Bab 20. Di Rumah Radit

1323 Kata
Tidak ada masalah, yang tak memiliki solusi. Sama seperti halnya tidak ada penyakit yang tidak memiliki obat. Hanya saja, kadang sulit untuk menemukan solusi juga obat, bahkan kadang datangnya sangat terlambat. Sesuai janji, aku dan Radit mengunjungi KUA yang tak jauh dari lingkungan rumahku. Kami akan mendaftarkan niat kami melakukan pernikahan. Kondisiku sudah merasa lebih baik sekarang, walau nafsu makan masih belum kembali seperti semula. Rasa sakit yang menimpaku kemarin juga membuatku merasa trauma untuk makan di luar rumah. Ada banyak surat-surat yang harus ditanda tangani, dengan sabar kami mengikuti arahan petugas kantor. Mereka juga mengajak diskusi dengan diselingi bercanda, membuat kami tak merasa bosan. “Setelah ini kamu diminta Kak Andin ke rumah kami dulu, ada yang mau dibahas katanya,” ujar Radit. Saat kami telah kembali ke mobil dan sudah selesai mengurus administrasi di Kantor Urusan Agama. “Oke,” sahutku. Radit melajukan mobilnya, menuju kediaman keluarga besar mereka. Karena Rumah Radit lebih besar, pernikahan akan di adakan di rumahnya. Itu juga permintaan Ibu, Ibu tidak ingin merasa repot juga untuk menjaga kesehatannya yang mudah jatuh sakit karena lelah. Sampai di depan rumah Radit, ternyata sudah ada banyak orang. Di antara banyaknya orang, sebagian adalah kerabat dan keluarga. Sebagiannya lagi adalah tetangga di sekitar rumah Radit. Persiapan untuk makanan dan dekorasi telah dimulai, kalau Allah mengizinkan, dua hari lagi kami bisa memulai akad dan meresmikan hubungan menjadi suami istri. “Dhea ...!” seru Andin. Hanya menggunakan daster rumahan, dia keluar dari pintu rumah menyambut aku dan Radit yang baru sampai. “Gimana kabar kamu, Dhea? Udah gak sakit kan?” tanya Andin. “Alhamdulillah, udah merasa lebih sehat kok,” jawabku. “Ya Allah, aku sampai kepikiran banget, khawatir kamu kenapa-napa, padahal bentar lagi kamu mau nikah,” kata Andin lagi. “Doain, ya, Ndin. Semoga nikahan aku lancar.” “Aamiin, Dhea. Aku juga udah siapin semua dengan teliti. Sekarang kamu ikut aku ke kamar pengantin, kita lihat baju kamu , pas apa enggak.” “Hemm, oke.” Aku mengekori Andin menuju kamar pengantin yang dia maksud, ternyata itu adalah kamar tamu di rumah Radit. Belum di dekorasi, akan tetapi rasanya aku sudah mulai berdebar berada di kamar ini. “Nih, lihat. Kamu coba dulu.” Andin mengeluarkan baju-baju pengantin dari dalam lemari, lalu mengunci pintu kamar. Aku pun langsung mengganti pakaian dan mencoba gaun-gaun indah itu. Semuanya terasa pas di tubuhku, saat berdiri di depan cermin rasanya juga semakin gugup. Aku gugup bila nanti benar-benar akan mengenakannya di hadapan semua orang. “Masya Allah, Dhea. Cantik banget kamu pakai gaun itu. Belum dandan aja udah cantik,” ujar Andin. “Masa sih?” “Iya, mantap pokoknya.” Usai mencoba gaun, aku pun menggantung kembali gaun-gaun itu ke dalam lemari. Di atas tempat tidur, ada banyak sekali aksesoris juga hiasan-hiasan kamar. Tak menyangka aku juga akan mengalami ini semua. “Ini kamar pengantinnya, besok baru mulai di dekor. Pelaminannya di depan, sekarang sih, baru masang tenda-tenda aja,” jelas Andin. “Makasih, ya, Andin. Kamu udah bantuin aku sejauh ini." “Hem, kan kamu bukan Cuma sahabat aku Dhea. Bagi aku kamu itu sudah menjadi keluarga, bahkan sejak lama. Aku makin merasa bahagia karena sekarang kita juga akan jadi ipar.” “Pokoknya makasih, banget. Kamu memang yang terbaik, Andin.” Kupeluk Andin dengan erat, meski dasternya terasa bau dapur. Aku merasa beruntung memiliki sahabat sebaik dia. Dia berperan besar dalam hubunganku dengan Radit, kalau tidak dikenalkan olehnya, mungkin aku tidak akan secepat ini menemukan calon imamku. “Ya udah, sekarang aku mau ke dapur lagi, ngecek kerjaan dapur.” “Aku ikut ya, Andin.” “Eh, jangan. Entar kamu jadi bau bumbu. Masa pengantin jadi bau bumbu. Oh iya, aku lupa!” Andin lalu mengeluarkan kotak berwarna merah muda dari dalam lemari, menyerahkannya padaku. “Itu apa Andin?” tanyaku. “Ini, aku udah beli lulur tradisional buat kamu. Bedak pengantin juga ada. Kamu pakai nanti di malam sebelum akad, supaya terpancar aura kecantikan kamu, Dhea,” jawab Andin. “Eum, harus ya?” “Harus dong.” “Halal? Gak syirik kan ini?” “Halal, dijamin. Dan satu lagi, lebih baik hari ini atau besok kamu udah pindah nginep di sini. Gak baik calon pengantin ke mana-mana, harus dipingit biar aman.” “Gitu?” “Iya, Dhea. Jangan kelupaan ya, ini lulur dan bedaknya. Kamu nginep di sini aja sudah, nanti suruh Devie bawa baju-baju kamu, oke?” “Hemm, terserah aja deh.” Andin lalu pergi meninggalkanku sendirian di kamar. Sebenarnya aku merasa risih kalau harus pindah ke rumah Radit sekarang, karena di rumah ini ada banyak orang. Sangat berisik juga. Namun, yang dikatakan Andin ada benarnya. Agar menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Aku mengirim pesan pada Devie, untuk bisa mengantar beberapa lembar pakaian untukku. Kedua adikku tidak bisa banyak membantu persiapan karena mereka masih harus sibuk dengan kegiatan sekolah. Ibu juga kularang datang karena takut membuatnya lelah. Andin juga sudah mengatakan biar semua menjadi tanggung jawabnya. “Hey, Dhea?” Radit memanggilku dari depan pintu kamar. Aku segera menghampirinya, meski tidak ada yang memperhatikan. Akan sangat tidak nyaman kalau kami berduaan di dalam kamar. Kamar ini masih jadi calon kamar pengantin, belum bisa digunakan. “Radit?” “Kamu ngapain? Udah coba gaun-gaunnya?” “Hemm, iya, udah. Semuanya pas kok.” “Alhamdulillah kalau begitu. Kamu bisa pakai kamar aku kalau mau istirahat.” “Kata Andin aku disuruh nginep di sini sampai nanti nikah.” “Iya, emang baiknya gitu. Udah aku omongin juga kok sama Ibu.” “Tapi gak apa-apa?” “Ya gak apa.” “Eum, oke deh.” “Tapi kalau itu bikin kamu gak nyaman ya gak usah, Dhea.” “Enggak, kok, Dit.” “Ya udah, kalau gitu kita makan siang dulu, yuk.” “Yuk.” Aku mengekori Radit menuju ruang tamu di rumah mereka, dia menyuruhku menunggu sebentar. Lalu tak lama, Radit datang dengan membawa makanan. Dia menyiapkan sendiri makan siang untukku. “Ini masakan yang ada di dapur, kayaknya sih enak,” ucap Radit. “Kenapa gak suruh aku ke dapur aja, Dit? Kalau gini kan jadi ngerepotin kamu,” sahutku. “Di dapur sumpek. Aku gak mau bikin kamu repot, banyak yang bakal nanyain juga di sana. Banyak orang, aku aja dibecandain macam-macam.” “Hemm, memangnya ditanya apa aja, Dit?” “Banyak. Kayaknya hampir setiap ada yang mau nikah, mesti dibikin candaan gitu sama senior-senior.” “Kalau gitu aku mau diam di kamar aja habis ini.” “Wekwek. Ya, lebih baik gak dengar candaan mereka.” Aku tersenyum, lalu mulai makan makanan yang dihidangkan Radit. Sesekali aku menatapnya, lalu dia juga menatapku. Rasanya sulit dijabarkan. Ingin sekali langsung pergi ke kamar dan terlelap dalam pelukannya. Selesai makan, seseorang membantu kami membereskan bekas makan. Radit jadi tidak kerepotan kembali ke dapur. Sebenarnya aku yakin, candaan orang-orang yang dimaksud Radit adalah tentang sikapnya yang perhatian padaku. Radit memang memiliki kriteria pria idaman yang rasanya sudah semakin langka. Radit menunjukkan padaku di mana kamarnya, ternyata ada di lantai dua. Kamarnya luas, lebih besar dari kamarku. ketika masuk kamarnya langsung tercium aroma khas Radit. “Ini kamar aku, Dhea. Semoga kamu nyaman di sini.” “Kalau aku tidur di sini, kamu di mana?” “Cowok mah gampang tidur di mana aja." “Jangan gitu lah.” “Terus gimana?” “Ya udah sana. Aku mau tidur.” “Tuh kan.” Radit tersenyum gemas lalu membiarkanku menutup pintu kamarnya. Rasanya mendebarkan berada di kamar Radit, ini pertama kalinya aku ada di kamar laki-laki. Tidak ada banyak barang, seingatku Radit memang hampir membawa semua barangnya ke rumah dinas. Di pojokan kamar ada banyak buku, lalu sebuah buku dengan warna merah mencolok memancingku untuk mendekat. Rupanya buku misteri, berisi kisah-kisah hantu. Dari covernya saja terlihat menyeramkan. Kusimpan kembali buku itu, berharap tak ada hal menakutkan yang harus mengganggu pikiranku sampai nanti moment impian benar-benar terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN