Bab 25. Diganggu Jin?

1353 Kata
Udara perkotaan, rasanya jauh berbeda dengan udara desa. Tentu saja, di desa masih banyak pohon-pohon yang membuat suasana terasa asri. Kali pertama setelah halal, Radit akhirnya mengajakku jalan-jalan. Karena bukan orang baru di kota, kami menikmatinya dengan biasa-biasa saja. Datang ke tempat yang sudah familiar kami datangi. Lalu makan-makan seperti biasanya. Saat menikmati es kelapa muda di pinggir jalan raya, tiba-tiba sesuatu terjadi. Ada mobil pick up yang bertabrakan dengan sepeda motor, diduga supir pick-up melajukan mobilnya dengan tidak stabil. Kecelakaan tak bisa dihindari, langsung saja hal itu menjadi pusat perhatian orang-orang hingga membuat macet karena kerumunan. “Dit, kita lihat yuk!” ajakku. “Ngapain? Udah banyak yang lihat, bentar lagi juga ambulans datang,” sahut Radit cuek. “Ya, kan kita bisa lihat dulu.” “Serem, lah, lihat darah-darah gitu, Dhea.” “Radit, kamu lupa ya? Aku itu seorang bidan, udah biasa lihat darah.” “Ya, aku kan enggak biasa.” “Emang kamu takut darah?” “Enggak juga sih.” Sikap cuek Radit membuatku menyerah, memang sulit juga untuk mendekat ke tempat kejadian karena banyaknya kerumunan orang-orang. Tak lama terdengar sirine ambulans yang datang, beberapa polisi juga sudah datang sejak tadi. Manusia-manusia tak punya etika juga ada, merekam dan mengambil foto korban kejadian. Kalau pewarta masih bisa dimengerti, mereka mencari bahan untuk berita mereka. Namun, sebagian hanya rakyat biasa, yang entah bertujuan apa. Mungkin mereka merasa keren bila sudah mendapatkan foto dan mengupdatenya di media sosial, tanpa peduli pada rasa ngeri dan sedih mengingat bagaimana korban. “Mau makan lagi?” tanya Radit. “Udah kenyang, makan banyak dari tadi,” jawabku. “Ya udah, kalau gitu kita pulang aja yuk.” “Yuk, aku juga capek.” Di kota, aku dan Radit memakai mobil untuk bepergian. Rencananya Radit akan membawa mobilnya ke desa. “Terus, motor kita bagaimana, Dit?” tanyaku. “Ya, entar suruh orang aja antar ke desa,” jawab Radit. “Gak mau ah, mending kita nanti pulangnya naik motor aja.” “Enakan pakai mobil, Sayang.” “Tapi masa motornya ditinggal? Aku kerja gimana?” “Kan udah dibilang, entar ada yang aku suruh antar motor-motor kita. Tenang aja lah.” “Eum, iya deh.” Radit benar-benar terlihat sayang dan tak mau jauh dariku, setiap makan pun masih sering minta disuapi. Sebelum tidur juga mau dimanjakan dulu, persis seperti bayi kecil yang sangat manja. Di desa nanti, aku akan pindah kamar ke kamar Radit. Rumah dinas hanya akan kukunjungi saat siang hari, juga saat ada pasien. Jadi aku tak perlu memindahkan banyak barang. Entah nanti bagaimana rencana kami selanjutnya. Saat ini kami hanya memikirkan untuk selalu bisa menghabiskan waktu bersama. “Sayang, nanti mau belanja dulu gak buat dibawa ke desa?” tanya Radit. “Eumm, boleh. Aku mau beli banyak makanan beku, siap saji. Di desa kan agak susah belinya.” “Jadi kamu gak akan masak nih, buat aku? Bakal makan makanan frozen mulu dong?” “Ya, enggak lah, Radit. Itu kan buat cemilan aja.” “Eum, kali aja. Kalau pun iya juga gak apa-apa, yang penting kamu yang suapin aku.” “Hem, manjanya gak ada obat.” “Ada obatnya pun, aku gak mau sembuh.” “Mau dimanja terus gitu?” “Iya. Sampai kapan pun.” “Gak malu dilihat orang?” “Kenapa harus malu manja sama isteri sendiri.” “Hemm, iya iya deh.” Setibanya di rumah, aku langsung ke kamar. Orang tua Radit sedang pergi ke luar kota, katanya mengunjungi kerabat mereka yang sedang sakit. Anding dan suaminya juga sedang jalan-jalan entah kemana, sampai mereka harus menginap dan membuat rumah menjadi sepi. Di rumah hanya ada aku dan Radit, juga seorang pelayan yang pulang saat sore ketika pekerjaannya telah selesai. “Sayang, mandi dulu gih!” kataku pada Radit. “Kan masih ganteng, Sayang,” sahut Radit yang sudah berbaring di tempat tidur. “Percuma ganteng kalau bau matahari,” kataku. “Mana ada, wangi gini kok.” Aku lekas mandi, membasahi tubuh yang rasanya lelah juga. Tiba-tiba, lampu yang tadi terang benderang mendadak mati. “Radit ...! Jangan macem-macem, deh!” Aku bersuara nyaring karena merasa itu adalah ulah Radit. Namun, tidak ada suara sahutan apa pun dari luar. Aku segera membuka pintu kamar mandi, lalu jantungku terasa hampir copot ketika melihat Radit sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh syahwat padaku. “Radit? Kok, lampunya mati?” tanyaku. Radit tak menjawab, dia malah membawaku kembali masuk ke kamar mandi. Lalu dia dengan bersemangat mulai menghujaniku dengan ciuman mesra penuh gelora, yang aku hampir tak kuasa melawannya. “Sayang ...!” Sebuah suara terdengar dari luar kamar mandi, dan itu sukses membuatku merinding. Bagaimana Radit bisa memanggilku ketika dia tengah mencumbuiku di kamar mandi. Aku lalu melepas paksa diriku dari dekapan makhluk yang entah apa di kamar mandi, dia menatapku tajam lalu pintu kamar mandi kembali terbuka. Radit masuk dan melongo melihatku yang masih merasa heran. “Sayang? Kamu ngapain?” tanya Radit. “Radit, kamu dari mana?” tanyaku balik. “Aku tadi ambil belanjaan di dapur, ambil makanan kecil yang kita beli. Kamu kenapa?” Aku memperhatikan Radit dengan seksama, pakaiannya jelas berbeda dengan yang tadi menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi. Aku merasa merinding, dan bingung harus berkata apa pada Radit. “Sayang?” lirih Radit. “Ah, enggak. Tadi aku kaget aja kenapa lampunya mati,” jawabku. “Oh, iya. Tadi lampunya mati bentar, abis itu hidup lagi. Kamu ketakutan ya?” “Iya, aku takut gelap. Kamu tungguin aku mandi ya.” “Eum, kalau gitu bareng aja lah.” Aku meraih sabun dan shampo, membersihkan tubuhku sekali lagi. Aku tak percaya bagaimana hal tidak masuk akal itu bisa terjadi padaku. Kalau Radit tahu, apa dia tidak akan marah? Selepas mandi, aku langsung pergi salat maghrib. Sedangkan Radit juga pergi ke masjid dekat rumah. Aku membaca Al-quran dan berdzikir dengan perasaan was-was. Aku takut pada apa yang telah terjadi padaku. Rasanya mengerikan, aku bahkan tak bisa membedakan mana Radit asli dan yang bukan. “Assalamualaikum?” Suara Radit terdengar masuk ke kamar, aku pun segera menjawab salam. Radit berniat ingin mencium keningku, seperti kebiasaannya, akan tetapi aku entah kenapa langsung menghindar karena keraguanku. “Dhea? Kamu kenapa, Sayang?” “Kamu Radit kan?” “Ya iya lah, aku Radit. Emang siapa?” “Buktinya apa kalau kamu Radit?” “Duh, Dhea. Mau main drama apa lagi sih ini?” “Aku serius.” “Huh. Bukti kalau aku Radit?” “Iya.” “Kalau aku Radit, aku bisa ngomong kayak sekarang. Kalau aku jin, aku gak akan banyak ngomong langsung nyodor aja ke kamu, paham?” “Jin?” “Iya. Kamu kenapa sih, Sayang? Cerita sama aku.” Radit menggenggam tanganku, lalu mengajakku bicara di atas tempat tidur. Sekarang aku yakin kalau benar dia Raditku yang sebenarnya. “Pas mandi tadi sore, ada yang ganggu aku, Dit. Aku pikir itu kamu, dia godain aku di kamar mandi,” jelasku pada Radit. Rasanya ini sangat memalukan hingga aku ketakutan dan meneteskan air mata. “Astaghfirullah, serius?” tanya Radit dengan raut wajah terkejut. “Iya, Dit. Maafin aku.” Aku langsung memeluk Radit, Radit pun memelukku erat dan berusaha menenangkan aku. Aku merasa telah berbuat kotor dan mengkhianatinya. “Kamu gak usah takut, Sayang. Semoga itu menjadi yang terakhir kamu diganggu.” “Aku harus gimana, Dit?” “Kamu harus tetap salat, dzikir, dan usahakan jangan lama-lama di depan cermin juga kamar mandi, jangan lupa baca doa dulu. Waspada juga.” “Iya, Dit.” “Kita salat isya dulu, setelah itu aku akan ruqyah kamu. Semoga itu bisa membuat kamu tak diganggu lagi.” “Iya, Dit. Aku benar-benar minta maaf.” “Kamu gak salah, Sayang. Udah, ya, jangan khawatir.” Berada dalam pelukan Radit, rasanya mampu membuatku lebih tenang. Semoga benar, aku tidak akan mengalami lagi hal seperti itu. Hal itu membuatku takut di rumah sendirian, akan tetapi Radit mengatakan justru aku tidak boleh takut. Manusia itu lebih mulia dan kuat, harus bisa mengalahkan rasa takut dan terus percaya pada keesaan Allah Subhanahu wa taala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN