Matahari kembali terbit, meski ia tak pernah berjanji akan selalu datang menyinari. Kubuka retina, kurafalkan doa di penghujung subuh. Berharap hari ini yang akan kulalui, menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Pagi-pagi sekali, sebelum melakukan kunjungan pagi. Aku datang ke rumah Radit, Radit merasa sudah baikan, akan tetapi kakinya masih terlihat bengkak. Tidak mungkin juga sakitnya akan hilang dan sembuh hanya dalam waktu satu malam.
Beno yang menemani Radit masih tidur, tanpa mengerjakan salat subuh. Bagaimana bisa bangun kalau semalaman dia habiskan begadang untuk bermain game online.
Aku pergi ke dapur Radit, mencuci perabot-perabot kotor. Lalu mencuci pakaian bola yang dia kenakan kemarin sore. Kuperhatikan betul agar tidak ada noda yang tertinggal. Setelah itu aku lanjut membersihkan rumahnya, walau hanya menyapu debu-debu.
“Dhea ... ngapain sih? Aku gak minta kamu lakuin semua itu lho,” kata Radit dari dalam kamar.
“Gak apa, Radit. Dari pada jadi numpuk semua,” sahutku.
“Kamu kan juga capek, Sayang.”
“Hah?”
Aku auto merasa baru saja salah dengar. Radit memanggilku sayang? Ah, mimpi apa aku bisa dipanggil begitu hari ini.
“Hemm, kalau udah. Tinggalin aja,” lanjut Radit.
“Nasi di dapur masih banyak, jadi aku angetin aja, Dit. Atau aku masak lagi ya?”
“Iya, angetin aja. Gak basi kan?”
“Enggak.”
“Hemm.”
“Kamu mau makan sama apa hari ini? Biar aku masakin.”
“Enggak usah, sambel cumi masih ada kan di wajan.”
“Masih kayaknya.”
“Yaudah, aku makan itu aja nanti.”
“Yaudah kalau gitu. Aku tinggal kunjungan dulu.”
“Iya.”
Aku gegas kembali ke rumah, mengambil tas untuk melakukan kunjungan. Segera kulajukan motor menuju rumah bayi baru.
...
Pulang dari melakukan kunjungan, aku langsung melihat keadaan Radit. Beno sudah pulang, tinggal Radit sendirian yang sedang terlihat sibuk dengan laptop di atas tempat tidurnya.
“Dhea, udah balik?” tanya Radit, mengetahui kedatanganku.
“Iya, baru aja,” jawabku.
“Hemm.”
“Kamu ngapain, Dit?”
“Bikin soal buat UTS.”
“Oh, udah mau UTS ya?”
“Iya, udah mulai sibuk sekarang. Duh, semoga kaki aku gak lama sakitnya.”
“Semoga lekas sembuh ya.”
“Aamiin. Makasih, Dhea.”
Aku membersihkan rumah Radit, lalu memasak makan siang sekaligus untuk makan malamnya. Dapur Radit sangat lengkap, banyak bumbu instan memang. Radit membuat memasak jadi pekerjaan mudah dan tidak perlu makan banyak waktu.
Meski hanya menggoreng ayam dan memasakkan sayur bening, rasanya tetap harus dijamin maksimal. Aku tidak ingin Radit kecewa pada masakan calon istrinya.
“Kamu masak?” tanya Radit. Dengan berjalan agak pincang dia mengintip pekerjaanku di dapur.
“Iya, biar kamu bisa langsung makan aja nanti,” jawabku.
“Aku gak nyuruh kamu lho, Dhea.”
“Kan aku yang mau bantuin kamu, mumpung lagi sempat.”
“Ehmm, ya sudah kalau gitu. Kamu juga jangan lupa makan.”
“Iya. Aku mah gampang.”
Radit tersenyum lalu kembali ke tempat tidurnya. Semua makanan sudah siap, aku menyimpannya dengan rapi di lemari. Memastikan tidak ada kucing garong yang akan mencuri ayam goreng. Semua perabotan bekas masak juga langsung kucuci.
Setelah kurasa cukup, aku pulang ke rumah. Mengerjakan pekerjaan di rumahku sendiri. Rasanya cukup melelahkan juga kalau harus mengurus dua rumah seperti ini.
...
Andin mengirimiku pesan berisi foto gaun pengantin. Ada gaun khusus untuk akad, ada pula untuk resepsi. Semua gaun itu dirancang untuk digunakan berhijab. Andin memintaku untuk memilih mana yang lebih aku sukai.
Aku tidak begitu pandai memilih, di mataku semuanya terlihat cantik. Hanya saja, aku tidak suka warna yang terlalu mencolok.
[Warna putih aja, kayaknya. Sama warna ungu.] balasku pada pesan Andin.
[Klop, aku juga suka yang warna itu.] Balas Andin lagi.
[Kalau gitu fix yang itu aja. Tapi, gak tanya Radit dulu?]
[Dia nyuruh ngikut apa kata kamu aja, Dhea.]
[Ya sudah, kalau gitu.]
Rasanya semakin tegang saja, padahal sekarang masih baru tahap memilih gaun. Telah diputuskan aku dan Radit akan mengambil cuti bulan depan, tepatnya meminta izin libur sebentar untuk pernikahan kami.
Malamku menjadi terasa indah, walau tanpa hiasan bintang-bintang. Aku berdiri di depan pintu sebentar, merasakan hawa dingin malam yang langitnya lama tak turun hujan.
Dua malam ini Radit libur mengajar mengaji. Namun, masih ada anak-anak yang datang untuk memastikan keadaannya. Sebenarnya bisa saja aku menggantikan mengajar sementara, akan tetapi rasanya tak nyaman juga harus mengganggu waktu istirahat Radit.
Ketika nanti Radit sudah pulih dari cidera kaki, semua akan kembali berjalan normal. Lalu kami mulai bisa mempersiapkan untuk acara pernikahan. Aku sudah tidak sabar.
“Dhea ...!”
Bulu kudukku tiba-tiba merinding, mendengar sayup suara yang terasa lewat begitu saja di telingaku. Aku menoleh ke segala arah, tak terlihat wujud siapa pun.
Angin kencang tiba-tiba datang, lalu pintu rumahku tertutup sendiri. Hampir saja membuat jantungku copot karena kaget. Aku membaca ayat kursi lalu membuka pintu rumah, masuk ke rumah dengan perasaan was-was.
Setengah berlari aku menuju kamar, meloncat ke tempat tidur. Entah apa yang menggangguku tadi. Harusnya aku tidak perlu takut.
Kuambil gawai lalu menelpon ke nomor Radit. Radit tentu saja langsung mengangkatnya.
“Dit?”
“Iya, Dhea. Belum tidur?”
“Baru mau tidur.”
“Ehm, terus kenapa?”
“Kamu kenapa belum tidur?”
“Baru selesai tugasnya. Mau nonton bola juga entar.”
“Dih, ngapain nonton bola. Istirahat aja, tidur.”
“Baru jam sembilan.”
“Aku belum bisa tidur.”
“Kenapa?”
“Takut. Tadi ada yang nakutin.”
“Hah? Masa?”
“Iya, Dit.”
“Apaan?”
“Ada yang manggil nama aku, aku cari gak ada orangnya.”
“Haha, perasaan kamu aja kali.”
“Beneran, Radit.”
“Yaudah, baca ayat-ayat aja.”
“Iya, udah kok.”
“Udah aman sekarang?”
“Kayaknya sih.”
“Yaudah, tidur. Aku temenin sampai kamu tidur.”
“Ehm, iya.”
Gawai kuletakkan di dekat telinga, lalu terdengar suara Radit yang mengaji. Suaranya langsung kuspeaker agar sekalian saja membuat setan-setan yang ingin menggangguku ketakutan.
Hati menjadi tenang dan sejuk mendengarkan suara Radit membaca ayat-ayat Al-quran. Dia seorang guru agama yang juga telah banyak menghafal ayat-ayat Al-quran. Sungguh calon imam yang tak lagi bisa diragukan. Hampir tak punya cela, sangat layak dan beruntuk ketika dia akhirnya memilihku. Suara Radit pun semakin sayup terdengar, indahnya mimpi telah menyambutku.