Bab 32. Kejutan

2502 Kata
Ditinggal pergi oleh seseorang yang telah lama menetap di hati, juga menemani hari-hari, tentu rasanya sangat menyakitkan. Di hari pertama, kedua, ketiga, mungkin belum terasa. Lalu semakin lama, akan semakin sakit rasanya. Rasa rindu setelah kehilangan dan tak mungkin lagi bisa bertemu di dunia, rindu yang selalu akan terasa dan hampir tak mungkin dilupa. Seorang teman pernah mengomel padaku kala itu, tepatnya saat kami baru lulus kuliah di kebidanan. Temanku itu menikah muda, lalu ditinggal mati suaminya ketika telah melahirkan anak pertama. Setiap hari dia bercerita, tepatnya bisa dibilang juga mengeluh. Tentang kesulitannya, rasa rindunya, sampai dia berpikir untuk meninggalkan dunia ini. Kalau saja bukan karena kehadiran sang buah hati, dia lebih senang untuk mati. Aku mengatakan padanya, untuk sabar. Lalu dia bilang sudah bosan dan tidak menyukai kalimat sabar itu. Lalu, aku bilang, menikah lagi saja. Tentu saja aku tidak serius, sedikit bercanda dan sebenarnya dia tahu itu sebuah candaan saja. Lantas dia mengomel, “Memangnya kamu menikah niatnya mau apa? Untuk apa selama ini bilang cinta, apa itu semua hanya kata-kata? Suamiku itu baik, gak seperti suami lain yang gak perhatian sama istrinya. Gak mungkin secepat itu aku bisa menggantikan dia, bahkan aku gak mau gantiin dia dengan siapa pun lagi!” tegasnya. Sukses membuatku berhenti untuk banyak bicara padanya tentang itu lagi. Cukup dengarkan, diam saja sampai dia usai bercerita. Mungkin orang-orang yang kehilangan hanya ingin itu. Hanya ingin rasa sakitnya didengar, dimengerti. Namun, bagaimana kecurigaanku selama ini pada Kak Rina. Aku berpikir Kak Rina memberi minyak pulih pada suaminya agar suaminya itu pelan-pelan mati. Dia menyukai Radit, dan bisa saja dia benar melakukannya. Atau mungkin juga aku telah salah. “Bidan, saya pulang dulu, ya,” ucap Kak Rina. “Oh, iya, Kak,” sahutku. Kak Rina tersenyum, lalu tak lupa melihat pada Radit yang mulai menutup jendela rumah karena sudah menjelang senja. Aku gegas memarkirkan motor di garasi mini samping rumah, Radit sempat saja membuat garasi itu di sela-sela kesibukannya. .... Selepas mandi, Radit pamit untuk ke Masjid menjalankan salat maghrib. Aku duduk di tempat tidur, memainkan gawai yang dan berselancar di media sosial. Rekan-rekan di puskesmas, banyak yang meng-unggah kegiatan kami tadi di puskesmas. Aku pun banyak tak sengaja tertangkap kamera, untuknya tidak terlihat jelek. Begitu lah kebiasaan saat foto di keramaian, yang memegang kamera hanya akan fokus dan peduli pada penampilannya sendiri. [Yang kerudung coklat, manis banget.] Kulihat sebuah komentar di postingan Kak Hana. Dan jelas yang berkerudung coklat di foto itu hanya aku. [Hush. Udah ada yang punya.] Balas Kak Hana pada komentar dari akun Tegar Setia. [Pantes lebih menggoda.] Balas akun itu lagi. Lalu Kak Hana hanya membalasnya dengan emoticon tertawa. Aku menstalking akun Tegar Setia itu, foto profilnya tidak begitu jelas, layaknya sebuah akun palsu. Tidak kutemukan sesuatu yang nyata, hanya ada banyak postingan lucu, lalu sesekali postingan serupa puisi yang menawan hati. Segera kuhentikan stalking, takut terjadi kebaperan saat membaca puisi-puisinya. Saat membaca komen yang dia bilang aku manis saja, rasanya sudah membuatku senyum-senyum sendiri. [Ciee stalking.] Tak lama sebuah pesan masuk. Kaget sekali rasanya ketika tahu itu dari akun yang tadi baru saja kustalking. Pesan itu hanya kulihat, tak ingin kubalas karena aku tahu akan ada balasan-balasan lainnya yang mungkin bisa mengganggu hati dan pikiranku. [Dilihat doang. Jahat.] Kirim akun itu lagi. Tak lama, terdengar ucapan salam dari depan. Aku sampai tak menyadari suara motor Radit sudah datang. Segera kujawab salam dan membuka pintu. “Tumben lama,” ucap Radit. “Iya, Sayang. Maaf ya, lagi asik liat hape tadi,” sahutku. “Eumm, udah makan?” “Belom.” “Ya udah, makan yuk.” “Ganti dulu dong baju salatnya.” “Iya, Sayang.” Aku menyiapkan makanan ke meja makan, makan malam yang dimasak Radit. Ada nasi putih, ikan goreng, sayur bening dan tak lupa sambal. Sangat menggiurkan. “Laper banget aku,” ujar Radit yang baru duduk di kursi meja makan. “Kenapa tadi gak makan duluan, Sayang?” sahutku. “Maunya makan bareng kamu, Sayang.” “Eumm, ya udah. Mari kita makan.” Perutku juga terasa lapar, karena tadi hanya makan kue-kue kecil di Puskesmas. Dengan lahap kami makan, hingga tak butuh waktu lama semua telah tandas. Setelah makan, Radit membantuku mencuci piring bersama. Dengan semua perlakuannya, aku merasa sangat dihargai. Bersyukur sekali memiliki suami super perhatian seperti dia. ... Tontonan televisi sebenarnya membosankan, hanya ada sinetron atau juga ada tayangan-tayangan gosip dan video lucu. Aku dan Radit kadang memilih untuk mendengarkan tayangan kajian ceramah agama, atau juga menonton cartoon anak-anak. “Gimana tadi di puskesmas?” tanya Radit. “Eumm, ya, gitu-gitu aja lah,” jawabku. “Di Puskesmas banyak cowok ganteng juga, ya, rupanya.” “Baru tahu?” “Iya. Baru tahu pas lihat aplikasi fisbuk tadi.” “Haha. Liat foto-foto aku gak? Teman-teman banyak yang asal selfie.” “Iya, ada kok aku lihat. Dan emang isteri aku itu terlihat cantik dari sudut mana pun.” “Hilih, masa sih?” “Iya, lah. Isterinya Radit gitu loh.” Sebuah kecupan mendarat di pipiku, senyuman Radit hampir saja membuatku lupa bahwa aku sedang libur untuk melayani malam-malamnya. “Sayang, tadi kamu bahas apa aja sama Kak Rina?” tanyaku. Karena baru teringat untuk membahasnya. “Eum, gak ada bahas aneh-aneh. Dia Cuma tanya soal tanaman,” jawaban Radit. “Masa sih?” tanyaku lagi. “iya, Sayang. Emang mau bahas apa lagi?” “Eum, kali aja ada yang lain.” “Gak ada yang lain, di hati aku Cuma ada kamu." Kali ini aku yang mencium pipi Radit. Lalu dia membalasku dengan pelukan hangat. Duduk berdua di depan televisi dengan jarak sedekat ini, tanpa ada takut karena sudah resmi menjadi suami isteri. Rasanya sangat nyaman dan membahagiakan. Menikah memang anjuran terbaik untuk pasangan yang saling mencintai. Tepat ketika jeda iklan, gawaiku berdering. Dering yang jarang terdengar karena khusus untuk panggilan video. Aku pun beranjak menuju tempat tidur, tempat di mana gawai kuletakkan tadi. Terkejutnya aku ketika tahu yang menelepon video adalah akun Tegar Setia, dia menelepon via aplikasi biru. Aku dengan langkah cepat menghampiri Radit, lalu menunjukkan gawaiku padanya. Radit menatapku heran, lalu panggilan itu berakhir tak sempat diangkat. Tiba-tiba beberapa detik kemudian, panggilan itu berbunyi lagi di gawaiku. Radit pun mengangkatnya. Mengarahkan wajahnya tepat di depan kamera. Lalu gelak tawa tiba-tiba terdengar dari seberang telepon, Radit pun tersenyum geli. “Malem, Bro,” ucap akun Tegar Setia. Aku hanya menguping di samping Radit, tak berani menatap video yang menampilkan wajah akun Tegar Setia itu. “Malem juga, Bro,” sahut Radit dengan entengnya. “Bidadari lu mana? Boleh ngomong gak?” tanya Akun itu tanpa takut sedikit pun. “Gak bisa, Bro. Lu entar pingsan kalau denger suaranya,” jawab Radit lagi. “Hahaha, saking bikin nganu ya, Bro. Tapi bini lu cakep, elunya ganteng, kok gue mau ya sama bini lu?” “Eum, makasih pujiannya, Bro. Gue harap lu gak gangguin akun bini gue lagi ya. Dosa, Bro.” “Iye, iye, Pak Ustaz. Maafin gue ye. Gak lagi deh. Titip salam aja ya, buat Bini lu. Hahaha.” Panggilan pun terputus, diakhiri dengan gelak tawa dari seberang sana. Wajah Radit tiba-tiba merengut, dia lantas memeriksa gawaiku. Aku duduk saja diam di dekatnya. “Kamu stalking akun dia?” tanya Radit . “Iya, Cuma mau tahu aja kok,” jawabku jujur. “Baru dibilang manis aja, kamu udah stalking. Lemah banget,” lanjut Radit sembari meletakkan ponselku di atas meja. “Aku pikir dia gak akan tahu, Dit.” “Dhea, sekarang itu zaman aplikasi sudah canggih-canggih. Aku juga bisa kok, lihat siapa yang stalking akun ku, kayak waktu kita baru pertama kenal.” Aku lalu memflashback, benar sekali. Aku juga menstalking akun media sosial Radit ketika kami baru saja saling bertemu dan mengenal. Ternyata Radit sudah tahu kalau dulu aku stalking duluan. “Maafin aku, Dit. Aku gak ada niat apa-apa kok,” ucapku. Memeluknya dengan manja. “Kamu emang gak ada niat, bisa aja dia punya niat godain kamu lagi.” “Aku bakal blokir dia kok.” “Terserah kamu aja.” “Kamu cemburu?” “Cemburu? Ya iyalah, aku kan cinta sama kamu, aku gak rela ada cowok lain ganggu isteri aku, Dhea.” “Eumm. Iya, iya. Maafin aku, Sayang.” Aku mengambil gawai lalu langsung memblokir akun itu. Ternyata sebelum melakukan panggilan video, akun itu juga mengirimiku banyak pesan. “Diblokir, masih bisa dibuka. Yang penting itu bagaimana kita menjaga hati kita,” ucap Radit lagi. “Iya, Sayang.” Radit lalu tersenyum dan menciumi keningku, pelukan kami pun terasa kembali hangat. Lelah menonton televisi, kami pun ke kamar untuk menyambut mimpi. ... . Cemburu adalah pertanda cinta, seorang suami memiliki hak untuk itu. Namun, tak boleh sembarangan cemburu tanpa adanya landasan tepat. Over protektif, terlalu cemburuan tentu hanya akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, aku tidak bisa menahan cemburuku lagi. Setiap kali aku melihat Kak Rina, aku selalu merasa akan cemburu dan kesal padanya. Pagi ini dia datang ke rumah Radit, membawakan sepiring kue apam yang baru saja matang. Lengkap dengan taburan kelapa muda di atasnya. “Bidan Dhea belum bangun, ya, Pak?” tanya Kak Rina. Dia tidak tahu kalau aku menguping di balik pintu. “Udah kok, lagi mandi,” jawab Radit. “Ehm, gitu. Pak Guru abis mandi ya? Keliatan segar sekali,” lanjut Kak Rina dengan tatapan memancing syahwat. “Hehe. Iya, Kak. Makasih ya, kuenya.” “Semoga Pak Radit suka, ya.” “Hehe, iya, Kak." “Eh, tunggu, Pak. Maaf. Ada bekas odol kayaknya.” “Eh, iya. Kurang bersih ini.” “Maaf ya, Pak. Kalau gitu saya pulang dulu.” “Iya, Kak.” Astaga! Apa yang dilakukan Kak Rina pada suamiku tadi. Mungkin kah Kak Rina menyentuh wajah Radit sebagai modus barunya? Radit lalu membawa kue apam itu ke meja ruang tamu, dan segera menyadari kalau aku sudah ada di dekatnya. “Dhea? Bikin kaget aja!” ucap Radit dengan ekspresi benar-benar terkejut. “Kamu diapain tadi sama Kak Rina?” “Apanya?” “Ya, kamu diapain?” “Dikasih kue, ini kuenya.” “Enggak, tadi dia pegang-pegang kamu kan, Dit?” “Emm, iya. Cuma nyentuh pipi dikit kok.” “Dikit kamu bilang?” “Ya emang Cuma dikit, kan gak lebih.” “Aku cemburu, Dit.” “Ya udah, maaf. Kan aku gak sempat nahan tangan dia, Sayang.” “Dih. Nyebelin!” Aku langsung berjalan dengan menghentakkan kaki menuju kamar, dan menguncinya dari dalam. Rasa segar yang tadi terasa ketika mandi, menjadi tiba-tiba hilang seketika. Hanya ada rasa sesak dan panas di dalam hati. Semua ini ulah Kak Rina! Kenapa, kenapa harus Radit yang menjadi sasaran godaannya. Di desa ini masih banyak yang belum menikah, masih banyak laki-laki tampan dan mapan. Mengapa Kak Rina terus berusaha menggoda Radit? .... Rasa cemburu yang berlebihan, menghilangkan kehangatan. Puas mengomel, aku pun memaafkan Radit, walau sebenarnya dia tidak pernah salah. Ya, perempuan selalu merasa benar, bukan? Kami pun kembali bicara, akan tetapi dengan suasana yang berbeda. Rasanya aku ingin pindah saja ke tempat lain, di mana tidak akan ada yang mengganggu kebersamaan kami. “Mau jalan-jalan gak?” tanya Radit. “Ke mana?” tanyaku balik. “Mau nya ke mana?” “Gak tahu.” “Ke Tumbang Samba?” “Ngapain?” “Kan di sana ada bakso yang katanya paling enak itu, Baksa Mama Azam.” “Ehmm, boleh juga.” “Berangkat sekarang?” “Hayuk, mumpung belum terlalu siang.” “Oke, Bos.” Tumbang Samba adalah satu daerah yang tidak begitu jauh dari desa kami. Salah satu desa yang menjadi pusat kunjungan saat ingin belanja, atau sekedar jalan-jalan. Di sana juga seperti pusat penjualan emas. Masih menjadi suatu daerah, akan tetapi hampir menjadi setengah kota karena lengkapnya fasilitas di sana. Meski tidak selengkap di kota juga. Aku hampir jarang sekali pergi ke sana, baru sekarang bisa ke sana lagi dan bersama Radit. Dengan mengendarai motor, tidak sampai satu jam sudah sampai tujuan. Namun, masih harus menyeberang dengan getek untuk sampai di pusat Tumbang Sambanya. Setelah menyeberang, kami bisa melanjutkan perjalanan dengan motor. Memasuki daerah pasar yang ramai, dengan segala aktivitas penduduknya. “Mau langsung makan bakso?” tanya Radit dengan suara nyaring dari depan. “Terserah aja,” jawabku. “Beneran nih terserah aku?” “Iya, Radit. Kan kamu yang nyetir.” “Oke, deh.” Kupikir Radit akan langsung menuju warung bakso, ternyata dia malah menghentikan motor di depan toko perhiasan emas yang terkenal paling besar dan bagus di Tumbang Samba. Aku sama sekali tak merencanakan akan membeli perhiasan, bawa uang saja hanya tiga lembar senyum proklamator untuk jaga-jaga. “Ngapain ke sini, Dit?” bisikku. “Belanja, lah. Yuk!” Radit langsung memegang tanganku, membawaku masuk ke toko yang kebetulan sedang sepi. Aku paling malas belanja perhiasan, karena aku tidak pandai memilih dan tidak biasa belanja perhiasan karena selama ini Ibuku yang selalu membelikan. “Kamu pilih aja, mau yang mana? Terserah mau cincin, kalung, gelang, atau satu set juga boleh,” ujar Radit. Membuatku agak malu karena diperhatikan pembeli lain. “Serius? Lagi banyak duit kamu?” “Dih, pakek nanya.” Aku tersenyum saja, lalu melihat ke dalam etalase. Memperhatikan satu persatu perhiasan, kalau Radit sudah bicara begitu, pasti dia tidak main-main. Toh, selama ini kami belum pernah belanja perhiasan. Mataku terhenti, menatap sebuah cincin emas dengan permata kecil berbentuk hati. Ukurannya tidak terlalu besar, sederhana saja terasa sesuai dengan kepribadianku. “Aku mau yang ini,” kataku sembari menunjuk ke cincin itu. Penjaga toko langsung mengambil dan menunjukkannya pada kami. Ketika kucoba di jari, ternyata langsung pas. “Cantik, pilihan bagus,” ucap Radit. “Beneran? Aku beli yang ini aja kalau gitu." “Oke, sekarang pilih yang lain lagi. Gelang?” “Udah, Dit. Ini aja kita belum tahu harganya berapa.” “Dih, cepetan. Pilih satu gelang atau kalung.” “Kalau gitu kamu aja yang pilih, aku susah milihnya.” “Hemm, kamu ini.” Radit pun akhirnya memilihkan satu gelang emas, dengan sedikit hiasan lonceng dan bunga yang membuat gelang itu sedikit berbunyi saat dipakai. Aku pun menerimanya. Penjaga toko langsung menimbang emas, ternyata semua emas murni dengan berat cincin lima gram, gelang delapan gram. Harga emas sedang naik, tak kusangka Radit menyiapkan uangnya tanpa memberitahuku lalu membayar semua dengan kontan. “Gimana, senang gak?” tanya Radit. “Banget. Makasih, ya, Radit. Aku gak nyangka bakal dibeliin ini,” jawabku. “Udah lama mau aku beliin, tapi ada baiknya kamu pilih sendiri biar lebih enak. Alhamdulillah uangnya cukup untuk bikin senang istri.” “Itu pasti uang tabungan kamu kan?” “Eum, iya. Kan jadinya sama aja, sekalian buat tabungan kamu. Tapi jangan sampai kejual lah, ini kan hadiah aku buat kamu.” “Makasih ya, Dit.” “Iya, Sayang.” Kami pun berlalu dari toko perhiasan, kali ini benar menuju warung bakso. Hari ini aku merasakan lagi perhatian tulus Radit padaku, sebuah kejutan yang membuatku merasa semakin di istimewakan di dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN