Bab 31. Interview Kak Rina Si Janda Baru

1220 Kata
Aroma manis dari gula dan mentega, tercium wangi dari dapur. Tak kusangka, Radit juga pandai membuat kue. Dia membuat kue bolu pandan dan kue brownis coklat. Secangkir teh dan sepiring kue, dia bawa ke kamar untuk membujukku. “Sayang, udahan dong, ngambeknya. Aku bikin teh hangat sama kue nih, mau ya?” Ucapnya. “Kamu yang bikin sendiri?” tanyaku cuek. “Iya, lah. Kan aku serba bisa, chef kesayangan kamu,” jawabnya dengan gaya bicara menggemaskan. “Taruh situ, biar aku cicipin dulu.” “Oke, ratu hatiku.” Aku menggigit kue buatan Radit, kue bolu pandannya terasa lembut, wangi dan pas manisnya. Sedangkan kue brownisnya juga manis, coklatnya begitu terasa. Aku merasa bahagia menikmati setiap gigitannya. “Gimana Ratu? Enak?” tanya Radit. “Enak banget sih ini. Hebat kamu, Dit,” jawabku. “Oiya, dong. Jadi, jangan marah lagi ya?” “Minta maaf dong.” “Ehm, iya. Maafin aku ya?” “Oke, aku maafin.” “Alhamdulillah. Sekarang kamu makan semua kue-kuenya. Tadi aku udah makan banyak.” “Kamu makan duluan?” “Abisnya, aku suka yang masih panas gitu, Sayang.” “Ehmm. Iya, deh.” Aku akhirnya berhenti merajuk, dan berharap hal seperti itu tak akan pernah terjadi lagi.Istri mana tidak cemburu, bila suaminya akan diganggu. ... Selepas adzan dzuhur, aku mendapat pesan dari puskesmas. Ada kunjungan dari rumah sakit kota dan kami diharapkan bisa berkumpul. Sebenarnya aku malas hadir dalam semacam acara seminar seperti ini, akan tetapi demi menjaga eksistensi kerja, aku pun harus hadir. Radit menawarkan diri untuk mengantar, akan tetapi dia dicegat oleh rekan-rekannya yang tiba-tiba datang untuk diskusi. Radit bersikeras ingin mengantar, akan tetapi aku tak ingin melarangnya. Aku pun berangkat sendiri ke puskesmas. “Benar kamu bisa sendiri, Sayang?” Radit memakaikan helm di kepalaku. “Iya, kasihan teman-teman kamu datang dari jauh,” ucapku. “Hemm, fii amanillah, hati-hati. Kalau sudah sampai sana cepat kabari aku ya.” “Iya, bawelku.” Aku mencium punggung tangan Radit, lalu Radit balik melakukan hal yang sama. Aku memutar kunci, mengucap bismillah dan melaju pergi. Sebenarnya akan lebih menyenangkan kalau Radit yang mengantar, akan tetapi biarlah kali ini aku pergi sendirian. Lagi pula perjalanan ke puskesmas tidak begitu jauh. Matahari juga masih menyinari, tidak ada alasan untuk aku takut sendirian. ... Setibanya di Puskesmas, rekan-rekan langsung antusias menyambutku. Di mata mereka, aku sudah banyak melakukan tugas dengan sangat baik, padahal kerjaku juga masih terbilang seumur jagung. Tidak bisa dibandingkn dengan para senior yang jam terbangnya lebih tinggi. Aku duduk di tengah-tengah aula, di salah satu kursi yang cukup tertutup dari perhatian. Menyimak pidato yang disampaikan beberapa dokter di rumah sakit pusat, juga beberapa arahan dan himbauan dari petugas kantor pemerintahan daerah. Kotak berisi kue dan air teh gelas yang diberikan panitia padaku pun tandas, tak terasa telah menemani melalui waktu yang bermanfaat ini. Ada banyak informasi baru yang aku terima, juga konsep-konsep baru yang nanti mungkin akan aku terapkan saat bertugas. “Dhea, masih langsing aja,” lirik Bidan Hana ketika kami berjalan bersama keluar aula setelah acara selesai. “Apa maksudnya, nih?” lirikku dengan tersenyum. “Belum telat gitu?” tanyanya lagi. “Telat apaan? Kalau nanya itu yang jelas, Kak,” jawabku. “Hehe, sorry. Aku kan takut kamunya sensitif. Cuma iseng aja nanya, kali aja kamu udah ngisi debay perutnya.” “Haha. Oh, nanya itu. Tanya aja lagi, kan wajar ditanya gitu kalau udah nikah. Ini aku udah tiga hari menstruasi, Kak. Belum kayaknya, mungkin karena masih baru juga nikahnya.” “Hemm, iya kayaknya. Lagi pula, kayaknya kamu masih masa-masa kasmaran juga sama suami kamu.” “Nah, itu Kakak tahu. Kami tuh berasa lagi pacaran aja sekarang, Kak.” “Bagus lah, Dhea. Pacaran setelah menikah memang lebih indah ya?” “Uhuk. Iya, dong, Kak.” “kalau gitu aku duluan ya, Dhea.” “Kakak udah mau pulang?” “Iya.” “Bareng lah.” “Loh, kamu gak dijemput?” “Enggak, tadi juga berangkat sendiri. Suamiku ada kegiatan mendadak.” “Oh, gitu? Ya udah, yuk, barengan aja.” “Hayuk.” Lega rasanya ketika ada teman pulang bareng, karena hari perlahan sore. Walau sebenarnya tidak mungkin juga akan sampai rumah saat sudah malam. Apa lagi aku juga bisa ngebut, pasti akan cepat sampai. Dan ternyata, Kak Bidan Hana mengebut lebih dari diriku melajukan motornya. Aku tertinggal beberapa kali, lalu kami langsung saling berpisah ketika telah memasuki gerbang desa. Kak Hana luar biasa, skill motornya hampir sama dengan laki-laki ternyata. Ketika aku akan tiba di rumah, kulihat dari kejauhan. Ada Kak Rina sedang duduk di selasar rumah kami, bersama Radit yang sedang merapikan pohon-pohon bonsai. Dadaku mendadak jadi sesak, kembali lagi rasa cemburu itu datang. Walau kali ini Kak Rina berpakaian lebih sopan. “Sayang, udah pulang?” Radit langsung menghampiriku dan membantuku melepas helm. “Iya, kamu ngapain?” tanyaku ketus. “Ngerapiin bonsai, Sayang. Kalau Kak Rina katanya cari angin aja, sekalian mau belajar ngurus tanaman,” jelas Radit. “Bidan, baru pulang?” tanya Kak Rina ikut nimbrung. “Iya, Kak,” jawabku ketus. Radit sepertinya telah bisa menebak keadaan hatiku saat ini, dia pun hanya tersenyum sembari membantuku membereskan tas yang kubawa, dan menyimpannya di tempat kerjaku. Aku duduk di selasar dekat Kak Rina, berharap tetanggaku yang menyebalkan ini akan segera pulang. Untuk apa dia sering melihat suami orang, apa lagi tadi saat aku tidak ada. “Ada acara apa, Bidan?” tanya Kak Rina. “Kunjungan dari rumah sakit pusat,” jawabku singkat sembari melepas sepatu dan kaos kaki. “Wah, pasti rame ya, Bidan?” “Biasa aja, rame juga acara dangdutan.” “Haha, bidan ini bisa aja. Oiya, lusa ada acara dangdutan. Kan di ujung kampung sini ada yang mantenan, Bidan.” “Ohya?” “Iya, Bidan. Bidan suka lihat dangdutan gak?” “Enggak.” “Saya sih suka, tapi sebentar saja. Kadang Cuma siang.” “Ikut joget juga gak?” “Ah, enggak, Bidan. Malu.” Ternyata dia masih tahu malu juga, menyebalkan. Dia tidak merasa malu terus mendekati suami orang? Atau merasa kami sudah sangat dekat, hingga dia bisa datang kapan saja. “Dokter pusat bilang apa aja, Bidan? Siapa tahu ada bantuan-bantuan buat warga,” tanya Kak Rina lagi. “Emmm, kalau soal itu gak ada sih, Kak. Konsultasi tentang seputar persalinan aja.” “Oh, gitu.” “Bantuan KB masih ada kok, Kak.” “Haha, Bidan ini. Saya kan sudah gak punya suami, mau ngapain pakai KB lagi?” “Ya, siapa tahu mau cari suami baru.” “Haha, enggak ah bidan.” “Kenapa?” “Ya, gak tahu juga. Kalau memang nanti masih ada jodoh, pengennya dapat yang lebih baik juga untuk jadi Ayah sambung anak-anak.” “Emm, yang kayak Radit? Mau?” “Haha, Bidan ini bisa aja.” Suara Kak Rina, kadang aku merasa dia hyperbola. Terlalu dibuat-buat melembutkan suaranya. Semoga Radit darahnya tak berdesir melihat Kak Rina bicara manja seperti itu. “Kak, aku boleh nanya gak?” tanyaku. “Iya, ada apa Bidan?” “Ehmm, memangnya Kakak bisa mudah ya melupakan suami kakak yang baru meninggal?” “Ya, enggak lah, Bidan. Mana mungkin saya bisa cepat lupa." Tentu saja, bertahun-tahun menjalani hidup bersama, tak akan semudah itu untuk lupa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN