Suara tangisan, masuk mengganggu nyenyak tidurku. Sejak diganggu orang gangguan jiwa waktu dulu, aku jadi lebih peka dengan pendengaranku. Kubuka mata mencoba sadar dari alam mimpi, lalu membuka layar ponsel dan menatap jarum jam. Sudah tengah malam, dan suara tangisan anak-anak itu makin terdengar, seiring dengan langkah kaki yang juga berlarian semakin jelas terdengar.
Sebelum kubangunkan, rupanya Radit juga sudah membuka mata. Radit masih berbaring, sepertinya masih meneliti sumber suara. Lalu suara tangisan dan lari larian itu tiba di depan rumah kami, dilengkapi ketukan pintu yang membuat degup jantungku makin menjadi-jadi.
Aku mengekori Radit menuju pintu, dan jelas terlihat di depan sedang berdiri Ayu dan Bella, anak-anak Kak Rina. Radit lalu membuka pintu, anak-anak itu pun berlarian menghampiri dan memelukku.
“Bidan, Guru. Kami takut,” ucap Ayu dengan isak tangis yang belum berhenti.
“Ayu, Bella, ada apa Sayang?” tanyaku.
“Iya, Ayu. Kalian kenapa?” tanya Radit juga.
“Mama, Mama gak ada,” jawab Ayu si sulung.
“Gak ada? Kok, bisa?”
“Gak tahu, Bidan. Mama gak ada di rumah.”
“Ya Allah, kalau begitu kalian tunggu di sini, ya. Siapa tahu bentar lagi mama kalian datang.”
Aku dan Radit mencoba menenangkan Ayu dan Bella, lalu membawa mereka masuk ke rumah. Untuk membuat mereka berhenti menangis, aku membuatkan s**u hangat dan membawakan makanan kecil.
Masih pukul dua dini hari, entah ke mana perginya Kak Rina. Bisa-bisanya meninggalkan anak-anak di rumah, tanpa ayah mereka tentu saja mereka merasa takut.
“Mungkin mama kalian lagi mandi di sungai,” gumamku.
“Mandi di sungai?” lirik Radit.
“Iya, Dit. Dulu aku pernah ketemu Kak Rina abis mandi di sungai tengah malam,” lanjutku.
“Emang di rumah mereka gak ada kamar mandi?” tanya Radit.
“Ada lah, tapi katanya gak puas kalau mandi di rumah,” jawabku.
“Berani banget.”
“Iya, super berani.”
Ayu dan Bella menatap diam saja padaku, saat kuceritakan tentang Ibu mereka. Entah kedua anak ini tahu apa saja tentang Ibu mereka. Ingin sekali kutanyakan langsung apa Ibu mereka itu semakhluk hantuwen.
“Aku mau salat malam dulu, kamu temani anak-anak,” ujar Radit.
“Iya, Dit.”
Radit pergi ke kamar, meninggalkan aku dan anak-anak di ruang tamu. Udara malam terasa dingin, wajah anak-anak itu terlihat sangat mengundang kasihan. Belum lagi mereka hanya mengenakan pakaian pendek yang biasa untuk bermain.
Aku mengambil kasur gulung dan selimut, menghamparkannya di depan lemari televisi. Kuambil bantal dan meminta anak-anak itu untuk kembali tidur, sembari menunggu ibu mereka datang.
Aku berbaring di samping mereka, rasanya masih mengantuk juga. Wajah anak-anak Kak Rina terlihat cantik, mirip dengan wajah Ibu mereka. Kuharap mereka tidak harus mengikuti jejak Ibu mereka yang harus berhubungan dengan hal mistis, berhubungan dengan minyak-minyak mengerikan itu.
“Bidan ...?” Aku terkejut mendengar lirih suara Ayu yang ternyata belum kembali tertidur.
“Ada apa, Ayu?” bisikku.
“Mama aku, udah sering keluar malam. Tapi ....”
“Tapi apa, Nak?”
“Bidan jangan bilang siapa-siapa, ya.”
“Iya, ada apa?”
“Eum, gak jadi."
“Kok gitu?”
“Takut Mama marah, Bidan.”
“Ya udah, Bidan gak maksa kamu. Sekarang tidur ya.”
“Iya, Bidan.”
Ayu lalu membalikkan tubuhnya, membelakangiku. Harusnya aku sudah bisa tahu dari Ayu, apa yang sebenarnya terjadi. Namun, aku juga tidak ingin memaksa Ayu yang masih kecil untuk membuka rahasia Ibunya sendiri.
...
Aku kembali terbangun, mendengar suara sayup adzan Subuh. Radit terlihat tengah membuka pintu, sepertinya dia akan pergi salat Subuh. Sementara anak-anak Kak Rina sudah tidak ada di tempatnya.
“Dit, anak-anak mana?” tanyaku, berjalan menghampiri Radit.
“Sudah dijemput Mamanya tadi, Dhea. Aku gak tega bangunin kamu,” jawab Radit.
“Terus, sebenarnya Kak Rina dari mana, Dit?”
“Hemm, katanya dari menyauk undang di sungai. Dia minta maaf karena harus ganggu kita. Dia lupa kasih tahu anak-anaknya.”
“Menyauk undang? Kamu lihat dia bawa sauknya?”
“Iya, dia juga kasih undangnya. Aku taruh di kulkas.”
“Ehmm.”
“Sudah, ya. Kunci pintunya, aku pamit ke masjid.”
“Iya, Dit.”
Aku mengunci pintu, setelah mencium punggung tangan Radit dan melihatnya melaju menuju Masjid. Aku berjalan ke kulkas, dan benar saja. Ada semangkuk kecil undang di sana.
Menyauk undang atau udang, memang menjadi kebiasaan warga Kalimantan yang tinggal dekat sungai seperti di desa ini. Biasanya tepat ketika air sungai sedang sangat pasang, dari atas pinggir sungai bisa dengan mudah menyauk udang-udang kecil.
Bisa jadi benar Kak Rina memang menyauk udang tadi malam, akan tetapi bisa jadi juga itu hanya alasan. Namun, di desa tidak sedang ada yang bersalin. Namun, bisa jadi juga dia mendatangi desa yang lain. Mengingat hantuwen bisa mencium bau darah dari tempat yang sangat jauh.
Melihat udang-udang itu, dan mengingat itu pemberian dari Kak Rina. Aku jadi tidak berselera untuk mengolahnya. Biar Radit saja yang mengurusnya, itu pun kalau dia mau.
Udang-udang kecil sungai itu, mungkin sama dengan yang disebut ebi. Entah apa udang lain disebut ebi karena berasal dari laut, atau semua udang sama saja. Udang-udang kecil itu bisa diolah menjadi terasi, atau bakwan udang. Cukup lezat, akan tetapi juga bisa menyebabkan diare dan pusing untuk yang memiliki alergi. Atau juga untuk yang tidak cocok di perut mereka.
Aku pergi ke kamar mandi dan bersiap membersihkan diri, karena sedang tidak salat rasanya jadi memiliki waktu libur. Namun, jadi libur juga menikmati masa-masa yang manis bersama Radit. Meski begitu, Radit tetap memperlakukanku dengan manis juga sebenarnya.
...
Aroma tepung, bumbu bawang, dan juga udang, memenuhi dapur. Radit mengolah udang menjadi bakwan udang dengan hanya menggunakan tepung yang sama dengan yang biasa dipakai untuk membuat ayam crispy. Aku hanya melihatnya, menunggu sampai bakwan udangnya matang.
“Eummm, kayaknya enak,” ucap Radit saat mengangkat hasil gorengan pertama.
“Mana aku coba,” sahutku.
Karena masih panas, Radit membuatku memegangnya dengan tissu. Dari gigitan pertama, terasa renyah dan gurih. Radit memang ahli memasak apa saja. Aku yang tadinya tak berselera, akhirnya ikut menikmati juga.
“Enak kan?” tanya Radit.
“Enak,” jawabku.
“Iya, dong. Siapa dulu yang masak? Chef Radit ganteng.”
“Hemmm, iya, iya. Suamiku, chefku.”
“Hahaha. Istriku, bossku.”
“Hahahaha.”
Sebenarnya, bakwan udang lebih enak dimakan ketika masih panas dan tanpa nasi. Namun, Radit mengingatkanku agar tidak makan buru-buru.
Kunyalakan televisi, lalu Radit datang membawakan sepiring bakwan dan jus jeruk seteko besar. Sepiring nasi hangat, dan sambal instan pun menjadi pelengkap.
Radit menyuapiku nasi, sesuai permintaanku. Sembari menonton acara kartun. Berhubung hari ini Radit tidak mengajar, kami jadi bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama.
“Kak Rina berani banget pergi ke sungai malam-malam,” ucapku.
“Hemm, ya, mungkin karena sudah terbiasa, Sayang,” sahutnya.
“Hemm, bisa jadi. Kalau kamu berani gak?”
“Berani aja, malesnya yang pake banget. Mending kita beli kan? Ini aja dikasih.”
“Haha, iya, sih.”
“Jangan banyak-banyak makannya, Dhea. Entar bau terasi, lho.”
“Hah? Kata siapa gitu?”
“Kata udangnya tadi ngomong.”
“Hemm, tapi bohong kan?”
“Iya. Lah. Ahahha.”
Radit makan dengan lahap, kalau diingat-ingat kami memang jarang sekali memasak udang. Aku jadi ingin makan udang besar. Namun, mencari udang besar juga sulit bila air sungai sedang pasang seperti ini.
“Habis deh, kurang banyak ya?” ujar Radit.
“Jangan banyak-banyak, entar kolesterolnya naik,” ucapku.
“Iya, ya. Ya udah, sini aku beresin dulu piringnya.”
“Biar aku aja, Dit.”
“Jangan, kamu duduk di sini aja. Entar televisinya hilang.”
“Dih.”
Radit tanpa ragu membereskan bekas makan yang tertumpuk di meja depan televisi. Lalu kudengar air kran mengalir di dapur, Radit pasti langsung mencuci semua perabot kotor. Dia memang tidak pernah mau merepotkanku, walau selelah apa pun dia bekerja.
Ucapan salam tiba-tiba terdengar dari luar. Suaranya sudah tidak asing, meski aku belum melihatnya. Itu Kak Rina, hanya dengan daster panjang di atas lutut dan rambut panjang terurai. Bisa-bisanya Kak Rina datang ke rumah Radit dengan pakaian seperti itu.
“Kak Rina?” aku menyambutnya di depan pintu.
“Pagi, Bidan. Ini saya bawakan ampal udang, semoga bidan suka,” ucap Kak Rina.
Menyodorkan sepiring kecil ampal udang.
“Makasih, Kak. Masuk."
“Iya, Bidan.”
Kupikir Kak Rina akan langsung pulang, ternyata dia duduk juga di ruang tamu. Aku meletakkan makanan pemberiannya ke atas meja makan, sedang Radit baru selesai dari mencuci piring.
“Dari siapa?” tanya Radit.
“Dari Kak Rina, ada dia tuh di luar,” jawabku.
“Oh ya? Ya udah, kamu temenin. Aku mau ke belakang rumah, lihat tanaman cabe.”
“Kamu gak mau gabung juga?”
“Dih, ngapain. Emangnya aku cowok dasteran.”
“Haha.”
Radit benar-benar langsung mengambil pisau rumput, dan keluar ke pekarangan belakang lewat pintu dapur. Syukurlah, dia jadi tidak perlu melihat segar dan putihnya kulit Kak Rina yang menantang nyata.
“Lagi sibuk, Bidan?” tanya Kak Rina saat aku duduk di hadapannya.
“Enggak, Kak. Baru selesai makan,” jawabku.
“Oh, udah makan?”
“Iya, Kak.”
“Ehm, maaf ya, Bidan. Semalam sudah diganggu sama Ayu dan Bella.”
“Ah, gak apa-apa, kok, Kak.”
“Padahal mereka pas saya tinggal udah tidur pulas. Dan biasanya gak pernah nyari.”
“Mungkin karena sekarang udah gak ada yang jagain waktu Kak Rina tinggal, Kak. Jadi mereka takut.”
“Iya, kayaknya Bidan. Gak ada Ayahnya, jadi makin rewel. Apa-apa harus sama saya.”
“Yang sabar, ya, Kak.”
“Iya, Bidan.”
“Hemmm.”
“Pak Radit ke mana, Bidan?”
“Lagi ngurus cabe di belakang katanya.”
“Oh, gitu. Rajin ya Pak Guru.”
“Iya.”
“Saya sering lihat, pak Radit jemur-jemur baju, nyapu rumah. Rajin sebagai suami.”
“Iya, Kak. Alhamdulillah dia pengertian sama isteri."
“Beruntung sekali Bidan Dhea.”
“Hehe. Bisa aja, Kakak.”
Tak lama, Kak Rina pun pamit pulang. Kupikir akan pulang ke rumahnya, ternyata mampir dulu ke pekarangan rumah belakang rumah Radit. Benar-benar membuatku merasa mulai sebal. Aku pun mengintip dari jendela dapur. Kak Rina benar-benar sedang tebar pesona pada Radit.
Dia tak merasa canggung untuk duduk jongkok di depan Radit yang sedang memindahkan bibit cabe, membiarkan paha mulusnya terlihat. Kulihat Radit mulai risih, lalu mengalihkan pandangan ke pekerjaan lain. Aku benar-benar merasa akan terbakar melihat Kak Rina berbuat seperti itu.
Mungkin karena sadar sudah tak wajar, Radit pun terlihat menjauh dari pekarangan belakang. Menghampiri kran kebun dan mencuci tangannya, Kak Rina yang semula masih mengekori juga akhirnya pulang.
“Radit!” sambutku di depan pintu.
“Ya?” jawab Radit dengan wajah polos.
“Seger habis lihat tanaman segar?” cibirku.
“Hah?”
“Iya. Udah segar, montok, putih. Segar mata kan jadinya?”
“Kamu ngomong apa sih, Dhea?”
“Itu, Kak Rina!”
“Hemmm, gitu doang.”
“Apanya yang gitu doang?”
“Ya, masa kamu cemburu Cuma sama Kak Rina?"
“Ya iya, lah. Siapa juga yang senang lihat suaminya digodain gitu.”
“Yang penting aku gak tergoda, Sayang.”
“Siapa yang tahu? Bisa aja semua pemandangan itu sudah terekam di kepala kamu!”
Radit lalu tersenyum, mencoba untuk membujukku. Dipeluknya aku dari belakang, dielusnya punggungku dengan dagunya yang menawan.
“Bagaimana bisa aku merekam orang lain, sementara memori di kepalaku sudah penuh dengan semua tentang kamu, Sayang,” ucap Radit setengah berbisik.
“Gombal!” sahutku.
“Hem. Ya udah, ngambek aja dulu. Jangan lama-lama tapi."
“Gak suka aku tuh, gak suka!”
“Kan aku sukanya sama kamu doang, Sayang.”
“Heleh.”
“Hemm. Percuma ngerayu cewek lagi ngambek, ngabisin kuota doang, dipercaya aja enggak.”
“Itu tau!”
Aku merajuk dan berjalan dengan langkah kasar ke kamar. Langkah yang cukup nyaring karena beradu dengan sendal jepit. Sebenarnya aku percaya saja pada Radit, hanya saja hatiku masih terasa panas.
Di kamar aku terus mencoba untuk melupakan rasa ngambek, akan tetapi rasanya sulit. Radit pun tak ingin membuat kegaduhan dulu, dia mungkin akan membujuk dengan cara lain lagi.
Tak lama, suara mixer terdengar dari dapur. Entah apa yang sedang dilakukan Radit, mungkin dia sedang membuat kue untuk membujukku. Dia kan bukan laki-laki biasa, harusnya dia tidak menyerah untuk bisa membuatku memaafkan dan tersenyum kembali, walau sebenarnya dia juga tidak salah.
Aku tak ke dapur untuk mengintip, kubiarkan saja sembari memejamkan mata. Hatiku sudah menjadi lebih tenang, akan tetapi rasanya masih menyenangkan untuk pura-pura merajuk dulu.
Tak kusangka, Kak Rina bisa berubah seperti musuh dalam selimut. Dia jelas-jelas terlihat menggoda Radit, Radit itu laki-laki, tentu akan merasa ada desiran tergoda. Untung saja Radit laki-laki beriman yang taat dan tak mudah digoda.
Coba saja laki-laki lain, mungkin air liurnya sudah menetes karena melihat tubuh segar Kak Rina. Apa lagi dia janda, janda bisa benar lebih menggoda. Slogan janda yang tak lekang di makan masa. Menjadi ancaman setiap rumah tangga, walau sebenarnya tak semua janda begitu.
Aku mencintai Radit, tentu saja aku takut hatinya akan berpaling pada perempuan lain. Apa lagi aku yakin, ada banyak perempuan yang naksir pada Radit. Radit baik dan bisa dibilang sempurna, pasti menjadi dambaan setiap wanita. Kak Rina tentu menjadi salah satunya.
Mulai sekarang aku harus waspada, jangan sampai kecolongan. Aku harus menjaga ikatan cinta kami, jangan sampai hati Radit berbalik dan berhenti mencintaiku. Aku tak akan pernah rela melihatnya direbut oleh siapa pun.
Apa lagi oleh Kak Rina, si hantuwen itu. Aku yang manusia sungguhan, tidak boleh kalah dengan manusia jadi-jadian, meski aku belum bisa membuktikan semua itu.