Bertepatan dengan hari kamis pagi, kak Rina datang ke rumahku dan Radit. Dia terlihat membawa secangkir tampung tawar. Tampung tawar adalah irisan daun pandan, yang diberi sedikit air juga sebutir telur ayam kampung. Tak hanya itu, juga ada beras dan sedikit minyak wangi ikut dicampurkan.
Tampung tawar biasanya akan dibuat ketika sedang berlangsung suatu acara atau tradisi. Meski bukan dari ajaran islam, tampung tawar masih belum bisa lepas dari masyarakat. Sudah dianggap budaya yang menjadi pelengkap tradisi, dan digunakan oleh pemeluk agama apa pun.
Aku dan Kak Rina masih merasa canggung satu sama lain, meski Radit terlihat tidak nyaman, kami memutuskan untuk membiarkan Kak Rina melakukan apa yang perlu dia lakukan.
Kak Rina duduk di depan Radit, lalu membaca mantra tanpa suara di depan gelas air tampung tawar. Lalu Radit pun ditampung tawar, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Aku juga diminta Kak Rina untuk melakukan tampung tawar pada Radit.
“Sudah selesai, Bidan Dhea. Pak Radit sudah selesai talak minyak hantuennya,” ucap Kak Rina.
“Sudah, Kak? Begitu saja?” tanyaku.
“Iya, Bidan. Insya Allah pak Radit sudah sembuh, dan sudah tidak akan diganggu minyak itu lagi,” lanjut Kak Rina meyakinkan.
“Baik lah, kalau begitu tugas Kakak sudah selesai.”
“Saya benar-benar minta maaf ya, Bidan, Pak Radit.”
“Sudah lah, Kak. Kami sudah memaafkan, terima kasih untuk perhatian kakak,” sambung Radit.
Aku diam saja, rasanya kata maaf belum bisa meluncur tulus dari bibirku untuk Kak Rina. Biar lah semua yang sudah terjadi, aku rasa biar lah juga hubungan kami menjadi canggung seperti ini.
Ini juga agar Kak Rina bisa mengambil pelajaran, bahwa dia tidak ada hak untuk bersikap lancang pada seseorang yang tidak ada hubungan darah dengannya.
Usai di talak, Radit pergi mandi dan bebersih diri. Dengan pakaian rapi, dia pergi ke sekolah untuk mengajar. Pulang mengajar nanti, rencananya kami akan pergi ke rumah sahabat Radit yang juga seorang ustaz dan ahli pengobatan ruqyah. Kami hanya ingin memastikan, tidak ada gangguan jin dalam diri Radit dan juga diriku.
....
Namanya Ustaz Ibrahim, baru dua tahun lalu ustaz tampan berlesung pipit itu melepas masa lajang. Menikah dengan seorang gadis asli Kalimantan yang cantik jelita, namanya Anna Salsabila. Anna menutup sempurna kecantikannya dengan balutan kain serba hitam, hanya ketika denganku dia mau melepas niqab. Lalu kami pun bercengkrama sembari menunggu Ustaz Ibrahim dan Radit mempersiapkan diri untuk ruqyah.
“Jadi, Dhea ini seorang Bidan?” tanya Anna, ketika menyuguhi secangkir teh dan kue kering di dalam piring.
“Iya, Ustazah. Ustazah sepertinya tidak terlihat waktu acara pernikahan saya dan Radit?”
“Masya Allah, jadi benar ya, kalian ini pasangan yang baru menikah itu. Waktu itu kami sudah dapat undangan, tapi ya, maaf sekali. Kami ada aral yang membuat kami tidak bisa datang,” jelas Anna.
“Iya, Ustazah, gak apa-apa. Lagi pula, dari Menduing ke Palangkaraya juga lumayan jauh.”
“Ya, meski begitu. Kalau bukan karena ada aral, pasti kami datang.”
“Eumm, iya.”
“Karena kamu ini Bidan, boleh gak saya minta diperiksa? Suami saya itu cerewet, dia gak mau saya datang periksa ke mantri sini, karena mantrinya laki-laki.”
“Oh, Ustazah sedang hamil?
”
“Ya, saya sudah telat lima bulan, sudah tes pakai tespack dan hasilnya positif.”
“Masya Allah, alhamdulillah. Tapi, saya kan gak bawa alat medis. Cuma bisa periksa perut saja kalau ustazah mau.”
“Boleh, Bidan. Yuk, kita ke kamar saya saja.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mengekori Anna ke kamarnya. Kediaman mereka sederhana saja dengan bangunan rumah yang menggunakan kayu ulin. Terlihat sederhana, antik, akan tetapi sejatinya sangat mahal membangun rumah dengan gaya seperti ini.
Anna memperlihatkan perutnya, dan aku meminta sedikit minyak zaitun miliknya untuk kuganakan meraba perut. Cukup sulit menemukan letak kepala bayi, akan tetapi dengan beberapa teknik akhirnya aku bisa merasakan letak bayi. Ini adalah kehamilan anak pertama mereka, pasti menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu.
“Bagaimana Bidan?” tanya Anna ketika selesai kuperiksa.
“Letak bayinya bagus, sesuai dengan yang dikatakan Ustazah, masih sekitaran usia enam bulan kehamilan. Ini anak pertama kan?”
“Iya, Bidan. Alhamdulillah ini anak pertama kami.”
“Kalau begitu harus rajin ke Posyandu ya, biar dapat imunisasi tepat. Juga biar tahu perkembangan bayinya.”
“Insya Allah, Bidan.”
“Imunisasi itu penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi, Ustazah.”
“Iya, Bidan. Terima kasih banyak, ya.”
“Iya, sama-sama.”
Setelah memeriksa, kami pun pergi ke ruang berobat. Di sana sudah ada Ustaz Ibrahim dan Radit, sepertinya Radit telah selesai konsultasi. Aku dan Anna duduk di pojokan ruangan, lalu mulai menyaksikan ustaz Ibrahim yang memulai bacaan doa dan dzikir. Kami yang di ruangan pun diminta untuk ikut berdzikir, jangan sampai ada celah setan untuk masuk.
Selama di ruqyah, Radit terlihat normal saja. Tidak ada reaksi yang macam-macam. Aku berharap, ini pertanda bahwa dirinya sudah semakin baik. Terhindar dari keburukan minyak itu.
...
Setelah ruqyah, kami tak langsung pulang hingga bada isya. Anna membuat kami makan malam di rumahnya, lalu kami dzikir dan membaca Al-kahfi berjamaah. Karena bertepatan dengan malam jumat yang mulia.
Karena masih merasa trauma berkendara malam hari, aku memaksa Radit untuk pulang sekalian besok pagi saja. Ustaz Ibrahim pun tak keberatan menyediakan kamar tamunya untuk kami berdua. Meski merasa tidak enak, ini lebih baik dari pada aku harus nekad pulang malam-malam.
“Trauma banget ya, Bidan?” tanya Ustaz Ibrahim. Di sela kami minum teh di ruang tamu.
“Iya, Ustaz. Ini saja saya mau kemari karena naik mobil. Radit juga masih saya larang naik motor, tapi dia gak nurut,” jawabku.
“Namanya juga laki-laki, kecelakaan di jalanan itu sudah seperti hal biasa. Seperti luka lecet jatuh dari sepeda saja, iya, kan Ustaz Radit?” lanjut Ustaz Ibrahim.
Radit pun hanya tersenyum, mungkin benar seperti itu lah yang dirasakan laki-laki. Berbeda dengan perempuan yang mudah trauma.
“Sayang, saya tadi periksa sama Bidan Dhea. Alhamdulillah kata Bidan benar, saya hamil enam bulan,” ucap Anna.
“Masya Allah, alhamdulillah. Semoga kamu dan bayi kita selalu diberi kesehatan oleh Allah subhanahu wa taala.”
“Aamiin.”
Ustaz Ibrahim terlihat tersenyum bahagia, lalu mengusap-usap perut Anna. Romantis sekali mereka, membuatku ingin cepat hamil juga. Radit yang menyadari kekonyolan muka pengenku pun langsung menggenggam erat tanganku.
“Doakan ya, Ustaz. Semoga Dhea istri saya cepat mengandung juga,” ujar Radit.
“Aamiin, ya Allah. Aamiin,” sahut Ustaz Ibrahim dan Anna berbarengan.
Bahagia melihat karunia yang didapat orang lain, juga akan membuat kita mendapatkan karunia yang sama. Insya Allah. Aku bersyukur atas semua yang kuterima dalam hidup. Kalau pun mungkin aku harus menunggu, aku yakin Allah sangat menyayangiku dan akan segera menitipkanku amanah itu.
.....
Menjelang larut malam, aku dan Radit akhirnya bisa rehat di kamar. Suasana desa Menduing cukup sepi, hampir sama saja dengan desa Dahian Tunggal.
Karena baru saja mengalami kecelakaan, aku kembali dibebas tugaskan. Dan belum mendapat informasi akan ada persalinan di waktu dekat. Ini membuatku merasa memiliki waktu rehat lebih banyak. Lebih banyak waktu bersama Radit, dan aku sangat bahagia menjalaninya.
Kadang kupikir, ingin berhenti saja dari pekerjaanku. Menjalani kehidupan hanya menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga saja. Namun, aku merasa belum tiba waktunya untuk aku rehat. Apa lagi aku ini hanya Bidan yang dinas daerah, tidak sesibuk dokter rumah sakit. Aku masih ada banyak waktu untuk mengurus keluarga.
Lagi pula, Radit mengurus rumah lebih sering dan lebih baik dari pada aku. Sejatinya tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Hanya saja aku takut itu membuatnya bosan dan mendapat godaan perempuan lain.
....
Ketika sedang lelap-lelapnya, Radit membangunkanku. Lalu terdengar suara berisik dari luar. Aku pun mengumpulkan kesadaran dan bangun untuk mencerna ucapan Radit.
“Tetangganya Ustaz Ibrahim ada yang mau lahiran, kamu bisa bantu gak, Sayang?”
“Lahiran?”
“Iya, Anna mau minta kamu bantuin kalau bisa.”
“Emangnya gak ada bidan lain?”
“Mereka sudah nelpon Puskesmas, tapi belum sampai juga.”
“Eumm, yaudah. Tunggu bentar.”
Aku dengan langkah gontay berjalan menuju toilet, dan segera membasuh muka. Kupakai kerudung, lalu bersama Radit pergi keluar. Di ruang tamu sudah ada Anna dan Ustaz Ibrahim. Anna pun membawaku ke tempat tetangganya yang akan bersalin itu.
Karena masih tengah malam, hawa di luar sangat dingin. Aku juga masih sedikit mengantuk saat tiba di kamar pasien. Pasien sudah terlihat memucat, dengan kondisi yang lemas. Di kamar hanya ada suami dan Ibu-ibu paruh baya.
“Sudah sejak kapan mulai terasa sakit perutnya?” tanyaku sembari mengecek denyut nadi.
“Sudah sejak pagi, Mbak,” jawab suami pasien itu.
“Sudah menghubungi Bidan?” tanyaku lagi.
“Belum, Cuma sama bidan kampung,” jawab suaminya lagi.
“Harusnya ada bidan medis juga, agar kita tahu kondisi fisik pasien."
Aku merasakan denyut nadi pasien lemah, nafasnya juga terdengar sudah kepayahan. Aku lalu meminta izin untuk memeriksa kondisi jalan lahir, ketubannya belum pecah dan sepertinya pasien sudah kekurangan cairan tubuh.
“Ini harus segera ditangani, sayangnya saya gak bawa alat medis. Bidan di sini gak ada?”
“Bidannya sedang cuti melahirkan, Mbak. Saya sudah cek ke rumahnya.”
“Ya sudah, kita tunggu dulu sampai ambulans datang. Tolong kasih minuman untuk menambah energi ibu ini, kondisinya lemah sekali.”
Aku meraba perut pasien, masih bisa kurasakan gerakan normal bayi. Seseorang yang kurasa adalah bidan kampung, mulai terlihat panik. Kulihat suami pasien memberi minuman herbal untuk istrinya yang akan bersalin. Mereka pasangan muda, mungkin ini adalah persalinan pertamanya.
Tak lama, ambulans pun datang bersama seorang bidan dan perawat. Mereka yang terbilang juniorku pun terlihat kaget karena menemukanku di tempat ini. Aku langsung mengeluarkan infus, dan memasangkan infus pada pasien yang akan bersalin.
“Periksa dulu tensi darahnya,” ucapku.
“Baik, Bidan Dhea.”
Kami memeriksa semua kondisi pasien, lalu bersiap untuk membawanya masuk ke ambulans. Kuharap infus dapat membantu memulihkan tenaga dan membantunya untuk bisa melewati persalinan.
“Dhea, kamu ikut ke puskesmas?” tiba-tiba Radit datang saat kami semua sudah berkumpul di depan rumah.
“Eumm, iya, kayaknya aku gak usah ikut ya, karena mereka sudah ada yang menangani,” jawabku ragu.
“Bidan, ikut saja Bidan Dhea!” Bidan junior itu malah menatapku penuh harap.
“Iya, Dhea. Kamu ikut mereka saja. Nanti aku akan menyusul jemput kamu,” lanjut Radit.
“Eumm, gak. Gak usah nyusul aku. Aku akan di puskesmas sampai besok pagi.”
“Gitu? Oke, kalau gitu. Kamu hati-hati, ya.”
“Iya, aku pamit, Dit.”
Kucium punggung tangan Radit, lalu dengan cepat aku ikut masuk ke ambulans. Sebenarnya aku tidak perlu ikut, tapi melihat bidan juniorku sedikit panik, rasanya aku tidak bisa membiarkan juga.
Di perjalanan, kontraksi mulai cepat. Calon ibu juga sepertinya kembali siap untuk bersalin. Kami pun mengatur posisi dan membantu proses persalinan. Hingga saat tiba di depan Puskesmas, bayi telah berhasil lahir dengan selamat.
Bayi yang besar cukup menyulitkan sang Ibu yang berpinggul kecil, belum lagi karena kurangnya cairan. Persalinan kering memang lebih menyusahkan dibanding yang normal, terkadang perlu bantuan olesan minyak pelumas agar bayi mudah keluar. Proses pembersihan Ibu dan bayi pun berlanjut di Puskesmas. Aku merasa lega karena Ibu dan anak itu akhirnya bisa melewati proses persalinan dengan selamat.
....
Terlalu lelah, aku memilih untuk menginap di kamar istirahat perawat di Puskesmas. Penerangan lampu dan fasilitas yang cukup, membuatku tak terlalu merasa takut. Lagi pula ini sebentar lagi saja menuju subuh.
Kubaringkan tubuh di atas tempat tidur, aku bahkan lupa membawa gawaiku. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ternyata yang datang adalah perawat yang tadi membantu persalinan. Kulihat dia berjalan masuk ke toilet, dan kudengar suara dia muntah-muntah di sana.
“Arggh! Pusing kepalaku,” kata perawat itu sambil mengganti pakaiannya.
“Kenapa, Dek?” tanyaku iseng.
“Gak tahu, Kak. Udah lama kerja masih aja bisa jijik,” jawabnya.
“Jijik sama darah?” tanyaku lagi.
“Kalau darah sih, masih bisa tahan. Tadi itu, lihat kotoran yang melekat di kulit bayi dan di jalan lahir, aku gak kuat,” jawabnya.
Memperlihatkan wajah yang benar-benar kacau.
“Eumm, mungkin ibunya kurang makan nanas atau air kelapa.”
“Iya, kata Ibuku dulu juga gitu. Biar bayinya bersih.”
“Iya, kadang perkataan orang-orang dulu ada benarnya juga.”
“Eum, Kakak gak pulang?”
“Nanti aja kalau sudah pagi, suamiku jemput kok.”
“Gak takut di sini?”
“Memang kenapa?”
“Ya, kata yang lain di sini sering ada penampakan.”
“Kamu sudah pernah lihat?”
“Belum.”
“Hemmm.”
“Ya, masa aku harus lihat dulu, Kak?”
“Jiahaha. Kupikir kamu sudah lihat.”
“Aku mau pulang dulu, ya. Mau mandi dan tidur sebentar.”
“Pasien yang tadi sudah pulang?”
“Belum, Kak. Ibunya masih lemah, mungkin nunggu sampai besok pagi.”
“Lah, terus kenapa kamu pulang?”
“Kan ada Kak Bidan Santi di sana.”
“Gak bisa begitu. Kamu perawat Puskesmas sini, harus berjaga sampai pasien pulang. Bidan saja gak pulang, kenapa kamu pulang.”
“Gitu ya, Kak?”
“Iya, lah. Sana, balik ke kamar rawat.”
“Haduh, iya, iya.”
Perawat itu benar-benar membatalkan niatnya pulang, dan aku merasa yang aku ucapkan tadi bukan hal yang salah.
Menunggu pagi, aku pun mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar suara deritan, kubuka mata dan ternyata kudapati tempat tidur yang ada di sebelahku telah sedikit berpindah tempat.
Aku mencoba untuk tidak takut, lalu kupejamkan mata lagi. Terdengar lagi suara deritan itu, semakin kubiarkan semakin terdengar menantang. Aku pun membuka mata, kudapati tempat tidur besi itu telah jauh posisinya dariku.
Aku mulai merasa merinding, dengan keras k****a ayat kursi lalu setengah berlari meninggalkan ruang istirahat perawat. Menyusuri lorong puskesmas, kembali menuju ke kamar rawat. Rasanya lega karena masih ada banyak orang di sana.
“Kenapa, Kak?” tanya perawat dengan wajah kaget melihatku.
“Di sana banyak nyamuk,” jawabku. Mencoba menahan rasa takut agar tak terlihat.
“Masa sih?”
“Iya.”
“Oh, kirain habis lihat setan.”
“Setan apa?” sambung Bidan Santi.
“Ya, setan. Meski aku belum pernah lihat wujudnya."
Aku akhirnya ikut menunggu pasien di ruang rawat inap, mataku benar-benar terasa lelah. Seandainya aku bisa tidur sebentar lagi saja.