Bab 21. Perawatan Pengantin

1279 Kata
Devie dan Fitri datang ke rumah Radit saat sore, mengantarkan baju-baju gantiku. Aku sebenarnya merasa tidak nyaman pada Radit, juga Andin. Harusnya yang sibuk mengurua pernikahan, apalagi soal masak memasak, itu dari keluarga perempuan. Namun, mereka tetap meyakinkanku bahwa semua itu bukan masalah besar. Aku juga tidak meminta mahar besar pada Radit, sesuai dengan diskusiku bersama Ibu. Ibu hanya mengatakan padaku untuk meminta emas murni seberat sepuluh gram, lalu Ibu membebaskan Radit dan keluarganya untuk menentukan biaya untuk terselenggaranya acara. Karena kami memang tidak menyanggupi untuk mengadakan pesta di kediaman kami yang kecil. “Aku belum pernah ke sini, ternyata mereka dari keluarga kaya, ya?” kata Devie. Aku dan kedua adikku itu mengobrol di kamar Radit. Devie dan Fitri juga bertanya apa keluarga Radit masih ada stok anak laki-laki, mereka langsung manyun saat kujawab bahwa Radit anak bungsu. “Anak bungsu, pasti kesayangan banget tuh,” ucap Fitri. “Iya, kayak kamu Fit. Kesayangan Ibu kan,” sahutku. “Enggak, ah. Aku lebih sering diomelin sama Ibu,” sahut Fitri dengan wajah manyun. “Gimana gak diomelin, males dan joroknya gak abis-abis,” sambung Devie. “Dih, enak aja!” Fitri mencubit pelan lengan Devie. Asyik mengobrol, tiba-tiba Andin datang. Andin meminta Devie dan Fitri membantu menyebarkan undangan untuk orang-orang di sekitar rumah kami. Kedua adikku itu pun langsung bergerak mengikuti perintah Andin. Tinggallah aku sendirian lagi di kamar, hanya bisa menunggu dan menunggu. Dengan debar di dalam d**a yang semakin terasa menggebu. Aku kembali melihat-lihat isi rak buku Radit, tak hanya ada buku. Di sana juga ada album-album foto. Kenangan Radit sejak dia kecil, masa sekolah, hingga masa di mana dia benar-benar terlihat rupawan. Saat kubuka album foto masa SMA-nya, ada banyak foto Radit bersama sesosok perempuan. Perempuan itu bermata sipit dan berkulit putih, dia sedang memegangi sebuah piala yang sedikit lebih kecil dari yang dipegang Radit. Di foto itu tertulis, bahwa mereka memenangkan olimpiade matematika. Rupanya Radit cerdas di banyak bidang pelajaran. Dia pasti menjadi bintang populer saat masih duduk di bangku sekolah. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Radit yang datang. Dia terlihat terkejut melihatku yang sedang membuka album foto miliknya. “Hey, ngapain?” lirik Radit. “Maaf, aku Cuma lihat-lihat album foto kamu,” sahutku. “Ganteng kan?” “Banget.” “Wekaweka.” Radit lalu ikut melihat apa yang sedang kulihat, dia tersenyum lalu ikut melihat-lihat foto itu juga. Seolah dia sudah lama membuat album itu tanpa sentuhan manusia. “Aku kesannya bersinar banget ya, dulu,” gumam Radit. “Memang, sampai sekarang malah,” ucapku. “Hemm. Tapi ini semua membutuhkan perjuangan yang besar, semua demi bisa membuat kedua orang tuaku bangga,” jelas Radit. “Ya, mereka pasti sudah sangat bangga sama kamu, Dit.” “Kalau kamu lihat album foto Abangku Satria, kamu mungkin akan menganggap aku gak ada apa-apanya, Dhea. Dia yang terbaik, jauh di atas aku.” Dari ucapan Radit, seolah tersirat ada kenangan yang menyentil hatinya. Mungkin sama seperti anak lain, ada persaingan yang tidak sengaja antara Radit dan Satria. Setiap anak akan merasa dikucilkan, ketika dia tidak bisa lebih baik atau menyamai prestasi yang telah diraih saudaranya. Namun, ada kalanya juga semua karena orang tua yang pilih kasih. Banyak orang tua yang hanya peduli bila anaknya berprestasi, lalu mencemooh anak lain yang tidak ada prestasi. Padahal setiap anak berbeda, bahkan kembar sekalipun, tulisan tangan mereka tidak sama. “Bagi aku kamu tetap yang terbaik, Dit,” ucapku. Menatap matanya dengan senyum ketulusan. Radit lalu tersenyum dan menutup album foto itu, meletakkannya kembali ke rak buku. “Oiya, aku ke sini mau nyuruh kamu ke kamar Ayah aku, Dhea. Ayah katanya pusing, habis makan sate kambing.” “Loh, serius?” “Iya.” “Aku kan gak bawa tas medis, Dit.” “Di kamar Ayah ada kok alat tensinya, kamu tinggal cek aja.” Aku gegas mengikuti Radit menuju kamar orang tuanya, di sana calon mertuaku sedang bersandar di penyangga tempat tidur. Wajahnya terlihat kacau karena menahan sakit kepalanya yang mungkin terasa sangat nyeri. Radit lalu mengambil alat tensi, dan aku segera meminta izin untuk melakukan pemeriksaan. Darahnya ternyata naik, aku pun menyarankan agar segera meminum obat penurun darah tinggi. Rupanya keluarga Radit sudah menyediakan obat itu karena darah tinggi Ayahnya sering kumat. “Udah dibilangin, jangan makan kambing kebanyakan,” gumam Ibu Radit dari bibir pintu kamar. Aku membantu Ayah Radit meminum obatnya, lalu menunggu sampai Ayah Radit sedikit menunjukkan kepulihan. “Sate kambingnya pasti enak banget, ya, Yah,” ucapku pada Ayah Radit. Ayah Radit pun tersenyum saja. “Enaknya gak ada obat,” lirih Radit. “Iya, Dhea. Makan sedikit atau banyak, tetap aja bisa naikin darah. Makan banyak aja sekalian,” ujar Ayah Radit. Lalu melirik pada Ibu Radit yang membulatkan matanya. Aku dan Radit tersenyum, lalu kusarankan Radit untuk membuat jus timun untuk Ayahnya. Jus timun atau semangka dapat membantu untuk menetralisir darah tinggi. “Udah malem, Dhea. Kamu tidur aja.” “Iya. Aku balik ke kamar, ya?” “Iya.” Aku kembali ke kamar setelah melihat Ayah Radit yang mulai bisa tertidur. Rasanya aku bersyukur, karena bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku. .... Kesibukan menjelang hari akad makin menjadi, besok adalah waktu yang aku dan mungkin semua orang tunggu. Devie dan Fitri membantuku luluran di kamar Radit, mengoleskan lulus dengan ramuan tradisional yang katanya dapat membuat wajah dan seluruh tubuh menjadi lebih cerah. Ada juga bedak pengantin, dulu kudengar bedak pengantin itu dibacakan doa. Agar saat nanti tampil di akad dan resepsi, wajah pengantin menjadi bercahaya. Percaya atau tidak, aku tetap menjalaninya. Lagi pula, ini semua sudah dipersiapkan Andin khusus untukku. Sesuai pengalamannya yang telah menikah lebih dulu. “Enak ya jadi calon pengantin, dimanjain banget,” ucap Devie. “Makanya, Kak Devie, kamu buruan nikah juga,” sahut Fitri. Lalu kami pun tertawa mendengarnya. “Mau sih, nikah. Tapi kan masih sekolah, gak ada calonnya pula,” sambung Devie. “Kalau aku sih, udah ada,” ucap Fitri. Aku dan Devie pun langsung menatap kepo padanya. “Kamu pacaran? Sama siapa?” tanyaku. “Orangnya ganteng super gak ada obat, Kak. Udah gitu populer,” jawab Fitri. “Siapa sih, Fit?” lirik Devie. “Jimin BTS!” jawab Fitri. Sontak kami pun tertawa keras mendengar Fitri menyebut nama member boy band asal Korea yang telah mendunia itu. Fitri memang sangat menyukai apa saja yang berbau Korea. Kami bertiga dulu juga sering menonton film Korea bersama hingga larut malam di waktu libur. “Mana ada Jimin, Jamet tuh, baru iya,” goda Devie. “Dih, enak aja. Jamet mah kamu Kak Devie!” sahut Fitri. Kami pun tertawa lagi, aku hampir lupa bahwa sedang berada di rumah mertua. Bisa-bisa mertuaku terkejut mendengar suara tertawa keras kami. Tak lama, Ibu datang ikut bergabung bersama kami. Perempuan-perempuan penyemangat hidupku itu membantuku dengan sepenuh hati, mulai dari luluran hingga saat betetimbun. Batatimbun adalah kegiatan khas Kalimantan, tapi mungkin juga ada di daerah lain. Rempah-rempah wangi akan direbus, lalu saat mendidih, aku akan di masukkan ke tempat tertutup bersama panci rebusan itu di depanku. Rasanya tentu saja panas, seperti sedang di kukus. Hingga semua keringat keluar, akan tetapi sensasinya setelah selesai sangat menyegarkan tubuh. Bukan hanya untuk calon pengantin, biasanya setiap orang yang sedang sakit juga bisa melakukan hal yang sama. Perawatan yang kulakukan, mungkin bisa juga dilakukan di salon spa. Namun, melakukannya di rumah bersama dengan riuhnya obrolan keluarga, rasanya lebih menyenangkan. Aku pikir Radit tak melakukan hal yang sama, ternyata dia juga sedang melakukan perawatan di kamar yang berbeda. Setelah semua perawatan itu, aku jadi mengantuk. Mungkin tidurku akan nyenyak malam ini, atau mungkin juga tak bisa tidur karena terlalu gugup memikirkan akad nikah yang akan berlangsung besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN