Bab 23. Saat yang Manis

1213 Kata
Radit mengerti bagaimana perasaanku, dia pun.membisikkan kalimat yang membuatku menjadi lebih tenang. Hingga saat Kak Rina datang ke pelaminan untuk bersalaman, aku dapat memamerkan padanya betapa bahagianya aku hari ini. “Ya Allah, Bidan Dhea cantik sekali, sampai bikin pangling,” kata Kak Rina sumringah. “Makasih, Kak Rina. Makasih ya, udah mau datang ke acara kami,” sahutku. “Sama-sama Bidan. Sebenarnya aku mau bawa anak-anak, tapi mobilnya penuh, jadi aku terpaksa tinggalkan saja sama Ayahnya di rumah.” “Wah, sayang banget. Kalau begitu, bawakan makanan untuk mereka nanti.” “Ah, gak usah Bidan. Pokoknya selamat ya, Bidan. Pak Guru.” Setelah mengucapkan selamat, Kak Rina pun mengambil foto bersama kami bersama dengan tetangga lainnya. Harusnya dia berdiri dekat denganku, akan tetapi dia memilih untuk berdiri di samping Radit. Rasanya menyebalkan melihat itu. ... Di antara tamu-tamu, ada banyak sekali perempuan cantik dan modis. Mereka bicara dengan Radit seolah sangat dekat, sepertinya mereka adalah teman-teman Radit sejak masa sekolah. Saat terdengar adzan dzuhur, aku dan Radit pun merasa sudah cukup untuk duduk di pelaminan. Tamu-tamu juga sudah semakin berkurang, tinggal kerabat yang masih tersisa. Asyik mengobrol sembari menikmati hidangan. Sesi foto bersama keluarga juga sudah selesai, aku dan Radit kembali ke kamar pengantin kami. Anita membantuku untuk melepaskan gaun, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. Bersiap untuk salat dzuhur. “Radit mana?” tanyaku pada Anita selepas dari kamar mandi. “Kayaknya sih ke Masjid, tapi mungkin juga masih di kamarnya,” jawab Anita. “Oh, oke.” Anita merapikan semua benda dan aksesoris pengantin, mengupayakan kamar pengantin untuk bisa segera dipakai istirahat. Aku pun pergi ke kamar Radit untuk salat. Ternyata di sana sudah ada Ibu, Devie dan Fitri. “Kakak mau salat?” tanya Devie. “Iya,” jawabku. “Aku sama Ibu lagi rapiin pakaian buat dibawa pulang, Kak.” “Mau pulang?” “Ya iya lah, Kak. Kan acaranya udah selesai,” sahut Fitri. “Nanti lah, pulangnya. Agak sorean. Lagian kita juga harus bantu beres-beres dong.” “Iya, Kak. Ini kan juga mulai mau bantu beres-beres dulu.” Devie dan Fitri lalu meninggalkan aku salat sendirian di kamar, aku munajatkan rasa syukur karena Allah telah mempermudah acara pernikahanku dengan Radit. “Sudah selesai salatnya?” tiba-tiba terdengar suara Radit. Ternyata dia baru pulang dari masjid dekat rumah, masih memakai jubah salatnya. Radit duduk di dekatku, lalu kucium punggung tangannya. Kami saling menatap, penuh dengan rasa cinta. Juga entah mengapa rasanya sudah seperti rindu, padahal setiap saat bersama. Radit lalu mencium keningku, membuat debar-debar di dadaku kembali terasa menggebu. “Alhamdulillah, ya, sekarang kita sudah sah jadi suami istri,” lirih Radit dengan suara super lembut menyentuh hati. “Iya, Dit. Alhamdulillah,” sahutku. “Eum, udah makan siang? Aku laper nih, makan yuk.” “Eum, iya. Aku mau lepas mukena dulu kalau gitu.” “Iya, aku juga mau ganti baju.” Aku merapikan mukena ke tempat semula, berusaha tak melirik pada Radit yang tengah mengganti pakaian. Namun, ketika sekilas saja kulihat bentuk tubuhnya, aku malah hampir tak bisa berkedip. Sialnya, tatapanku tertangkap basah oleh Radit karena terpantul di cermin. Radit lantas tertawa dan berjalan mendekatiku. “Kenapa? Kaget ya, liat badan suaminya kotak-kotak?” bisik Radit. Lalu dengan lembut aku terperangkap dalam pelukannya. “Iya, kotak-kotak kayak spongebob,” sahutku salah tingkah. “Mana ada, spongebob kan bolong-bolong.” “Tapi kan kotak juga.” “Ngomong apaan sih, Dheaaa.” “Gak tau mau ngomong apa, pengen dipeluk aja.” “Hemm.” Cukup lama Radit melumpuhkanku dalam pelukannya, lalu tersadar bahwa kami berniat mengisi perut yang telah semakin kelaparan. Kami pun turun dari lantai atas menuju dapur. Ternyata keluarga kami juga tengah makan siang bersama di sana. Sedangkan di tempat prasmanan, rupanya sudah tidak ada tamu lagi yang datang. Acara memang selesai tidak sampai sore. “Uhuy, pengantin baru.” Suara-suara cuitan meledek akhirnya mulai terdengar, saat aku dan Radit duduk bersama untuk makan siang. Kami berdua hanya tersenyum, berusaha seolah tak mendengarkan. “Banyakin makannya, biar kuat,” celoteh seseorang yang kami hafal suaranya. Itu suara Bang Satria. “Jangan kebanyakan juga, entar gak bisa gerak,” sahut seseorang lainnya. Aku dan Radit pasrah saja dijadikan bahan bercanda, toh, memang hampir semua yang baru menikah akan mengalami saat-saat seperti ini. “Suapin, dong,” ucap Radit. Bisa-bisanya dia minta aku suapi padahal ini sudah tambahan nasi keduanya. “Kenapa? Bukannya tadi kamu makan sendiri,” sahutku. “Pengen tahu aja bedanya, makan sendiri sama disuapin istri.” “Hemm, dasar.” Aku yang baru selesai makan, akhirnya menyuapi Radit. Sengaja setiap suapan kubuat sendok penuh, hingga mulut Radit pun kepenuhan. Aku tertawa melihat Radit yang kesulitan mengunyah makanannya. “Eumm, kalau suapannya begini, aku bukan Cuma cepat gemuk, tapi cepet mati,” ujar Radit sambil menahan tawa. “Dih, kok, gitu?” sahutku pura-pura polos. “Ya iya lah, suapannya gede banget. Entar aku tersedak, Dhea. Susah nafas.” “Kan nanti aku bisa ngasih nafas buatan.” “Sejak kapan tersedak dikasih nafas buatan?” “Ya, sejak aku mencintai kamu.” “Dih, apaan.” Tak hanya aku dan Radit, orang-orang di dekat kami pun ikut tersenyum mendengar pembicaraan asal kami. Radit makan dengan lahap, setelah selesai dia memintaku untuk kembali ke kamarnya di lantas atas. Bukan di kamar pengantin kami. ... “Kenapa kita ke kamar sini, Dit? Bukan ke kamar pengantin?” “Di sana kan Cuma buat foto-foto, Dhea.” “Tapi kan buat dipake juga.” “Dipake apa?” “Ya di pakai istirahat, lah.” “Males ah, di sana kan banyak barang-barang. Entar ada aja yang masuk ngambil barang-barang.” “Ya biarin lah.” “Aku kan mau istirahat berduaan sama kamu, aku gak mau diganggu.” “Iya kah?” Aku tersenyum malu ketika Radit menarik tanganku untuk duduk di atas tempat tidur. Kami duduk berdua, lalu berbaring dan saling menatap. Radit tersenyum melihat wajahku dengan sangat dekat. Membuatku tak bisa menahan tawa karena geli dan malu. “Kamu kenapa sih, ketawa terus? Memangnya muka aku kayak badut?” tanya Radit. “Enggak, gitu, Dit,” jawabku. “Aku kan mau puas-puasin lihat wajah kamu, Dhea. Siapa suruh kamu cantik banget.” “Iya, iya. Aku gak akan ketawa lagi.” “eum, kayaknya orang-orang yang dari desa udah balik semua, ya?” “Kayaknya sih, gitu.” “Eum.” “Kamu katanya mau tidur, Radit. Merem dong.” “Gak bisa merem.” “Kenapa?” “Pengen lihatin kamu terus, Sayang.” “Dih, masih siang tau.” “Emang kenapa kalau udah malam?” “Ya gak apa-apa.” “Jiahaha. Dhea ... Dhea ... Aku cinta banget sama kamu, kamu gak tahu betapa beratnya aku menahan godaan untuk gak ganggu kamu selama ini. Bertahan hanya untuk melihat kamu dari jauh.” “Oh ya?” “Iya, dong.” Jemari hangat Radit lalu menyentuh pipiku, membelai lembut hingga rasanya darahku semakin cepat berdesir. Kucoba untuk pejamkan mata, lalu sesuatu yang lembut terasa menempel di bibirku. Tatapan Radit begitu dalam, menusuk jauh ke dalamnya perasaan. Kubalas kecupannya lalu ... Tok Tok Tok. Seseorang mengetuk pintu kamar kami. “Radit, ada keluarga dari Banjar tuh, mau pamitan katanya.” Ah, pengganggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN