Bab 29. Mimpi Buruk

2426 Kata
Aku mati-matian terus berlari, akan tetapi sekelabat hitam itu terus mengikuti. Bruak! Kepalaku menabrak sesuatu entah apa, dan aku terjatuh jauh ke lubang gelap. “Dhea ... Dhea!” Terdengar suara sayup dari kejauhan memanggil namaku, aku semakin berkeringat dingin saat makhluk hitam besar itu memanjangkan tangannya lalu mencekikku. “Dhea! Bangun Dhea!” “Dhea!” Tiba-tiba semua hal mengerikan itu hilang, kurasakan nafas ngos-ngosan terus beradu. Kutatap wajah Radit, hampir tak mampu mulutku terbuka. Semua terasa lega saat kusadari semua hanya lah mimpi. “Astaghfirullah, Ya Allah,” lirihku. Bersyukur aku mampu lepas dari cekikan makhluk itu. “Kamu mimpi buruk lagi?” tanya Radit. “Iya, Dit. Lebih buruk dari sebelumnya,” jawabku. Radit lalu memelukku, dan membuatku perlahan merasa lebih tenang. Sudah lama aku tidak mengalami mimpi buruk, tak menyangka akan mengalaminya lagi. “Aku kenapa, sih, Dit?” tanyaku pada Radit. Aku menengok ke layar ponsel, masih jam setengah satu malam. Aku merasa tak pernah lupa untuk berdoa, akan tetapi tetap saja ada yang bisa tembus menggangguku. Atau mungkin semua ini bukan gangguan dari orang jahat, tetapi memang berasal dari diriku sendiri. “Kan Cuma mimpi, tidur lagi aja,” ucap Radit. “Maksud aku, kenapa harus aku mengalami ini semua?” “Gak Cuma kamu, kok. Aku dan orang lain juga bisa mengalami mimpi buruk, Dhea.” “Aku rasa ada yang salah sama diri aku, Dit. Apa mungkin dalam diri aku ada Jinnya?” “Kalau begitu, setelah salat subuh pagi nanti kita ruqyah, mau?” “Ya, aku mau kalau itu bisa bikin aku hidup normal lagi, Dit.” “Kasihan juga aku liat kamu begini, Sayang. Udah, sekarang tidur lagi aja. Baca bismillah dulu.” “Iya. Bismillah.” Kubaca bismillah, lalu tidur dalam dekapan Radit. Kami berbaring dan saling berhadapan, dengan erat aku memeluknya lalu mencoba kembali memejamkan mata. Rasanya sangat nyaman seperti ini. Aku heran, mengapa saat di dunia nyata aku telah merasa nyaman tanpa gangguan setan, mereka masih menggangguku di alam mimpi. Walau hanya di mimpi, rasanya tetap menakutkan bahkan melelahkan. ... Setelah salat subuh, Radit benar melakukan ruqyah padaku. Dipegangnya pucuk kepalaku, lalu mulai dibacanya ayat-ayat, aku hanya perlu mendengarkan dan fokus pada bacaannya. Di depanku telah Radit sediakan mangkuk yang dibungkus dengan plastik. Jaga-jaga kalau benar ada sesuatu dalam diriku. Biasanya kalau memang ada gangguan, pasien yang diruqyah akan merasa pusing, mual, lalu muntah. Kuresapi ayat-ayat yang Radit baca, hingga sepertinya ayat-ayat itu mulai bereaksi. Kepalaku terasa pusing, pusing sekali. Semakin aku merasa bacaan Radit makin mengganggu, lalu rasanya sesuatu mengocok perutku. Seperti mabuk kendaraan, aku pun tak bisa menahan muntah. Radit terus lanjut membaca ayat, hingga semua yang ada di perutku rasanya telah habis termuntahkan. Kepalaku terasa berat, pandanganku buram. Lalu semua menjadi berputar dan gelap. ... Aku pingsan sebentar, begitu kata Radit. Aku pikir akan ada kejadian aku kesurupan lalu berteriak-teriak mengatakan hal-hal yang aneh. “Jadi aku gak kesurupan, Dit?” Radit tertawa mendengar perkataanku, mungkin memang lucu baginya. “Kamu mau kesurupan?” tanya Radit balik. “Ya, enggak, lah!” “Beberapa kasus memang ada adegan kesurupan kayak di film, tapi kalau pun kesurupan, gak akan aku ajak ngobrol kok, langsung suruh pergi aja.” “Emang kenapa kalau diajak ngobrol?” “Setan dan Jin itu sifat aslinya pendusta, jadi ngapain buang waktu. Kalau diladenin, bisa ngelunjak. Minta kopi, air kelapa, ayam hidup. Kan keenakan itu.” “Ngusirnya gimana, Dit?” “Ya, bilang. Mau pergi sendiri atau dibunuh dengan ayat-ayat Al-quran. Kalau ngeyel, langsung aja baca ayat Al-quran untuk membunuhnya.” “Gitu, ya? Jadi ... Aku ada jinnya atau gak?” “Ya, kalau kamu tadi mungkin memang ada jinnya. Tapi gak terlalu lengket, masih bisa diatasi. Yang penting kamu rajin salat, ngaji, dzikir. Jangan sampai iman kamu lemah, jin dan setan itu hanya akan menampakkan diri pada orang-orang yang imannya lemah. Kalau iman masih kuat, mereka gak akan berani.” Radit terlihat sangat pemberani saat menjelaskan padaku tentang semua hal ghaib itu, tentu saja aku percaya pada setiap kata-katanya. Setelah di ruqyah, tubuhku menjadi terasa lebih enteng. Radit lalu menyuruhku untuk makan kurma, tidak banyak tapi rutin. Dia juga memberitahuku ada banyak tanaman bidara yang telah dia tanam di sekeliling rumah. Ikhtiar untuk minta perlindungan kepada Allah, agar terhindar dari hal-hal ghaib yang ditakutkan akan merusak aqidah dan keimanan. ... “Dit, kamu suka nonton film gak?” tanyaku pada Radit. Setelah melakukan kunjungan sore, aku dan Radit duduk di selasar rumah sembari mengobrol dan makan kuaci. “Suka, tapi kadang-kadang aja,” jawab Radit. “Film apa?” tanyaku lagi. “Marvel, action movies,” jawab Radit. “Gak drama romantis?” “Sama kamu aja udah romantis, ngapain masih nonton film.” “Dih.” “Dih. Emang kenapa tiba-tiba nanya gitu? Mau nonton? Kan di sini gak ada bioskop, Dhea.” “Cuma nanya aja. Aku sih, suka film Korea. Gak selalu yang romance, yang action dan komedi juga.” “Oh.” “Gitu doang?” “Terus?” “Radit, kamu udah bosen ya sama aku?” “Enggak.” “Kok, kamu jawabnya gitu?” “Emang napa?” “Ya aneh aja. Gak perhatian kayak biasanya.” “Jiahaha.” “Malah ketawa!” “Iya, maaf, Sayang. Aku Cuma iseng doang kok.” “Tuh kan.” “Haha, yaudah yuk. Kita nonton.” “Nonton apa?” “Nonton voli.” “Main voli?” “Iya, yuk. Jalan-jalan sore aja.” Aku merapikan pashmina, lalu menaiki boncengan motor Radit. Sore-sore begini keliling kampung berduaan, rasanya menyenangkan juga. Setibanya di lapangan voli, ternyata sudah banyak orang di sana. Aku sudah lama tidak olahraga, apa lagi main voli. Entah masih bisa atau tidak. Aku baru menyadari, di salah satu tim ada Kak Rina, ternyata dia bisa main voli juga. “Pak Guru, Bidan Dhea ...! Ayo, main!” Seru warga dari dalam lapangan, mereka pun memberi tempat untukku setelah Radit mengizinkan aku untuk ikut bermain. Rasanya canggung dan gugup juga, akan tetapi ternyata aku masih bisa memainkan tangan untuk mengolah bola dengan baik. “Ayo, Dhea! Fighting!” ucap Radit memberi semangat dari pinggir lapangan. Aku dan Kak Rina berada di tim yang berbeda. Penampilan Kak Rina sangat sexy dengan pakaian yang tidak longgar. Terlihat di pinggiran lapangan banyak laki-laki yang menonton, aku yakin mereka menonton juga bagusnya tubuh Kak Rina. Tim Kak Rina berhasil unggul dari timku. Aku pun berhenti bermain karena merasa sudah sangat lelah. Di pinggir lapangan, Radit langsung menyodorkanku sebotol air mineral. “Capek?” tanya Radit. “Capek, lah, Dit. Lama gak pernah olahraga,” jawabku. “Bukannya tiap malam juga olahraga?” “Dih, apaan sih.” “Wekwekwek.” Usai tim perempuan, selanjutnya yang bermain adalah tim laki-laki. Radit ikut bermain, dan permainan mereka menjadi menakutkan untuk ditonton. Permainan bak permainan profesional yang langsung smash! Smash! Tidak ada santai-santainya seperti tim perempuan. Setelah puas menguras keringat, kami pun pulang. Mandi dan istirahat sebentar lalu bersiap untuk pergi ke masjid melakukan salat maghrib. Aku tak lagi takut ditinggal Radit sendirian, setelah di ruqyah aku juga sudah tak merasakan ada gangguan lagi. ... Setelah salat isya, perutku terasa begitu nyeri. Terlalu nyeri sampai aku berkeringat dingin dan mengkerut di atas tempat tidur. Aku lalu mengingat tanggal, bisa jadi ini tanda aku akan menstruasi. Radit langsung mencurahkan perhatiannya dengan membelikan minuman pereda nyeri saat menstruasi. Aku mengecek ke kamar mandi, dan ternyata benar. Ada banyak darah yang keluar, kental dan hitam memenuhi celana dalamku. Segera kubersihkan diri dan memakai pembalut, lalu kembali ke kamar. “Masih sakit, Sayang?” tanya Radit. “Udah mendingan, kok, Dit. Makasih ya kamu udah perhatian sama aku,” jawabku. “Udah seharusnya lah, Sayang.” “Euhmm, iya.” Aku menyalakan televisi, lalu tak sengaja telah berada di chanel yang sedang memutar sebuah film. Dari gelap dan suara backsoundnya, aku bisa menebak itu film horror. “Wah, film Munafik!” seru Radit. “Iya?” “Iya, Munafik dua. Kayaknya ini pertama kali tayang di televisi.” “Kamu udah pernah nonton?” “Yang ke satu doang.” “Mau nonton?” “Iya, lah. Jangan dipindah dulu.” Radit yang tadinya sedang membereskan pekerjaan dari sekolah, kini duduk fokus di depan televisi. Aku duduk di dekatnya dengan persediaan bantal sofa di depan wajahku. Agar saat ada penampakan, aku bisa langsung menutup mata. “Adam itu kayak kamu, ya, Dit.” “Apanya?” “Sifatnya, pemberani.” “Masa? Alhamdulillah kalau begitu.” “Aku takut tau nonton horror!” “Kamu mah gak nonton, Dhea. Dari tadi juga liat dikit doang, ngintip doang!” “Tapi kan tetep aja serem.” “Ya sudah, kalau gitu ganti chanelnya.” “Kamu gak mau nonton lagi?" “Nanti aku nonton di hape aja.” “Hemm, ya udah.” Aku langsung mengganti chanel TV, dan menemukan tayangan drama Korea. Pemerannya Lee Minho, aktor terganteng dan terpopuler Korea Selatan. “Kamu gak mau bilang kalau Lee Minho itu kayak aku?” tanya Radit sambil nyengir. “Apanya?” tanyaku balik dengan sok polos. “Ya, gantengnya. Meski emang lebih ganteng aku.” “Jiahahaa. PD banget.” “Harus dong, percaya diri.” “Tapi emang benar sih, gantengan kamu.” “Minus berapa kamu Dhea?” “Hahahahaha.” Membunuh waktu bersama yang terkasih, memang takkan membuat kita merasa berdosa. Kekasih halal yang super tampan dan pengertian. Meski aku sedang menstruasi, dia tetap mau perhatian dan dekat-dekat denganku. “Gak mau makan sesuatu? Bakso?” tanya Radit. “Ehm, gak. Udah malem ini, Dit,” jawabku. “Kali aja mau, katanya orang menstruasi itu kan bisa jadi kayak ngidam. Pengen makan-makan gitu.” “Kata siapa?” “Ya, kata orang-orang.” “Ehm, tapi boleh deh. Emang masih buka jam segini?” “Oh, iya. Udah jam sepuluh. Kayaknya udah tutup semua.” “Ya iya lah, emangnya kita di kota apa.” “Ya udah, kalau gitu tidur aja yuk.” “Oke.” Aku mengekori Radit untuk mengunci pintu rumah, juga menutup tirai tirai jendela. Namun, sesuatu mengejutkan aku dan Radit. Saat menutup jendela yang dapat melihat ke gang, ada sosok perempuan yang sedang berdiri di gang menatap ke arah rumah kami. Meski gelap, aku bisa memastikan bahwa itu Kak Rina. Aku dan Radit saling menatap penuh tanya, apa yang sedang di lakukan Kak Rina. Lalu Radit berjalan lagi ke pintu depan, membuka pintu untuk melihat lebih dekat. Namun, ketika tiba di selasar, sosok seperti Kak Rina itu sudah tidak ada lagi. Sontak kami pun merinding dan cepat kembali ke dalam rumah. “Kok, tumben. Kita ngelihat setannya barengan?” tanya Radit. “Emangnya itu setan?” tanyaku balik. “Gak tahu juga sih.” “Kalau manusia, terus ngapain dia berdiri doang di situ?” “Iya, ya? Kenapa dia gak dateng aja ke sini, kan aku bisa bikinin dia kopi.” “hahaha. Dasar kamu, Dit.” “Kan bener, dari pada berdiri bengong. Gabut amat tuh setan.” “Setan gabut?” “Iya, kan. Hahaha.” Meski dibuat menjadi lelucon oleh Radit, tetap saja ada merinding yang tersisa. Kami berbaring di atas tempat tidur, lalu berdoa bersama. Kupeluk Radit agar tak terasa lagi menakutkan. .... Pagi-pagi sekali, kunyalakan televisi. Sembari membereskan pekerjaan rumah. Meski sebenarnya Radit juga telah membantuku. Aku hanya merasa ada banyak waktu luangku untuk bisa mengerjakan semuanya. Saat akan mencuci pakaian, aku tak menemukan lagi celana dalam yang kemarin kusisihkan karena ada banyak noda darah. Radit yang sedang membuat kopi pun bertanya apa yang sedang kucari. “Udah aku cuci semalam, Dhea,” jawab Radit enteng. “Kamu cuci? Kok kamu yang cuci?” “Ya iya, gak baik tahu noda begituan dibiarkan di kamar mandi.” “Jadi kamu percaya kalau darah mens bisa dibuat pesta sama kuntilanak?” “Haha. Apaan sih, Dhea. Mana ada begituan. Ya, pokoknya gak bagus lah, kotor.” “Aku pikir ada hantuwen atau kuntilanak yang makan darah aku.” “Hish. Jorok banget deh itu setan. Aku aja mau muntah nyucinya.” Apa yang Radit lakukan, benar-benar membuat aku merasa beruntung telah memilikinya. Dia sangat pengertian, juga mau melakukan hal seperti itu untukku. Aku sontak menghampirinya dan memeluknya dari belakang. “Makasih, ya, Radit. Kamu baik banget,” ucapku. “Sayang, kan udah semestinya suami istri saling bantu.” “Tapi kamu itu type yang langka di dunia ini.” “Masa sih?” “Iya.” “Kalau begitu harus kamu jaga dengan baik biar gak cepat punah.” “Gak mau, aku gak mau kamu punah.” “Memangnya aku satwa liar?” “Kamu pemilik hati aku, Dit.” “Uwu sekali istriku ini.” Radit membalas pelukanku lalu tak lama dia pun pamit untuk segera mengajar ke sekolah. Aku lanjut membereskan pekerjaan rumah, lalu bersiap untuk melakukan kunjungan pagi ke rumah bayi baru. .... Bayi pertama yang kuurus setelah libur pernikahan, badannya semakin gemoy berkat ASI ekslusif yang diberikan Ibunya. Di hari ke empat, tali pusat sudah putus dan mulai mengering. “Bidan, anak saya nangisan kalau malam, kenapa ya?” tanya Ibu bayi. “Masing-masing anak berbeda, Kak. Bisa jadi karena sakit perut, atau merasa gak nyaman di tempat tidurnya. Tapi masih mau menyusu dan buang air dengan lancar kan?” “Iya, sih, Bidan. Cuma agak rewel aja.” “Yang penting tetap jaga kondisi tubuhnya. Olesi minyak kayu putih, siapa tahu sakit perut. Bisa jadi juga terbiasa digendong.” “Katanya sih gitu, karena enakan di tangan.” “Nah, makanya. Dia Cuma mau dimanja-manja aja kayaknya.” “Gitu ya, Bidan.” “Iya, Kak.” Setelah kunjungan, aku segera kembali ke rumah. Dan ternyata Radit belum pulang dari mengajar di sekolah. Dia sedang merangkap tata usaha, karena yang bertugas di bagian itu sedang cuti untuk melahirkan. Ketika menstruasi, ari-ari dan pinggangku terasa pegal. Darahnya juga lebih banyak dari biasanya, hingga aku harus lebih sering mengganti pembalut. Banyak orang meremehkan kondisi perempuan yang sedang menstruasi, padahal pada saat kondisi ini, rasanya sungguh tidak nyaman. Sebagian perempuan juga merasakan nyeri yang sangat menyakitkan. Darah yang keluar juga kadang banyak seperti orang yang keguguran bahkan melahirkan. Beruntungnya aku yang memiliki suami sebaik Radit. Pulang mengajar, dia datang membawakan banyak cemilan dan gorengan. Tentu hal itu membuat moodku menjadi lebih baik, merasa disayang dan sangat dipedulikan. Saat menstruasi saja dia mau mengurusku dengan baik, apa lagi nanti kalau saat hamil dan melahirkan. Satu yang kuharapkan, Radit tetap perhatian dan menyayangiku seperti itu. Tak pernah berubah, meski zaman terus berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN