Bab 24. Madu Pengantin

1335 Kata
Pernikahan dan resepsi, hanya terjadi sehari. Namun, kesibukan tak hanya sampai di situ. Bahkan, berhari-hari setelahnya kadang masih saja ada yang harus dibereskan. Aku membantu Andin membereskan perabotan dapur, dibantu oleh ibu mertuaku juga kerabat yang masih betah menginap. Perabotan besar cukup merepotkan, dan semua milik keluarga Radit sendiri. Peralatan dapur mereka sangat lengkap, jadi tidak perlu meminjam dari para tetangga. Ini hari ketiga aku di rumah Radit, setelah kami resmi menikah. Karena cukup kelelahan di siang hari, aku jadi selalu tidur cepat saat malam. Radit pun cukup mengerti untuk menunda saat-saat madu kami. “Dhea. Radit mana?” tanya Ibu mertuaku. “Di kamar kayaknya, Bu,” jawabku. “Ya sudah, kamu istirahat sana. Kerjaan tinggal sedikit kok, kamu istirahat saja,” pinta Ibu mertuaku. “Enggak apa-apa, Bu. Kan biar cepat selesai,” bantahku. “Tapi Ibu ngelihat Radit tadi wajahnya kayak kurang semangat, lebih baik kamu temani dia.” “Iya, Dhea. Udah sana. Tinggal dikit lagi kok,” sambung Andini. Akhirnya aku pun menuruti keinginan mereka, aku mencuci tangan dan gegas pergi menemui Radit di kamar. Rupanya Radit sedang melihat hasil foto-foto pengantin kami yang belum selesai di cetak akan tetapi filenya tersimpan banyak di laptop Radit. “Sayang, lagi ngapain?” aku memeluk Radit dari belakang. Sontak dia meraih tanganku dan mencium penuh kasih sayang. “Lihat wajah cantik pengantin baru, semakin dilihat semakin gak bosan,” sahutnya. “Eum, ngapain Cuma lihat foto. Ini ada aku yang nyata sedang ada di dekat kamu,” kataku dengan suara yang dibuat manja. “Eumm, iya juga.” Radit lalu mematikan laptopnya. Aku pun berjalan ke atas tempat tidur, duduk di atas kasur sementara menunggu Radit datang menghampiri. “Jadi, kita mau bulan madu ke mana?” tanya Radit setelah memposisikan tubuhnya duduk di sampingku. “Eumm, emang penting bulan madu harus ke mana-mana, ya?” tanyaku balik. “Ya, siapa tahu kamu mau pergi ke suatu tempat. Atau kita pergi ke hotel aja?” “Ngapain emang?” “Kok, ngapain? Ya, untuk menikmati malam pengantin kita, Sayang ...!” “Tapi aku selalu menikmati saat-saat bersama kamu Radit, gak penting mau di mana,” lirihku dengan suara menggoda. “Kenapa suara kamu jadi kayak gitu? Mancing banget. Masih siang tau.” “Emang kenapa kalau masih siang?” “Ya, gak apa-apa.” “Emang kalau malam kenapa juga?” “Kebiasaan deh, sok polos jadi cewek padahal mah jago.” “Jago apaan?” “Ya, jago.” “Emangnya aku ayam?” “Kumat!” Aku tertawa geli melihat ekspresi kesal Radit. Lalu dia membulatkan mata dan menyambarku masuk dalam pelukannya. Pelukan erat dengan tubuhnya yang kokoh, membuatku tak bisa bergerak. “Kamu cantik banget, Dhea,” bisiknya. “Baru tahu? Ke mana aja kamu?” sahutku. Lalu Radit menatap semakin dalam, semakin membuncahkan perasaan yang lama terpendam. Kupejamkan mata kala dua lapis lembut di antara dagu dan hidungnya itu mulai menyusuri tiap inci wajahku. Aku pasrah dalam basah, tak peduli pada terik sang surya yang masih mengintip dari tirai-tirai jendela. Dinginnya mesin pendingin, seolah tak mampu melerai kami dari peperangan gelora yang semakin memanas. Aku lepas dari batasan, lalu tenggelam dalam dimensi penuh kenyamanan dan kebahagiaan. .... Aku benar-benar malas untuk pergi keluar kamar, rasanya ingin tetap berada dalam kamar dan menikmati saat bersama Radit. Harusnya kuterima saja tawaran Radit untuk pergi bulan madu. Namun, semakin hari kami sudah semakin dekat dengan batasan waktu libur. “Eumm, akhirnya keluar kamar juga,” bisik Andin saat melihatku pergi ke dapur untuk mengambil minum. “Iya, mau minum,” sahutku cuek. “Mentang-mentang pengantin baru nih, ye?” “Dih. Kenapa? Kamu marah ya, karena aku gak ada bantuin masak dan beres-beres?” “Ya, enggak, lah. Lagian kerjaan rumah udah ada yang ngurus, aku Cuma masak.” “Tapi kamu kayak kesel gitu ngomongnya, Andin." “Mana mungkin sih aku kesel sama adik iparku ini, gak usah sensi gitu deh. Aku kan tadi niatnya mau godain kamu doang, Dhea.” “Hehe. Syukur deh kalau gitu.” “Kalian masih lama kan liburnya?” “Tinggal lima hari.” “Kalau gitu, kenapa gak nyempetin jalan-jalan? Ke mana kek, masa iya di rumah terus.” “Eumm, enakan di rumah.” “Dasar. Tapi kan nanti kalian bakal balik ke desa antah berantah. Mending puasin jalan-jalan sekarang.” “Kamu juga kan? Bakal balik ke desa tempat suami kamu kerja?” “Iya, emang. Makanya aku nanti mau jalan-jalan sama Bang Satria.” “Kalau gitu bareng aja. Double date!” “No no no! Gak ada ceritanya begitu. Kencan masing-masing.” Andin beranjak pergi setelah menolak tawaranku untuk kencan bersama. Menyebalkan. Padahal kalau sama-sama, pasti akan lebih seru juga. Aku kembali ke kamar setelah minum, tak lupa membawa segelas s**u segar yang diminta Radit. Entah kenapa dia masih suka minum s**u, katanya untuk penambah stamina. “Lama banget,” gumam Radit yang telah berbaring di tempat tidur. “Ngobrol bentar sama Andin,” sahutku. Radit lalu meminum s**u yang kubawakan. Habis begitu saja hanya dengan sekali tenggak. Lalu dia terlihat semringah bersemangat menatapku. “Yuk!” katanya. “Apaan?” sahutku. “Ayuk!” “Apa?” “Dih. Pura-pura polos.” “Dih.” Aku berjalan menuju tombol lampu kamar, menekan tombol lalu lampu seketika mati. Hanya ada cahaya dari lampu tidur yang berwarna kekuningan. Nuansa remang-remang seperti ini memang begitu sensitif untuk pasangan muda yang sedang kasmaran. Aku melangkah ke tempat tidur, lalu Radit menarik tanganku. Begitu cepat dan tepat, masuk terperangkap lagi dalam pelukannya. “Kamu gak ngantuk, Radit?” “Enggak, lah. Masih jam sepuluh.” “Gak capek?” “Enggak. Emang kamu capek?” “Enggak juga sih.” “Mau digombalin gak?” “Emang bisa kamu nge-gombal?” “Bisa dong.” “Mana, coba!” “Dhea. Ruangan ini gelap, akan tetapi sorot matamu umpama bintang yang berkelip di langit malam. Membawaku ingin terbang memetiknya, lalu menyimpannya di bilik hati paling dalam.” “Itu puisi?” “Eum, kata-kata gombal.” “Boleh, boleh, lumayan.” “Mau yang lebih gombal?” “Ada lagi?” “Ada, tapi gak ada suaranya.” “Hah?” “Coba tutup mata.” “Tutup mata?” “Iya.” Aku menutup mataku, lalu kurasakan jemari kami saling berpaut. Nafas Radit terasa semakin dekat tepat di wajahku, lalu sentuhan lembut itu, lagi dan lagi semakin menghipnotisku. Begini kah malam pertama, malam terindah untuk dua jiwa yang saling mencinta. Akan berbeda ketika kamu benar-benar menunggu waktu yang tepat, bukan mencuri-curi waktu melanggar syariat. Menikahlah, bukan untuk selalu hidup bahagia. Setidaknya kamu bisa bersama dengan seseorang yang kamu cintai, juga mencintaimu. Seperti aku dan Radit. Semakin saling mencinta, ingin selalu membunuh waktu bersama-sama. Masalah tentu akan datang, kapan saja meski kamu tidak menginginkannya. Namun, adanya Radit membuatku semakin tak takut menghadapi apa pun. Di penghujung menuju lelap, kadang aku masih berpikir. Apa lagi yang akan terjadi nanti. Sesuatu yang buruk telah beberapa kali terjadi padaku, aku berpikir untuk segera pergi dari desa. Aku ingin menyudahi masalah dengan Kak Rina. Masalah yang sejatinya aku juga tak mengerti. Aku hanya menyimpan curiga karena kuatnya bukti-bukti, akan tetapi aku merasa tak pernah tepat untuk memberi peringatan pada Kak Rina. Aku masih ingin menemukan bukti lain, akan tetapi aku juga tak ingin lagi disakiti. Malam-malamku bersama Radit terasa begitu indah, meski hanya di rumah. Aku harus pergi ke mana, ketika sudah kutemukan tempat ternyaman. Meski sekarang aku baru tahu, kalau Radit si laki-laki sempurna itu ternyata mendengkur saat tidur. Setelah bersama, akhirnya aku bisa melihat hal yang tidak sempurna dari Radit. Radit pasti juga sudah menemukan hal yang buruk dariku. Semoga kebiasaanku yang selama ini mengganggu Devie, tak pernah terjadi. “Kakak tuh kalau tidur kayak cacing kepanasan, suka kentut lagi!” Kalau kuingat kata Devie, rasanya tak ingin percaya kalau itu benar. Namun, bukankah sebagai pasangan harus saling menerima kekurangan dan kelebihan. Semoga Radit tidak pernah tahu kalau aku suka kentut di malam hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN