Bab. 34. TALAK. Rahasia Kak Rina Musim Kedua

1083 Kata
Luka tak hanya yang menggores kulit dan berdarah, melihat kekasih yang dicintai sedang lemah tak berdaya juga sebuah luka yang sangat menyiksa. Setelah dua hari, aku dan Radit akhirnya bisa pulang ke rumah. Melakukan rawat jalan, dengan membawa banyak bekal obat-obatan. Aku merasa hanya perlu mengeringkan luka, sedang Radit tak disangka bisa pulih lebih cepat. Padahal bekas lukanya terlihat parah, akan tetapi, tidak ada luka dalam yang perlu dikhawatirkan. Andin yang telah mengetahui kabar kecelakaan kami langsung menyusul ke rumah sakit kemarin. Hingga hari ini, dia dan suaminya membantu kami untuk pulang ke rumah. Bahkan biaya perawatan juga dilunasi Bang Satria tanpa memberitahu kami sebelumnya. Kak Rina sudah berdiri di depan rumah Radit ketika kami tiba di desa, rupanya dia benar-benar membantu membersihkan rumah juga merawat tanaman selama kami tinggal. Dia tersenyum ketika kami datang, akan tetapi entah kenapa aku masih tidak suka melihatnya. “Bidan Dhea, rumahnya sudah saya bersihkan. Jangan khawatir, saya gak ada merubah posisi barang-barang yang lain kok,” kata Kak Rina. “Iya, makasih ya, Kak,” sahutku. “Tapi saya gak ada masak, Bidan. Kata bidan kan gak usah,” lanjutnya. “Iya, nanti Kak Andin yang akan masak.” “Baik kalau begitu saya permisi dulu.” “Tunggu, Kak.” Aku mengeluarkan uang dari dalam dompet, tiga ratus ribu yang hari itu juga kubawa sebelum terjadi kecelakaan. Kuberikan itu pada Kak Rina meski Kak Rina sempat menolak dengan keras. Lalu dia pun pamit pulang. Radit sudah bisa berjalan sendiri ke tempat tidur, akan tetapi aku masih saja merasa perlu untuk menuntunnya. Melihatnya sudah bisa tersenyum lagi, rasanya sudah sangat harus kusyukuri. Tak kami pedulikan lagi motor yang sudah rusak parah, meski Radit bilang akan memperbaikinya. Aku merasa trauma melihat motor itu lagi, aku takut sesuatu yang mengerikan seperti itu akan berulang bila masih memakai motor yang sama. “Kalian istirahat saja, Kakak akan masak untuk kita semua,” ujar Kak Andin. “Makasih, ya, Kak,” ucapku. “Udah, ah. Makasih terus. Bosen kakak dengarnya.” Kak Andin nyengir, lalu berlalu menutup pintu kamar kami. Segera aku menciumi punggung tangan Radit, memeluknya seolah tengah merasakan kerinduan yang teramat sangat. “Sayang,” ucap Radit sembari mengusap kepalaku. “Aku takut banget, Dit. Aku takut kehilangan kamu,” sahutku. “Lebih dari kamu, ketakutanku akan kehilangan juga jauh lebih besar dibanding kamu. Aku sangat menyesal, Sayang. Menyesal sekali bisa terjadi kecelakaan, harusnya ....” Sebelum Radit melanjutkan ucapannya, kututup bibirnya dengan jari manisku. Sejak di rumah sakit, Radit selalu mengatakan hal itu. Dia selalu merasa menyesal dan terus meminta maaf padaku. . “Udah, ya, Sayang. Jangan lagi kamu salahin diri kamu sendiri. Kita berusaha aja untuk lupain semua. Dan cukup ini jadi peringatan buat kita.” “Eumm, iya, Sayang.” Hari masih begitu terik, sepoy angin dari kipas putar cukup menyegarkan. Mengundang kantuk, membuat mata yang terasa sudah lelah ingin buru-buru terkatup. Radit tertidur lebih dulu dari aku, lalu aku memejamkan mataku dalam pelukannya. .... Kehadiran Kak Andin dan Bang Satria, membuat suasana rumah menjadi ramai. Aku dan Radit jadi memiliki teman ngobrol selain diri kami berdua, Kak Andin juga memenuhi meja tamu dengan banyak camilan yang dibelinya dari warung. “Di sini kan gak ada kamar, apa kita tidur di rumah Dhea aja?” ucap Bang Satria tiba-tiba. “Dih, ngapain? Mending aku tidur depan tipi sini, dari pada tidur di sana!” sahut Kak Andin. “Emang kenapa?” lirikku sok polos. “Dari luar aja udah serem, Dhea aja tinggal di sini kan,” sahut Kak Andin. “Seram apanya sih, Kak. Itu sih karena kalian penakut aja,” sambung Radit. “Iya, penakut. Ke wc aja minta anter kalau malem,” sahut Bang Satria. Lalu kami pun terkekeh mendengarnya. Rumah dinasku menjadi sangat memprihatinkan, padahal dulu telah menjadi saksi aku berjuang. Kalau bukan karena ada pasien, aku tidak akan mengunjunginya. Sepertinya aku harus sering-sering ke sana di siang hari, agar tak terlalu mengerikan lagi. ... Lelah mengobrol hingga larut malam, aku dan Radit memutuskan untuk segera pergi tidur ke kamar. Sedang Kak Andin dan Bang Satria, telah menyiapkan tempat tidur mereka di depan televisi. Rasanya tidak enak menyuruh mereka tidur di luar, akan tetapi mau tidak mau harus begitu karena rumah ini hanya punya satu kamar. “Panas banget,” ucap Radit ketika baru beberapa saat berbaring di tempat tidur. “Masa sih? Perasaan gak juga,” sahutku. Aku langsung menyalakan kipas angin agar Radit merasa nyaman. “Gak tahu nih, aku jadi sering kepanasan sejak di rumah sakit,” lanjut Radit. “Eumm, bisa jadi karena reaksi obat-obatan,” jawabku. “Kayaknya sih.” Aku mengenakan selimut agar tak merasa kedinginan, sedang Radit sepertinya mulai akan terlelap karena angin yang menimpanya. Baru saja akan terlelap, suara pintu terbuka mengejutkanku. Ternyata itu Radit, dia keluar kamar tanpa mengenakan bajunya. Kupilih untuk kembali terpejam, mungkin Radit hanya ingin buang air kecil. Menyebalkan! Hasrat buang air membuatku harus bangun lagi. Rasanya malas sekali ke kamar mandi. Lalu, di mana Radit? Dia belum kembali? Aku dengan pelan melewati ruang tamu, ada Kak Andin dan Bang Satria yang sepertinya telah tertidur lelap. Berjalan lagi aku ke dapur, lalu kutemukan sosok Radit ada di meja makan. Dia sedang minum air dingin dari kulkas, sedang dua teko yang sebelumnya kulihat masih penuh sekarang telah kosong di hadapannya. “Dit?” lirihku. Wajah Radit terlihat pucat dan kepayahan, keringat dingin membasahi wajah dan kepalanya. Untuk pertama kali aku melihat dia seperti ini, apa mungkin karena reaksi obat? “Panas banget, Dhea. Aku juga haus, tenggorokanku kering,” ucap Radit. “Serius?” tanyaku. Merasa tak percaya. “Iya, gak tahu kenapa kayak gini. Aku udah minum banyak banget, tapi tenggorokanku malah terasa makin kering,” jawab Radit. Aku tak habis pikir, kenapa hal seperti ini bisa terjadi. Hasrat buang air kecil tak bisa lagi kutahan, segera aku ke kamar kecil dan meninggalkan Radit. Sekembalinya aku dari kamar mandi, Radit sudah tak terlihat di dapur. Aku kembali ke kamar, rupanya Radit sedang salat. Aku duduk di tempat tidur, menatapnya hingga dia selesai salat. Aku merasa ada yang tak wajar dengan Radit. “Dhea, kamu tidur aja,” kata Radit. “Aku mau nungguin kamu, Sayang,” sahutku. “Aku mau dzikir dulu, kamu tidur aja.” “Eum, oke kalau gitu.” Kantukku terasa menjauh, akan tetapi tak lama datang lagi. Radit dengan khusyuk membasahi bibirnya dengan dzikir. Mungkin dengan begitu dia merasa sudah nyaman, lebih dari aku, pasti dia juga mengetahui apa yang tengah terjadi pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN