Bab 35. Ada Apa Dengan Radit

1334 Kata
Radit menjadi lebih pendiam, setidaknya sampai pagi ini. Wajahnya terlihat serius, entah memikirkan apa. Lalu aku melihatnya pergi keluar rumah, “Mau ke rumah Pak RT sebentar,” jawabnya ketika kutanya. Tempat minum di meja makan dan di kulkas, sudah kuisi kembali. Setelah salat subuh aku merebus air untuk mendapatkan air minum matang. Kami tak terbiasa minum air mentah, walau sesekali juga meminum air dari galon. “Radit kenapa?” tanya Andin, di sela kami masak bersama. “Gak tahu, Kak,” jawabku. “Serius gak tahu?” “Iya, beneran. Aku juga penasaran.” “Ehmm, kalau gitu kamu harus tanyakan nanti.” “Iya, biasanya dia selalu cerita sebelum aku tanya duluan.” “Ehm, oke deh.” Tepat saat akan memulai makan pagi, kulihat Radit datang. Dengan raut wajah kusut dan cemas. Dia bahkan menolak untuk makan dulu. Penasaran, aku pun menghampirinya di kamar. “Radit, kamu kenapa?” tanyaku. “Aku galau, Sayang,” jawabnya. “Galau kenapa?” tanyaku lagi. “Ternyata, saat aku kecelakaan dan sekarat malam itu. Pak RT ngasih aku minyak bintang atas saran dari Kak Rina.” “Hah? Apa?” “Iya. Kak Rina yang nyuruh Pak RT untuk ngasih ke aku. Supaya aku masih bisa tertolong.” “Ya Allah! Bisa-bisanya Kak Rina lancang ngelakuin itu!” “Kamu sabar dulu, kita bisa cari solusinya.” “Iya, dan aku harus nemuin Kak Rina sekarang juga!” “Dhea, tunggu dulu!” Tanpa peduli dengan cegatan Radit, aku gegas berjalan menuju rumah Kak Rina. Tepat sekali dia sedang duduk bengong di depan rumahnya. “Bidan Dhea?" “Kak! Kakak kok bisa lancang gitu sama suami aku!” “Hah? Maksud Bidan apa?” “Kamu udah ngasih minyak bintang ke Radit waktu kami kecelakaan, iya kan?” Kak Rina lalu terdiam, kemudian dia tersenyum seolah yang dia lakukan bisa diterima begitu saja. “Maafkan saya, Bidan. Saya Cuma gak mau terjadi sesuatu yang fatal sama Pak Guru,” jawabnya. “Saya lebih percaya medis dari pada minyak-minyak musyrik kamu itu, Kak!” “Minyak itu hanya membantu Pak Radit cepat sembuh, Bidan.” “Sekali pun tanpa minyak itu, Radit juga pasti bisa sembuh!” “Maafkan saya, Bidan. Saya akan tanggung jawab.” Bentakanku ternyata mengundang kegaduhan, para tetangga pasti dapat dengan jelas mendengar apa yang kami bicarakan. Kak Rina pun menangis, mungkin ketakutan dengan kemarahanku yang tak pernah kuperlihatkan sebelumnya. “Radit itu umpama malaikat untuk saya, Kak. Dan Kakak sudah berani mencampurkan sesuatu yang kotor seperti itu di darah Radit. Saya kecewa dengan sikap lancang Kakak! Meskipun menurut Kakak itu tanda kepedulian Kaka!” “Maafkan saya, Bidan. Bidan jangan khawatir, saya akan mentalak minyak itu dua hari lagi, setelah Pak Guru benar-benar sembuh.” Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Rasanya belum puas mengomel, tapi aku juga bingung harus bagaimana. Kuputuskan untuk meninggalkan rumah Kak Rina, kembali ke rumahku. “Sayang, udah puas ngomelnya?” tanya Radit yang telah duduk menungguku di selasar rumah. “Kamu gak khawatir sama diri kamu, Dit?” tanyaku balik. “Aku khawatir sama diri aku, lebih dari siapa pun. Tapi aku gak mau bikin keributan kayak gitu,” jawab Radit. “Terus gimana sekarang?” “Dia bilang apa?” “Dia bilang dua hari lagi akan talak kamu.” “Ya sudah, kita tunggu saja. Nanti aku juga akan rajin meruqyah diri aku sendiri, biar gak jadi hantuwen.” “Radit!” “Apa?” “Kamu terima aja gitu, minyak seperti itu masuk ke tubuh kamu?” “Ya kan udah masuk, kalau aku tahu, aku akan lebih milih mati aja dari pada harus minum itu.” Radit terlihat sedikit kesal, lalu melangkah ke kamar. Andin dan Bang Satria tampak kebingungan melihat kami. “Ada apa sih, Dhea?” tanya Bang Satria. “Iya, kenapa bahas segala hantuwen?” tanya Andin juga. Aku pun menghembuskan nafas kasar, sudah lama aku muak dengan pembahasan seperti ini. Bukan hanya mengerikan, tapi juga menjijikkan. “Radit, saat kecelakaan kemarin. Ternyata ada yang kasih dia minyak hantuwen, minyak bintang,” jawabku. “Minyak apaan itu, Dhea?” tanya Andin lagi. “Minyak yang bisa bikin sembuh, walau udah mau mati,” jawabku lagi. “Ada minyak kayak gitu?” “Ada, Kak. Minyak setan kan namanya.” “Ya Allah, terus gimana?” “Ya, Radit harus ditalak, harus dibersihkan dari pengaruh minyak itu sebelum lewat empat puluh hari.” “Kalau gitu cepat lakukan, Dhea. Tapi, memang kalau lewat bisa kenapa? Jadi hantuwen?” “Katanya sih, gitu.” “Ish. Serem banget.” “Iya lah. Aku mana rela suamiku jadi hantuwen!” “Iya, gak mungkin banget seorang Radit jadi hantuwen.” Andin dan Bang Satria sepertinya telah mengerti, aku pun beranjak dari duduk dan menyusul Radit ke kamar. Lelakiku itu sedang tiduran di atas kasur sembari membaca buku. “Radit,” kataku. Lalu berbaring di sampingnya. “Jangan dekat-dekat,” sahut Radit cuek. “Dih, kok gitu?” “Nanti aku gigit.” “Ish. Gak usah aneh-aneh, Deh!” “Kan kamu udah mikir aku ini udah jadi setengah setan hantuwen, iya kan?” “Enggak, Radit!” “Kamu udah jijik kan sama aku?” “Ya Allah, gak mungkin lah aku jijik sama kamu!” “Meski aku jadi hantuwen?” “Radit, kamu itu masih manusia. Gak usah ngaco deh!” Rasanya kesal mendengar ucapan asal Radit, ini semua karena Kak Rina dan minyak sialannya itu. Kalau pun Radit sekarat, aku tidak akan m*****i darahnya dengan minyak setan itu, dan itu bukan berarti aku tidak ingin dia selamat. Air mataku pun tak kuasa kutahan, jatuh begitu saja. Pelampiasan rasa sedih, dan kesal. “Maaf, aku Cuma becanda, kok,” ucap Radit. Lalu Radit duduk memelukku. “Aku takut, Dit. Aku Cuma takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, aku takut kehilangan kamu,” ucapku diiringi isak tangis yang sulit terhenti. “Iya, Sayang. Kamu gak usah khawatir. Aku akan cari jalan keluarnya, dan aku rasa ini semua gak akan menjadi masalah serius kok. Kamu tenang aja ya,” sahut Radit. “Semua ini karena Kak Rina, harusnya dia gak lakuin ini sama kamu, Dit.” “Udah, gak usah marah-marah ke orang lagi. Jangan nodai hati kamu dengan kebencian.” “Tapi aku benci sama dia, Dit.” “Jangan, Sayang. Bidadariku gak boleh jadi pembenci.” Aku terus memeluk Radit dengan erat, hingga air mataku berhenti keluar. Aku bersyukur dapat merasakan lagi kehangatan ini, bersamanya adalah penyemangat jiwaku untuk terus melanjutkan kehidupan. Aku tak ingin Radit pergi, sekali-kali pun aku tidak ingin lelakiku ini berada dalam masalah. ... Setelah menginap dua malam, Andin dan Bang Satria akhirnya pamit pulang. Mereka sangat membantu kami selama ini, bukan hanya materi. Mereka juga tetap seperti seorang sahabat dan saudara yang penuh perhatian. Radit tak lagi seaneh malam itu, meski kadang tetap terbangun di tengah malam karena merasa kepanasan. Keadaan Radit membuatku teringat pada Kak Rina, saat dia menginap di rumahku dulu. Namun, aku rasa setelah kepanasan dan kehausan, Kak Rina akan pergi ke suatu tempat untuk melepas kepala dan organnya. Lalu dia akan terbang untuk mendapatkan mangsanya. “Jaiahahahaha.” Radit tiba-tiba tertawa. Ketika tengah merapikan buku-buku di meja belajarnya. “Dit, kamu kenapa?” tanyaku heran. “Aku jadi keinget obrolan kita waktu itu,” jawabnya. “Apa? Obrolan yang mana?” “Yang sebelum kita nikah. Aku pernah bilang, kalau seumpamanya aku jadi hantuwen. Ahahahaha.” “Hemm, iya aku ingat. Kamu dengan percaya diri bilang kalau kamu jadi hantuwen, akan banyak yang ngejar-ngejar kamu karena kamu hantuwen ganteng.” Aku pun ikut tertawa mengingat lagi percakapan kami dulu. Saat itu memang terasa lucu, akan tetapi saat ini rasanya membuat semakin khawatir saja. “Hantuwen ganteng,” gumam Radit. Lalu dia pergi ke selasar rumah untuk menggerakkan otot-ototnya. Besok adalah hari terakhir, meski belum empat puluh hari. Entah apa yang akan dilakukan Kak Rina untuk melakukan talak minyak. Aku juga penasaran akan seperti apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN