Bab 27. Diganggu Lagi

1252 Kata
Setelah seminggu lebih, akhirnya aku kembali pada peradaban lokal nan natural. Rumah dinasku masih sama, hanya saja rumput-rumput di pekarangan rumah sudah mulai meninggi. Ternyata tidak ada yang perhatian untuk membantuku merawat halaman. “Ngapain bengong? Masuk istirahat dulu, nanti kita beresin pelan-pelan,” ucap Radit. Aku membuka pintu rumahku, terasa dingin dengan hawa yang entah kenapa membuat merinding. Aku segera keluar lagi dan meminta Radit untuk menemani. “Ada apa, Sayang?” tanya Radit. “Gak, agak canggung aja. Masuk dulu yuk,” jawabku. “Kan aku bilang nanti beresin sama-sama, sekarang pindahin dulu barang-barang yang kita bawa, Dhea.” “Eum, iya, deh. Pindahinnya ke rumah kamu atau aku?” “Ya, ke rumah aku aja lah. Rumah aku itu lebih besar, Dhea. Kan udah aku omongin sebelumnya.” “Eum, iya, iya. Aku kan iseng aja nanya, biar kamu kesel.” “Hemm, dasar.” Aku menutup lagi pintu rumah, akan tetapi ketika pintu akan kututup, tiba-tiba saja terdengar suara benda yang jatuh dari dalam rumah. Aku segera berlari menghampiri Radit dan mengekorinya menuju ke rumahnya. Kenapa aku jadi merasa takut ada di rumahku sendiri, padahal aku hanya pergi sebentar. Sedangkan rumah Radit, semua terlihat aman-aman saja. Meski lelah, Radit tetap membersihkan rumahnya sendiri. Aku yang membantu, hanya diberi pekerjaan sedikit. Bahkan, aku diminta hanya sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. “Aku udah beresin rumah sini, sekarang mau ke rumah kamu,” ujar Radit dengan wajah kepayahan yang tak bisa ditutupi. “Besok lagi aja, Dit. Kamu kecapekan itu.” “Enggak, kok, gak capek.” “Pokoknya besok aja, ini juga udah sore. Buruan mandi, nanti kita makan bareng.” “Eum, iya deh, Sayang.” Radit mengikuti permintaanku, lalu gegas membersihkan diri. Makanan telah kusediakan di atas meja, tinggal menunggu sampai Radit selesai membersihkan diri. Dari jendela, aku bisa melihat langsung ke rumah dinasku yang ada di sebelah rumah Radit. Lampu-lampunya mati, menambah kesan horror di rumahku. Aku kecewa pada pemerintah desa, harusnya mereka perhatian pada tenaga kerja kesehatan sepertiku. Setidaknya mereka bisa memeriksa lampu, atau memangkas rumput di pekarangan rumahku. “Sayang, kenapa bengong?” kedatangan Radit membuyarkan lamunanku. “Lihat deh, rumahku. Berasa kayak bertahun-tahun ditinggal,” sahutku. “Haha, kalau gitu besok kita bikin kayak baru lagi,” ucap Radit. “Memang bisa?” “Apa susahnya.” “Ya udah, yuk. Makan dulu, Dit.” Aku hanya menggoreng ayam bumbu kemasan untuk makan malam, ditambah sambal instan yang juga kubeli di kota. Radit tidak protes, lagi pula kami sama lelahnya hari ini. Adzan maghrib berkumandang, Radit pamit untuk ke masjid setelah menyelesaikan makan malam. Sedang aku memilih untuk membersihkan dulu piring piring bekas makan. Ketika asyik mencuci piring, sayup kudengar suara ketukan pintu di depan rumah. Suara kran air hampir membuatku kesulitan mendengar suara lain. Tok. Tok. Tok. Terdengar lagi suara ketukan itu, aku gegas mematikan kran air dan berjalan keluar. Namun, saat tiba di bibir pintu aku tak melihat siapa pun. Aku menoleh ke setiap tempat, tidak ada siapa pun. Lalu tiba-tiba saja, pancaran cahaya terlihat terbang di atas rumah dinasku. Cahaya api kemerahan yang sudah lama aku tak melihatnya. Gubrak! Suara pintu rumah Radit yang tertutup keras dengan sendirinya, membuat jantungku terasa mau copot. Cuaca tidak sedang berangin, sepertinya memang sesuatu tengah ingin menggangguku. Aku gegas membuka lagi pintu dan masuk ke dalam rumah Radit. Aku langsung masuk ke kamar dan meringkuk di atas tempat tidur, ketakutan membuatku ingin duduk diam saja sampai nanti Radit kembali dari Masjid. Tak lama kemudian, kulihat Radit masuk ke kamar. Tatapannya tajam menusuk mataku, tanpa senyum ramah seperti biasanya. “Radit?” lirihku. Lalu Radit pun semakin mendekat ke tempat tidur. Aku pun teringat perkataan Radit, apa yang membedakan antara manusia asli dengan Jin yang menyerupainya untuk menggangguku. “Kamu bukan Radit!” Dengan gemetar ketakutan, aku membaca keras ayat kursi. Seketika angin kencang datang, menyibak semua tirai jendela dan membuat pertahananku hampir jatuh. Terus k****a ayat itu sampai Jin yang menyerupai Radit menunjukkan bentuk aslinya. Sesosok tubuh berbulu hitam besar dengan taring panjang dan mata merah yang menyala. Sosok itu terlihat akan memakanku sampai akhirnya dia tiba-tiba menghilang. Keringat dingin membasahi tubuhku, terus k****a ayat kursi sembari menajamkan pengawasan. Kurasa makhluk itu telah pergi. Suara motor terdengar berhenti di depan rumah, aku segera berlari dari tempat tidur. Menghampiri Radit dan dengan sigap memeluk tubuhnya erat-erat. “Assalamualaikum, Sayang,” ucap Radit. “Waalaikumsalam, Dit!” sahutku. “Kamu kenapa? Ada yang gangguin lagi?” “Aku takut banget, Dit!” “Udah salat belum?” “Belum.” “Kalau gitu salat dulu, aku udah ada di sini kok, gak usah takut.” Radit mengawasiku untuk berwudhu dan hingga selesai salat, lalu dia memintaku untuk membaca Al-quran bersamanya. Hatiku menjadi lebih tenang, meski ketakutan tadi masih terasa. Penampakan wujud makhluk itu juga masih terbayang-bayang di dalam pikiranku. “Sekarang, coba kamu cerita. Ada apa lagi?” tanya Radit, ketika kami telah selesai mengaji. “Jin yang menyerupai kamu, ada lagi tadi, Dit. Aku langsung ingat kata kamu waktu itu, terus aku baca ayat kursi,” jawabku dengan d**a yang kembali merasa gugup. “Astaghfirullah, terus?” “Tiba-tiba ada angin kencang banget, terus jin itu berubah, jadi seperti genderuwo di film, tapi yang tadi kulihat lebih seram!” “Ya Allah. Tapi dia gak berhasil menyakiti kamu kan, Dhea?” “Aku baca terus ayat kursinya, dan di tiba-tiba hilang.” “Alhamdulillah, setidaknya kamu sudah punya keberanian untuk melawan. Jin itu lemah, Dhea. Apa lagi kalau dia menunjukkan wujudnya. Sebagai manusia, kita tidak boleh menjadi takut dan lemah,” jelas Radit. “Tapi kenapa, Dit? Kenapa aku terus yang di Digangguin." “Hanya Allah yang tahu, Dhea. Sekarang kamu istirahat dulu, sambil kita menunggu salat isya.” Radit masih duduk di atas sejadah, lalu membaca lembar demi lembar ayat Al-quran. Aku pun enggan beranjak, dan masih dengan mukenaku berbaring di dekatnya. Mendengarkan bacaan Radit, hatiku menjadi merasa lebih damai. Apa lagi saat jemarinya mengelus kepalaku dengan lembut. “Baca lah Al-quran sesering yang kita bisa, agar rumah kita tidak menjadi sepi seperti kuburan. Agar makhluk-makhluk jahat juga tidak betah, dan tidak mengganggu kita,” ucap Radit. “Apa mungkin karena rumah ini lama kita tinggal, Dit?” “Ya, bisa jadi.” “kalau terus diganggu seperti ini, bisa-bisa aku stres, Dit.” “Naudzubillah, gak akan seperti itu, Dhea. Yang penting kamu jangan sampai lengah, ada atau tidak ada aku, kamu harus tidak boleh menjadi lemah.” “Tapi aku Cuma bisa melalui semua itu sama kamu, kamu yang bisa bikin aku tenang, Dit.” “Jangan khawatir, ya.” Radit mengelus kepalaku, juga memelukku. Memberi ketenangan dan kasih sayang yang penuh ketulusan. Aku tak percaya bagaimana keadaanku, bila Radit tidak ada di sisiku. “Aku dengar, istrinya Pak RT mau melahirkan. Kamu tahu?” “Emm, enggak. Aku gak dikabarin.” “Mungkin karena mereka tahu kamu baru datang, jadi mereka minta bantuan bidan lain saja.” “Bisa jadi.” “Ya udah, tuh, udah adzan isya. Kita salat berjamaah di Masjid, mau?” “Iya, Dit. Aku ikut kamu aja.” Aku pun ikut dibonceng Radit untuk menuju Masjid. Rasanya aku masih trauma untuk sendirian di rumah. Kalau ada yang sedang melahirkan, bisa jadi cahaya nyala yang kulihat terbang tadi adalah hantuwen. Belum lagi, mereka keluar di waktu maghrib. Waktu antara senja, maghrib hingga sampai waktu isya. Adalah saat di mana setan-setan mulai berkeliaran. Mereka merasa kuat karena datangnya malam, ya, setan memang merasa berkuasa dalam kegelapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN