Bab 22. Saat Yang Ditunggu

1474 Kata
Bukan sebuah pesta, tanpa adanya tamu undangan. Mengingat hal itu, aku langsung mengundang teman-teman di Puskesmas dan tetangga di desa tempatki bertugas melalui media sosial berlogo biru. Di desa tempatku bertugas, sebenarnya internet belum lama masuk. Karena tower baru dibangun, dan sekarang semua orang dapat menikmati sinyal komunikasi juga internet dengan lancar. Para pedagang mulai berjualan online, dan anak-anak mulai jarang keluar dari kamar mereka karena bermain game. Aku rasa, Kak Rina akan tahu kapan pesta pernikahanku akan berlangsung. Entah dia akan datang atau tidak. [Kami akan datang berombongan, Mbak Bidan.] Kata Mak Dety di kolom komentar status yang kubuat. Dia adalah seorang dari salah satu tetanggaku yang lumayan aktif di media sosial. [Silahkan, Bu. Kami tunggu.] Balasku. Tak terbayang rasanya kalau tamuku nanti akan datang dari daerah mana saja. Radit juga mengundang rekan-rekannya sesama guru dan teman-temannya di tim bola. “Dhea, cepat istirahat, besok kamu harus bangun pagi,” kata Ibu. Malam ini aku dan seluruh keluargaku juga menginap di rumah Radit, Ibu dan kedua adikku juga tidur di kamar Radit bersamaku. “Iya, Bu. Bentar lagi,” sahutku. “Kamu ngundang banyak orang? Palangka ini jauh dari desa, belum tentu ada yang mau datang,” lanjut Ibu. “Ya gak apa, Bu. Yang penting Dhea udah ngundang. Entar kan gak enak kalau gak ngundang.” “Hemm, iya, iya. Ibu tidur ah, pusing ibu lihat orang banyak di rumah ini.” “Iya, Bu. Tidur.” Ibu benar-benar tidur, sementara Devie dan Fitri masih sibuk juga dengan gawai mereka. Barusan tadi mereka memamerkan gamis dengan warna sepadan untuk di pakai saat acara besok. Warna merah muda dan hijau wardah menjadi warna seragam keluarga besar kami. Aku meletakkan gawai di atas nakas, mulai merasa berdebar membayangkan acara besok. Aku akan mewujudkan salah satu impian besar dalam hidupku. Ya, menikah. ... Sayup suara adzan subuh telah terdengar, bahkan sebelum adzan pun sebenarnya sudah ramai kudengar obrolan orang-orang di rumah Radit. Aku membuka pintu kaca menuju balkon kamar, melihat apa yang terjadi di bawah. Dan ternyata semuanya sudah sibuk mengurus kursi-kursi untuk tamu. “Dhea, ayo salat dulu, Nak,” ujar Ibu dari dalam. Aku membangunkan Devie dan Fitri, lalu kami sama-sama mengambil wudhu. Dan salat berjama’ah di kamar. Kami juga berdoa semoga acara pernikahanku hari ini berjalan lancar tanpa hambatan apa pun. “Ya Allah, jagalah anak-anakku agar selalu berada dalam ridho dan kasih sayangMu,” lirih Ibu dalam doanya. Aku, Devie dan Fitri yang mendengarnya pun menjadi terharu. Kami memeluk dan menciumi tangan Ibu, berharap ridho Ibu agar hidup kami selalu dalam ridho Allah juga. “Sudah, sudah. Sekarang cepat bereskan kamar, mandi. Devie dan Fitri ikut Ibu lihat-lihat ke dapur, bantu persiapan.” “Iya, Bu,” sahut Devie dan Fitri bersamaan. Aku langsung pergi mandi setelah salat subuh. Benar kata Ibu, setelah mandi aku langsung diminta Andin pergi ke kamar pengantin untuk memulai merapikan diri menuju acara akad. Persiapan merias diri membutuhkan banyak waktu, lebih pagi tentu akan lebih baik. Gaun pilihanku dan Andin ternyata sesuai harapan. Tampak anggun dan mewah, akan tetapi tidak menampakkan lekuk tubuh. Kebaya gamis modern dengan tambahan motif batik, semua bernuansa putih. Warna putih memang klise digunakan saat momentum akad nikah. Andin memperkenalku pada Anita, sepupunya yang ternyata seorang perias pengantin andal. Baru-baru ini Anita baru unjuk diri membuka jasa rias pengantin, cukup lama dirinya bersekolah khusus untuk make-up dan hasilnya selalu modern mengikuti trend. Karena aku menggunakan hijab, tak banyak riasan yang perlu disematkan agar tidak terlalu berlebihan. Radit yang baru datang ke kamar juga mengingatkan agar tidak terlalu berlebihan meriasku. “Kulit Kak Dhea glowing mulus banget, Kak. Pakai apa? Awas aja kalau bilang Cuma pakai air wudhu. Karena aku juga wudhu pakai air kok, bukan abu,” ucap Anita. Lalu kami yang mendengarnya sontak tertawa. “Haha, aku gak pakai yang aneh-aneh, kok, Nit. Pakai yang biasa dijual orang aja, gak mahal-mahal,” sahutku. “Tapi aman dan halal kan, Kak?” “Insya Allah, merek populer dan sudah ada sertifikat amannya, Nit.” “Kalau gitu aku harus coba nih, siapa tahu jerawat aku abis ini langsung kabur.” “Kamu kan lebih tahu soal kecantikan, malah nanya aku.” “Ya, kan kita bisa tanya siapa aja, buat nambah referensi.” “Eum, iya, sih, benar juga.” “Sekarang udah tahap make-up serius nih, Kak Dhea diem dulu, ya.” “Oke.” Di depan Anita, aku diam saja merasakan setiap sentuhan alat make-upnya di wajahku. Sesekali Radit yang sedang bersiap juga melirikku, aku pun menjadi malu. Rasanya khawatir juga, takut setelah make-up aku terlihat tidak berubah. Sama saja tidak good lookingnya. Jarum jam terasa makin cepat berputar, Radit telah lebih dulu turun ke aula rumah mereka, tempat ijab kabul akan dilaksanakan. Anita masih menyempurnakan riasan wajah dan gaunku. Lalu aku hanya perlu menunggu waktu untuk turun ke aula. Di depan cermin, rasanya aku ingin menangis. Melihat bagaimana penampilanku yang rasanya luar biasa berbeda. Anita benar-benar merubahku menjadi seumpama ratu. “Kak, Dhea. Udah disuruh turun, tuh,” kata Devie. Dia menghampiriku lalu menggandengku turun menyusuri tangga, berjalan menuju aula. Anita juga turut mendampingiku. Di aula, seluruh keluarga telah berkumpul. Tatapan mereka langsung tertuju padaku. Kecuali Radit, dia fokus saja duduk menghadap penghulu. Aku duduk di dekat Ibu, di belakang Radit. Lalu pembawa acara pun memulai untuk membuka acara, rancangan acara yang sebenarnya tidak kuketahui akan seperti apa. Cukup lama prosesnya, hingga tiba saatnya Radit untuk mengucap ijab kabul dengan menjabat tangan penghulu. Darahku serasa berdesir hebat, kucoba untuk fokus dan tak menenangkan perasaan. “Bagaimana, para saksi, sah?” “Sah!” “Alhamdulillah....” Hanya dengan sekali tarikan nafas, Radit berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Meski suaranya terdengar gemetar, Radit bisa menguasai hatinya untuk tidak gugup dan melakukan kesalahan. Setelah sah, baru lah aku duduk di samping Radit. Saat ini, tidak ada lagi sekat di antara kami. Radit tersenyum penuh kelegaan menatapku, lalu kami mengikuti apa yang dikatakan pemandu acara. Suasana menjadi mengharu biru, ketika aku dan Radit berkeliling untuk bersalaman dengan seluruh anggota keluarga yang menyaksikan akad. Lebih-lebih ketika kusalami tangan Ibu, perempuan yang telah membesarkanku dan terus mendoakanku hingga saat ini. Air mataku tak bisa tertahan tenggelam lama dalam pelukannya. Jauh dari sebelum pernikahan, mungkin setiap hari. Aku sudah sangat merindukan Ayah yang telah lama tiada. Kalau saja boleh berandai, andai Ayah ada di sini saat ini, pasti tak akan ada yang terasa kurang lagi. Namun, aku mencoba mengontrol diri agar tidak larut dalam kesedihan di hari bahagiaku. “Selamat ya, Kak,” ucap Devie dan Fitri sembari memelukku. Ucapan selamat membanjiri aku dan Radit, benar-benar terasa lega dan bahagia. Aku dikelilingi orang-orang yang telah begitu peduli, dan ikut mengorbankan waktu mereka untuk terjadinya pernikahan kami. Tak langsung berganti gaun, aku dan Radit sekarang harus mengabadikan moment kami. Dengan gaun akad kami berjalan menuju pelaminan, Radit menggenggam tanganku dengan jemarinya yang terasa panas dingin. Mungkin kami sama gugup dan malunya saat ini, grogi karena sedang jadi pusat perhatian banyak orang. “Tangan kamu dingin banget, Dhea,” bisik Radit. Ketika kami telah duduk di pelaminan. “Aku grogi banget, Dit,” bisikku. “Ya udah, gak apa. Ada tangan aku yang akan bikin kamu hangat.” Radit tersenyum lalu menggenggam erat tanganku. Rasanya kali ini pesonanya telah semakin bertambah mencapai level yang entah sampai berapa angka. Aku tak ingin menghitung waktu, karena aku tak ingin kebahagiaan ini berakhir. ... Tamu-tamu semakin lama semakin banyak yang datang. Pesta kami tanpa ada musik apa lagi dangdutan. Aku bersyukur, keluarga Radit termasuk sudah sangat mengerti mana yang hanya akan menjadi maksiat dan mana yang akan sangat bermanfaat. Aku juga baru tersadar bahwa tatanan prasmanan dibuat secara syar’i. Tidak bercampur antara perempuan dan laki-laki. Di tengah hari, aku dan Radit memakai gaun yang berbeda. Kali ini warna merah muda, menggambarkan nuansa hati kami yang sedang sangat berbunga-bunga. Devie dan Fitri sibuk memintaku berfoto dengan mereka, dengan berbagai gaya dan mode kamera. Mereka terlihat bersemangat, sedangkan aku mulai dilanda rasa lelah. “Udah capek, ya?” tanya Radit. “Eum, dikit,” bisikku. “Mau udahan sekarang majangnya?” “Eum, bentar lagi lah. Kan kita belum lihat tamu yang dari desa.” “Oh, iya juga. Kalau gitu kita tunggu bentar lagi.” Karena sudah makan sebelum akad, aku dan Radit cukup kuat menghadapi tamu tanpa makan apa-apa lagi. Hanya saja saat harus berfoto, kami diharuskan memakan kue tar pernikahan. Tak lama, wajah-wajah yang tak asing pun datang. Rekan-rekanku dari puskesmas, juga para tetangga di sekitar rumah dinas di desa. Tak ketinggalan, ternyata juga ada Kak Rina. Kali ini Kak Rina hanya datang sendirian bersama rombongan. Penampilannya sangat anggun, dengan hijab dan gamis yang membuatnya menjadi terlihat lebih muda. Aku meredam semua rasa marah yang sempat kurasakan pada Kak Rina. Aku tak ingin merusak hari bahagiaku karena kecurigaan yang sebenarnya juga belum cukup bukti untuk menjadi sebuah benci.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN