang baru masuk ke kamar. “Iya, suka banget. Kok kamu beli banyak banget buat aku?” “Ya supaya gak beli-beli lagi nanti, sekalian aja beli banyak. Harganya terjangkau kok. Dan aku lihat akan cocok banget kalau dipakai kamu.” “Eum, makasih banyak ya, Suamiku Sayang.” “Sama-sama, Istriku tercinta.” Aku memeluk Radit meski dia melarang karena sedang berkeringat. Tak kusangka akan mendapatkan baju-baju baru hari ini. Radit memang selalu bisa membuatku bahagia. Satu persatu baju mulai kucoba, dan aku bersyukur semua terasa pas dan nyaman di badanku. Setidaknya dengan memakai baju baru, aku jadi sedikit terlihat lebih baik di hadapan Radit. Radit jadi tidak begitu bosan melihatku yang sedang awut-awutan gabut saja di rumah. “Cantik banget istriku,” puji Radit yang sejak tadi melihatku berpose di depan cermin. “Masih kelihatan bagus kan kalau aku yang pakai?” “Ya iya lah, justru karena kamu yang pakai, semua bajunya jadi lebih cantik, lebih bagus.” “Kamu mah juara banget gombalnya.” “Bukan gombal, Sayang. Aku itu jujur se jujur-jujurnya.” “Hemmm, iya aja deh.” Setelah puas memandangi baju baru, aku pun merapikannya kembali. Namun, ternyata Radit berinisiatif untuk mencuci semuanya lebih dulu sebelum kupakai. Ya, memang seharusnya begitu. Agar pakaian menjadi lebih bersih dan aman untuk nanti kupakai. “Harusnya kamu beli baju buat diri kamu juga, Dit,” ucapku. Memperhatikan Radit yang sedang mencuci dengan mesin cuci. “Aku kan udah banyak bajunya, cowok mah gampang,” sahut Radit. “Nanti aku akan gantian, belanjain buat kamu juga, Dit.” “Hemm, jangan. Uangnya disimpan aja, buat nanti kalau misal ada keperluan mendadak.” “Hemm, iya iya.” “Tidur sana.” “Bentar lagi udah dzuhur kan.” “Ya udah rebahan aja dulu.” “Hemm, ya udah, aku ke kamar ya.” “Iya, Sayang.” “Kamu kalau capek istirahat, Radit. Jangan terus maksain.” “Iya, Bawel. Udah sana.” “Hemm. Iya, deh.” Aku pun kembali ke kamar, meninggalkan Radit yang bersiap akan menjemur pakaian. Radit benar-benar sosok idaman, yang mungkin sudah sangat langka di dunia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN