Dua hari setelah kedatanganku, aku baru tahu kabar kalau suami Kak Rina telah meninggal. Aku bertanya pada seorang tetangga, ternyata suaminya meninggal karena muntah darah. Kak Rina dan anak-anaknya jadi jarang keluar rumah, sejak suaminya telah tiada.
Aku berniat untuk mengunjungi Kak Rina, menunjukkan rasa berduka meski sebenarnya sudah sedikit terlambat. Setiba di rumahnya, rumah Kak Rina terlihat sepi. Aku langsung masuk saja, berharap dapat menemukannya di dapur.
“Bidan Dhea?” ternyata benar Kak Rina ada di dapur, sedang membersihkan lemari perabotannya.
“Maaf, Kak. Tadi aku ucap salam dari luar, tapi gak ada jawaban,” kataku.
“Eh, iya. Saya gak dengar, Bidan.”
“Maaf ya, Kak. Aku baru tahu soal meninggalnya Abang, aku ucapkan turut berduka. Semoga amalnya diterima oleh Allah subhanahu wataala.”
“Aamiin, Bidan. Terima kasih.”
Wajah Kak Rina kemudian berubah sendu, ini memang masih suasana berduka. Anak-anak Kak Rina juga terlihat masih tak bersemangat bermain boneka di ruang keluarga depan televisi.
Aku menyerahkan bungkusan berisi beras, juga ada amplop berisi uang. Berharap itu bisa menghibur Kak Rina dan keluarganya. Terlepas dari setiap kecurigaan dan prasangkaku pada Kak Rina selama ini. Syukur-syukur kalau hubungan kami bisa kembali membaik.
“Bidan, silahkan duduk dulu. Saya akan buatkan air teh hangat,” ucap Kak Rina.
“Gak usah, Kak. Aku udah minum tadi, sekarang aku mau pamit pulang dulu. Bentar lagi kan Radit pulang dari sekolah,” sahutku.
“Ya sudah kalau begitu, Bidan. Terima kasih banyak, ya.”
“Ya, jangan sungkan, Kak. Kalau Kakak butuh bantuan atau sesuatu, kakak boleh bilang ke aku dan Radit.”
“Ya, baik, Bidan.”
Aku tersenyum lalu melangkah pergi dari rumah Kak Rina, tiba-tiba anak sulung Kak Rina datang menahan langkahku. Lalu dia memelukku sambil menangis, sedang Kak Rina melihat saja dari dalam rumah.
“Bidan, semua ini salah Mama aku!” katanya diselingi isak tangis.
“Sayang, maksud kamu apa?” tanyaku setengah berbisik.
“Mama itu jahat, aku tahu semua.”
“Sayang, jangan ngomong gitu. Mau ikut ke rumah Bidan gak?”
“Enggak, Bidan. Nanti dimarahin Mama.”
Aku mengelus kepala anak sulung Kak Rina, sampai akhirnya suara Kak Rina terdengar memanggilnya dari dalam rumah.
“Sayang, mama kamu manggil, tuh.”
“Iya, Bidan.”
Anak sulung Kak Rina lalu masuk ke rumah, setelah mengelap wajah basahnya dengan baju yang dia pakai. Aku tak mengerti, kenapa anak Kak Rina bisa berkata seperti itu padaku.
....
Aku menceritakan pada Radit, apa yang kualami di rumah Kak Rina. Seperti biasa, Radit mengingatkanku untuk tak asal curiga. Karena yang tadi mengadu adalah anak Kak Rina, aku jadi khawatir pada mereka.
“Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja, Sayang,” ujar Radit, sembari menikmati pelan secangkir kopi yang baru kubuat.
“Semoga ya, Radit.”
“Kamu ada ke rumah sebelah?”
“Gak berani kalau sendirian, maunya sama kamu.”
“Hemm, barang-barang kamu apa gak dipindahin semua aja ke sini?”
“Sama ranjang pasien? Yang ada sumpek rumah ini Dit.”
“Dari pada di sana, gak kamu perhatikan juga.”
“Bukan gak perhatiin, kan emang lagi gak ada pasien juga.”
“Hemm, oke deh. Aku mau istirahat dulu, ya.”
“Iya, Dit.”
Radit berjalan menuju kamsr lalu langsung berbaring di atas tempat tidurnya. Aku memperhatikan pesan-pesan yang masuk ke gawaiku saat data seluler kunyalakan, ada banyak pesan dari grup yang kuikuti. Terutama dari puskesmas, perihal wabah baru yang sedang ramai dibicarakan.
[Dhea. Nanti sore ke rumah di RT lima. Ada pasien di sana, tadi saya sudah cek.] Pesan masuk dari Bidan Hana.
[Oke, Kak.] balasku.
Setelah cukup lama libur, akhirnya aku akan kembali pada rutinitasku sebagai bidan. Menghadapi darah, mendengar jeritan, juga tangisan malaikat-malaikat kecil yang baru lahir. Semoga tidak ada drama hantuwen lagi.
Kuelus perutku, berharap tak butuh waktu lama untuk aku bisa merasakan memiliki buah hati juga. Merasakan kodrat sebagai perempuan, sebagai istri yang dapat mengandung, juga melahirkan seorang keturunan. Radit pasti juga bahagia bila mendapatkan kabar itu segera.
Aku berjalan ke rumah dinas, berniat masuk ke dalamnya untuk mengambil kaos tangan baru. Meski takut, aku terpaksa masuk sendirian, dari pada harus mengganggu Radit yang baru saja tertidur.
Saat mengecek ke dalam lemari penyimpanan barang, entah mengapa aku merasa ada yang sedang mengawasiku. Aku mencoba abai, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara kran air menyala dari kamar mandi.
Aku langsung ke kamar mandi, dan rasanya hampir membuat jantungku lepas ketika melihat tetesan darah segar yang keluar dari kran. Aku membaca ayat kursi sembari memejamkan mata, lalu saat kubuka mata kembali, sudah tidak ada pemandangan darah itu. Kran juga sudah tidak dalam kondisi menyala.
Aku segera mengambil setokan kaos tangan yang sudah kuambil, lalu bergegas pergi keluar dari rumah dinas. Entah apa yang harus kulakukan agar rumah dinasku tidak menjadi angker seperti itu lagi.
“Kamu dari mana, Sayang?” Radit menghampiriku di bibir pintu rumahnya.
“Ngambil kaos tangan di rumah sebelah, Sayang.”
“Ada?”
“Ada kok, ini.”
“Kok, muka kamu kayak abis lihat setan?”
“Ehm, enggak kok.”
“Kalau takut, kamu kan bisa suruh aku.”
“Kan aku bisa sendiri, Sayang.”
“Emang ada kerjaan ya?”
“Iya, nanti sore aku mau lihat pasien yang mau lahiran. Boleh ya?”
“Kalau soal kerjaan, kamu gak usah minta izin dulu sama aku. Aku udah pasti izinin kok.”
“Kamu memang suamiku yang paling baik sedunia.”
“Eum. Masuk sini, entar diintip tetangga.”
“Haha, apaan?”
Radit menarik lenganku, membawaku masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Digenggamnya jemariku, lalu dibungkamnya bibirku dengan kecupan lembutnya. Gairah cinta, memang mampu membuat manusia lupa waktu. Saat sedang dilanda cinta, dunia terasa milik berdua.
....
Radit mengantarku menuju rumah pasien, cukup jauh dari rumah. Meski aku sudah bilang bisa sendiri, dan aku tak ingin membuat Radit semakin lelah karena harus membantuku.
“Aku tunggu di luar, ya,” ujar Radit.
“Iya, kalau bosen pulang aja.”
“Gak mungkin lah.”
Aku langsung menemui pasien, rupanya sudah masuk pembukaan akhir. Calon Ibu terlihat tenang dan masih bertenaga, mungkin karena ini bukan persalinan pertamanya.
Seperti biasa, mereka menolak untuk lahiran di puskesmas. Aku pun melakukan pertolongan persalinan dibantu Mak Erni, rupanya Mak Erni masih kerabat pasien.
Tangisan bayi langsung menggema di ujung senja, sebenarnya jarang sekali proses persalinan terjadi di waktu sore seperti ini. Aku juga lega karena tak harus menunggu lama.
Bayi laki-laki, lahir dengan selamat tanpa cacat. Ibu bayi juga tidak mengalami kendala yang serius, padahal berat bayi mencapai hampir empat kilo. Cukup besar untuk dilahirkan secara normal.
Kakak dari bayi itu terlihat senang melihat kehadiran adik kecilnya, diciumnya bayi yang baru selesai kubersihkan dan kupakaikan bedong. Walau orang-orang dewasa di sekitarnya seolah sangat cemas dan berjaga-jaga. Takut keaktifan si Kakak akan membahayakan si bayi yang baru saja menghirup udara dunia.
Setelah semua selesai, aku gegas pamit pulang. Aku menghampiri Radit yang masih menunggu di depan, duduk di teras rumah sembari memainkan ponsel.
“Udah selesai, Sayang?” tanya Radit.
“Udah, Sayang. Maaf ya lama nungguinnya,” jawabku.
“Enggak, kok. Yuk, buruan pulang, aku harus salat maghrib ke Masjid.”
“Iya, Sayangku cintaku.”
“Lebay amat.”
“Gak suka?”
“Suka lah.”
“Wekwekwek.”
Kami pun pulang ke rumah, sementara langit mulai gelap. Gema adzan berkumandang, angin sore terasa menyejukkan. Membuatku merasa segar karena tadi baru saja melalui masa yang menegangkan.
....
Selepas adzan magrib, aku dan Radit kembali membuka kegiatan belajar mengaji bersama. Anak-anak Kak Rina juga ikut, sedang Ibunya tak lagi mengantar. Beberapa anak tetangga juga ikut lagi, sebagian juga anak yang masih baru. Sedikit bertambah dari yang sebelumnya.
Radit bilang, semoga kegiatan ini dapat membuat rumah terbebas dari hal-hal jahat. Dan aku bersyukur sekali, beberapa hari ini tak mengalami gangguan lagi. Aku jadi berpikir untuk mengajar ngaji di rumah dinasku saja, agar rumah itu tak lagi menyeramkan.