Bab 26. Pulang Kampung

1320 Kata
Jok belakang mobil, telah penuh dengan barang-barang belanjaan. Juga sebagian adalah barang-barang kado, kado kami saat pernikahan. Masa liburan telah berakhir, saatnya kembali pada kesibukan sebagai guru dan Bidan. Orang tua Radit merasa sedih karena kami akhirnya harus pergi, tidak tinggal bersama mereka. Andin dan Bang Satria juga kembali ke desa mereka, karena Bang Satria menjalani dinasnya sebagai polisi. “Senang gak mau kembali ke desa?” tanya Radit. Saat mobil baru saja melaju. “Eum, entah. Kalau disuruh mending tinggal di kota aja,” jawabku. “Eum. Sudah telepon Ibu?” “Iya, aku sudah bilang mau berangkat hari ini. Kita disuruh mampir ke rumahnya sebentar, Dit.” “Oke. Kalau begitu kita nanti mampir dulu.” Pemandangan jalanan kota ketika pagi, tak jauh berbeda. Masing-masing orang sibuk dengan aktivitas mereka, kebanyakan adalah pelajar yang harus selalu bangun dan berangkat pagi-pagi. Ibu menyambut kami ketika kami tiba di rumahnya, memaksa kami untuk makan lagi padahal kami juga sudah makan di rumah. Dari pada membuat Ibu kecewa, kami pun makan lagi untuk kedua kalinya pagi ini. “Devie dan Fitri mana, Bu?” tanyaku. “Kan mereka sekolah, Dhea,” jawab Ibu. “Oh iya. Ibu jaga kesehatan ya di sini, jangan lupa kasih kabar kalau terjadi sesuatu,” ucap Radit. “Jangan khawatirkan Ibu, Nak. Ibu sudah biasa ditinggal sama Dhea. Yang penting itu kalian di sana pandai jaga diri, jaga kesehatan,” sahut Ibu. “Iya, Bu. Jangan khawatir.” Setelah makan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Cukup jauh perjalanan yang harus ditempuh, perut kenyang membuat mataku jadi mengantuk. “Udah mau ketiduran, Dhea? Masih pagi tau,” lirik Radit. “Gak tahu nih, Dit. Jadi ngantuk abis makan banyak,” sahutku. “Hemm, kalau kamu tidur, siapa yang nemenin aku ngobrol?” “Ya, gak usah ngobrol, lah.” “Dih, gitu.” “Nyetir kan harus fokus.” “Kalau gak sambil ngobrol tuh, jadi bosen Dhea. Jadi ngantuk.” “Oke oke. Aku temenin kok.” Aku membuka kantongan plastik berisi minuman dingin dan banyak makanan ringan, lalu membuka sebagiannya dan mulai aktivitas ngemil. “Katanya kenyang,” lirik Radit. “Dari pada bosan,” sahutku. “Enaknya kita ngobrol apa?” tanya Radit. “Soal nikahan kita?” tanyaku balik. “Kenapa emang?" “Mantan kamu ada datang gak di acara nikahan kita kemarin itu, Dit?” “Mantan?” “Iya, mantan pacar kamu. Pasti banyak kan mantan kamu, secara kamu gantengnya gak ada obat.” “Haha. Mana ada sih, Dhea.” “Bohong banget.” “Aku gak pernah pacaran.” “Aku bakal pura-pura percaya deh.” “Ya, emang gak pernah kok. Emang kamu pernah?” “Gak pernah lah.” “Nah, makanya itu. Aku akhirnya dijodohkan sama kamu, yang gak pernah pacaran juga. Allah memilihkan yang terbaik untuk aku tanpa harus melalui pacar-pacaran dulu.” “Eum, iya juga sih. Oke deh, aku percaya. Kamu memang yang terbaik.” “Makanya dong, masa gak percaya sama suami sendiri.” “Tapi yang naksir kamu banyak kan?” “Eumm, mana aku tahu. Tapi ada sih, yang pernah nembak aku gitu. Aku nya gak mau.” “Ohya? Siapa? Anak mana? Cantik gak?” “Ada lah, waktu kuliah. Gak usah dibahas lah. Buat apa.” “Kan buat jadi bahan obrolan kita aja.” “Tapi nanti kamu malah jadi cemburu.” “Enggak.” “Serius nih?” “Iya.” “Oke. Tanya aja lagi.” “Siapa cewek yang naksir kamu tadi?” “Namanya Kartika, orang bandung.” “Cieee.” “Tuh, kan.” “Apa, kan aku Cuma bilang cie doang. Terus gimana lagi? Cewek bandung itu kan biasanya cantik-cantik.” “Eum, iya, emang cantik banget. Tapi lebih cantik kamu lah.” “Ciee.” “Dia sekolahnya sama kayak aku jurusannya. Kebetulan keluarga mereka perantauan gitu kan.” “Em, terus?” “Ya, gitu. Dekat aja jadi teman baik, terus suatu hari dia malah nyatain perasaan dia. Dia bilang dia cinta sama aku. Gitu.” “Wah, terus kenapa kamu tolak?” “Ya, karena emang gak ada perasaan lebih, Dhea. Dan emang aku udah prinsip untuk gak pacar-pacaran.” “Mantap banget suami aku. Terus gimana? Dia sedih gak?” “Ya, kata teman-teman sih, dia agak galau. Terus dia berusaha banget buat ngejauh dari aku. Jadi gak akrab kayak sebelumnya.” “Kamu terus ngapain? Gak berusaha memperbaiki hubungan sama dia gitu?” “Enggak, lah. Ngapain. Kan aku nolaknya juga baik-baik. Pilihan dia kalau emang udah gak mau berteman baik lagi dengan aku.” “Eumm, iya sih.” “Udah kan? Gak usah bahas lagi.” “Aku yakin gak Cuma satu cewek yang naksir kamu, Radit. Pasti banyak dan cantik-cantik.” “Ya udah, biarin aja. Kan udah jadi masa lalu.” “Kamu gak nyesel kan nikah sama aku, Dit?” “Pertanyaan paling tidak masuk akal.” “Aku serius.” “Ya, mana mungkin sih aku nyesel? Aku bahagia, sangat bahagia, Dhea.” “Love you Radit.” “Love you too Dhea.” Asyik mengobrol, perjalanan jadi terasa lebih cepat. Tak terasa sudah ada di Kasongan, tinggal beberapa saat lagi untuk tiba di Desa Dahian Tunggal. Aku menyandarkan kepala, ingin terpejam beberapa saat. Radit lalu mengelus-ngelus kepalaku, menggenggam jemariku sesekali ketika tiba rasa rindunya. “Kita gak berhenti sebentar buat istirahat?” tanya Radit. “Aku ngikut kamu aja, Sayang,” jawabku. “Kamu laper gak?” tanyanya lagi. “Enggak. Kan aku makan terus dari tadi,” jawabku. Mendadak merasa malu karena tak henti-henti mengunyah. “Kan beda cemilan sama makan nasi, Sayang.” “Tapi kan tetap aja udah kenyang, kalau kamu mau berhenti, ayok, kita istirahat dulu.” “Oke. Kita berhenti sebentar.” “Pinggang kamu juga capek kan?” “Hehe. Iya, lumayan pegel.” Radit menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan, kami pun turun dan memilih meja yang menyediakan lesehan. Radit langsung berbaring, sementara aku memesan dulu minuman dingin dan dua porsi makan siang dengan menu lalapan. “Aku pijetin ya,” kataku pada Radit. “Boleh, boleh.” Aku memijati perlahan pinggang Radit, kasihan juga rasanya karena dia harus menyetir sendirian. Aku kan tidak bisa menyetir mobil, itu sebabnya kuminta Radit menggunakan motor saja. Radit pun tertidur, membiarkanku untuk makan duluan. Selama di rumah Radit kami hampir selalu memakan masakan bumbu berat dengan daging ayam, membuatku jadi rindu makan ikan panggang lalapan seperti ini. Yang terpenting dari menu lalapan adalah ikan dan sambalnya, sambal yang enak akan membuat nasi menjadi cepat habis karena dimakan dengan lahap. “Radit, makan dulu dong. Entar nasinya dingin,” kataku sembari menepuk punggung Radit. Tak lama, Radit pun bangkit dari tidurnya. Tepat ketika adzan dzuhur terdengar, dia pun minta izin untuk pergi ke mushola dekat rumah makan untuk salat. Sedang aku, menunggu sampai selesai makan dulu. “Abis makan, nanti tungguin aku selesai salat dulu ya,” ujar Radit. “Iya, gantian aja salatnya.” “Ya udah.” Aku segera menyelesaikan makan, lalu menunggu sampai Radit kembali dari mushola. Melakukan perjalanan dengan seorang suami yang sangat aku cintai dan mencintaiku, rasanya sangat menyenangkan. Kami seperti sedang melakukan perjalanan liburan. Aku tak merasa bosan, meski melalui perjalanan yang cukup lama dan panjang. Mendengarnya bicara, mengobrol dengannya, belum lagi saat dia memperlakukanku dengan manis. Genggaman tangannya, elusan jemarinya di kepalaku. Aku merasa semakin jadi mencintainya, selalu ingin di sisinya, merasakan banyak hal dengan manja-manja bersamanya. Namun, ketika kuingat kami tak lama lagi akan tiba di desa. Tiba-tiba saja rasa khawatir itu datang lagi. Namun, aku pun kembali mengingat kalau kali ini aku tidak akan tinggal sendirian. Aku akan menghabiskan setiap malam bersama Radit, akan ada Radit yang menjagaku. Harusnya aku tidak perlu terlalu merasa khawatir. Radit bisa membantuku sembuh dari mantra-mantra jahat, tentu semua atas izin Allah. Dan aku tak perlu takut pada hal-hal mengerikan itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN